Lilin tak mau dijodohkan. Dia tidak suka sama lelaki yang usianya terpaut jauh dengannya. Apalagi lelaki tersebut mirip ogah. Maka di hari perkawinan itu, Lilin lebih baik kabur. Pergi jauh.
Calon suami nya tentu saja tidak terima.
Dia bakalan mengejar sampai kemanapun cintanya pergi.
Ternyata memang kehidupan tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan. Penuh lika-likunya. Mesti ada perjuangan kala ingin tercapai segala yang diinginkannya. Begitu juga Aqi, kalau tidak sekarang kapan lagi. Mungkin waktu ke depan belum tentu ada kesempatan. Hingga perjuangan nya mesti berhasil.
Dan itu belum usai. perjalanan hidup terus berwarna. Dimana datang kawan lama yang membuat gondok. Dan saudara yang menyeret pada petualangan misteri nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon C4703R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Camburu lagi
Kembali bertemu dengan kenalan barunya yang kala itu dengan berani-beraninya datang, bersiap apel ke rumah kontrakan si Lilin, padahal ada Aqi di kamar sebelah.
“Hai...“
“Eh kamu?“
“Iya.“
“Lagi ngapain?“
“Nganggur.“
“Aku ada kenalan.“
“Dimana?“
“Di kemayoran. Kalau mau aku bisa mengantar kamu.“
“Kerja apa?“
“Kerja menjahit.“
“Baiklah.“
“Aku ikut....“ ujar Aqi tiba-tiba sudah ada didekat Lilin, yang karuan saja membuat dia terkejut, saat si mahluk tak mengenakkan sudah ada disitu.
“Si Aqi.“
“Bagaimana lagi.“
“Ikut terus.“
“Boleh ya.“
“Ya lah. “
Mereka di ajak sama kenalan itu dengan mengendarai mobil yang berwarna merah muda. Kemudian meluncur menuju kemayoran.
Mereka masuk ke sebuah rumah berlantai dua dengan mesin-mesin yang memenuhi hampir setiap ruangan dan bahan-bahan sangat banyak disela-selanya. Serta sudah banyak yang bekerja. Pada tiap mesin ada yang memegangnya. Paling hanya satu dua yang dibiarkan kosong. Demi perbaikan atau karena belum ada tenaga yang mengisinya. Maklumlah, biasanya kalau para penjahit itu orang yang sudah berpengalaman. Meskipun tidak sekolah, karena lama bekerja di bagian tersebut membuat mereka sangat lihai. Mereka-mereka ini kebanyakan dari kecil sudah bekerja di situ. Kalau tidak pada rumah konveksi lain, tapi masih satu jenis pekerjaan. Ada juga yang sengaja sekolah kursus di desa untuk bekal saat bekerja di tempat tersebut.
Hari itu juga mereka kembali bekerja. Cuma buang benang sama angkat-angkat barang sudah jadi atau bahan yang tak begitu berat namun berulang kali. Hampir sama seperti di Pademangan dulu. Cuma kali ini tak ada gangguan dari si pemilik rumah. Makanya cukup lama si Aqi tak jengkel dengan istrinya itu.
Di rumah jahit itu mereka mendapat seminggu. Mereka keluar. Kebetulan lagi menipis bahan bakunya. Dan para pekerja banyak yang pulang.
Dapet lagi kerjaan.
“Disini?“
“Ya....“
“Kita coba melamar.“
Mereka kemudian memasuki sebuah rumah di kebon kacang yang rumahnya dekat dengan kenalan Aqi saat mereka jalan jalan memutari kota.
Disini mereka hanya datang untuk membantu, tanpa perlu ijasah atau keahlian apapun. Asal mau mereka bisa.
“Sablonan.“
Mereka kerja sama orang yang perutnya gendut untuk membantu sampai bisa. Kerjanya hanya mengangkat barang dan yang sudah canggih menyablon kaos dengan cat yang warna warni.
“Lumayan dapat seminggu.“
“Tiga ratus lagi.“
“Asal lancar kita bisa bertahan nih di kota besar.“
“Tapi kapan kita kawinnya,“ ujar Aqi Firdaus mencoba mengungkit kenangan masa lalu yang membuat lilin harus merantau ke kota sangat besar itu.
“Yee....“
Terus ke penjualan. Di toko elektronik. Mereka diajak sama teman.
Lumayan laris. Lilin di penjualan. Si Aqi Fir angkat-angkat barang yang terjual atau masuk.
Si Aqi tak terlampau kesulitan. Apalagi di rumah juga biasa mengangkat-angkat gula ke pelanggan. Terbiasa jual beli. Hanya kalau di rumah terkadang banyak yang membantunya. Kecuali kalau semua sudah pergi karena mengantar barang yang laku, maka dia sendiri yang menyelesaikan pekerjaan.
“Ki jangan ngangkat berat-berat,“ ujar Lilin merasa tak tega pada orang tua yang meskipun menyebalkan itu, tapi selama ini telah berbuat begitu baik padanya.
“Kenapa?“
“Entar rontok boyok loe.“
“Ah biasa itu. Dirumah aku kan juga berjualan gula. “
Asal tidak ada penjarahan saja. Kalau ada jarahan, sebentar saja bakalan ludes.
Baik itu dibawa atau dibakar sampai hangus. Banyak yang mengambil barang elektronik, seperti TV, buat dibawa pulang dan dipakai di rumah sendiri.
dah mentok 😁
yuk yang baru....
thanks 🙏
smg
yuk