Kedekatan yang telah terjalin semenjak masih belia harus berbanding terbalik kala sebuah ikatan memaksa mereka untuk bersatu.
Surinala Jarumilind, gadis berparas ayu bertatapan sendu. Salah mengartikan sikap manis seorang pria yang telah lama mengisi hari-harinya.
Bara Dewandaru, pria berparas tampan, berperawakan gagah dan bermulut manis yang di gandrungi banyak wanita.
Mau tau kelanjutannya, baca dan ikuti perjalanan rumah tangga mereka yang penuh dengan intrik dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangis di malam pertama
Dan di sinilah keduanya, duduk saling memunggungi di dalam satu ruangan tanpa ada kata yang terucap. Hingga tiba saja Bara mengatakan sesuatu di tengah heningnya suasana dan membuat Nala sedikit terkesiap.
"Kamu seneng?"
"Apa?" saut Nala tak begitu yakin akan apa yang ia dengar.
"Pasti ini kan yang kamu mau."
"Maksud abang apa?" tanya Nala sekali lagi dengan bingung.
Bara terkekeh, "Abang kira kamu gadis polos dan lugu. Ternyata, enggak. Kamu sengaja deketin Mama biar bisa nikah sama abang kan?"
Seketika Nala berbalik menatap pria di belakangnya, tangannya mengepal meremas kain di sisi bajunya. Sorotnya mengembun akibat rasa sesak yang mulai merambat.
"Abang ini ngomong apa? Nala gak pernah ada maksud kaya gitu. Nala beneran gak tau kalau kita bakalan sampai di titik ini."
"Bohong!" sergah Bara cepat, "Buktinya kamu diam dan gak ngelawan apa kata Mama."
Bara beranjak berdiri dan melangkah mendekat ke arah Nala. Ia membuka satu persatu kancing kemeja yang masih melekat di tubuh kekarnya. Di buangnya kain itu asal, hingga terlihat dada telanjang dengan guratan otot yang nampak menggoda.
Nala seketika merasa canggung sekaligus takut melihat sikap Bara yang sedemikian rupa. Ia meringsut mundur dan semakin tenggelam di atas ranjang kala pria itu mendekat dan mengungkungnya dengan tubuh kekarnya.
Bara tersenyum miring, melihat Nala yang ketakutan dan tak berani memandangnya langsung. Nafas hangatnya berhembus menyapu wajah gadis itu hingga menghantarkan gelenyar aneh yang melingkupi dirinya. Ia semakin menunduk dan berbisik tepat di sisi wajah gadis itu.
"Jangan pernah berharap jika pernikahan yang sedang kita jalani ini, akan semanis madu yang kamu sesap tanpa syarat. Aku pastikan, ini akan terasa getir dan kau akan merasakan kepahitan yang berkepanjangan."
Seketika pria itu menarik tubuhnya kembali dan melangkah pergi dari hadapan gadis itu. Ia masuk kedalam kamar mandi, dan menutup pintunya dengan keras hingga menimbulkan suara yang memekakkan.
Sontak tubuh Nala berguncang karena terkejut. Tangis yang sedari tadi ia tahan, akhirnya tumpah seketika. Ia menangis tanpa suara. Jemarinya meremas seprai yang menjadi tumpuannya, tubuhnya meringkuk di dalam selimut yang menenggelamkan dirinya.
Sesak yang kali ini ia rasakan, sungguhlah amat sangat mendera. Hanya perkataan, namun cukup memukul telak akan harapannya. Nyatanya pria yang beberapa waktu lalu menyembuhkan dukanya tapi dia juga yang kali ini menggoreskan luka pada dirinya.
Malam pertama yang di gadang-gadang menjadi malam paling membekas bagi sepasang suami istri. Terbukti telah terjadi padanya, tetapi memiliki makna yang berbanding terbalik dengan semestinya.
Decit pintu tiba saja terdengar. Bara keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan lilitan handuk di pinggangnya. surainya nampak basah meneteskan air yang merembes di tubuh kekarnya.
Bara berjalan di sisi ranjang, ia mematikan lampu yang berpendar dan melirik sekilas ke arah gadis yang tengah meringkuk di dalam selimut. Bara membuka handuknya tanpa ragu dan menggunakan celana panjang bahan kain yang berada di sisi ranjang. Di raihnya ponsel yang berada di atas nakas dan beranjak duduk di atas sofa panjang yang berada di dalam ruangan tersebut.
Ia kemudian membuka beberapa notifikasi pesan yang baru saja masuk di ponselnya. Detik itu juga, Bara menerima panggilan masuk yang sedari tadi tengah di tunggu olehnya.
"Halo ..."
"Ya, sayang. Besok aku jemput."
Pria itu tersenyum simpul. Kabar gembira jelas baru saja ia dapatkan terlihat dari raut wajahnya yang menampakkan demikian. Di letakkannya ponsel itu di sebelahnya seraya merebahkan tubuhnya di atas sofa dan memilih tidur tanpa menghiraukan sosok di atas ranjang yang sedari tadi meringkuk dalam diam.
Tanpa ia sadari, sosok yang ia kira telah terlelap nyatanya masih terjaga dan mendengar segala ucapannya. Nala yang dari tadi diam tak berkutik, sejujurnya tengah menahan tangis. Seketika ia kembali terisak dengan membekap mulutnya sendiri.
Ia tak berani menyingkap selimut atau sekedar berpindah posisi. Dirinya hanya diam, menangis seorang diri merutuki akan jalan hidupnya. Meredam pilu yang tengah meraja dari sekian luka yang telah ia terima.
...----------------🍑----------------...
gamPaR aja banG baRa nya biaR gak kuraNg ajaR saMa oRtu😡😡😡