NovelToon NovelToon
ALTAIR: The Guardian Eagles

ALTAIR: The Guardian Eagles

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Fantasi
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Altairael

[MOHON DUKUNGAN UNTUK CERITA INI. NGGAK BAKAL NYESEL SIH NGIKUTIN PERJALANAN ARKA DAN DIYAN ✌️👍]

Karena keserakahan sang pemilik, cahaya mulia itu pun terbagi menjadi dua. Seharusnya cahaya tersebut kelak akan menjadi inti dari kemuliaan diri si empunya, tetapi yang terjadi justru sebaliknya---menjadi titik balik kejatuhannya.

Kemuliaan cahaya itu pun ternoda dan untuk memurnikannya kembali, cahaya yang telah menjadi bayi harus tinggal di bumi seperti makhluk buangan untuk menggenapi takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Altairael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BISIKAN

Berada di daerah pedesaan yang dinaungi oleh pegunungan, dikelilingi hutan, perkebunan dan sawah, memang harus siap bila menggigil kedinginan setiap pagi. Udara pagi di Desa Pandan seakan selalu stabil dengan standar dinginnya.

Angin bertiup kencang memaksa embun beranjak, beriringan keduanya mengalir di udara, menyapa apa pun yang mereka lalui dengan nuansa kelabu yang tidak saja dingin, tetapi juga lembap.

Di dalam sebuah kamar bernuansa putih, tubuh di atas pembaringan yang tadinya masih meringkuk tiba-tiba menyingkap selimut yang menutup kepala. Setelah itu, dengan cepat beralih posisi dari miring ke telentang, lalu menatap nanar langit-langit kamar.

Ini sungguh bukan ciri khas Diyan. Dia biasanya akan memanfaatkan masa liburan dengan lebih lama bermalas-malasan di tempat tidur. Lagi pula, tidur Diyan seharusnya juga tidak terusik tanpa teriakan ibu atau suara nyaring dering alarm.

Dahinya mengernyit, manik cokelat cerah bergerak liar melihat sekitar. Semua terasa asing, tetapi bukan itu yang membuat kerutan di dahi Diyan semakin dalam. Begitu bangun tadi dia langsung bisa mengingat saat ini sedang berada di mana.

Detak jarum jam terdengar begitu jelas dalam keheningan, Diyan mengerling sosoknya yang putih bulat bertengger di atas nakas. Pukul enam, pantas saja burung-burung sudah berisik. Namun, rasanya bukan itu juga yang sudah membuat Diyan terbangun.

Dia memaksakan diri bangkit dari baring, lalu duduk termangu sambil meraba dada yang tiba-tiba saja berdebar lebih kencang. Perasaan aneh yang tidak Diyan pahami terasa mengaduk-aduk jiwa hingga membuatnya sangat gelisah.

"Aaan ...."

Suara itu membuat Diyan menoleh cepat ke arah jendela yang tirainya masih tertutup. Suara berbisik barusan menggema di udara terbawa embusan angin yang cukup kencang.

Sesaat Diyan merasa yakin kalau suara itu memanggil namanya, tetapi setelah sejenak mendengarkan dengan saksama dan mendapati banyak tiruan suara terjadi disebabkan oleh embusan angin kencang, dia pun meragukannya.

Merasa tidak ada gunanya bangun terlalu pagi, dia bermaksud kembali menyamankan punggung di kasur. Namun, suara itu terdengar lagi lebih jelas dan lebih panjang.

"Aaan .... Aaaan ...."

Dia kembali menoleh ke arah jendela, memaku tatap pada kain putih bermotif bunga krisan yang tidak terpengaruh sedikit pun oleh embusan angin dari luar, padahal kaca nako tidak ditutup rapat. Dahinya mengernyit semakin dalam hingga mata pun menyipit.

"Diyaaan ...."

Sekarang sangat jelas suara itu memanggil namanya, Diyan pun segera bangun lagi dari baring. Meskipun sangat jelas, tetapi dia masih tidak terlalu yakin bahwa suara yang terbawa angin itu benar-benar memanggilnya. Diyan termenung memikirkannya dan ketika rasa ragu semakin besar, isi kepalanya pun seolah berteriak memerintah keluar dan pastikan sendiri.

Setelah melempar onggokan selimut ke samping, dia bergegas turun dari tempat tidur dan menghambur keluar tanpa ingat mengenakan sweater. Hanya kaus abu-abu tipis dan celana training berwarna senada yang melekat pada tubuhnya, alas kaki pun hanya sandal kamar tipis.

Ruang tengah masih sepi dan remang-remang, tetapi dari dapur sudah terdengar suara berisik. Seperti ada yang membimbing, Diyan terus melangkah ke ruang depan tanpa sekali pun melirik ke arah dapur yang hanya dibatasi dinding setinggi dada sebagai penyekat dengan ruang makan---untuk sampai ke depan Diyan harus melalui area ini.

Bu Harnum yang sedang sibuk menyiapkan bahan untuk diolah sebagai menu sarapan, tidak tahu saat si bungsu melintas. Namun, ketika mendengar suara pintu depan dibuka dia segera melongok.

"Siapa keluar sepagi ini?" gumamnya.

Berdiri di luar halaman rumah yang tidak berpagar, Diyan menatap lurus pada jalan menurun tanpa tahu pasti apa yang dicarinya. Hanya saja nalurinya merasa bahwa ada seseorang sedang menunggu di ujung jalan yang panjangnya kira-kira tiga ratus meter itu.

"Diyan ...."

Bahu Diyan menjengit. Sekarang, suara itu terdengar sangat jelas, bahkan rasanya seperti masuk ke dalam gendang telinga bersama angin yang berembus kencang. Diyan merinding tidak hanya karena kedinginan, tetapi juga karena sensasi seram yang dirasakannya. Kedua tangan mendekap diri kian erat ketika angin kencang datang seperti gelombang, sampai-sampai Diyan merasa tubuhnya pun turut berayun.

Rambut hitam yang sudah mencapai bahu pun terbang menutup muka. Ketika Diyan menggoyangkan kepala dengan maksud menghalau rambut yang membuat wajahnya risi, pada saat itulah tertangkap sekelebat bayangan dari balik rimbun tanaman di tepi jalan sebelah kanan.

Dia tidak sepenuhnya yakin itu bayangan seseorang, di suasana berkabut yang cukup tebal seperti sekarang ini bisa saja penglihatannya salah. Mungkin saja itu hanya kelebatan pohon yang tertiup angin.

"Diyan ...."

Suara itu terdengar lagi bersama deru angin yang entah kenapa, seperti sengaja ingin mempermainkannya. Kepala Diyan refleks melengos ke kiri untuk menghindari terpaan angin yang bertiup dari arah kanan. Namun, saat itu juga jantungnya serasa berhenti berdetak. Sungguh aneh. Selain di sekitar tempatnya berdiri, tidak terlihat ada pohon lain bergerak karena tiupan angin. Semua tampak tenang.

Fenomena apa ini?

"Diyan."

Diyan menoleh cepat ke arah suara berasal dan kali ini detak jantungnya berpacu lebih cepat. Puluhan meter di bawah sana, di tengah kabut tebal yang sepertinya tidak terjadi secara alami, ada sosok berpakaian hitam. Matanya menyala seperti bara, menatap beringas.

Diyan refleks mundur selangkah, wajahnya pucat pasi dan berkeringat. Angin kencang masih bertiup, tetapi aneh, yang dirasakannya sekarang justru hawa panas yang serasa memanggang.

"A-apa yang terjadi?" gumamnya sambil memandangi kedua telapak tangan bergantian. Dadanya pun tiba-tiba sakit dan sesak. "Ughf." Dia mencengkeram dada kiri yang rasanya berdenyut-denyut, seperti ada yang hendak menerobos ke luar.

"Kemarilah ... datanglah padaku. Datanglah pada saudaramu ini. Kemarilah, jangan ragu, Diyan."

Wajah Diyan semakin pasi dan peluh pun kian deras mengalir seperti lemak memuai. Suara itu sepertinya mengandung magis yang mampu membuat kaki Diyan bergerak sendiri. Dia bisa merasakan kekuatan tidak kasatmata yang sangat besar sedang menariknya.

"Ughf ... jangan. Jangan ke sana ...." Diyan bergumam pada diri sendiri sambil sekuat tenaga berusaha menahan kakinya supaya tidak bergerak.

"An, keluar rumah kok cuma pake kaos tipis, toh?"

Saat itu juga tubuh Diyan terhempas dan terbanting dalam posisi duduk, karena kekuatan yang tadi menariknya tiba-tiba sirna. Kehadiran Bu Harnum membuat suasana serta-merta berubah. Alam yang tadi bergejolak mendadak  menjadi sangat tenang.

Dengan napas yang masih ngos-ngosan Diyan celangak-celinguk, mencoba mencari orang bermata bara tadi. Siapa dia?  Andai saja fenomena yang barusan terjadi tadi Diyan dengar dari orang lain, sudah pasti dia tidak akan mempercayainya.

"Lah, kamu kenapa, toh? Kok tiba-tiba jatuh? Duh, Gusti! Ini keringat kok kayak banjir, ambekanmu ya kenapa ngos-ngosan kayak gini, An? Wajahmu ya pucet." Bu Harnum mengoceh sambil mengusap peluh yang membasahi wajah Diyan menggunakan kain yang dia bawa, lalu melingkarkannya pada bahu si bungsu sambil melontarkan pertanyaan susulan, "Kamu habis olahraga apa gimana?"

Diyan tidak langsung menjawab. Diam dan menurut saja ketika sang ibu membantunya berdiri. "Makasih, Bu," ucapnya kemudian.

Meski masih pucat, tetapi raut wajahnya tampak lebih santai. Setelah memberi ibunya senyuman, dia kembali menoleh ke arah jalan dan menjulurkan leher supaya bisa menjangkau tempat yang lebih jauh. Namun, tidak menemukan apa-apa.

"Cari apa, toh?" Bu Harnum pun melakukan hal yang sama, menjulurkan leher untuk melihat apa yang sekiranya sedang dilihat putranya.

"Nggak cari apa-apa, kok. Cuma lihat-lihat saja." Diyan berbohong karena tidak ingin membuat ibunya cemas. "Dingin. Ayo, masuk."

Perempuan itu bergeming dan menatap dengan mata menyipit. "Kamu nggak lagi bohong, kan?"

Diyan balas menatap sang ibu dengan sorot mata polos dan langsung ingat kalau seharusnya dia masih merajuk. Namun, salahkan saja dirinya yang tidak bisa bertahan lama ngambek. Dia  memang kerap merajuk, masalah kecil bisa menjadi besar, tetapi tidak lantas menjadi berkepanjangan. Beberapa jam berlalu atau hari ini berganti besok, dia pasti sudah kembali baik-baik saja. Lagi pula, semalam teman-temannya sudah menelepon dan menghibur. Jadi, sekarang hatinya benar-benar sudah baik-baik saja.

Mata memicing, Bu Harnum curiga jangan-jangan Diyan masih marah dan barusan, mungkin, sedang mencoba berbuat nakal untuk melampiaskannya. "Masih marah, huh?" tanyanya dengan nada jenaka disertai senyum lebar.

"Kayaknya masih, tapi nggak banyak." Diyan pun tersenyum lebar membuktikan bahwa dirinya sudah tidak marah lagi. "Ayo, masuk."

Bu Harnum terkekeh sambil mencubit main-main pucuk hidung putranya. Mancung dan mungil, pipi sedikit berisi, bibir bawah tebal ada belahan tipis, dan bibir atasnya menonjol dibagian tengah dengan philtrum bulat dalam. Ketampanan yang menggemaskan karena wajah itu tetap terlihat lebih muda dan imut dari usia sesungguhnya.

"Ayo. di sini dingin." Perempuan itu merangkul lengan putra bungsunya dan hendak mengajaknya melangkah, tetapi ....

"Apa yang kamu lakukan di sini?!"

Suara itu mengejutkan Diyan dan Bu Harnum. Mereka pun serempak menoleh ke asal suara. Cukup jauh dari tempat mereka berdiri, ada dua gadis saling tarik-menarik tangan.

"Ayo, pulang! Jangan bikin malu!" Gadis berambut hitam lurus berteriak sambil menarik kasar tangan gadis satunya.

Diyan langsung bisa mengenali mereka dan dahinya pun seketika mengernyit. Mereka adalah gadis yang kemarin. Kalau tidak salah ingat yang berambut kusut---tetapi sekarang tampak lebih rapi---bernama Srintil dan yang berambut hitam adalah Ambar. Namun, sepertinya ada yang aneh. Kemarin gadis berambut hitam itu terkesan hendak pasang badan untuk membela gadis yang satunya, tetapi sekarang kenapa terlihat kasar.

"Mereka ngapain di sini sepagi ini?" Bu Harnum cukup merasa heran karena rumah mereka letaknya terpencil. Lagi pula, tidak sembarang orang berani masuk karena rumah dan sekitarnya adalah wilayah pribadi.

[Bersambung]

1
Windy Veriyanti
seseru ini walaupun masih di episode awal 👍
Windy Veriyanti
selembar manusia tampan...
Aegis
ninggalin jejak dulu. nanti aku lanjut.
anggita
iklan☝+like👍 utk novel fantasi timur lokal. smoga sukses Thor
anggita
bojonegoro... jawa timur.
bang sleepy
Akhirnya sampai di chap terakhir update/Whimper/ aku bagi secangkir kopi biar authornya semangat nulis 🤭💗
bang sleepy
pengen kuguyur dengan saos kacang rasanya/Panic/
bang sleepy
brisik kamu kutu anjing! /Panic/
bang sleepy
bisa bisanya ngebucin di moment begini /Drowsy/
bang sleepy
mank eak?
diyan selalu berada di sisi mas arka/Chuckle/
bang sleepy
shock is an understatement....... /Scare/
bang sleepy
sabar ya bang arka wkwwk
bang sleepy
tetanggaku namanya cecilia trs penyakitan, sakit sakitan trs. akhirnya namanya diubah. bru sembuh
bang sleepy
mau heran tp mrk kan iblis /Drowsy/
bang sleepy
dun dun dun dunnnn~♪
bang sleepy
astaga suaranya kedengeran di telingaku /Gosh/
bang sleepy
Hah... jd raga palsu itu ya cuma buat nguji arka ama diyan
Bumirang_TJ: Kenyataan emang pahit ya🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
bang sleepy
bener uga ciii /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
bang sleepy
idih idihhh
bang sleepy
nyembur wkwkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!