Hasrat adalah sebuah keinginan. Keinginan dalam apapun. Tapi kata "hasrat" biasanya berkonotasi sedikit negatif. Kata itu selalu disandingkan dengan keinginan untuk bercinta.
Sedangkan bagi Abra Ishan Abinawa dia tidak mengenal kata itu. Dia tidak memiliki keinginan untuk berhubungan dengan wanita di usianya yang sudah tidak muda lagi, yakni 32 tahun. Menurutnya wanita itu sungguh ribet dan menyusahkan. Terlebih sebuah alergi muncul saat dia bersentuhan dengan wanita. Hingga dia bertemu oleh seorang gadis yang memanggilnya "Om".
Gadis cantik berusia 25 tahun bernama Ciara Kamila Prasojo itu selalu membuat Abra naik darah. Ada saja ulah Ciara yang membuat Abra kehabisan akal.
Apakah akan muncul hasrat dari Abra kepada Ciara?
Lalu kira-kira hasrat seperti apa itu?
Dan, bagaimana dengan alergi Abra?
Cerita ini pol ringan ya guys. Nggak akan ada konflik yang berat. So nikmati aja oke.
HAPPY READING
pict. by pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Presdir Ketus 08
Beberapa hari berlalu, Abra kembali bersikap seperti biasa dan tidak memberikan izin kepada Wanti untuk masuk. Wanti jelas tidak kaget, dia cukup mengerti dengan perangai sang bos.
Abra baru ingat bahwa kemarin Ciara sudah mengiriminya design yang ia minta. Ia lalu membukanya dan melihat secara seksama. Semua sesuai dengan yang ia minta. Abra kemudian berjalan keluar hendak menemui Ciara. Ia masih penasaran dengan sentuhan Ciara yang tidak membuatnya mual.
" Tidak, ini hanya sekedar dugaan sementara. Tentu aku harus membuktikannya sendiri, apakah benar wanita itu yang tidak membuatku mual dan muntah."
Abra langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. Ia akan melihat apa yang sedang Ciara lakukan kali ini. Entahlah, yang jelas Abra begitu penasaran.
" Permisi pak, saya mau mengantarkan beberapa berkas," ucap seorang karyawan wanita.
Abra mengerutkan alisnya dan memundurkan tubuhnya beberapa langkah. Ia sepertinya tidak mengenali wanita yang saat ini berdiri di depannya itu. Wanita itu mengenakan kemeja berwana coklat muda dipadukan dengan rok hitam. Kemeja dan rok itu menurut Abra sangat tidak cocok dengan tubuh wanita tersebut.
" Kamu siapa?" tanya Abra akhirnya setelah melihat tampilan wanita itu dari atas ke bawah.
" Nama saya Yuli, saya karyawan baru," jawab Yuli dengan wajah yang tersipu malu. Ya, wanita itu adalah Yuli. Dia memang berinisiatif untuk membawakan semua berkas di divisinya kepada Abra.
" Oh karyawan baru, pantas tidak paham. Letakkan berkas itu di meja Wanti, Hanya Wanti yang bisa masuk ke dalam ruangan ku. Aaaah iya, besok jangan datang ke perusahaan dengan menggunakan baju yang kekecilan begitu. Itu dadda mu kasian susah bernafas kelihatan sesek gitu. Dan roknya lebih panjang dari itu, kasian nanti kamu masuk angin kalau kena AC dengan rok yang pendek begitu, Ok!"
Abra melenggang pergi setelah mengatakan semua hal tersebut. Wajah Yuli seketika memerah, antara marah dan kesal. Di pojok ruangan, Wanti terkekeh geli. Jika ia bisa berteriak maka dia akan berkata," sukuriiiiin!" sekeras-kerasnya kepada karyawan baru yang bernama Yuli itu.
Bruk!
Yuli meletakkan semua berkas itu di meja sekretaris dengan keras. Ia lalu pergi dengan sejuta rasa kesalnya. Niatnya ingin menggoda Abra, tapi malah mendapat komentar pedas.
" Sukur, dikasih tahu ngeyel sih. Sok-sokan lagi mau menggoda Pak Bos. Yang ada malah kamu di cut dari sini," cibir Wanti setelah Yuli sudah benar-benar pergi. Dia tadi tidak mau muncul saat setelah Abra baru saja keluar dari ruangan, karena ingin Yuli menghadapai Abra sendiri. Ia ingin Yuli tahu sendiri bagaimana bosnya itu bersikap.
Abra benar-benar mendatangi lantai yang akan di renovasi menjadi ruangannya. Terlihat beberapa tukang ada di sana. Sebenarnya di lantai itu juga sudah ada dua buah ruangan. Yang satu besar dan yang satu lebih kecil. Pas untuk ruang rapat dan ruang presiden direktur. Tinggal menggempur sedikit dinding agar bisa dihubungkan antara kedua nya. Sesuai dengan permintaan Abra tentunya.
Selain itu, paling nanti harus membuat sekat untuk membuat ruang istirahat dan mini pantry sesuai dengan kemauan si pemilik.
" Bagaimana progresnya?" tanya Abra tiba-tiba dari belakang Ciara yang membuat gadis itu terlonjak.
" Eh buset deh om, eh pak, permisi gitu kek. Muncul tiba-tiba macam jelangkung aja," cibir Ciara. Ia masih kesal atas ulah Abra waktu itu.
Air muka Abra seketika berubah kecut saat dipanggil 'om' dan dikatai 'jailangkung'. Ia mendesahkan nafasnya kasar. Baru sekitar seminggu wanita itu bekerja di sana sudah membuat Abra kesal. Panggilan dan sebutan yang disematkan Ciara kepada Abra membuat pria itu selalu kesal.
" Bisa nggak tidak sih kalau tidak memanggilku Om, aku ini bukan om-om dan aku juga tidak pernah menikah dengan tante mu," sungut Abra.
" Baik Pak Bos, sesuai perintah yang mulia," tukas Ciara kesal.
Entahlah, setiap berbicara dengan Abra, hati Ciara selalu kesal. Ia pun memilih untuk berjalan sedikit ke tengah ruangan untuk melihat proses penggempuran dinding. Sekitar 1,5x2 meter. Itu nanti akan dibuat pintu yang menghubungkan ruang rapat dengan ruang kantor Abra.
Dugh! Dugh! Dugh! Brubul ... brubul ... Serpihan-serpihan dinding itu berjatuhan ke lantai. Ciara berdiri sedikit lebih jauh dari lokasi itu sambil memberi pengarahan kepada tukang yang sedang mengerjakannya.
Dugh! Gruduuuk
Sebuah serpihan sedikit lebih besar itu ada yang mental ke arah Ciara. Abra yang melihat langsung berlari dan menghambur ke tubuh Ciara untuk melindungi wanita itu.
" Awaaas!!! auch !"
Mata Ciara membulat sempurna saat melihat tubuhnya dipeluk oleh Abra dan dengan jelas Ciara bisa mendengar Abra berteriak kesakitan. Semua orang yang ada di situ langsung menghentikan pekerjaan mereka.
" Maaf pak, maaf kami tidak sengaja!"
" Auuh, tidak apa-apa. Ini bukan salah kalian. Seharusnya kami yang salah karena berada di sini. Kamu tidak apa-apa?"
" I-iya, tidak apa-apa."
Abra melepaskan pelukannya terhadap tubuh Ciara. Dan melenggang pergi, tapi bisa Ciara lihat Abra meringis kesakitan. Ia pun berinisiatif untuk mengikuti Abra.
" Apakah sakit pak? Perlu saya bantu mengobati?" tawar Ciara.
Awalnya Abra ingin menolak, tapi sepertinya ini moment yang pas untuk melakukan eksperimen yang kedua. Eksperimen dengan Wanti gagal, maka kali ini dia akan mencoba bersama Ciara.
" Aku ada P3K di ruanganku. Kamu ikuti aku ke ruangan," tukas Abra kemudian.
Ciara mengekor Abra hingga keduanya masuk ke ruangan Presdir. Wanti jelas terkejut saat melihat Abra membawa seorang wanita ke dalam ruangan khusus itu. Ini baru pertama kalinya selama ia kerja di sana. Tapi Wanti tidak mau ambil pusing. Jelas sekali itu bukan urusannya.
" Apa punggung bapak yang kena tadi?"
" Sepertinya iya. Apa aku harus membukanya?"
" Ya iyalah pak, kalau nggak di buka memangnya obatnya bisa nembus melewati jas dan kemeja bapak?"
Abra menghembuskan nafasnya kasar. Jawaban Ciara membuatnya kesal. Ia langsung saja membuka jas dan kemejanya sehingga tampilannya menjadi topless.
Rasakan, aku yakin kamu grogi lihat tubuhku yang bagus ini, batin Abra.
Tapi sepertinya itu hanyalah khayalan Abra. Nyatanya Ciara bersikap biasa saja. Wanita itu malah sudah mulai mengoleskan sejenis salep agar benturan serpihan dinding yang mengenai punggung Abra itu tidak membiru. Tidak ada luka di sana. Hanya memang sedikit memar.
Tangan halus dan lembut Ciara yang menyentuh kulit punggungnya itu membuat Abra merasakan sesuatu yang lain. Apalagi Ciara sedikit memijat punggungnya itu, sesuatu miliknya dibawah sana memunculkan sebuah reaksi yang tidak pernah dia duga selama ini.
Kok begini, yang dipijat kan punggungku, tapi mengapa 'dia' ikut berdenyut. Waah nggak bener, dan juga kok aku tidak mual. Kok aku nggak pengen muntah, fix ini aneh.
TBC
Terima kasih utk karyanya Kak, sehat2 slalu 🙏🏼💐💪🏼