NovelToon NovelToon
Perjalanan Menjadi Seorang Legenda

Perjalanan Menjadi Seorang Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Persahabatan / Slice of Life
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: MR. IRA

Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.

Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.

Namun Ivan tak menyerah.

Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.

Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...

Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Andai-Andai Nomor 7

"Waktunya pulang sekolah, sampai jumpa besok pagi!!" suara dari speaker sekolah.

"Anak-anak, kita akan pulang sekolah. Hati-hati di jalan!!" ujar Pak Iril.

"Baik, Pak!!" jawab seisi kelas.

Waktunya pulang sudah tiba. Aku bergegas pulang ke rumah, di pintu gerbang sekolah aku berpapasan dengan Elena.

"Siang, Van!!" sapa Elena.

Aku berhenti lalu memandangi wajah Elena. Kacamata, wajah yang cantik, pintar, tapi dia... "Siang juga," sahutku.

"Van, selamat ya kamu terpilih jadi perwakilan di turnamen!!" seru Elena dengan wajah senang.

"Eh... Iya, makasih!!" jawabku.

"Van!!" sapa Nadia dari belakang.

Aku menoleh ke belakang "Nad!!" sapaku.

"Mau pulang?!" tanya Nadia polos.

"Iya, masak kamu nggak tahu!!" sahut Elena dengan ketus.

"Yaelah, Elena. Aku kan cuma basa-basi!!" potong Nadia.

"Iya, tapi basa-basinya yang masuk akal dong!!" ujar Elena.

Aku hanya diam dan menyaksikan pertengkaran yang sedang berjalan, tapi aku bergegas pergi meninggalkan mereka berdua.

"Ivan!!" teriak Nadia yang melihatku pergi.

"Van!!" teriak Elena yang melihatku pergi.

Aku tidak menghiraukan suara mereka, aku terus berjalan sambil berpikir "Dua perempuan, cantik tapi!!" gumamku.

Matahari sudah sangat terik. Di samping kiri dan kananku ada banyak pohon, warung, dan rumah.

"Hmm... Turnamen... Di tonton pelatih.... SSB... Putra Bangsa?!" pikirku sambil terus berjalan.

"Wah... SSB Putra Bangsa. SSB yang dimiliki oleh presiden dari Persebaya Surabaya, jika aku dilirik SSB... Otomatis aku juga akan dilirik dari pihak klub dong!!" gumamku yang bersemangat.

Langkahku semakin cepat, karena matahari sudah sangat terik. Sesampainya di rumah, aku lalu meletakkan sepatuku.

"Aku pulang!!" seruku sebelum masuk ke rumah.

"Iya," sahut ibu yang sedang mencuci baju.

Begitu selesai melepaskan sepatu, aku lalu berjalan ke kamarku untuk mengganti baju.

"Krek!!" suara pintu kamarku.

"Udah mulai lapar nih," batinku sambil mengganti baju.

Begitu selesai mengganti baju, aku langsung ke dapur untuk makan. Sesampainya di dapur, aku duduk dan mulai makan.

"Besok nggak latihan, terus hari ini latihan nggak ya?!" batinku yang bingung.

"Sepertinya nggak," batinku.

Setelah selesai makan, aku kembali ke kamar untuk bertanya ke temanku "Zam, hari ini latihan nggak?!" tanyaku di chat.

"Nggak!!" jawab Azzam di chat.

"Oke," sahutku di chat.

Setelah bertanya, aku lalu meletakkan ponselku dan mengambil bolaku di bawah tempat tidurku.

"Aku akan latihan sendiri, tapi ibu jangan sampai tahu!! batinku.

Aku mengambil bola. Sebelum pergi, aku memastikan apa ibu masih mencuci baju.

Aku berjalan pelan, berharap tidak ada suara berdecit di lantai.

"Ibu, masih mencuci baju. Aku bisa pergi!!" batinku.

Setelah memastikan, aku kembali ke kamar untuk mengambil bola. Setelah mengambil bola, aku langsung jalan ke lapangan.

Perjalananku mulus, tidak ada hambatan sedikitpun. Sesampainya di lapangan, aku lalu meletakkan bola dan mulai menggiringnya. Berlari, menendang, semua kulakukan.

"And... Shoot!!" teriakku sebelum menendang bola.

Bola yang kutendang melesat ke arah pojok atas, tapi bolanya tidak berhasil masuk ke gawang.

"Ting!!" suara bola membentur mistar gawang.

Melihat bolaku yang hanya terkena mistar gawang, aku hanya bisa menggaruk kepala "Ah... Nyaris!!" ujarku.

Tendangan pertama mengenai mistar. Aku terus latihan, napasku semakin cepat, jantungku berdebar hebat, keringat mulai menetes. Walaupun kelelahan, aku harus latihan.

"Ah... Ah... Ah" napasku terengah-engah.

"Aku duduk dulu!!" batinku sambil mengelap keringatku yang menetes.

Aku duduk, di tengah lapangan, di bawah teriak matahari. Aku duduk sejenak, merasakan angin yang bertiup, suara burung yang berkicau, dan aroma rumput dari lapangan.

"Capek!!" keluhku.

Setelah merasa tidak lelah lagi, aku lalu berdiri untuk mengambil bolaku. Setelah mengambil bola, aku lalu pulang kerena sudah sore hari.

"Waktunya pulang, besok aku latihan lagi sepulang sekolah!!" gumamku sambil berjalan pulang.

Di tengah perjalanan, aku berpapasan dengan Andika dan Azzam.

"Van!!" sapa Andika.

"Van!!" sapa Azzam.

Aku berhenti sejenak untuk berbicara dengan mereka "Zam, Dik. Besok kita latihan yuk!!" usulku.

Azzam dan Andika saling pandang. Setelah beberapa detik, akhirnya mereka menjawab usulanku.

"Boleh," jawab Andika.

"Yaudah, Van. Kita jalan dulu!!" ujar Azzam sebelum pergi.

"Iya," sahutku.

Aku lalu melanjutkan perjalananku pulang ke rumah. Setibanya di depan rumah, aku berpikir sejenak "Tunggu... Kalau aku masuk sekarang... Bisa aja ibu lihat aku pulang sambil bawa bola?!" batinku yang bingung.

Aku memutuskan untuk masuk ke dalam. Perlahan, sambil mengawasi area dalam rumah "Aman!!" gumamku.

Setelah memastikan aman, aku lalu secepat mungkin masuk ke dalam kamarku. Aku berhasil masuk ke dalam kamar, kemudian aku menyimpan bolaku lalu mandi.

"Berkeringat, baunya juga.... Astaga!!" batinku sambil berjalan ke kamar mandi.

Aku lalu mandi. Setelah selesai mandi, aku lalu ke dapur untuk membuat segelas teh.

"Waktunya minum teh... Tapi kenapa rumah kayak sepi, ibu kemana?!" ujarku sambil membuat teh.

"Ibu, dari warung!!" sahut ibu yang baru pulang.

Aku langsung menoleh ke arah pintu. Terlihat ibu yang membeli sayuran untuk makan malam.

"Lagi buat teh?!" tanya ibu sambil meletakkan sayuran.

"Iya," jawabku.

Begitu selesai membuat teh, aku lalu duduk untuk meminum teh yang kubuat.

"Fssttt!!" suaraku menyeruput segelas teh.

"Ah... Enak," gumamku.

"Van, bantuin ibu!!" seru ibu yang sedang masak.

"Bantuin apa bu?!" tanyaku.

"Bantuin beresin kamar kamu, kamar kamu udah kayak kapal pecah!!" seru ibu.

"Kayaknya, ibu. Udah siap-siap marah nih, kalau nggak segera aku beresin pasti ibu nanti marah-marah!!" batinku.

Aku lalu kembali ke kamar untuk bersih-bersih. Aku bersih-bersih sambil berandai-andai jika aku di Real Madrid C.F "Aku di sana. Memakai angka 7 di punggungku, logo Adidas di dadaku, dan suara teriakan penonton dari stadion Santiago Bernabue!!" gumamku yang berandai-andai.

Setelah selesai bersih-bersih kamar dan berandai-andai, aku kembali ke dapur.

"Sudah selesai?!" tanya ibu sambil mempersiapkan makanan.

"Udah!!" jawabku sambil duduk.

Aku duduk, menunggu makanan di hidangkan ibu "Ah... Udah laper!!" gumamku.

"Van, Makan!!" seru ibu.

Aku lalu makan malam, lauk sederhana hanya sayuran tapi sangat bermakna untukku.

"Van, setelah makan kamu belajar lalu tidur ya!!" ucap ibu sambil mengunyah.

Aku hanya menggukkan kepalaku. Setelah selesai makan, aku lalu ke kamar untuk belajar. Aku belajar pelajaran sekolah, dan juga belajar tentang mimpiku.

Malam hari. Angin dingin berhembus pelan, suasana sepi di luar, hanya ada suara jangkrik dan juga burung hantu.

Setelah selesai belajar, aku laku bergegas untuk tidur. Aku berbaring, sambil berandai-andai lagi "Aku di sana. Memakai nomor punggung 7, bendera di dadaku, tapi... apa hanya mimpi?!" batinku.

Setelah berandai-andai, aku lalu tidur melewati malam.

Ivan tertidur pulas melewati malam hari. Tapi bagaimana dengan andai-andai milik Ivan, apa semua itu hanya sekedar imajinasi semata?!

Bersambung...

1
Khunaiv Mumtaz
Kasian Ivan, sampai pingsan. Pak Slamet tegas banget
IRAWAN
Sabtu
Protocetus
kapan min kejuaraannya?
aurel
hai Thor aku sudah mampir, yuk mampir juga di karya aku " istriku adalah kakak ipar ku"
Protocetus
min up spesial Agustus 😁
IRAWAN: Ehm... Iya, tamat chapter 1 di bab 20 nanti. Chapter 2 menunggu
total 5 replies
IRAWAN
Maaf bang, masih sibuk ngurusin proker
Protocetus
min up
Khunaiv Mumtaz
Ehem... Ternyata Ivan lahir di keluaga pesepak bola/Shy/
Khunaiv Mumtaz
Makin kesini, ceritanya makin bagus. Semangat Thor/Determined//Determined/
Protocetus
up lagi bang
IRAWAN: Sabar kak, bisanya perhari satu bab. Kalau lagi ada kegiatan mungkin dua-tiga hari baru up, Maaf ya kak/Pray/
total 1 replies
IRAWAN
/Smile//Sleep/
Crimson
Min walau aku gak terlalu suka bola tapi aku support hehe
IRAWAN: makasih dukungannya kak, tapi ini bukan cuma tentang bola
total 1 replies
Protocetus
Anda terlalu percaya diri 😂
IRAWAN: Ehem... Bisa aja kak, siapa tau Elena sama Nadia suka Ivan/Smile/
total 1 replies
Protocetus
No System2, Only Hard Work 🔥
Protocetus: Of Course Work Hard 👍
total 2 replies
Protocetus
udah ikutin aja karir 🔥
Protocetus
Aku kira idolanya Gareth Bale 😂
IRAWAN: Juara tiga, ya sama aja nggak juara. Soalnya nggak dapet piala, cuman dapet medali
total 5 replies
IRAWAN
Masih enjoy?
Jinki
bagus kak .. smgt .. mampir ya
IRAWAN: Siap kak
total 1 replies
iqbal nasution
oke
Protocetus
ini gak ada sistem kan?
Protocetus: sip 🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!