Elena, ku mohon cepatlah sadar! Aku sangat merindukanmu!
Seorang Pria muda duduk di samping ranjang, menemani seorang wanita cantik yang baru saja kembali dari gerbang kematian.
Apa yang terjadi dengan wanita itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Win, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8. Menahan hasrat
Mendengar kata-kata dari Ryuga, Elena langsung menangis kencang. Dia tidak lagi mempedulikan rasa malunya, dia hanya menangis dan terus menangis hingga tertidur di dalam pelukan Ryuga.
Sebulan Kemudian
Kriinggg...
Suara alarm membangunkan Elena dari mimpi indahnya. Elena segera bangkit dari tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi.
"Aaaaaaa!!!"
Suara jeritan Elena terdengar hingga ke telinga Ryuga. Dia segera berlari ke kamar Elena untuk melihat apa yang terjadi kepada wanita itu.
"Brakkk!"
Ryuga membuka pintu kamar Elena, melihat tidak ada siapa-siapa, dia berjalan cepat ke kamar mandi.
"Len!" panggilnya ketika membuka pintu kamar mandi.
Elena mengangkat wajahnya, menatap ke arah pintu. "Aaaaaaaa!!!" suara jeritan semakin keras saat dia menyadari jika Ryuga telah berdiri di depan pintu. Elena dalam posisi duduk di lantai, dengan tubuh polos tanpa sehelai pun kain melekat di sana.
Ryuga menelan ludahnya beberapa kali, dia begitu tergoda melihat tubuh indah Elena. Apalagi kedua bukit kembarnya yang terlihat tegak menantang. Membuat Ryuga semakin ingin menjamah tubuh itu.
"Keluar!" bentak Elena karena Ryuga masih menatapnya dengan tatapan binatang buas.
Ryuga segera menyadari kesalahannya, dia berbalik badan lalu bertanya kepada Elena. "Kamu kenapa?"
"Pake nanya lagi, bukannya kamu udah lihat tadi? Aku tuh jatuh, kepleset!" jawab Elena dengan nada kesal.
"Mau aku bantuin?" tanya Ryuga dengan detak jantung yang semakin cepat.
"Ambilin handuk baru di lemari!" pinta Elena.
Ryuga segera membuka lemari, dia mencari-cari keberadaan handuk di lemari yang berjumlah 8 pintu itu. "Ini dia!" ucapnya ketika sudah menemukan handuk di salah satu laci.
Ryuga segera kembali ke kamar mandi, kali ini dia menutup matanya agar tidak mendengar suara teriakan Elena lagi.
Elena mengambil handuk lalu menutupi tubuhnya. "Gendong!" pintanya sambil mengangkat kedua lengan ke arah Ryuga.
Ryuga berbalik, dia lalu mengangkat tubuh Elena. Benjolan lunak kenyal menempel di tubuh Ryuga, membuat jantungnya semakin berdetak kencang tak karuan. Dia berusaha untuk tidak menatap ke bawah, dengan susah oayah dia menahan semua hasrat dan keinginannya untuk menyentuh tubuh mulus Elena.
Ryuga membawa Elena ke sebuah kursi sofa yang berada di dalam kamar, dia mendudukkan Elena di sana. "Mana yang sakit?" tanyanya sambil berjongkok di depan Elena.
"Ini!" Elena mengangkat kaki kirinya yang terasa nyut-nyutan. Membuat paha mulus nya terlihat jelas di depan wajah Ryuga. Karena penasaran, Ryuga menatap ke dalam bagian paha mulus itu, ternyata Elena masih belum memakai celana segitiganya.
Darah Ryuga berdesir panas, tubuhnya mulai merespon karena melihat tubuh Elena yang begitu menggoda. Ditambah tatapan matanya yang mengarah ke bagian inti Elena yang terlihat jelas di antara kedua kakinya.
"Len, aku...!" Ryuga menelan ludahnya lagi, dia lalu mengarahkan pandangan matanya ke tempat lain.
"Kita ke dokter aja ya. Aku nyalain mobil dulu! Kamu bisa kan pakai pakaian sendiri?" tanya Ryuga dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus.
"Ngapain ke dokter? Palingan cuma terkilir." jawab Elena menolak untuk ke dokter.
"Tapi kan...!"
"Nggak ada tapi-tapi, sini kamu, pijitin!" perintah Elena dengan wajah kesal.
Keringat dingin membanjiri wajah dan leher Ryuga, susah payah dia menahan hasratnya. Tapi ternyata Elena malah tidak merasakan apa-apa.
"Tunggu bentar, aku ambil minyak urut dulu!" ucap Ryuga sambil beranjak.
Elena bangkit perlahan, dia mengambil sebuah dress panjang agar lebih mudah dipakai. Ryuga kembali tidak lama setelah Elena selesai memakai dress panjang berwarna putih yang sedikit transparan.
Ryuga duduk di bawah lantai, dia mulai memijat kaki Elena yang sudah membengkak merah kebiruan.
"Sakit?" tanya Ryuga.
"Sedikit!" jawab Elena sambil bermain ponsel.
Tatapan Ryuga kembali nyasar ke arah bukit kembar Elena. "Duh, ni cewek nggak ada rasa takutnya yah! Bisa-bisanya dia nggak pake bra dan ...!" Ryuga mengalihkan tatapannya ke bawah. "Hahhh...!"
Suara hembusan napas Ryuga terdengar oleh Elena. Dia segera menatap laki-laki itu kemudian bertanya, "Kenapa, Ga? Kamu capek?"
Ryuga menelan ludahnya yang terasa banjir, dia lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain. "Nggak, kaki kamu masih sakit?" tanya Ryuga.
"Udah lumayan sih. Kamu natalan ke mana, Ga?" tanya Elena.
"Nggak ada rencana sih. Tapi sepertinya aku mau pulang ke medan untuk merayakan natal bersama Mama dan Papa. Kalau kamu?" tanya Ryuga.
"Aku belum tau." jawab Elena dengan wajah muram. Tahun-tahun sebelumnya dia selalu menghabiskan malam natal bersama Steven. Tapi tahun ini dia bahkan tidak punya rencana di malam natalnya.
"Kamu, mau pulang bareng aku aja?" ajak Ryuga.
"Aku? Emmmm... Boleh deh, dari pada sendirian di sini." jawab Elena.
"Ya uda, kalau gitu aku pesan tiketnya sekalian aja nanti sama punya kamu." ucap Ryuga dengan perasaan bahagia.
Elena ketiduran di sofa, Ryuga menggendong tubuh kecil Elena ke atas ranjang. Darahnya yang masih berdesir hangat membuat Ryuga berkeinginan untuk menyentuh Elena.
Ryuga mendekatkan wajahnya, dia lalu mengecup bibir merah Elena. Tanpa sadar dia menginginkan lebih, Ryuga menatap tubuh Elena yang terbalut dress tipis transparan, adik kecilnya tiba-tiba saja memberontak minta keluar.
Tangan Ryuga siap menjamah kedua benda kembar di tubuh Elena. Dia menarik ke atas dress yang menutupi tubuh wanita itu, perlahan, hingga akhirnya terlihat tubuh polos Elena.
^^^BERSAMBUNG...^^^
nyatain ajj cwe suka kok sama cwo baik🤗