Di cintai dengan tulus oleh pasangan merupakan impian bagi seseorang yang menjalin hubungan.
Mengisahkan perjuangan cinta anak sekolah antara Nasya dan Aditya. Aditya beberapa kali menyatakan perasaannya, namun di buat menunggu oleh keputusan Nasya untuk tidak menjalin hubungan dekat sampai mereka lulus SMA. Walau begitu, Aditya setia menunggu jawaban Nasya setelah nantinya lulus SMA.
Mereka berdua menjalin persahabatan sejak pertama kali mereka bertemu. Selama bersekolah mereka sangat bahagia dan nyaman satu sama lain sebelum datang wanita yang mengaku kekasih Aditya yang selalu berusaha untuk memisahkan mereka berdua.
Bagaimana kisahnya? Apakah hubungan mereka berjalan dengan mulus atau tidak?
Selamat Membaca 💫
Dukung karya ini dengan ➡️ Like, Subscribe, vote, dan komentar terbaikmu. Terima kasih.
Salam hangat dari Author💫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vincar:), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 8 Kebersamaan Aditya dan Nasya
Perpustakaan.
Aditya dan Nasya pun sampai di halaman perpustakaan. Nasya langsung melewati pintu perpustakaan dan menuju rak-rak buku untuk mencari buku percakapan.
Nasya masuk ke arah kanan yaitu bagian umum, lanjut menuju bagian ke arah tengah. Nasya terus berjalan menyamping untuk memastikan terdapat buku yang Ia cari.
Di dalam perpustakaan tersebut terdapat banyak buku. Buku-buku tersebut tersusun dengan rapi. Jadi, Nasya dan Aditya sangat sulit untuk mencari buku yang mereka inginkan.
Saat Nasya mau ke arah kiri dan terus berjalan, seketika Nasya terkejut tiba-tiba Aditya muncul di hadapannya.
"Aditya a a ..." ucap Nasya yang merasa terkejut melihat kehadiran Aditya tepat di hadapannya.
"Cantik ...." Puji Aditya.
"Cantik? oh saya memang cantik. Terimakasih," ucap Nasya yang agak kepedean serta di buat kebingungan oleh ucapan Aditya.
"Jam tangannya cantik," sanjung Aditya.
"What?" Kesal Nasya sambil mengerutkan bibirnya.
Lalu Aditya pun meninggalkan Nasya dan lanjut mencari buku ke arah kanan rak.
"Kemudian Nasya duduk di bangku untuk membaca, karena buku yang ia cari sudah di temukannya. Nasya pun membuka halaman demi halaman dalam buku tersebut. Tiba-tiba Aditya duduk di sampingnya.
"Kamu juga cantik kok ..." ucap Aditya seraya memberikan senyum kecil pada Nasya.
Mendengar ucapan tersebut, Nasya mengernyitkan dahinya. Lalu memberi tahu bahwa jam tangan yang ia pakai merupakan pemberian seseorang. Dia tidak sengaja menemukan hadiah tersebut dalam laci mejanya.
"Jam tangan ini hadiah dari penggemar rahasiaku. Kemarin kutemukan di dalam laci meja dan terdapat surat bertuliskan Selamat ulang tahun Nasya." Pamer Nasya sambil mengangkat tangannya.
Tetapi Nasya melihat Aditya sedang serius memperhatikan buku yang sedang ia baca. Aditya sepertinya tidak memperhatikan saat Nasya berbicara dengannya.
"Ih ... nih orang di ajak ngomong, malah diam aja." Kesal Nasya dalam hati seraya membuang pandangannya.
Lalu Nasya bangkit dari tempat duduk nya dan hendak meninggalkan Aditya. Saat Nasya berdiri dan mulai melangkahkan kaki nya, tiba-tiba Aditya memegang tangannya dan menyuruhnya untuk duduk kembali.
"Duduklah, mau kemana sih? tanya Aditya dengan suara pelan.
"Selamat ulang tahun yah, jam tangannya cantik. Maaf yah cuma bisa kasih jam tangan," ucap Aditya yang mengakui bahwa ia yang meletakkan kotak berisi jam tangan di laci mejanya Nasya.
"Oh, jadi kamu penggemar rahasiaku ...." Ledek Nasya.
"Dit ... aku duluan yah, soalnya aku udah dapat buku tentang percakapan," ujar Nasya seraya senyum kecil pada Aditya.
"Oh yah, terima kasih buat kadonya," ungkap Nasya dengan suara pelan.
Lalu Nasya pun meninggalkan Aditya. Setelah Nasya melewati pintu perpustakaan, Nasya senyum-senyum sendiri. Rasa campur antara senang dan kebingungan, mengapa Aditya sangat perhatian padanya. Sehingg Aditya memberikannya sebuah hadiah.
.
.
.
Rumah Nasya.
Sesampainya Nasya di rumah, Nasya melihat sebuah motor putih yang terparkir di halaman rumahnya.
"Mungkin ada tamu yang datang," pikir Nasya.
Nasya pun sampai di halaman rumahnya, namun tidak terlihat tamu yang datang.
"Jadi motor itu sama siapa?" tanya Nasya.
"Itu motormu Sayang." Terdengar suara Ayahnya dari arah belakangnya.
Lalu Nasya pun menoleh ke belakang dan melihat ayahnya.
"Benarkah Yah ..." ucap Nasya yang terlihat sangat bahagia.
"Iya Sayang, itu hadiah Ayah buatmu," ucap Ayahnya dengan senyuman manis.
Nasya pun memeluk Ayahnya dan berterima kasih buat ayahnya.
Nasya pun mendekati motornya dan menaikinya dan terlihat Nasya sangat senang.
"Jadi, aku bisa pakai motor ini ke sekolah," gerutu Nasya dalam hati.
Ayah Nasya menyuruh Nasya untuk ganti baju dan segera makan.
.
.
.
Ini adalah hari minggu. Tidak seperti biasa, hari ini sangat mendung. Ibunya Nasya menyuruh Nasya untuk membeli kue di toko terdekat.
Nasya pun bersiap-siap untuk pergi membeli kue. Tidak lupa Nasya memakai jam tangan pemberian Aditya sembari senyum di depan cermin.
Nasya juga menggunakan motor yang dibelikan Ayahnya sebagai hadiah ulang tahun nya.
****
Toko Kue.
Setibanya Nasya ke toko Kue, Nasya memarkirkan motornya di halaman toko kue. Nasya mulai melirik keu-kue yang di pajang di etalase.
Saat Nasya sedang merunduk, tiba-tiba ada sosok laki-laki menggunakan celana jeans hitam yang berada di depan pintu toko. Perlahan Nasya mulai menaikkan kepalanya.
"A-Aditya ..." ucap Nasya yang begitu terkejut dengan kedatangan Aditya.
"Hai Nasya." Salam Aditya.
"Eh, Aditya. Kamu juga mau beli kue?" tanya Nasya.
"Iya Cya, saya mau beli kue bolu," jawab Aditya sembari tersenyum.
"Oh ... baguslah."
Saat Nasya selesai membeli kue dan hendak mau pergi, tiba-tiba hujan pun turun sangat derasnya. Kemudian Aditya menyuruh Nasya untuk masuk ke dalam toko sebentar untuk menunggu redanya hujan. Nasya lupa membawa mantel untuk ia pakai.
"Cya, masuk dulu," ajak Aditya.
Nasya kembali masuk ke dalam toko, karena di luar hujannya turun sangat deras.
"Dit, ada acara apa? kok mesan bolu sangat banyak?" tanya Nasya sedikit ragu.
"Tahlilan nenekku," sahut Aditya seraya melirik jam tangan yang di pakai Nasya.
"Turut berdukacita yah Dit," ucap Nasya yang sedikit terkejut atas kepergian nenek nya.
"Semoga keluarga yang di tinggalkan di berikan penghiburan dari Tuhan," lanjut Nasya.
"Iya, makasih Cya ... nenek meninggal dua hari yang lalu," ungkap Aditya dengan nada suara sedih.
"Oh pantas dua hari yang lalu, sikap Aditya agak aneh bukan seperti biasa nya. Rupanya sedang sedih," gumam Nasya dalam hati.
"Semangat yah Dit, jangan larut dalam kesedihan nanti kegantengannya berkurang," ucap Nasya sembari menghibur Aditya yang sedang sedih.
Aditya pun membalas dengan senyuman.
Guyuran hujan membuat suasana menjadi dingin, tanpa ada pembicaraan, mereka berdua terdiam.
Udara menjadi dingin, sesekali Aditya melihat ke arah Nasya dan dia pun menjadi salah tingkah. Lalu Nasya membuka bukusan kue coklat yang ia pesan dan hendak memakannya.
"Oh yah Dit, mari makan kue sambil menunggu redanya hujan," ajak Nasya sembari memberi kue pada Aditya.
"Iya," jawab Aditya dengan senyuman.
Lalu Aditya dan Nasya duduk bersampingan di dekat etalase. Saat Nasya sedang asik makan kue, tiba-tiba Aditya mencolek hidung Nasya dengan jarinya yang sudah berbalur coklat. Sekitaka Nasya kaget melihat tingkah Aditya.
"Ih, Aditya ...." Kesal Nasya karena sudah terkena coklat ulah jail dari Aditya.
Nasya membalas mencolek hidung Aditya dengan coklat. Lalu mereka pun saling tertawa.
Seketika Nasya terdiam melihat dan memandang wajah Aditya. Aditya terlihat begitu manis, dengan kulit putih bersih. Tersadar Nasya pun langsung menjauh dari sampingnya Aditya.
"Maaf yah Dit, tolong sedikit menjauh," ujar Nasya yang agak gak enakan berdua bersama Aditya.
"Oh, iya Cya," jawab Aditya yang agak menjauh.
Tanpa penjelasan dari Nasya, Aditya sudah paham maksud dari Nasya.
Aditya dan Nasya pun membersihkan wajah mereka dengan tetesan air hujan yang turun dari genteng toko.
"Maaf yah Cya, tadi aku khilaf," ucap Aditya.
"Iya Dit, aku juga minta maaf," sahut Nasya yang meminta maaf.
Bersambung.
Terima kasih telah membaca sejauh ini. Jangan lupa tinggalkan like dan komen terbaikmu.
Semoga harimu menyenangkan💫
Aku masih pegang Adit Nasya nih. Tapi kalau Arman lebih gentle keknya bisa kali 😏😏😏
Coba Rafa jadi alim dikit
Berasa nyewa di sini