Cerita sedang Hiatus, tidak diperkenankan untuk dibaca.
Bagaimana jadinya ketika Anak baik-baik yang begitu tahu akan adab tiba-tiba berpindah ke tubuh gadis Antagonis?
Yup! Alvina memasuki tubuh seorang gadis yang terkenal dengan nama Bad Gueen, pembully yang sangat jahat di sekolah Antareksa. Begitu memasuki tubuh sang gadis antagonis, hidup Alvina berubah 100 derajat dari kehidupannya sebagai Alvina, gadis sopan dan tahu adab.
Lalu, apa yang akan dilakukan oleh Alvina? Yuk saksikan kelanjutannya!
SELAGI LAGI CERITA INI HANYA UNTUK BERSENANG-SENANG UNTUK MELEPAS BOSAN AUTHOR, SEKIAN DARI ZEN. TERIMA KASIH 🥂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosalyn., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTEMU KAKEK
Curah hujan semakin lebat sehinggga mengakibatkan seluruh tubuh Shopia basah tak terkecuali dengan tas miliknya. Shopia terus menelusuri jalan dan tidak lama kemudian dia bisa melihat sebuah pohon besar yang ada di tepi kanan jalan.
"Pohon, syukurlah akhirnya Aku bisa berteduh di sana," gumam Shopia senang dan kemudian mulai menghampiri pohon itu dan berteduh di bawahnya.
Dengan tubuh gemetar, Shopia melepas tas miliknya dan menaruhnya di tanah. Dia usap-usap punggungnya dan dia gosok kedua tangannya itu dengan harapan agar dingin segera mereda walau hanya sedikit.
"Hujannya lebat juga, ya. Mana dingin banget di sini. Huft.. " monolog Shopia celingak-celinguk ke arah kanan dan kiri jalan.
"Ini beneran Aku gak ada yang jemput? Yang bener aja, masa gak ada sih. Awas aja kalau Aku udah sampe rumah!!" gerutunya dengan mulut manyun.
Shopia berusaha mencairkan suasana nya sendiri disaat hatinya justru berkata lain. Mulutnya mungkin bisa berbicara santai, namun tidak dengan hatinya. Shopia sedih, sedih pada perlakuan yang tidak seharusnya dia terima.
"Dingin banget ya.. dingin banget... " lirihnya mulai tidak kuat untuk menyembunyikan perasaannya saat itu.
Shopia merunduk, menurunkan tatapan dengan pasrah, pasrah menerima semua nasib sialnya hari itu. Dia terus merunduk sampai tidak sadar jika saat itu ada sebuah mobil mewah bewarna hitam yang sedang melaju di rute jalan.
Mobil itu mendadak memelan begitu mendekati posisi Shopia yang sedang berteduh.
*Klak..
Pintu mobil terbuka, keluar seorang pria yang memakai jas rapi bewarna hitam, memegang sebuah payung. Pria itu dengan cepat membuka pintu mobil bagian belakang sehingga mulai terlihatlah sebuah kaki seseorang yang disusul oleh semua anggota tubuhnya.
Seorang pria tua mulai keluar dari dalam mobil itu. Dengan menggunakan setelan jas rapi bewarna abu-abu, pria tua itu terlihat sangat berwibawa. Apalagi pada saat dirinya menggunakan tongkat yang berukirkan naga.
Perlahan-lahan, pria itu mendekat ke arah Shopia. Wajah teduhnya tersenyum manis dan kemudian mulai berkata..
"Anak manis, apa yang kau lakukan di sini sendirian?" tanya pria tua itu dengan lembut.
Lamunan Shopia terpecah, dia mengalihkan fokusnya pada pria tua itu.
"Tidak, Aku-" perkataan Shopia terhenti tatkala melihat sesosok yang sangat familiar di ingatannya. Shopia mematung dan sesaat kemudian dia mulai berdiri dengan sikap canggungnya.
"Kakek... " benak Shopia yang sebenarnya mengetahui siapa pria tua yang sedang berdiri di depannya itu.
Rupanya pria tua itu adalah kakeknya. Kakek yang selama hidupnya dulu selalu saja mengacuhkannya, tidak memiliki waktu untuknya dan tidak ada didetik-detik napas terakhirnya.
Bagai disambar petir disiang bolong, Shopia kembali mengingat kenangan yang sangat menyakitkan itu sehingga tanpa sadar dia mengepalkan tangannya.
"Nak, kau sedang apa? Mengapa tidak jawab pertanyaan saya?" lanjut sang kakek yang bernama Denzel Salamon.
Shopia terhentak, tersadar dari lamunannya. Dia menatap Denzel dengan tatapan setengah menurun.
"Tidak, Aku lagi nunggu jemputan dari keluargaku," jawab Shopia.
"Udah berapa lama nunggu di sini? Pasti dijemput gak? Kalau tidak ada jemputan, saya akan antar kamu pulang, apakah mau?" ujar Denzel menawarkan tumpangan pada Shopia.
Shopia terhentak merasa enggan menerima tawaran dari orang yang pernah memiliki peran penting dalam membuat sebuah trauma pada dirinya. Shopia terdiam sejenak, mengerutkan kening dengan tangan menggenggam.
"Kenapa harus ketemu sama kakek lagi sih. Mana dia nawarin tumpangan lagi. Tapi kalau aku tolak, aku bakal di sini lebih lama lagi dong? Apa aku terima aja ya tawaran kakek.. " benak Shopia masih ragu-ragu.
"Bagaimana nak? Apakah kamu mau?" tanya Denzel sekali lagi pada Shopia.
"I-iya, saya mau kakek," jawab Shopia dengan canggung.
Denzel tersenyum ramah dan tidak lama kemudian dia mulai mendekati Shopia.
"Kemarilah, mari berdiri di bawah payung bersama saya," ajak Denzel.
"T-tidak usah kakek, baju saya basah, saya takut kakek jadi ikut basah," tolak Shopia. "Ogah banget! " lanjutnya dalam hati.
"Tidak apa-apa, ayo. Tas kamu tolong serahkan saja pada supir saya,"
Supir Denzel segera bergerak untuk mengambil tas milik Shopia. Shopia pun dengan terpaksa menyerahkan tas itu pada sang supir. Pun dia sudah sangat kedinginan, dia tidak memiliki pilihan lain, selain menyetujui ajakan Denzel.
...****************...
Di dalam perjalanan*
Kelvin melaju di rute jalan dalam keadaan basah kuyup karena curah hujan yang sangat lebat tersebut. Sesekali dirinya melihat ke kiri dan kanan jalan untuk melihat apakah ada Shopia atau tidak di tepi jalan tersebut.
Namun tidak lama, Kelvin di kejutkan oleh pemandangan yang membuat kepalanya panas. Kelvin menghentikan motornya di tepi jalan dan mengarahkan pandangan kearah Cafe yang tidak jauh dari seberang jalan raya.
Di sana terdapat Erlan yang sedang duduk santai sembari merokok bersama teman-temannya. Melihat hal itu tentu saja Kelvin menjadi naik pitam.
"Bangke! Awas aja lo Erlan, habis lo gue buat! Tapi sekarang gue harus fokus nyari Adek gue dulu. Dia pasti kedinginan banget sekarang," ujarnya memilih untuk tidak menghiraukan Erlan, karena menurutnya Shopia jauh lebih penting sekarang.
Kelvin kembali tancap gas dan melaju di jalanan. Entah apakah dia bisa bertemu atau tidak dengan Shopia, namun dia yakin jika saat ini Shopia sangat memerlukan dirinya.
Kembali lagi pada keadaan Shopia saat ini. Disaat Kelvin sedang resah mencarinya, Shopia justru sedang duduk enak di dalam mobil sembari menikmati secangkir susu panas yang baru saja dibelikan oleh Denzel.
"Terima kasih ya kakek, susunya sangat enak," ujar Shopia berterima kasih karena telah diberi susu kesukaannya.
Denzel tersenyum ramah dan menatap Shopia dengan tatapan teduhnya. Tidak tahu mengapa, ada sebuah kesedihan yang mengganjal hatinya. Seketika pandangannya menurun, senyuman kecut itu mulai menghias wajah teduhnya.
"Kakek, kita-" perkataan Shopia terhenti saat melihat ekspresi sedih yang sebisa mungkin Denzel tutupi, namun Shopia tahu betul jika saat ini Denzel sedang sedih.
"Kenapa lagi dengan kakek? Bukankah hidup kakek enak-enak aja di sana? Kaya raya dan bahkan aku udah gak ada kan? Lantas, apalagi yang kakek risaukan?" benak Shopia yang sebenarnya itu adalah unek-unek nya selama ini.
"Ehem.. kakek sebentar lagi kita sudah dekat dengan kediaman Benson," ujar Shopia canggung sehingga mencuri fokus Denzel.
"Oh benarkah? Rupanya kamu ini keluarga Benson ya? Kakek tidak menyangka, kakek bisa bertemu dengan Anak teman bisnis kakek," jawab Denzel senang.
"W-wah.. benarkah?" balas Shopia tersenyum tidak nyaman, alias dibuat-buat.
"Tapi kakek tidak bisa singgah ke rumah kamu, jadi kamu sampaikan saja salam dari kakek buat orang tua kamu, ya?" lanjut Denzel lagi.
"I-iya kakek. Shopia bakal sampein kok salam dari kakek," jawab Shopia.
"Baiklah,"
Seperti itu lah percakapan itu berlangsung, percakapan yang bisa dirasakan sebuah hawa kecanggungan yang kuat. Shopia tidak henti-hentinya berdehem karena tidak nyaman dengan kondisi saat itu.
^^^To be Continued~^^^