dihianati suami dan adiknya, dan menjadi tameng bagi kebebrokan perilaku kedua orang terdekatnya. Afifah memutuskan untuk bercerai.
dah, gitu aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8 - Plin plan
"Aku tidak mau lagi menjadi babu!" tegas Afifah pada sang suami.
"Babu? Ini tugas kamu sebagai seorang istri, kan?" sentak Arga masih melanjutkan pertengkarannya dengan sang istri.
Ya, hari-hari Afifah hanya dipenuhi dengan pertengkaran-pertengkaran yang tidak ada habisnya. Setiap kali ia mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan Arga, pasti mereka akan terlibat keributan.
Arga sudah tak lagi berbicara lembut pada Afifah dan terus membentak Afifah sesuka hati. Suasana rumah suaminya lama-lama membuat Afifah muak dan tidak betah.
"Istri? Sekarang kamu ingat kalau aku istri kamu? Tapi saat kamu bersama dengan Putri, apa kamu ingat kalau kamu adalah pria yang sudah beristri? Saat kamu menyentuh Putri, apa kamu ingat kalau kamu sedang mengkhianati aku? Mengkhianati istri kamu?" sergah Afifah.
"Jangan egois, Mas! Kamu mau aku tetap melaksanakan tugas sebagai istri? Lalu kamu sendiri bagaimana? Memangnya kamu sudah melakukan tugas sebagai suami? Kamu sudah menodai pernikahan kita, Mas!" ujar Afifah.
"Aku tidak mau lagi menjadi penutup kebejatan kamu, Mas! Kalau memang kamu tidak bisa melepaskan Putri, lebih baik aku yang pergi! Pulangkan saja aku, Mas! Aku tidak mau hidup di neraka bersamamu!" sambungnya.
"Kebejatan? Kebejatan apa? Aku hanya ingin hidup bahagia bersama wanita yang aku cinta! Kenapa kamu memperlakukan aku seolah aku adalah kriminal?"
Entah kata apa lagi yang harus diucapkan oleh Afifah pada suaminya. Arga tak mau mendengarkan perkataan orang lain dan tetap teguh dengan pendapatnya sendiri.
"Bagaimana kalau kamu ada di posisiku, Mas? Apa kamu tidak keberatan jika aku membawa pria lain kemari dan bersetubuh dengannya di depan mata kamu?" cetus Afifah.
"Kamu sudah gila, ya?"
"Mas yang gila!" sahut Afifah.
"Aku laki-laki! Aku bisa hidup dengan banyak istri!" ujar Arga. "Kamu ingin hidup bersama dengan banyak suami? Apa itu pantas?"
"Kamu juga bersetubuh dengan adik kamu sendiri, apa itu pantas?" balas Afifah berteriak sekencang mungkin.
Arga mengambil sebuah vas kecil yang berada dalam jangkauan tangannya dan membanting benda itu hingga hancur lebur. Prang! Pria itu hanya bisa mengandalkan emosi saat berbicara di depan Afifah.
"Lancang kamu, ya! Kamu sudah berani melawan suami kamu?" hardik Arga.
"Mas yang sudah tidak menghargai aku! Hargai aku kalau Mas juga ingin dihargai!"
"Aku selalu berusaha menjadi suami yang baik untukmu, kan? Aku juga memberikan nafkah yang layak untukmu. Apa aku pernah menuntut sesuatu padamu? Hanya ini saja satu-satunya permintaanku padamu. Tolong terima Putri!"
Afifah menatap sang suami dengan tatapan tajam. Air matanya makin deras mengalir membasahi wajah.
"Jangan paksa aku, Mas! Aku tidak mau tinggal satu rumah dengan wanita itu!" tegas Afifah. "Kalau memang Mas ingin mempertahankan Putri, aku yang akan pergi!"
Arga langsung mencengkeram erat tangan Afifah. "Kamu mau pergi ke mana?" sentak Arga.
"Kamu tidak boleh pergi ke mana pun!" sambung pria itu.
"Kalau aku tidak boleh pergi, suruh Putri yang pergi!"
"Jangan kurang ajar kamu, ya? Putri juga tidak akan pergi ke mana pun!" tegas Arga tak mau melepaskan salah satu dari mereka.
"Aku atau Putri! Pertahankan salah satu, Mas! Jangan serakah!" sergah Afifah. "Akhiri hubungan denganku! Atau dengan Putri!"
Arga terdiam. Benar-benar pilihan yang sulit. Arga tak mau melepaskan salah satu dari mereka. Baik Putri maupun Afifah, keduanya ingin ia pertahankan.
"Jawab Mas! Jangan menyiksa aku dan Putri di dalam satu rumah! Pilih salah satu!" ujar Afifah. "Kamu tidak mau melepaskan pelakor itu, kan? Kalau begitu biar aku yang pergi!"
"AFIFAH! Kamu tidak boleh pergi!" pekik Arga.
Arga nampak tak rela membiarkan salah satu dari dua wanita yang tinggal bersamanya untuk pergi dari hidupnya. Jika ia memilih Afifah, tentu Putri yang harus pergi. Jika ia memilih Putri, Afifah yang akan pergi.
Entah apa yang membuat pria itu kesulitan memilih. Meskipun hatinya tertuju pada Putri, tapi Arga juga merasa berat melepaskan Afifah. Padahal sejak pria itu ketahuan menjalin hubungan dengan Putri, sikap Arga sudah berubah pada Afifah dan pria itu selalu menyakiti Afifah seolah ia tak lagi membutuhkan Afifah.
"Kamu lebih menyukai Putri 'kan, Mas? Jawabannya sudah jelas! Kamu terus bersikap kasar dan dingin padaku selama beberapa hari ini. Itu artinya kamu sudah tidak menginginkan aku lagi, kan? Lalu kenapa kamu masih saja mempertahankan aku?"
"Diam! Aku tidak mau membahas hal ini lagi!" hardik Arga tak mau lagi memperpanjang perdebatan.
Ya, pria plin-plan itu lebih memilih untuk melarikan diri dari pertanyaan Afifah yang tak bisa ia jawab. Arga pergi begitu saja meninggalkan Afifah dan menyudahi adu mulut mereka.
Afifah kembali mengusap air matanya yang mengucur deras. Wanita itu terduduk di lantai dengan tangis yang tak kunjung usai.
"Kenapa kamu bersikap seperti ini padaku, Mas?" gumam Afifah.
Wanita itu mulai lelah dengan tangisan. Wanita itu lekas muak dengan pertengkaran.
Afifah tak pernah menyangka, pernikahannya akan berakhir rumit seperti ini. Rumah tangga yang ia idam-idamkan kini benar-benar hancur. Hatinya remuk.
"Mas Arga," gumam Afifah lirih. Pria bernama Arga sudah berhasil membuat patah hati terberat yang pernah dialami oleh Afifah.
"Aku menyesal sudah mencintai pria seperti kamu, Mas!" gerutu Afifah.
Ya, hal yang membuat hati Afifah makin perih, tentu karena wanita itu sudah telanjur cinta. Sudah telanjur sayang pada Arga. Namun, sayang dan cintanya kini seperti sudah tidak ada artinya lagi.
Arga masuk ke dalam kamar Putri dan melihat adiknya yang memasang tampang masam. Putri mendengar dengan jelas pertengkaran antara Arga dan Afifah. Wanita itu nampak kesal pada Arga yang tak bisa menjawab ketika Afifah meminta pria itu untuk memilih.
"Putri, kamu belum tidur?" tanya Arga.
"Bagaimana aku bisa tidur kalau setiap hari aku terus mendengar kamu dan istri kamu membuat keributan!" ketus Putri.
Arga berjalan menghampiri Putri, kemudian merangkul dan memeluk erat selingkuhannya itu. "Kenapa wajahmu cemberut begitu? Senyum, Sayang!"
"Kenapa Mas diam saja?" tanya Putri.
"Hm?" Arga nampak bingung mendengar pertanyaan dari sang kekasih gelap. "Diam apanya?"
"Mbak Afifah tadi meminta Mas untuk memilih, kan? Kenapa Mas tidak menjawab? Bukankah jawabannya mudah? Sudah pasti Mas akan memilihku, kan?" tanya Putri.
Arga termenung. Pria itu tak bisa melepaskan salah satu dari mereka. Bukan tidak bisa, tapi tidak mau.
"Sudahlah, Putri! Aku tidak ingin membahasnya lagi!" tukas Arga.
"Kenapa? Apa Mas mulai menyukai Mbak Afifah?" tanya Putri dengan sorot mata penuh kecemburuan.
"Bukan seperti itu, Putri! Banyak hal yang harus aku pertimbangkan. Kalau aku menyukai Afifah, untuk apa aku ada di sini sekarang?" cetus Arga. "Daripada meributkan wanita itu, lebih baik kita bersenang-senang malam ini!" sambung Arga sembari menarik pakaian Putri dan mendorong wanita itu ke ranjang.
*****
terimakasih author
bahwa kehadirannya sungguh berharga.,. wkwkkkk