Berjuang dengan penyakit yang dia derita selama ini malah mendapatkan pengkhianatan dari suami.
Arkan. Suami yang dia percaya selama enam tahun untuk menjaga anaknya, malah mengkhianatinya.
Yang membuat dirinya sakit hati, ternyata Arkan sedang bercinta dengan perawat yang bekerja di rumahnya untuk membantunya sembuh.
Nyatanya mereka berdua mengkhianatinya, saat itu juga dia bertekad untuk membohongi keduanya supaya kebusukan yang mereka lakukan terbongkar.
Bisakah Amel membongkar semua kebusukan yang mereka lakukan selama ini? Atau memilih setia dalam rumah tangga untuk kebahagiaan kedua anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8 : rasanya sangat nikmat
"Malam ini kenapa kamu cantik sekali." puji Rev yang melihat penampilan Lea yang sangat cantik, Rev mendekat untuk memperbaiki rambut Lea.
Rev menyentuh rambut Lea dengan lembut, "Menurutku lebih baik rambut ini di ikat, kalau seperti ini aku bisa melihat seluruh tubuhmu yang sangat mulus ini."
Lea tersenyum malu saat Rev terus memujinya, tidak sia-sia dia merawat tubuhnya dari bawah sampai atas. Ternyata lelaki di depannya sangat menyukainya.
Rev berhasil mengikat rambut Lea, leher jenjang itu sangat bersih tanpa bulu dan kotoran. Wanita ini sangat pandai merawat tubuh, sudah dia duga pasti ayahnya sudah tergila-gila dengan wanita ini.
Rev mendekat dan berbisik di telinga Lea, "Baby, lebih baik kamu naik ke ranjang aku akan memberikan sesuatu untuk kamu."
"Apa?" tanya Lea penasaran dengan menatap wajah Arkan yang masih ditutupi dengan topeng.
"Sudah kamu ikuti saja perkataanku. Nanti kamu akan tahu apa yang aku kasih untuk kamu." Lea mengikuti apa yang dikatakan Arkan, dia naik ke ranjang yang sudah di susun seperti malam pertama pengantin baru.
Rev mematikan lampu kamar, untung saja kamar yang ditempati Lea berada di belakang jadi tidak ada satupun yang mendengarnya. Rev menyalakan lilin, dia mau malam ini malam terindah untuknya. Malam yang tidak bisa dilupakan oleh Lea sendiri, apalagi dia akan bersama dengan Lea malam ini.
Lea terus memperhatikan Arkan, mulai dari menyusun banyak lilin yang sudah terdapat api, tidak lupa lelaki itu memberikan sedikit parfum dan juga bunga mawar yang indah.
"Sayang." panggil Lea, panggilan tersebut mampu membuat Rev menoleh.
"Apa kamu sudah selesai?" tanya Lea yang tidak sabar dengan malam ini.
"Tunggu sayang sebentar lagi selesai." setelah menyusun Rev tidak lupa mengunci pintu dan menutup gorden dengan rapat.
Di dalam kamar hanya terdapat cahaya yang dipantulkan oleh lilin yang Rev pasang, sedangkan Lea yang sudah menunggu tersenyum saat melihat Arkan naik ke atas tempat tidur menghampirinya. Wanita itu dengan cepat melingkarkan kedua tangannya di leher Rev, membuat lelaki itu tersenyum melihat bagaimana nakalnya wanita ini.
"Kamu sudah siap, baby?"
"Tanpa kamu tanya aku selalu siap." balas wanita itu yang menarik tubuh Rev, Rev terbuai dengan apa yang dilakukan Lea tapi Rev harus melakukannya dengan baik supaya wanita ini sadar akan sikapnya selama ini.
Rev mulai menciumi leher jenjang Lea yang sangat harum dan manis, tidak lupa ia menghisap pelan seakan dia sedang menghisap dan menjilat sebuah es krim vanilla. Rasanya sangat nikmat, Rev mulai berpindah ke tempat lain yaitu bibir dan tubuh bagian bawah Lea.
Lelaki itu terus saja menciumi tubuh Lea, membuat Lea terus merasakan kenikmatan yang luar biasa.
"Ah... Arkan..." desis Lea dengan keras saat lidah manis yang dilakukan Rev mampu membuat Lea terkejang hebat.
Sebelum dimulai Rev sempat menatap Lea, "Gimana rasanya sayang. Apa kamu menyukainya?"
"Aku sangat menyukainya." ucap Lea dengan nafas terengah-engah.
Rev memasukan satu tangannya untuk masuk ke dalam lingerie yang dikenakan Lea, sapuan lembut tangan Rev mampu membuat tubuh Lea membusung. Rev kembali menatap Lea saat wajah wanita itu seperti menikmati apa yang dia berikan.
Sepertinya wanita ini mulai kenikmatan. Apa aku mulai saja.
***
Untung Rev sudah menaruh pengaman, seberapa banyaknya ia berhubungan intim dengan wanita ini. Dia tidak akan takut untuk tanggung jawab. Rev kembali menyerang Lea dengan sangat brutal, dia tidak akan mengampuni perbuatan yang dilakukan Lea kepada orang tuanya.
Apalagi Lea sudah berani masuk ke rumah dan selingkuh dengan ayahnya, mau tidak mau ia harus membalas perbuatan Lea dengan cara seperti ini.
"Sa-sayang pelan-pelan... Ahhh..." Lea merasa kalau sentuhan ini sangat nikmat walau sekujur tubuhnya terasa sakit, Rev tidak peduli dengan rintihan yang diberikan Lea.
Yang ia pedulikan hanyalah balas dendam, keduanya sangat menikmati permainan panas ini. Lea sangat kewalahan dengan sentuhan Arkan, baru pertama kalinya Arkan melakukan ini dengan cara brutal tanpa pelan-pelan.
Tapi rasanya sangat nikmat dari biasanya, entah sudah berapa kali dan sudah berapa gaya yang diberikan Rev untuk Lea, yang pasti dia membuat tubuh wanita ini tidak bisa bergerak sama sekali.
Semua tubuh Lea sudah ia kuasai, mau mendengar rintihan dari bibir Lea dia sudah tidak peduli yang penting rasa nikmat yang kini dia rasakan.
Rev mencabut alat pusakanya, dia melihat Lea yang sudah terlelap akibat pelepasan yang terus berulang-ulang. Rev bangkit dan turun dari ranjang, tidak lupa ia mengambil pakaian dan topeng yang ia gunakan sebelumnya.
Dia tidak mau kalau Lea curiga kalau semalam yang melakukan adegan panas ini bukanlah Arkan melainkan dirinya.
Selamat menunggu kehancuranmu.
Itulah yang dikatakan Rev sebelum dia keluar dari kamar, tiba di kamar Rev segera membersihkan seluruh tubuhnya, dia tidak mau ada sesuatu yang menempel di tubuh akibat gulatan panas yang mereka lakukan barusan.
Ketika bangun Lea tersenyum saat mengingat perjalanan panjang kemarin malam, dia tidak menyangka ternyata Arkan sehebat itu. Biasanya dialah yang harus menggodanya, tapi malam itu Arkan yang lebih brutal raj ganas dari biasanya.
Ternyata tubuhnya hanya ditutupi dengan selimut sedangkan Arkan sudah pergi dari kamar, mungkin pria itu malu kalau bertemu dengannya saat malam panjangnya. Bagi dirinya itu tidak masalah, yang penting ia dengan Arkan bisa melakukan itu dengan puas.
"Ada apa dengan jalanmu Lea? Kenapa jalanmu seperti itu." ucap salah satu pembantu yang melihat Lea baru saja datang dan melihat langkahnya sedikit berbeda.
Lea tersenyum, "Tidak papa. Kanya aku terlalu banyak aktivitas jadi seperti ini."
"Mau dibelikan obat?" timpal Arkan yang memotong pembicaraan mereka berdua, Lea dan juga art itu menoleh secara bersamaan menatap Arkan.
"Tidak usah tuan, aku akan tunggu jamu yang lewat di depan rumah. Tuan tidak usah repot-repot membelikan saya obat." tolak Lea membuat Rev terkekeh saat membayangkan adegan panas semalam.
Mereka bertiga melanjutkan kembali sarapan, Rev dan Lilian pergi sekolah lebih dulu dari pada Arkan. Setelah kepergian Rev dan juga Lilian barulah Arkan, Lea mengerutkan kening saat seseorang datang dengan membawa sesuatu.
Orang tersebut adalah orang suruhan Rev, lelaki itu diminta untuk datang setiap saat buat memeriksa keadaan dan kesehatan Amel. Lea yang mendengar dari art yang lain segera menguping, wanita itu melihat kalau lelaki itu melangkah ke arah anak tangga.
Lea mengikuti langkah tersebut, dari dulu ia sangat penasaran dimana letak ruang rawat Amel. Lea terkejut saat pintu ruangan itu tertutup secara otomatis, Lea tidak bisa masuk saat pintu sudah tertutup.
"Argh!!! Gagal lagi. Tapi kenapa aku tidak pernah ada pintu di sini, dari mana asalnya pintu ini." pikir Lea, dari pertama kali dia datang ia memang penasaran dengan kamar rawat Amel.
Tetapi ia sudah berusaha mencarinya, tidak ada satupun di rumah ini ada ruangan khusus sedangkan dia melihatnya dengan jelas. Ada sebuah pintu dan ruangan seperti lorong masuk, lelaki itu masuk ke dalam lorong dan membuka pintu menggunakan sandi pengaman.
Hanya Rev, Lilian dan juga Arkan yang tahu. Tidak hanya itu saja ada satu art yang sangat dipercaya Rev untuk menjaga ibunya, wanita itu adalah orang yang pernah mengurus Lilian dan Rev saat masih kecil. Wanita itu sudah dijadikan kepala art, dan wanita itulah yang mengetahui semua yang ada di rumah ini.
Kepala art yang sangat dipercaya Rev memberitahu wanita itu untuk tidak memberi tahu siapapun. Apalagi wanita itu melihat kedatangan Lea yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
Lea memang sangat muda dan dia juga memiliki banyak pengalaman mengurus pekerjaan art, tapi entah kenapa kepala art dan juga Lilian, Rev sangat tidak mempercayai wanita ini. Maka dari itu mereka bertiga menjaga rahasia keberadaan Amel dari Lea.
Rev yang sibuk belajar di kelas melihat pesan masuk, pesan tersebut dikirim oleh orang kepercayaannya. Lelaki itu mengatakan kalau keadaan ibunya semakin hari semakin membaik, tapi dia belum pasti apakah Amel akan membuka mata atau tidak.
"Syukurlah kalau bunda sudah membaik. Aku yakin bunda akan segera sembuh, jangan sampai bunda tahu perselingkuhan ayah dengan pembantu baru di rumah." batin Rev yang menyimpan kembali handphone.