Aureliana Virestha terbiasa hidup dalam bayang-bayang, diremehkan dan disalahkan oleh dunia yang tidak pernah memberinya tempat.
Namun di ambang kematian, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya sebuah ruang misterius yang hanya bisa ia akses sendiri. Awalnya hanyalah tempat penyimpanan sederhana, tetapi perlahan ruang itu menunjukkan keajaiban yang melampaui logika.
Saat dunia di luar mulai kacau dan manusia saling mengkhianati, Aureliana menyadari bahwa kekuatan ini bisa menjadi kunci untuk bertahan dan bangkit. Di tengah ancaman, rahasia, dan pilihan yang berat, ia harus menentukan apakah akan terus menjadi orang yang diinjak, atau menciptakan dunianya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Eksperimen Pertama
Siang itu, kamar rumah sakit terasa lebih tenang dari biasanya. Tirai setengah terbuka membiarkan cahaya matahari masuk perlahan, menyentuh lantai dan merambat hingga ke sisi tempat tidur. Suara langkah perawat sesekali terdengar di luar ruangan, disusul bunyi roda troli yang berderit halus, namun semua itu terasa jauh dan tidak benar-benar mengganggu.
Aureliana Virestha duduk bersandar di tempat tidur, punggungnya bertumpu pada bantal yang disusun rapi. Tangannya memegang ponsel, tetapi matanya tidak benar-benar fokus pada layar. Ada banyak hal yang seharusnya ia pikirkan, tetapi pikirannya justru tertahan pada satu hal yang tidak bisa ia abaikan.
Layar ponselnya masih menyala, menampilkan beberapa notifikasi yang belum dibuka sejak pagi. Pesan dari nomor penagih utang masih berada di bagian atas, tidak berubah, seolah menunggu waktu yang tepat untuk kembali menekan hidupnya ketika ia sudah keluar dari tempat ini. Ia tahu masalah itu tidak akan hilang hanya karena ia berada di rumah sakit, dan kenyataan itu tetap terasa berat.
Namun hari ini, pikirannya tidak sepenuhnya terjebak di sana. Ada sesuatu yang lain yang terus menarik perhatiannya, sesuatu yang lebih besar dari sekadar masalah sehari-hari yang selama ini menghimpitnya. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa.
Aureliana menatap ponselnya lebih lama, lalu perlahan menggenggamnya lebih erat. Jari-jarinya menekan sisi benda itu, seolah ingin memastikan bahwa apa yang akan ia lakukan bukan sekadar dorongan sesaat.
Ruang itu.
Tempat aneh yang kini bisa ia masuki kapan saja, tanpa batasan yang ia pahami sepenuhnya. Ia sudah membuktikan bahwa dirinya bisa keluar masuk dengan kesadaran penuh, dan itu saja sudah cukup untuk mengubah cara pandangnya terhadap banyak hal.
Namun satu pertanyaan terus muncul sejak pagi, tidak berhenti mengganggu.
Apakah ia bisa membawa sesuatu ke dalam sana.
Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena takut, tetapi karena kemungkinan yang mulai terbuka. Jika jawabannya iya, maka ruang itu bukan hanya sekadar tempat kosong tanpa arti.
Tempat itu bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih berguna.
Aureliana menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum mengambil langkah berikutnya. Ia menutup mata perlahan, membiarkan kesadarannya bergeser seperti yang sudah ia pelajari.
Fokus.
Suara alat medis mulai menghilang, cahaya ruangan memudar, dan dalam satu tarikan napas yang terasa lebih dalam dari biasanya, ia kembali berdiri di ruang itu.
Hening langsung menyambutnya.
Luas dan sunyi, tetapi kali ini tidak terasa asing. Ada keakraban yang aneh, seolah tempat ini perlahan menerima keberadaannya sebagai sesuatu yang wajar.
Aureliana membuka mata dan langsung menatap tangannya.
Kosong.
Ponselnya tidak ada.
Ia mengerutkan kening, mencoba memahami apa yang terjadi. Ini sesuai dengan yang ia alami sebelumnya, setiap kali ia masuk ke sini, ia hanya membawa dirinya sendiri.
“Jadi… nggak otomatis ikut,” gumamnya pelan.
Ia mencoba mengingat kembali prosesnya, bagaimana ia berpindah dari dunia nyata ke tempat ini. Selalu sama, selalu tanpa benda apa pun yang ikut bersamanya.
Namun kali ini, ia tidak ingin berhenti di situ.
Aureliana memejamkan mata lagi, tetapi bukan untuk keluar. Ia mencoba sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih terarah.
Ia membayangkan dirinya masuk ke ruang ini sambil membawa ponsel.
Membayangkan beratnya di tangan.
Membayangkan permukaannya yang dingin.
Membayangkan layar yang masih menyala.
Ia membuka mata perlahan.
Masih kosong.
Aureliana menghela napas pelan, rasa kecewa muncul meskipun ia berusaha menahannya. Mungkin memang tidak bisa, pikirnya, mungkin ruang ini hanya menerima dirinya saja.
Namun rasa penasarannya belum selesai.
Ia kembali ke dunia nyata.
Langit-langit rumah sakit kembali terlihat, suara alat medis kembali terdengar, dan ponselnya masih ada di tangannya. Ia menatap benda itu beberapa detik, kali ini dengan perhatian yang jauh lebih dalam.
Ia tidak langsung menutup mata.
Sebaliknya, ia mencoba merasakan keberadaan ponsel itu sepenuhnya. Beratnya di telapak tangan, suhu permukaannya, tekstur halus di sisi-sisinya.
Ia ingin memastikan bahwa pikirannya benar-benar fokus.
“Kalau ini benar-benar bisa…” bisiknya pelan.
Kalimatnya menggantung, tetapi niatnya sudah jelas.
Ia menutup mata lagi.
Fokus, bukan hanya pada ruang itu, tetapi juga pada ponsel yang ia genggam. Ia menahan kesadarannya agar tidak terlepas dari benda itu.
Kesadaran mulai bergeser.
Sunyi kembali datang.
Aureliana membuka mata perlahan.
Dan napasnya langsung tertahan.
Ponsel itu ada di tangannya.
Ia menatapnya dengan mata sedikit membesar, jari-jarinya bergerak perlahan seolah memastikan bahwa benda itu tidak akan menghilang begitu saja. Layar masih menyala seperti sebelumnya, tidak ada perubahan.
“Ini…” suaranya lirih, hampir tidak terdengar.
Ia mengangkat ponsel itu sedikit lebih tinggi, memutarnya, menyentuh layarnya. Semua berfungsi dengan normal, tidak ada perbedaan.
Ia tidak salah.
Ia benar-benar membawa benda dari dunia nyata ke tempat ini.
Perasaan yang muncul tidak hanya sekadar terkejut, tetapi sesuatu yang lebih dalam. Pikirannya langsung bergerak, menyusun kemungkinan demi kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
“Kalau ponsel bisa… berarti benda lain juga bisa.”
Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri, tetapi sulit. Kemungkinan yang terbuka terlalu besar untuk diabaikan begitu saja.
Aureliana kembali ke dunia nyata dengan cepat, napasnya sedikit lebih berat. Ia langsung melihat ke tangannya.
Ponselnya masih ada.
Berarti benda itu bisa masuk dan keluar tanpa masalah.
Ia tidak membuang waktu.
Di meja kecil di samping tempat tidur, ada beberapa makanan ringan yang dibawa oleh perawat. Sebungkus biskuit dan sebotol air mineral diletakkan rapi di sana.
Aureliana meraih biskuit itu.
Ia menatapnya beberapa detik, lalu menggenggamnya bersama ponselnya. Tangannya sedikit mengencang, seolah takut benda itu akan hilang jika ia lengah.
“Sekali lagi.”
Ia menutup mata.
Kesadaran bergeser seperti sebelumnya.
Dan dalam sekejap, ia kembali ke ruang itu.
Aureliana langsung membuka mata, perhatiannya tertuju pada tangannya.
Ponsel masih ada.
Biskuit juga ada.
Ia hampir tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Jari-jarinya bergerak pelan, memastikan semuanya benar-benar nyata.
“Berhasil…”
Suaranya pelan, tetapi jelas.
Ia duduk perlahan di lantai transparan itu, masih memegang kedua benda tersebut. Pikirannya berputar cepat, mencoba memahami sejauh mana kemampuan ini bisa digunakan.
Ia membuka kemasan biskuit itu, suara plastik yang terbuka terdengar asing di ruang yang biasanya sunyi. Ia mengambil satu potong, lalu memakannya perlahan.
Rasanya sama.
Tidak ada perbedaan.
Aureliana menelan, lalu menatap sisa biskuit di tangannya.
“Jadi semuanya tetap normal di sini…”
Ia menghela napas pelan, mencoba menenangkan diri. Namun semakin ia berpikir, semakin jelas bahwa apa yang ia miliki sekarang bukan sesuatu yang sederhana.
Ia menoleh ke sekeliling.
Ruang kecil ini mungkin tampak kosong, tetapi sekarang ia melihatnya dengan cara yang berbeda. Ini bukan sekadar ruang tanpa arti.
Ini adalah tempat penyimpanan.
Tempat yang tidak bisa diakses siapa pun selain dirinya.
Aureliana berdiri, lalu berjalan ke salah satu sudut. Ia meletakkan ponselnya di sana dengan hati-hati, memastikan posisinya tetap.
Kemudian ia mundur beberapa langkah.
Ponsel itu tetap diam.
Tidak menghilang.
Tidak berubah.
Ia kembali mendekat dan menyentuhnya lagi.
Masih ada.
Aureliana menelan ludah, pikirannya mulai menyusun skenario.
“Kalau aku keluar sekarang…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Ia langsung menutup mata dan kembali ke dunia nyata.
Ketika ia membuka mata, tangannya kosong.
Ponselnya tidak ada.
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
Ia tidak ragu.
Ia menutup mata lagi.
Masuk.
Ruang itu kembali.
Dan di sudut sana, ponselnya masih berada di tempatnya.
Utuh.
Tidak berubah sedikit pun.
Aureliana berdiri diam beberapa detik, mencoba menyerap kenyataan itu sepenuhnya. Perasaan yang muncul kali ini bukan hanya terkejut, tetapi sesuatu yang lebih kuat.
Kesadaran.
Ia benar-benar bisa menyimpan barang di sini.
Tanpa risiko hilang.
Tanpa ada orang lain yang tahu.
Ia kembali ke dunia nyata, lalu duduk bersandar di tempat tidur. Napasnya masih sedikit tidak stabil, tetapi pikirannya mulai tersusun dengan lebih jelas.
Ia menoleh ke jam di dinding, memperhatikan jarum detik yang bergerak perlahan.
Aureliana mengingat sesuatu, lalu kembali masuk ke ruang itu.
Ia duduk di sana.
Tidak melakukan apa pun.
Hanya menunggu.
Beberapa saat berlalu, atau setidaknya terasa seperti itu. Tidak ada perubahan, tidak ada suara, hanya keheningan yang sama.
Ketika ia kembali ke dunia nyata dan melihat jam, alisnya sedikit berkerut.
Waktu memang berjalan.
Namun terasa sedikit berbeda.
Ia tidak bisa menjelaskannya dengan pasti, tetapi perasaan itu ada. Seolah waktu di dalam ruang itu berjalan lebih lambat, tidak terlalu jauh berbeda, tetapi cukup untuk disadari.
Aureliana menatap jam itu lebih lama, lalu menunduk pelan.
Jika itu benar, maka ruang ini bukan hanya tempat penyimpanan. Ini bisa menjadi tempat untuk berpikir tanpa gangguan, tempat untuk bersembunyi, bahkan mungkin tempat untuk melakukan sesuatu tanpa dikejar waktu.
Ia menyandarkan kepala ke belakang, menatap langit-langit dengan tatapan kosong yang perlahan berubah.
Segala hal yang selama ini menekannya masih ada. Utang, pekerjaan, orang-orang yang meremehkannya, semua tetap menunggu di luar sana.
Tidak ada yang berubah dari dunia nyata.
Namun sekarang, ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki siapa pun.
Sebuah keunggulan.
Sebuah kesempatan.
Aureliana menutup mata perlahan, membiarkan pikirannya mengalir tanpa arah yang pasti. Ia tidak tahu dari mana semua ini berasal, dan ia juga tidak tahu apa konsekuensi yang mungkin muncul di masa depan.
Namun satu hal mulai terasa jelas.
Ini bisa dimanfaatkan.
Dan di dalam dirinya, sesuatu mulai bergerak perlahan. Bukan rasa takut, bukan kelelahan yang selama ini ia rasakan, melainkan sesuatu yang lebih tajam.
Kemungkinan.
Aureliana membuka mata, menatap ke depan dengan pandangan yang berbeda.
Jika dunia terus menekannya seperti ini, maka ia tidak akan hanya diam menerima.