NovelToon NovelToon
BUKAN CINTA SESAAT

BUKAN CINTA SESAAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Konflik etika / Romansa
Popularitas:336
Nilai: 5
Nama Author: Anyue

Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .

"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .

Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?

ikuti kisahnya hanya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 8. BCS

Keempat pria dewasa sedang merencanakan permintaan papanya Albi. Mereka nampak serius, sedangkan Albi mendengarkan sesekali menggelengkan kepalanya.

"Bukankah kalian sudah saling kenal, pernikahan itu akan menjadi awal kalian membina hubungan lebih dekat," kata Bisma.

"Benar sekali, jadi kamu punya alasan menolak Dania," sahut Abas menyetujui pendapat Bisma.

"Masalahnya perempuan itu tidak mengenaliku sama sekali," kata Albi.

Ketiga temannya saling menatap satu sama lain. Mereka terdiam memikirkan perkataan Albi.

“Simpel saja sebenarnya, katakan terus terang dan jelaskan sama Prasasti beres kan!“ kata Bisma.

"Aku tidak mau memikirkan masalah ini, bikin pusing saja. Gara-gara kalian aku kena imbasnya, asal kalian tahu aku belum ingin menikah,” kata Albi .

"Bagaimana kalau pernikahan ku di ganti salah satu dari kalian," Albi mengemukakan idenya lalu tertawa senang.

"Enak aja, kamu kan sudah melihat tubuh perempuan itu, jujur sajalah," celetuk Dasa.

"Tidak mau, kamu yang berbuat kita yang tanggung jawab," sahut Abas menggelengkan kepala sambil mengibaskan tangannya.

"Dasar otak kalian mesum," kata Albi kesal.

”Sama-sama untung," sahutnya berdecak.

”Sepertinya papa kamu tidak suka sama Prasasti, ” tebak Bisma.

Albi mengernyitkan dahinya heran."Bagaimana kamu tahu, kalau papaku tidak suka? ”

"Ketika beliau membicarakan Prasasti nada bicaranya seperti orang benci gitu, papa kamu sewot," jelas Bisma mengingat saat bersama kedua temannya diinterogasi oleh Abdi.

Albi mulai berpikir keras." Aku pulang duluan," Albi beranjak meninggalkan ketiga temannya.

"Main pergi aja tuh anak, mau kemana sih? ” tanya Dasa heran.

”Mungkin mau membicarakan masalah ini sama papanya," sahut Abas.

________

Di toko Khasanah berbicara dengan Amel di ruangannya. Mereka berdua dengan suara lirih agar tidak terdengar sampai luar.

"Memangnya ada apa, Mel?" tanya Khasanah.

”Ada yang mengirim video ke ponselku," Amel menunjukkan sebuah video kepada Khasanah.

Khasanah menutup mulutnya, dadanya terasa sesak melihat perilaku orang di dalam video tersebut.

"Siapa yang mengirim video itu?" tanya Khasanah mematikan ponsel milik Amel.

"Katanya sih seorang perempuan tapi aku tidak tahu siapa karena tidak menyebutkan namanya," jelas Amel.

"Kirim video itu ke ponselku sekarang," perintah Khasanah.

Amel mengirim video tersebut ke ponsel Khasanah."Memangnya mau diapain itu video?"

”Ada deh nanti aku beritahu, sekarang aku mau ke kantor , Mas Abdi," Khasanah beranjak berjalan keluar diikuti Amel.

"Kamu baik-baik saja, kan!" Amel melihat Khasanah masuk ke dalam mobil.

"Iya, aku baik-baik saja," jawab Khasanah sambil melambaikan tangannya. Amel membalas hal yang sama.

___________

Saat ini Khasanah sedang berada di perusahaan milik suaminya. Ia menunjukkan sebuah video kepada suaminya.

“Jelaskan padaku!" bentak Khasanah menatap suaminya.

Abdi yang tidak tahu apa-apa terkejut istrinya datang marah-marah. Ia menghentikan aktifitasnya dan beranjak mendekati istrinya.

"Duduk dan tenangkan dirimu dulu,“ Abdi mengajak istrinya duduk di sofa. Khasanah tidak mau disentuh justru menjaga jarak agar tidak berdekatan dengan suaminya.

“Tidak usah pegang-pegang," tolaknya dengan kesal.

Perasaan Khasanah sedang tidak tenang, setelah melihat video dari ponsel Amel. Abdi melihat video di ponsel istrinya lalu membujuk istrinya supaya tidak percaya dengan berita tersebut.

“Kamu bilang Albi harus bertanggung jawab dan sekarang kamu, kamu yang harus bertanggung jawab, Mas," suara Khasanah meninggi tatapannya sedih.

"Sayang, dengarkan aku dulu. Itu bukan aku, percayalah padaku dan yakinkan hatimu," kata Abdi berusaha meyakinkan istrinya sambil memeluknya erat.

“Katakan sekali lagi kalau itu bohong, dulu aku tidak percaya dengan video seperti itu. Sekarang ada lagi dan itu wajah kamu terlihat sangat jelas, Mas Abdi Prasetya,“ Khasanah menyebut nama lengkap suaminya sambil menahan rasa yang menghimpit dadanya.

“Itu semua bohong, aku tidak pernah menyentuh perempuan lain selain istriku sendiri, Khasanah. Kalau kamu lebih memilih berita palsu itu terserah, yang jelas aku tidak pernah melakukan hal kotor dan menjijikkan itu," balas Abdi dengan suara lantang.

Tatapan keduanya saling beradu, jantung keduanya berdenyut nyeri, masalah baru belum mereka selesaikan datang masalah lain.

Keduanya saling diam dan memikirkan bagaimana cara untuk tidak percaya dengan kabar buruk yang menimpa keluarga mereka.

"Aku pusing, aku mau pulang," Khasanah beranjak meninggalkan ruangan namun tangan Abdi menahannya.

“Apakah kamu akan menjauhiku disaat seperti ini?" tanya Abdi menatap istrinya lekat.

"Aku butuh ketenangan," jawab Khasanah melepaskan tangan Abdi lalu berjalan keluar dengan langkah lemas.

Asisten Deni masuk merasa ada masalah besar membuatnya penasaran. "Ada apa, Nyonya kemari dan sepertinya kalian bertengkar?"

Abdi mendecak frustasi, ia berdiri dekat jendela melihat keluar dengan pikiran berkecamuk. Pandangannya kosong, hatinya terasa nyeri. Hati ini masalah datang bersamaan.

“Ada yang memberitahuku kalau seseorang mengirim video vulgar tanpa nama, aku sudah melihatnya. Aku yakin ada orang berusaha menjatuhkanmu, kalau tebakanku benar berarti orang itu sangat kenal dengan keluargamu," kata asisten Deni.

Abdi terdiam mendengarkan tapi tidak menanggapi. Pikirannya tertuju pada istrinya. Abdi beranjak pergi meninggalkan ruangan dengan langkah lebar.

"Eh eh, mau kemana? Aku belum selesai bicara," Asisten Deni berusaha menahannya tapi Abdi cuek.

Abdi masuk ke dalam mobil dan menyalakannya keluar dari area perusahaannya. Tujuannya utamanya dalah rumah, ia menancapkan gasnya dengan kecepatan penuh.

Begitu sampai di depan rumah, Abdi langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah sambil memanggil istrinya. Ia tidak menemukan istrinya di lantai bawah kemudian naik ke lantai atas saat masuk kamar tidak menemukannya juga.

Abdi frustasi tidak menemukan istrinya di rumah. Tubuhnya luruh dilantai airmatanya mengalir, putus asa, tentu saja. Abdi merasa dunianya hampa tidak melihat istrinya sebentar saja.

___________

Prasasti bingung harus menjelaskan bagaimana lagi agar papanya percaya kalau dirinya tidak melakukan apapun. Ia mau dihukum asal bukan menikah dengan pria yang tidak ia kenal.

Fabio menerima panggilan dari seseorang. Alisnya berkerut mendengar penjelasan orang di seberang tidak lama kemudian panggilan dimatikan.

“Prasasti," panggil Fabio dengan suara menggema di ruang tengah.

Prasasti keluar dari kamar dengan langkah malas. Ia melihat papanya sudah tidak semarah kemarin. Prasasti duduk di kursi bersebrangan dengan papanya.

Fabio melihat wajah anaknya sembab, hatinya merasa kasihan namun ia juga harus bersikap tegas.

“Kamu harus segera menikah dengan pria itu," pinta Fabio.

“Tapi, Pa. Aku_“

"Jangan bilang kamu tidak mencintainya, ini bukan masalah cinta atau tidak tapi harga diri. Kamu harus bertanggungjawab atas perbuatanmu itu," tegasnya.

Prasasti semakin frustasi memikirkan nasib dirinya. Ia tidak menyangka jika akan terjadi hal buruk menimpanya. Ia masih ingin bekerja dengan lebih giat demi masa depannya kelak.

“Maaf Tuan, Nona. Didepan ada tamu," kata seorang pembantu.

1
sakura
.....
Anyue: kenapa titik-titik
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!