NovelToon NovelToon
Daily Quest: Get A Girlfriend Before Graduation

Daily Quest: Get A Girlfriend Before Graduation

Status: tamat
Genre:Romansa / Komedi / Slice of Life / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Genre: Comedy Absurd, Romance Comedy, School

Damatakura Ken hanyalah siswa SMA biasa kalau "biasa" itu berarti lebih memilih grinding di game RPG daripada ngobrol sama manusia nyata. Hidupnya damai... sampai ayahnya panik karena Ken belum pernah pacaran seumur hidup!

Demi menyelamatkan masa depan anaknya (dan mungkin garis keturunan keluarga), sang ayah memberikan sebuah misi:

“Nak, selama tiga tahun masa SMA-mu, kau harus punya pacar! Tapi… kayaknya mustahil ya? Soalnya kamu cuma jago main game gampang.”



Ken pun terpaksa spawn ke dunia percintaan yang ternyata jauh lebih sulit dari semua game yang pernah ia tamatkan.
Dengan pengalaman sosial nol, dan logika dating sim yang telah ia pelajari bertahun-tahun, mampukah Ken menyelesaikan quest ini?

Atau... apakah ini justru akan menjadi kekalahan pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi Ke-8: Mengalahkan Rival

Di lapangan yang hijau…

Angin berhembus pelan.

Rumput bergoyang ringan.

Dua tim berdiri saling berhadapan.

Tim Ken.

Melawan.

Tim Ryu.

Aura serius menyelimuti keduanya.

Namun…

Di pinggir lapangan—

Sorakan pecah.

“RYU SEMANGAT!”

Suara para gadis menggema.

Penuh energi.

Penuh antusias.

Bahkan…

Gadis-gadis dari kelas Ken pun ikut bersorak ke Tim Ryu.

Sementara itu…

Tim Ken—

Sunyi.

Tidak ada yang menyebut nama mereka.

Tidak ada yang melambaikan tangan.

Tidak ada buff moral.

Hanya angin.

Dan realita.

“Ah…”

Rara menyilangkan tangan.

Menatap lapangan.

“Jelas kalah ini mah.”

Nadanya santai.

Tapi menusuk.

“Ryu aja pernah masuk turnamen nasional sampai final.”

Ia mengangkat bahu.

“Walaupun kalah… tapi dia tetap hebat.”

Mei berdiri di sampingnya.

Tatapannya lurus ke lapangan.

“Ya…”

Ia menarik napas.

“Tapi aku rasa Ken masih bisa menang.”

“Fisiknya sangat kuat”

Rara menoleh.

Alisnya terangkat.

“Hah?”

“Kuat darimana?”

Ia menyipitkan mata.

“Aku lihat fisiknya sama aja kayak laki-laki lain.”

Mei melipat tangan.

Tenang.

“Ya…”

Ia menoleh sedikit.

“Tapi ada gak laki-laki…”

Matanya menyipit.

“…yang bangun setelah kena pukulanku?”

Sunyi.

Rara membeku.

“…Lah?”

Ia menatap Mei.

“Kamu pukul Ken?”

Kaguya yang di samping langsung kaget.

Matanya melebar.

“Apa?!”

Suaranya sedikit bergetar.

“Kamu pukul Ken?!”

Mei menoleh santai.

“Ah…”

Ia mengibaskan tangan.

“Dikit doang.”

Kaguya terdiam.

Wajahnya berubah cemas.

‘Ken… dipukul…?’

Tangannya sedikit menggenggam rok.

Peluit berbunyi.

Pertandingan dimulai.

Bola digulirkan.

Tanpa menunggu—

Ryu langsung mengoper.

Cepat.

Tepat.

Bola sampai ke Kiro.

Kiro bergerak.

Cepat.

Sangat cepat.

Ia menggiring bola menembus lini tengah.

Seolah pemain lain hanya bayangan.

“Apa?!”

Biblos membelalakkan mata.

“Dia cepat banget!”

Kiro sudah di depan gawang.

Dalam sekejap.

Lalu—

Operan balik.

Ke Ryu.

Tanpa ragu—

Ryu menendang.

Keras.

Langsung.

GOAL.

Suara bola menghantam jaring menggema.

“WOI!”

Salah satu teman Ken berteriak.

“KIPER YANG BENAR DONG!”

Claude berdiri kaku.

Wajahnya pucat.

Ia menunduk dalam.

“Maaf…”

Suaranya pelan.

“…bola itu terlalu cepat untuk kutangkap.”

Tangannya mengepal.

“Lain kali aku akan lebih berhati-hati…”

Rinkuto melangkah maju.

Menepuk bahu Claude.

“Semua tetap semangat!”

Suaranya tegas.

“Awal bukanlah akhir!”

Pertandingan berlanjut.

Namun—

Realita tidak berubah.

Satu gol.

Dua gol.

Tiga gol.

Empat.

Lima.

Enam.

Skor 6-0.

Babak pertama berakhir.

Tim Ken duduk di pinggir lapangan.

Napas berat.

Wajah lelah.

Sementara itu—

Tim Ryu tertawa santai.

“Wah…”

Salah satu dari mereka meregangkan badan.

“Enak banget.”

Ia tersenyum lebar.

“Kita tinggal diam aja bisa menang.”

Ia melirik ke Ryu dan Kiro.

“Enak banget di-joki sama mereka.”

“Hahaha!”

Yang lain ikut tertawa.

Ken duduk diam.

Wajahnya datar.

Namun—

Matanya sedikit menyipit.

‘Joki…’

‘Jadi begitu…’

Biblos menjatuhkan dirinya ke rumput.

Frustasi.

“Ah…”

Ia menutup wajahnya.

“Susah banget…”

“Ryu dan Kiro beda level…”

Claude masih menunduk.

Lebih dalam.

“Maafkan aku…”

Suaranya semakin kecil.

“Coba saja aku bisa jadi kiper yang lebih baik…”

Rinkuto tersenyum tipis.

Menepuk bahunya lagi.

“Ya…”

“tapi kamu sudah hebat, Claude.”

Claude mengangkat kepala sedikit.

“Kamu menahan tiga serangan tadi.”

Rinkuto mengangguk.

“Itu luar biasa.”

Claude tersenyum tapi kaku.

Setelah Rinkuto mengatakan itu wajahnya langsung muram.

Ia melihat kearah Ryu yang sedang disemangati oleh para gadis.

Biblos melirik.

“Rinkuto…”

Ia menyipitkan mata.

“Tumben kamu gak semangat?”

Rinkuto terdiam.

Menatap langit.

“Ya gimana ya…”

Ia mengangkat bahu.

“…gak ada penyemangat.”

Sunyi.

Biblos menghela napas panjang.

‘Ah…’

‘Cuma gara-gara itu…’

‘Dasar bocah puber.’

Tiba-tiba—

“Ah, benar kah cuma karena itu?”

Suara muncul.

Rara berdiri di belakang mereka.

Membawa minuman.

Wajahnya santai.

Namun matanya tajam.

Mei ikut maju.

Langkahnya pelan.

“Baiklah.”

Ia menyilangkan tangan.

“Kalau begitu…”

Tatapannya serius.

“Kami akan menyemangati kalian.”

Rinkuto menoleh.

Sedikit terkejut.

Mei tersenyum tipis.

“Tentu saja…”

Ia melirik ke samping.

“Kaguya juga akan ikut.”

Kaguya langsung membeku.

Wajahnya memerah.

Cepat.

“A-aku?!”

Tangannya gelisah.

Namun—

Semua mata tertuju padanya.

Ia menunduk.

Pelan.

“Ba… baiklah…”

Suaranya kecil.

Hampir tak terdengar.

Namun cukup.

Rinkuto langsung berdiri.

Semangatnya kembali.

Matanya menyala.

“BAIKLAH!”

Ia mengepalkan tangan.

“Aku jadi semakin semangat!”

Angin kembali berhembus.

Di lapangan yang hijau.

Angin tipis berhembus pelan.

Suasana tegang.

Babak kedua…

Dimulai.

Ken berdiri di depan.

Sebagai striker.

Sementara itu, Rinkuto mundur ke belakang.

Menjadi bek.

Formasi berubah.

Tekanan meningkat.

“Wah wah…”

Ryu menyeringai tipis.

Suaranya seperti ingin provokasi.

“Akhirnya kau berada di depan.”

Tatapannya menusuk.

“Tapi kau tetap akan kalah.”

Ken tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap bola.

Diam.

Tenang.

“Semangat Ken! Semangat semuanya!”

Rara melambaikan tangan dengan penuh energi.

Suaranya nyaring.

Menembus udara.

“Semangat!”

Mei ikut berseru.

"SEMANGAT!!"

Nada suaranya lebih tegas.

Lebih serius.

Namun tetap hangat.

“Hei, Kaguya.”

Rara menyenggol pelan bahu di sampingnya.

“Katakan juga.”

Kaguya tersentak.

Wajahnya langsung memerah.

Ia menunduk sedikit.

Menarik napas kecil.

“Se… semangat, Ken…”

Suaranya pelan.

Nyaris tenggelam.

Seperti bisikan.

“Itu mah gak kedengaran.”

Rara menyipitkan mata.

Ken tetap berdiri.

Namun—

Telinganya sedikit bergerak.

Ryu tertawa pelan.

Nada suaranya berubah.

Aneh.

“Apa kau disemangati oleh Kaguya?”

Ia menutup wajahnya sebentar.

Lalu tersenyum lebar.

“Sial… aku iri…”

Matanya berkilat.

“Tapi ini sangat nikmat.”

“…Ini orang aneh banget,” gumam seseorang di pinggir lapangan.

Peluit berbunyi.

Pertandingan dimulai.

Ken langsung mengoper bola ke Biblos.

Gerakannya cepat.

Tanpa ragu.

Namun—

Kiro muncul seperti bayangan.

Cepat.

Terlalu cepat.

Bola direbut.

“Apa?!”

Claude menegang.

“Dia cepat banget!”

Kiro melesat ke depan.

Seperti peluru.

Namun—

Seseorang menghalangi.

Rinkuto.

Dengan gerakan tegas.

Ia merebut bola kembali.

“Dapat!”

Tanpa menunggu.

Ia langsung mengoper.

Ke depan.

Ke Ken.

“Apa?”

Ryu berlari mengejar.

Nafasnya stabil.

“Pilihan bodoh…”

Ken menerima bola.

Sekejap.

Ryu sudah tepat di belakangnya.

Jarak nol.

Namun—

“Atas!”

Ken menendang bola ke udara.

Ryu terhenti sesaat.

“Depan!”

Bola meluncur ke depan.

Biblos sudah berdiri di sana.

Menunggu.

Kiro terlalu jauh.

Ryu tidak sempat mengejar.

Dan—

Tim Ryu…

Sebagian duduk santai.

Biblos menerima bola.

Tanpa ragu.

Ia menendang keras.

“GOL!!!”

Sorakan pecah.

Akhirnya.

Gol pertama.

“Akhirnya!”

Rinkuto melompat kecil.

Wajahnya cerah.

Namun—

Ryu hanya menghela napas.

“Ah…”

Nada suaranya datar.

“Cuma satu gol.”

Ia menatap lurus.

“Itu tidak merubah apa pun.”

Pertandingan berlanjut.

Waktu berjalan.

Pelan.

Lalu cepat.

Dan tanpa terasa—

Skor berubah.

6 — 6.

“Apa?!”

Ryu membelalak.

Ia menoleh ke timnya.

“Kalian main juga napa?!”

Suaranya meledak.

“Dari tadi malah makan mie!”

Timnya panik.

“Ya-ya, maaf…”

Langsung berdiri.

Waktu tersisa…

Sepuluh menit.

Peluit berbunyi.

Babak terakhir.

Dimulai.

Ryu menendang bola ke Kiro.

Operan cepat.

Namun—

Ken muncul.

Seperti sudah tau arah permainan.

Bola direbut.

Ia berlari.

Cepat.

Sangat cepat.

Menuju gawang.

Namun—

Lawan mengepung.

Jalan tertutup.

“Atas!”

Ken menendang bola ke udara lagi.

Ia membuka mulut.

“Ba—”

Tiba-tiba—

Kiro muncul di sampingnya.

Senyap.

Lalu—

Menutup mulut Ken.

Dengan…

Segelas teh.

“Enak…”

Ken refleks.

Matanya membesar.

‘Ini dia… cheat itu…!’

Kiro membawa bola.

Meluncur ke arah gawang.

Namun—

Rinkuto sudah siap.

Menghadang.

“Semangat, Rinkuto!”

Suara Rara menggema.

Keras.

Jelas.

Rinkuto tersenyum.

Semangatnya naik.

Ia merebut bola.

Tanpa ragu.

“AMBIL, KEN!!!”

Operan keras.

Ken menerima.

Namun—

Ryu datang.

Merebut.

Cepat.

“Haha!”

Ia tertawa puas.

“Jangan lengah, bodoh!”

“Kau juga bodoh!”

Biblos muncul.

Tiba-tiba.

Merebut bola dari Ryu.

Gerakan tak terduga.

Ia langsung mengoper.

Ke Ken.

Sekali lagi.

Ken menggiring bola.

Namun—

Lawan kembali menutup jalan.

“Mau kemana?”

Ken berhenti.

Diam.

Menatap mereka.

Lalu—

Ia mulai juggling.

Bola naik.

Turun.

Naik lagi.

“Ngejek hah?!”

Mereka maju.

Kesal.

Namun—

Gerakan Ken berubah.

Cepat.

Lincah.

Ia melewati satu.

Dua.

Tiga.

Dengan menggunakan beberapa trik bola.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

“GAME BREAKER!!!”

Ia menendang.

Kuat.

Sangat kuat.

Bola melesat.

Menembus udara.

Semua mata mengikuti.

Sunyi.

Sejenak.

“Keren…”

Suara Kaguya pelan.

Pipinya agak memerah.

Bola masuk.

Tanpa ampun.

“GOOOOL!!!”

Sorakan meledak.

Lapangan bergemuruh.

Peluit panjang berbunyi.

Pertandingan selesai.

Ryu berdiri diam.

Matanya kosong.

“Ke… kenapa bisa…”

Ken berjalan pelan.

Mendekat.

Tatapannya datar.

Namun tajam.

“Karena…”

Ia berhenti.

“Aku akan selalu mengalahkan penjoki.”

Sunyi sesaat.

Lalu—

Langkah kaki mendekat.

Rara.

Kaguya.

Tomoe.

Mei.

Mereka berlari.

Menuju Ken.

“Wah, Ken!”

Rara tertawa lepas.

“Kau tahu tidak?”

Ia menunjuk Kaguya.

“Kaguya tadi bilang kamu keren!”

Kaguya membeku.

Wajahnya memerah total.

“R-Rara!”

Ken hanya tersenyum kecil.

Tenang.

Seperti biasa.

Di dalam hatinya.

Sebuah notifikasi muncul.

‘Misi ke-8: Mengalahkan Rival ✓’

1
R24 CORP🇵🇸
🔥🔥🔥🔥
R24 CORP🇵🇸
lah🗿
R24 CORP🇵🇸
NPC bjir😭😭
R24 CORP🇵🇸
🤣🤣🤣🤣
Mega Siregar
asek, main game dengan camer nih ye 😗
Nnoy
Baca 🥹
Mega Siregar
semangat ya..
( oh iya, novel sebelumnya kenapa hilang? yg judul pangeran 13 )
Nnoy: ya walaupun Hiatus juga sih.
total 3 replies
Mega Siregar
parahnya 🤣🤣🤣😂
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
jadi kangen masa-masa sekolah
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
ya Allah ken. ini ada do'i di samping mu loh, malah kamu cuekin
Mega Siregar
🤭🤭🤭
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
lah padahal dia yang panggil /Shy/
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Kaguya pemalu.💞
Bobob
/Cry/
Bobob
Sensei? dia sensei? aku mulai meragukan nya
Bobob
Dikit-dikit My
Bobob
Kayak aku dan temenku
Bobob
Dracin /Facepalm/
Mucus Time
/Facepalm//Facepalm/
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Kalau aku jadi Kaguya pun langsung ilfil sih
Muo: sama👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!