Dayna merasa hidup selalu menyengsarakan dirinya. Ia tak pernah berpikir usai menikah ternyata masalah hidupnya kian dibuat pelik. Ia dijual oleh suaminya sendiri.
Yuga, laki-laki yang hidup di lingkungan dunia malam, pekerjaan haram dan penuh kekerasan. Kini episode hitam yang sama kembali menggilas garis hidup Dayna. Demi melunasi hutang, Yuga menjual Dayna pada Tuan Gaza.
Dayna selalu ingin kabur dari jerat hidup Tuan Gaza, tapi sosok laki-laki di rumah Gaza membuat Dayna tertahan. Dialah Arsen. Dayna menyukainya. Tapi Gaza tak akan pernah membiarkan Dayna menyukai Arsen. Gaza hanya ingin Dayna menyukai dirinya bukan Arsen.
Hingga akhirnya sebuah fakta besar terungkap, membuat Dayna hidup dalam kebimbangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seri Melani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Keputusan yang Membebaskan
Hari-hari berlalu, dan meskipun keputusan yang diambil Dayna malam itu terasa seperti langkah besar menuju kebebasan, perasaan cemas tetap menghantuinya. Setiap kali ia berhadapan dengan Gaza, ada rasa takut yang sulit diungkapkan. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri perasaan itu datang begitu saja, berakar dalam setiap kata yang keluar dari mulut Gaza, dalam setiap tatapan tajamnya yang selalu bisa merobek jiwa.
Pagi itu, Dayna duduk di meja makan, mata terfokus pada secangkir teh hangat yang sudah mulai dingin. Ia tidak merasa lapar, bahkan nafsu makannya sudah hilang dalam beberapa hari terakhir. Pikiran-pikirannya terlalu teralihkan oleh pertanyaan yang terus menghantui, Apa yang akan terjadi jika Gaza mengetahui rencananya? Arsen sudah memberinya dukungan, tetapi rasa takut dan keraguan terus berkembang dalam dirinya. Ia tahu satu hal pasti, Gaza tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Kehidupan yang telah dibangun Gaza di dunia gelap ini sangat berbahaya. Dan Dayna, meskipun sekuat apapun tekadnya, tahu bahwa dunia itu bisa menghancurkannya dalam sekejap.
Namun, keputusan itu sudah diambil. Ia tak bisa kembali lagi. Arsen adalah satu-satunya orang yang bisa memberinya harapan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dayna merasa ada jalan keluar dari kehidupan yang selama ini penuh dengan ketakutan. Namun jalan itu penuh dengan bahaya, dan yang lebih menakutkan lagi adalah kenyataan bahwa hidupnya kini terikat pada keputusan yang telah ia buat. Apa yang akan terjadi jika Gaza memburunya? Apa yang akan terjadi jika ia terpaksa menghadapi konsekuensi dari tindakan ini?
Dengan langkah yang hati-hati, Dayna berjalan menuju kamar tidur, di mana ia menyimpan barang-barangnya. Ia memeriksa setiap sudut kamar dengan cermat, memastikan tidak ada yang bisa mencurigakan Gaza atau siapa pun yang mungkin memantau gerak-geriknya. Ketika ia membuka lemari pakaian, ia mengambil beberapa pakaian penting dan memasukkannya ke dalam tas kecil. Ia harus siap pergi kapan saja, jika ada kesempatan untuk melarikan diri.
Namun, satu-satunya cara untuk pergi adalah dengan meninggalkan semuanya di belakang, termasuk Arsen. Hatinya terasa berat, namun ia tahu bahwa keputusan itu harus diambil untuk kebebasan. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan kembali kepada Arsen setelah semuanya aman. Namun, untuk sementara waktu, ia harus menjaga jarak agar tidak membahayakan dirinya sendiri atau orang yang ia sayangi.
Pagi itu, seperti biasa, Gaza muncul dari kamar tidurnya. Matanya tajam, penuh kewaspadaan. Dayna merasa tubuhnya menegang saat Gaza mendekat. “Dayna,” kata Gaza dengan nada datar. “Kau tampaknya terlalu tenang hari ini. Ada apa?”
Dayna berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, mencoba untuk tetap tenang. “Tidak ada, Tuan Gaza. Hanya sedikit lelah,” jawabnya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa melewati situasi ini.
Namun, Gaza tidak begitu mudah terpedaya. Ia menatap Dayna dengan tatapan yang tajam, seolah sedang mencoba membaca setiap gerakan tubuhnya. “Hati-hati, Dayna. Jangan pikir aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam kepalamu. Kau harus selalu ingat siapa yang menguasai hidupmu sekarang.”
Dayna menahan napasnya, berusaha tidak menunjukkan ketakutannya. Gaza terus mendekat, dan suasana di sekitar mereka semakin tegang. Dayna merasa setiap detik berlalu begitu berat, namun ia tahu bahwa ia harus tetap bertahan. Tidak ada lagi pilihan selain untuk terus berjuang, meskipun ia tahu bahwa itu akan menjadi perjuangan yang sangat sulit.
Setelah beberapa saat, Gaza akhirnya pergi, meninggalkan Dayna dalam kesunyian yang mencekam. Dengan perasaan campur aduk, Dayna bergegas mengemas barang-barangnya. Waktu semakin sempit. Ia tidak bisa menunda-nunda lagi. Hatinya berdebar kencang, namun tekadnya untuk melarikan diri semakin kuat. Ia tahu bahwa ini adalah kesempatan satu-satunya untuk meraih kebebasan. Meskipun risiko dan bahaya ada di depan mata, ia tidak bisa terus terjebak dalam kehidupan yang mengekangnya.
Ketika semua barang sudah siap, Dayna menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia menyeka peluh di dahinya dan memandang sekali lagi ke arah kamar yang selama ini menjadi penjara hidupnya. Di luar sana, dunia menantinya. Arsen menantinya. Ia berjanji untuk kembali, untuk memperjuangkan masa depan yang lebih baik bersama Arsen. Namun, saat ini, ia harus pergi sendirian.
Tanpa suara, Dayna keluar dari kamar dan menyelinap keluar rumah. Langkahnya cepat dan hati-hatinya, berusaha agar tidak menarik perhatian siapapun. Setiap langkah yang diambilnya terasa berat, namun ia tahu bahwa ini adalah langkah pertama menuju kebebasan. Ia tidak bisa lagi membiarkan ketakutan menguasainya. Ia harus melawan, harus melangkah keluar dari bayang-bayang gelap yang selama ini mengekangnya.
Saat ia berjalan menuju pintu gerbang rumah Gaza, perasaan cemas semakin besar. Ia tahu bahwa jika Gaza menyadari kepergiannya, konsekuensinya akan sangat besar. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dayna merasa ada kebebasan yang menanti. Pintu gerbang terbuka, dan ia melangkah keluar, meninggalkan rumah itu dan segala yang ada di dalamnya.
Namun, ketika Dayna sudah berada di luar, berjalan di tengah jalan yang sepi, ia mendengar suara langkah di belakangnya. Dengan cepat, ia menoleh, dan hatinya hampir berhenti berdetak ketika melihat sosok yang berdiri di sana.
Arsen.
Dia ada di sana, berdiri di ujung jalan dengan tatapan yang penuh perhatian. Dayna merasa campur aduk. Ia tidak tahu apakah harus merasa senang atau takut. Tapi Arsen tersenyum, dan senyuman itu menghapus sebagian dari ketakutannya. “Dayna,” katanya dengan lembut. “Aku tahu kau akan pergi. Aku sudah menunggumu.”
“Arsen,” suara Dayna serak. Ia tidak tahu harus berkata apa. Hatinya penuh dengan emosi yang tidak bisa ia jelaskan. “Aku takut. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”
Arsen mendekat dan menggenggam tangannya dengan erat. “Kita akan menghadapi semuanya bersama. Kau tidak sendirian, Dayna. Aku akan selalu ada di sini.”
Dengan kata-kata itu, Dayna merasa sedikit lega. Meskipun jalan di depan penuh dengan ketidakpastian dan bahaya, ia tahu bahwa ia tidak lagi sendirian. Bersama Arsen, ia siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Kebebasan yang selama ini ia dambakan kini berada dalam jangkauan, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa ada harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Dengan tangan yang saling menggenggam, mereka berjalan bersama, melangkah ke arah yang belum pasti, namun penuh dengan harapan.
wanita bodoh di jual ama laki kabur balik lagi kelaki nya
ogah baca nya 🙏🙏🙏
sekali up ngulang 😔😔