Mitos dilangkahi adik perempuan menikah, merupakan momok yang menakutkan bagi Bening Embun Pagi. Belum lagi anggapan orang-orang yang akan melabelinya sebagai perawan tua, begitu menkutkan baginya.
keadaan yang membuatnya sangat terdesak ini, membuat Bening akhirnya, mengambil jalan pintas, dengan menjebak pria incarannya di coffee shop miliknya.
Sayangnya penjebakan itu berujung petaka bagi hidup bening, pria yang masuk dalam jebakannya bukanlah pria idamannya melainkan seorang pengusaha perkebunan teh asal Kota Kembang Bandung yang terkenal dengan sifatnya yang arogan.
Bagaimanakah nasib Bening selanjutnya? apakah ia akan menikah dengan pria idamannya atau justru terjebak pernikahan dengan pria arogan yang masuk perangkapnya?
Cerita selengkapnya hanya ada di novel Salah Sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Setelah Surya pergi dari ruang makan, Bening pun kembali ke kamarnya. Ia mengunci pintu kemudian berdiri sembari berkacak pingang. Bening memikirkan untuk menaruh kursi di depan pintu untuk memastikan Surya tidak bisa masuk ke kamarnya, ia tak ingin di sentuh oleh suaminya.
Bening terus mengamati pintu, membayangkan jika Surya mendobrak pintu kamarnya dan memaksa masuk. Surya memang bilang jika dia tak akan datang ke kamar Bening malam ini, tapi... Bening bisa melihat tatapan Surya yang begitu rakus sehingga Bening tak bisa mempercayai ucapan Surya begitu saja.
"Menurutku berceloteh merupakan hal yang membosankan." Bening meniru ucapan Surya. "Kau tak perlu repot-repot mengenalku," ia memutar bola matanya. "Benar-benar pria yang menyebalkan," gerutunya.
Bening merupakan gadis yang senang bersosialisasi dan mengobrol dengan siapa saja, tapi dia menikah dengan pria seperti Surya. "Oh!" pekiknya frustasi, ia menangkupkan tangannya ke keningnya.
Ya, mengunci pintu saja sudah cukup, Bening yakin Surya tidak akan sampai mendobrak pintu itu. Ia menjauh dari pintu kemudian menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.
Bening duduk dengan kedua tangannya di samping lutut, napasnya sedikit memburu. 'Ada apa dengan Surya Magenta?' dia di kenal luas sebagai pria yang menyendiri, Bening seperti melihat sesuatu yang Surya tutupi dari balik sikap dingin yang di tunjukan pria itu.
Bening kembali teringat akan ucapan suaminya tadi. 'Kau menulis surat untuk Aksara, kau mengira aku adalah dia.' bagaimana Surya tahu jika Bening menulis surat untuk Aksara? Dan kalau dia tahu bahwa target penjebakannya adalah Aksara, kenapa Surya membalas ciuman Bening dengan lebih menggelora.
Memikirkan ciuman panasnya bersama Surya, membuat Bening gerah. Ia membuka satu persatu kancing pakaiannya, namun seketika Bening terkejut saat mendengar ketukan pintu, ia tersingkap dan melompat berdiri, kemudian mencari sesuatu.
Bening menemukan stik golfnya, ia bersiap untuk memukul kalau-kalau Surya mendobrak pintunya. "Siapa di sana?" tanyanya waspada.
"Cinta, Nyonya. Saya di perintahkan oleh Pak Toto untuk membantu, Nyonya."
Bening di banjiri oleh rasa lega, yang membuatnya terasa lemas. Ia menarik napas, kemudian menaruh kembali stik golf di tempatnya, barulah Bening membukakan pintu untuk gadis yang usianya kira-kira lima tahun di bawahnya.
Bening nampak terkejut melihat wanita itu mengenakan pakaian koki. Cinta menekuk lutut di hadapan Bening, "Selamat malam, Nyonya. Kata Pak Toto saya harus membantu Anda, sampai Anda mendapatkan asisten pribadi."
Reaksi awal Bening ingin menyuruh Cinta pergi, namun ia senang mendapatkan teman sehingga ia menarik Cinta masuk ke kamarnya. "Terima kasih."
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
"Ah," Bening mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. "Koperku, bisakah kau mengeluarkan semua isinya?"
"Tentu saja," Cinta bergegas menuju koper Bening yang di letakan di samping lemari.
Bening duduk di atas tempat tidur memperhatikan Cinta membongkar isi kopernya. "Apa kau sudah lama bekerja di sini?"
"Iya, Nyonya. Dari lahir saya sudah tinggal di sini, Ibuku koki utama di rumah ini, dan aku sedang di persiapkan untuk menggantikannya."
Mata Bening langsung berbinar-binar mengetahui Cinta akan jadi koki di kediamannya, ia langsung menanyakan apa makanan kesukaan Surya.
"Dari lahir, Tuan Surya hanya memakan makanan sehat yang di anjurkan oleh ahli gizinya. Beliau sama sekali tidak pernah memakan makanan yang berminyak, yang tak baik untuk tubuh."
"Tidak pernah?" Bening terkejut. "Apa kau tahu, dia pernah jajan di pinggir jalan atau tidak?"
Cinta menggeleng. "Dengan pola makan yang seperti itu, sudah di pastikan jika Tuan Surya tak pernah makan makanan pinggir jalan."
'Hidupnya sungguh tak berwarna sekali,' batin Bening, ia merasa beruntung meski tinggal di rumah ayah tirinya yang seorang konglomerat terhormat, tapi ayahnya tak pernah membuat aturan tentang makanan, ia dan saudara tirinya bebas makan di mana pun yang kami suka.
Setengah jam kemudian Cinta selesai membongkar isi koper Bening dan menaruhnya di lemari pakaian. "Apa ada lagi yang bisa saya kerjakan?" wanita itu terlihat riang bisa melayani Bening.
"Tidak ada, semuanya sudah beres. Aku ingin istirahat," ucap Bening sembari tersenyum.
"Baiklah. Kemungkinan besok pagi Pak Toto akan mencarikan asisten pribadi untuk Nyonya."
"Kenapa bukan kamu saja?"
Wanita itu terkejut sehingga membuat Bening nyaris tertawa. "Saya? Saya sudah dipersiapkan untuk menjadi juru masak, jadi sepertinya Pak Toto tidak akan mengizinkannya."
"Nanti aku yang akan bicara dengan Toto." Entah mengapa Bening menyukai gadis itu, ia merasa akan sangat cocok jika gadis itu menjadi asistennya, dan Surya harus mencari pengganti juru masak lainnya.
"Sebetulnya, aku senang bisa melayani Nyonya. Karena aku sendiri tak begitu pandai memasak seperti ibuku, tapi aku yakin Pak Toto dan Tuan Surya tak akan mengizinkannya sebab mereka berkeyakinan jika buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, mereka menganggap masakanku seenak ibuku."
Bening merangkul bahu Cinta, mereka berdua berjalan menuju pintu. "Biar aku nanti yang akan membujuk Toto, aku sangat pandai membujuk."
Ketika Cinta sudah pergi, Bening kembali mengunci pintu kamarnya, kemudian ia mengenakan pakaian tidurnya. Bening berbaring di atas tempat tidur, namun sayangnya ia tak dapat memejamkan matanya, setiap ada suara yang bederit ia seperti merasakan Surya datang untuk meminta haknya sebagai suami.
Bening memejamkan mata, membayangkan jika Surya berada di hadapannya dengan wajah dingin dan sorot matanya yang tajam. Apakah Bening akan sanggup bercinta dengan pria seperti itu? membayangkannya saja ia sudah merasakan kengerian di sekujur tubuhnya.
Bening juga membayangkan hari-harinya yang sunyi, yang sangat jauh berbeda dengan kehidupannya di Surabaya dan coffee shopnya. Hidup di rumah Surya terasa sendiri, tanpa bergaul dengan siapa pun, tak ada teman bicara atau berghibah, tak bisa arisan atau sekedar nongkrong.
Betapa besarnya kekacauan yang kau timbulkan akibat salah sasaran ini, Bening Embun Pagi.
Ia menyadarkan dirinya sendiri yang sudah bertindak bodoh karena ketakutannya akan mitos konyol itu.
semoga sukses selalu karya karyanya 🤲
begitulah mereka