NovelToon NovelToon
Istri Kedua

Istri Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:892.1k
Nilai: 5
Nama Author: triy

Rezza pria tampan dan mempunyai kehidupan cukup mapan sejak lahir dengan terpaksa harus menerima perjodohan dari ibunya dengan seorang wanita yang bernama Artiya sepupu dari kekasihnya sendiri,yang menurut Rezza wanita itu sama sekali tidak menarik dilihat dari segi manapun juga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon triy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENEMUI MERTUA DIBANDARA

Sudah sebulan lebih Tiya dan Rezza menjadi suami istri,selama itu pula kebutuhan dapur mereka bu Sanusi yang mengurusi,hubungan mereka berdua sedikit membaik dalam hal percakapan.

Rezza yang awalnya terkesan dingin dan cuek sekarang mulai sedikit melunak, mungkin karena mereka mulai saling terbiasa antara satu dengan yang lain.

Dipagi hari Tiya selalu mengurus semua keperluan Rezza, menemani suaminya sarapan,untuk makan malam mereka jarang bersama sebab Rezza sering pulang lewat dan merekapun masih tidur terpisah.

Setiap pagi Tiya disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga,sebenarnya Tiya ingin bekerja lagi tapi belum berani menyampaikan keinginannya itu pada suaminya.

Pagi ini,

Sambil menemani suaminya sarapan Tiya memberanikan diri untuk meminta uang belanja" eemmm...mas aku mau ngomong sebentar".

"ngomong aja" kata Rezza sambil makan nasi goreng buatan istrinya.

"bahan bahan didapur sudah pada habis mas",

"rencananya hari ini aku mau belanja" Tiya menggantung kalimatnya lalu terdiam,sebab dia merasa tak enak meminta uang belanja pada suaminya.

"oke" jawab Rezza singkat,setelah sarapanya habis Rezza berdiri dan berjalan menuju kamar,tak berapa lama Rezzapun kembali kemeja makan.

Dia meletakkan segepok uang diatas meja makan.

"ini uang untuk belanja selama satu bulan", "kalo ada lebihnya simpan untuk keperluanmu" ucap Rezza.

"iya..makasih mas" jawab Tiya sambil mencuci piring.

"aku berangkat dulu"pamit Rezza.

Buru buru Tiya mengelap tangannya dan menghampiri suaminya itu lalu Tiya meraih tangan Rezza dan menciumnya.

Rezza tertegun sebentar dengan perlakuan Tiya padanya,tanpa berkata sepatah katapun Rezza melangkahkan kakinya kearah pintu keluar dan menghilang dibalik pintu apartemennya.

Melihat respon Rezza yang tak menolak tangannya dicium Tiya,Tiya sungguh bahagia,Tiya merasa lega meskipun baru sedikit demi sedikit,namun Rezza mulai melunak hatinya.

"alhamdulillah ya Allah,hati mas Rezza sedikit membaik" ucap syukur Tiya pada yang Maha Kuasa.

Dengan hati riang sambil merapikan diri Tiya bersiap untuk keluar berbelanja kebutuhan rumah tangga kepasar terdekat.

Dari pada pergi kesupermarket Tiya lebih suka pergi kepasar tradisional sebab dipasar Tiya bisa mendapat sayuran,buah dan kebutuhan lainnya yang lebih segar.

Alasan lainnya Tiya juga bisa mendapat harga yang murah ataupun bisa menawar.Tiya menyeberangi jalan dan menghampiri tukang becak yang baru menunggu penumpang disana.

Tiya meminta tukang becak tersebut mengantarnya kepasar,sesampainya ditujuan Tiya meminta tukang becak tersebut menunggunya kembali.

Setelah mendapatkan apa yang Tiya butuhkan ia segera kembali keapartemennya diantar becak yang sama.

Hanya dengan pergi kepasar tradisional saja Tiya sudah sangat senang,ya Tiya adalah jenis orang yang sederhana tak pernah mengharapkan sesuatu yang berlebihan,hanya dengan hal hal kecil saja dia sudah merasa bahagia.

Sebenarnya Tiya ingin sekali mengantarkan makan siang untuk suaminya dan ingin makan siang bersama suaminya dikantornya,namun dia takut suaminya akan marah.

Pernah sekali dia pergi kekantor suaminya untuk mengantar makan siang tak disangka suaminya murka karena merasa terganggu dengan kehadiran Tiya,semenjak itu Tiya tak berani lagi menginjakkan kakinya ketempat kerja suaminya kecuali atas permintaan dari suaminya sendiri.

Handpone Tiya berdering

"halo mas.."

ternyata Rezza yang memanggil

"kamu bersiap siap sekarang",

bentar lagi aku jemput !" perintah Rezza.

"iya,kita mau kemana mas?" tanya Tiya penasaran.

"nganter ibu kebandara"

"ibu mau keBelanda,udah jangan banyak tanya" Rezza langsung menutup panggilanya.

"nie..orang kumat lagi ketusnya"gumam Tiya,

Tiya kemudian bersiap siap dan mengenakan gamis berwarna marun dipadukan dengan kerudung abu muda,tak lupa Tiya sedikit memoles wajahnya cukup memakai bedak tabur dan lipblam agar terkesan segar.

Selama menikah dengan Rezza baru dua kali Tiya naik mobil berdua dengan Rezza,jantung Tiyapun berdegup kencang tak karuan.

Handpone Tiya berbunyi lagi,Rezza memanggil,lantas Tiyapun menggeser tombol warna hijau,belum sempat Tiya bersuara Rezza sudah berkata

"turun sekarang",

"aku tunggu diujung jalan"lalu Rezza menutup telponnya.

Dari seberang jalan Rezza melihat Tiya berlari kecil menuju arahnya,tanpa Tiya sadari ada sepeda motor melaju kemudian menyerempetnya,seketika Tiyapun terpelanting ke bahu jalan dan sikunya membentur tepi trotoar,

Tiya mengaduh kesakitan dan berusaha bangun.

Karena takut motor yang menyerempetnya tadi langsung kabur.Tanpa pikir panjang Rezza berlari menghampiri Tiya dan membantunya berdiri

"kamu nggak pa pa Tiya?" Tanya Rezza panik.

"aku nggak pa pa kok mas" jawab Tiya agak gemetar karena masih kaget dan menahan ngilu disikunya.

"kita kerumah sakit dulu ya"

" nggak usah mas",

"takut nggak keburu waktunya,nanti malah nggak bisa ketemu sama ibu"

"beneran kamu nggak pa pa?" tanya Rezza meyakinkan,

Tiya hanya menjawab dengan gelengan kepala.

"ya..sudah..ayo.."ajak Rezza.

Mereka berdua berjalan beriringian menyebrangi jalan dan masuk kedalam mobil.

Sesampainya dibandara Rezza dan Tiya mencari keberadaan bu Sanusi.

Bu Sanusi sedang mengantri masuk keruang tunggu dia melihat Rezza dan Tiya dari kejauhan kemudian melambaikan tangannya.

Dengan langkah cepat suami istri itu berjalan mendekati bu Sanusi dan mencium tangannya.

" ibu pikir kalian nggak sempat kesini"

"alhamdulillah masih sempat bertemu ibu"

"kenapa mendadak bu?"

" lho Rezza nggak bilang to nduk?"

"kalo Ivan anak bungsu mbakmu jatuh dari sepeda trus tangannya patah",

"sekarang opnam dirumah sakit"

"ibu kawatir", "daripada tiap malem ibu nggak bisa tidur kepikiran terus ya..ibu putuskan kesana aja",

"mastiin keadaan cucu ibu"

"belum sempat cerita bu", "soalnya tadi buru buru" sanggah Rezza takut diomeli oleh ibunya.

"mungkin ibu agak lama disana sampek Ivan benar benar sembuh",

"jadi..ibu harap kalian pulang kerumah..yo..",

"rumah nggak ada yang jaga".

"insyaAllah besuk njih bu pulangnya", "soalnya harus berkemas dulu"

"manut sakkarepmu nduk(terserah kamu) sik penting jangan lama lama"

"le..Za jaga istrimu",

"jangan acuh tak acuh lagi padanya" "tunaikan tanggung jawabmu sebagai seorang suami"

"kamu ini laki laki sejati, harus bertanggung jawab dalam hal pekerjaan maupun rumah tangga"

"jangan suka bertengkar",

"kalau ada masalah selesaikan dengan kepala dingin".

"Nduk Tiya"

"kamu juga harus bersabar menghadapi suamimu ini",

"kalian harus saling memahami antara satu dengan yang laennya"

kemudian tibalah giliran bu Sanusi untuk masuk kedalam bording room,

"ibu masuk dulu..yo.."sambil memeluk anak dan menantunya bergantian.

"hati hati njih bu" ucap Tiya,

"jaga kesehatan ya bu, disana dingin..harus selalu pake baju hangat,jangan lupa obatnya diminum" pesan Rezza pada ibunya.

"iyo.." jawab bu Sanusi singkat.

"salam buat mbak Ana sekeluarga njih bu" ucap Tiya berkaca kaca,

" iyo..nanti tak sampeikan...uwis(udah) jangan nangis..ibu pergi dulu... jaga diri kalian baik baik.."pamit bu Sanusi.

"njih bu.."jawab pasangan suami istri itu berbarengan.

Setelah bu Sanusi tak terlihat Rezzapun menarik lengan kiri Tiya mengajaknya kembali. "aoowww...ssseee"teriak Tiya sambil mendesis menahan sakit.

"sorry..sorry..sakit ya...kita langsung periksa kerumah sakit aja,takut kenapa kenapa dengan tangan kamu".

Tiya mengangguk tanda setuju.Sekilas Rezza melihat Tiya agak pucat

"kamu sakit ya."

Tiya hanya menggelengkan kepalanya.

"kalau ada yang sakit ngomong aja,nggak usah ditahan".

" nggak kok mas"

padahal sebenarnya asam lambung Tiya mulai naik sebab tadi belum sempat makan, karena terburu buru menemui bu Sanusi di bandara.

Rezzapun mengalah dan tak bertanya lagi,suasana dalam mobil kembali hening hingga mereka sampai diparkiran rumah sakit.

Selesai mendaftar Rezza dan Tiya diarahkan keruang dokter tulang.

"selamat siang dok.." sapa Rezza sopan.

"siang..silahkan duduk"

sambil mengarahkan tangan ke tempat duduk.

"keluhannya apa?", "ada yang bisa saya bantu?"

Rezzapun menceritakan kejadian yang dialami Tiya tadi,kemudian Tiyapun mengatakan apa yang dirasakannya kepada dokter.

"coba mbak Tiya singsingkan lengannya keatas siku!",

"biar saya lihat seperti apa luka disiku mbak Tiya".

Tiya membuka kancing lengannya dan menaikkan keatas.

Melihat hal tersebut ,Rezza tak dapat mengalihkan pandangannya dari lengan Tiya yang terlihat putih mulus, namun ada memar disikunya.

hasrat Rezza mulai bergejolak,

"siall,kenapa bisa terpancing gini sih"

Rezza menelan air liurnya dengan susah payan.

Dokter yang sedang memeriksa Tiya menyadari kelakuan Rezza,

"pasti pengantin baru"

sindir dokter pada Rezza.

Rezzapun tergagap dan merasa malu sebab kelakuannya diketahui oleh sang dokter.

"nggak usah malu, orang sudah halal kok",

"nanti kalau sampean mau minta jatah pelan pelan aja",

"kasihan siku istrinya lagi sakit"

"kalo tangan istrinya udah sembuuuhhh", "lha monggo silahkan mau pakek model kayak apa juga bebas"

Sang Doktet berbicara tanpa teding aling aling,

sama sekali tak menghiraukan perasaan Rezza yang seperti pencuri ketangkep basah oleh sipemilik barang.

Rezza sunggun tak berkutik dengan ucapan dokter tadi ,dia hanya bisa nyengir kuda sambil menyandarkan kepala pada tangannya.

Tiyapun menjadi salah tingkah mendengar ucapan pak Dokter barusan,yang terlihat seumuran dengan pak Sudiman paman Tiya.

Selepas mengambil hasil rongten dan obat, mereka berdua memutuskan untuk kembali keapartemen.

Mengingat kata kata yang diucapkan oleh pak Dokter tadi mereka menjadi salah tingkah dan canggung.

Selama perjalanan pulang mereka hanya terdiam tak tau harus memulai berbicara dari mana.

1
Safa Almira
singkat dan berkualitas
Anih Suryani
ayah sontoloyo
Anih Suryani
s rezza punya bini terllu bego polos polos oon
Anih Suryani
hilang satu tumbuh seribu pelkor
Anih Suryani
diih rumah tngga masih ngurusin mantan knpa g d masukin aja s surya ke bui
Anih Suryani
s rezza oon s tiya terllu dungu baik hati g gitu juga x
Anih Suryani
bpk s amel terllu bego y
Anih Suryani
orang tua s amel goblog atau bego masih aja ketipu dgn akl licik y orang tua bodoh
Anih Suryani
s tiya jgn jd orang bego lh tegas ke ke s amel walpun sodra
Anih Suryani
bego aja s rezza orang mantan ko d kasih tunjangan
Anih Suryani
itu nmnya istrinya bego lemah lma lama dia bisa d kancungi sma cewe laun s tiya itu oon
Alanna Th
tq bnyk", othor 👍😘😍🤣😂🙏👋👋👋
Alanna Th
amel sdh dcerai, bkn kwjbn rezza tuk mngurusny, kan msh ada ortuny; kabarin aja k ortuny agar mrk tau klakuan anakny 🤔😠😜
Alanna Th
beu, pelakor satu blm beres, udeh muncul pelakor baru! 😱😠😜
Alanna Th
thor, aq ngebut baca novelmu, penasaran bgmn akhirnya stlh bu sanusi tau kronologisnya n bgmn nasib s amel stlh 'dberi pljrn' oleh rezza? 😱😫😰😥😭💔💔💔
Anisa 977
kok gk enak yah bacanya. besok lan bukan besuk
Anisa 977
emang gk pake leging
Alanna Th
rezza mulai trgoda 😱😜
Sur yani
semangat rezza ..
Nur Ain
hahaha sayang tuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!