Putri bodoh yang satu ini berubah total dalam waktu semalam! Setelah ini dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakitnya satu-persatu. Lalu ditakdirkan hidup sebagai permaisuri? oh, tidak masalah karena ada pria tampan berkuasa yang akan membantunya sampai akhir.
NO PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangizigzag, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sword Knights
"Saya pengawal Anda, nona. Saya lah batu merah darah terbesar di pedang Anda." ia tersenyum menawan. "Saya akan datang disaat anda membutuhkan saya."
Mikayla menelisik pria disampingnya dengan tajam, mencari kebohongan dari tatapan juga gerak-geriknya. Namun nihil, pria itu sepertinya berbicara sungguh-sungguh.
"Nona tidak takut pada saya?"
Mikayla menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa aku harus takut?"
Pria bersurai cokelat itu terkekeh kecil. "Biasanya manusia akan takut jika orang asing tiba-tiba menampakkan diri secara tiba-tiba di depan mereka," ucapnya santai. "Anda benar-benar tidak takut?" ujarnya memastikan sekali lagi.
Mikayla melirik sinis. "Untuk apa takut, kau penjagaku, 'kan? Sudahlah, sekarang aku ingin pulang saja. Di sini membosankan!"
Pria itu mengikuti langkah Mikayla yang menjauh. "Nona tak menanyakan nama saya? Atau dari mana saya berasal?"
Mikayla melirik sedikit ke belakang. "Untuk apa aku tahu? Cepatlah, antar aku pulang ke kastil. Apa yang ingin kudapatkan sudah berada di genggaman. Untuk apa kita tetap bertahan disini?"
Laki-laki berzirah merah itu mencebikkan bibirnya sebal. "Ayolah, nona jangan membosankan seperti ini. Bagaimana kalau bermain-main sebentar?"
"Apa maksud—" Mikayla berhenti berbicara saat mengikuti arah pandang Pria bersurai cokelat itu. Tak jauh dari tempatnya berdiri ada Putra mahkota dan juga ... Amora? Ah, melihat ekspresi wajah Amora, Mikayla tahu bahwa gadis itu masih memohon-mohon kepada putra mahkota untuk tetap memilihnya sebagai calon pengantin. Ah, lebih menyenangkan jika ada drama lain di sini.
"Selamat malam, Putra mahkota," sapa Mikayla dengan senyuman manisnya. Ia melirik sinis pada Amora. "Dan kau, putri pertama Marquis Torand. Apa hakmu berduaan dengan tunanganku?"
Danial tersenyum. Laki-laki ini, sangat mudah untuk ditipu oleh perempuan cantik. Mikayla bertaruh jika pria ini bisa sampai naik takhta, pasti Armovin hanya berusia bulanan atau beberapa tahun saja. "Aku juga tak mengerti maksud wanita ini, Nona Mikayla. Kau bisa tanyakan padanya sendiri."
"P-putra mahkota," ucap Amora dengan lirih. Bisa-bisanya putra mahkota berkhianat terhadap keluarga bangsawan yang mendukungnya penuh. Amora akan melaporkan hal ini nanti pada seluruh anggota keluarganya.
"Jadi, Amora. Apa hubunganmu dengan putra mahkota?"
Amora yang ditatap tajam oleh Mikayla merasa sesak dan takut. Aura wanita dihadapannya sungguh tak biasa dan jelas bukan lawannya sama sekali. Namun demi kebenaran, Amora dengan memberanikan diri berucap pelan. "Putra mahkota menjanjikan sesuatu pada kami, klan Torand dan William.
Jadi selain putra mahkota, klan Torand dan klan William juga bersama-sama ingin menggulungnya? Bagus, ada gunanya juga dia berbincang dengan dua orang ini.
"Janji seperti apa yang kau maksud?"
"Jangan mudah percaya padanya, nona pertama!" desis Putra mahkota Danial dengan tatapan membunuh yang ia layangkan pada Amora. "Dia pembohong!"
"Pangeran Danial, apakah ada orang yang mau berbohong mengatasnamakan keluarga kerajaan? Jika iya, maka ia sudah tak waras. Sama saja orang itu mengantarkan nyawanya sendiri ke dalam neraka!" Mikayla menilai penampilan Amora malam ini. Gaun merah dengan potongan renda di bagian dada yang rendah. "Hukumannya tak ditanggung untuk si pembohong saja, melainkan semua keluarganya akan turut dihukum. Saya tahu itu."
Terdiam. Danial tak bisa berkata apapun lagi. Amora lagi-lagi mencoba untuk mengungkapkan kebohongan Putra mahkota. Entah mengapa, ia merasa yakin kalau Mikayla dapat mengatasi masalahnya ini karena sikap bijaksana yang ia bawa.
"Putra mahkota bersumpah untuk menikahi ku. Malam ini dia berjanji padaku akan mengatakan hal tersebut di hadapan raja juga publik, tapi bukannya menepati janji, putra mahkota justru berubah pikiran entah mengapa," Amora mengerjap. Tunggu, apa ia baru saja membocorkan rencana rahasia keluarga pada orang yang ditargetkan?
"A-apa aku salah bicara, nona?" sambung Amora hati-hati. "M-maksudku bukan seperti itu."
"Tidak, kau sama sekali tidak salah." Mikayla kini melayangkan tatapannya ke arah putra mahkota. "Pantas saja dia termasuk salah satu orang yang terkait dengan konspirasi pembunuhan ku. Ternyata ini alasannya, putra mahkota tak pernah menginginkanku rupanya," ucap Mikayla tajam.
"T-tidak, Mikayla. Aku mencintaimu, sungguh," ia menatap Amora dengan tajam. "Kau penyebar berita bohong! Akan ku hukum kau agar membusuk di penjara bawah tanah!"
"Jangan hukum dia!" Mikayla mendesis. "Jika Anda berani menyentuhnya sedikit saja, saya pastikan malam ini adalah akhir dari hubungan kita."
Dan terbukti, putra mahkota langsung melepaskan Amora hanya karena gertakan kecil dari Mikayla.
Mikayla tersenyum senang. Sudah cukup, waktunya kembali dan menikmati waktu istirahat seharian di kamar sambil mengatur rencana baru.
...__________...
Pagi Mikayla disambut oleh burung-burung yang berseliweran di luar jendela kamar yang sengaja ia buka sejak pulang dari istana. Angin berhembus lumayan kencang, gorden merah depan jendela dibuatnya melambai-lambai lembut, membawa angin segar menerobos masuk kamar dengan bebas.
Langit masih gelap, namun Mikayla yakin bahwa ada seseorang yang sengaja membangunkan hingga gadis itu mengerang pelan. Ah, dia baru saja tidur setelah pulang duluan dari pesta!
Mikayla membuka mata. Ternyata itu pria bersurai emas!
"Kau?" Mikayla duduk di ranjangnya. Ia menatap heran pada Aidenloz. "Bagaimana kau bisa masuk ke dalam kamarku?"
Aidenloz mengangkat kedua bahunya ringan. "Jendela kamarmu terbuka."
"Ayolah Aiden, jangan mengelak. Ini lantai tiga. Bagaimana kau bisa sampai ke sini?!"
Aidenloz tersenyum tipis nyaris tak terlihat. "Calon suamimu ini jauh lebih hebat darimu!"
Mikayla memutar bola mata dengan malas. "Ya ya. Terserah Anda saja, tuan." Mikayla merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan. "Jadi apa ada sesuatu hingga kau jadi nekat datang ke mari?"
"Sudah mendapat penjaga pedang dari pedang Phoenix?"
Gerakan Mikayla terhenti. "Ah, benar. pria yang itu." Ia mengangguk, "Aku baru melihat pria itu tadi malam. Memangnya kenapa?"
Aidenloz menggeleng. "Syukurlah jika dia sudah menampakkan dirinya. Alphair terkenal pemilih dalam mencari tuan."
Oh, ternyata nama pria bersurai cokelat itu Alphair?
"Biar kutebak, Alphair tak akan menampakkan diri jika orang yang memegang pedang Phoenix tak sesuai kriteria yang ditetapkannya?"
Aidenloz mengangguk. "Benar sekali," ia beralih menatap Mikayla tajam. "Apapun yang terjadi, jangan serahkan pedang itu pada siapapun. Kalau perlu korbankan nyawamu untuk itu."
Mikayla kaget. Mengorbankan nyawa? Sebegitu pentingnya-kah pedang ini sampai Aidenloz rela jauh-jauh menghampirinya hanya untuk mengatakan hal itu? "Aku tak mengerti."
Aidenloz duduk di ujung ranjang. Manik biru gelap bak lautan tak berdasar itu mengintimidasi begitu dalam. Auranya sangatlah kuat dan Mikayla mengakui hal itu. "Pedang Phoenix merupakan pedang yang menjadi pilar utama di daratan Armovin. Bila kau meletakkannya pada orang yang salah, maka Armovin bisa saja hancur karena penyelewengan kekuatan Phoenix. Kau mengerti maksudku, kan?"
Mikayla sempat terdiam, namun sedetik berikutnya ia mengangguk cepat. "Tenang saja. Pedang dan bocah bernama Alphair ini akan aman di tanganku!"
"Aku harap kau sungguh-sungguh," sahut Aidenloz. Pria itu menatap sekeliling kamar Mikayla. Matanya tertuju pada pojok ruangan, di sana ada potret lukisan Mikayla yang tersenyum lebar duduk di taman dipenuhi bunga bersama putra mahkota Danial dihiasi wajah datarnya, terlihat terpaksa. "Kapan kau akan memutuskan hubungan dengan Danial?"
"Aku masih memerlukan waktu yang tepat. Dan soal foto itu, akan ku copot besok pagi." Mikayla memilih untuk bersandar. "Sebelumnya aku ingin bertanya, kau tinggal di desa mana?"
"Menganalisis masalah saja yang bisa, mengenaliku bahkan masih keliru," Aidenloz berdecak. Dasar tidak peka. "Bukankah kau sering membaca buku tentang Benua Erosh?"
"Ya, aku sering membacanya." Mikayla mencoba memerhatikan Aidenloz. Mirip seseorang yang pernah ia lihat di buku. "Kau seorang sejarawan? Apa hubungannya kau dan buku-buku itu?"
"Pikir saja sendiri!" Aidenloz berdiri. Sampai beberapa ketukan di depan pintu Mikayla mengejutkan dua orang berbeda jenis kelamin tersebut.
"Aku pergi dulu. Tentang hutangmu, masih kutunggu sampai kau membayarnya." Semudah angin, Aidenloz melompat ke luar jendela. Mikayla melotot seram, orang seperti apakah calon suaminya itu. Ingat, ini lantai tiga di kastil, yang tingginya bukan main-main!
"Air hangat, lilin terapi, juga wewangian untuk nona mandi sudah siap, nona." Beberapa pelayan memasuki kamarnya.
"Baiklah." Mikayla melakukan aktivitasnya seperti biasa, namun otaknya dipenuhi banyak pertanyaan. Dan ada satu pertanyaan yang menghantuinya.
Sebenarnya siapa Aidenloz?