Bening, gadis berusia 18thn, harus rela mengandung benih pria yang tak dikenalnya melalui inseminasi buatan. Karena keadaan yang membuatnya menerima perjanjian kontrak sebagai ibu pengganti. Ayahnya yang sedang di penjara juga ibunya yang sakit keras, membutuhkan biaya besar untuk operasi. Ketidakberdayaannya, membuat Bening merelakan rahimnya disewa untuk melahirkan keturunan pria tersebut sebagai ibu pengganti. Apakah penderitaan Bening akan berakhir sampai anak itu lahir, atau justru itu awal dari penderitaan dia yang sesungguhnya. Inilah kisah gadis cantik yang berjuang hidup untuk ibu juga putranya,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liliana *px*, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
"Aaaarrgghhh' Bening berteriak saat tubuhnya diguyur dibawah shower dengan air yang dingin.
"Lepaskan aku brengsek! Rontanya dengan nafas tersengal sengal.
Namun Ravendra tidak mau melepaskan tangannya dari pundak Bening. Ia terus menahan tubuh itu agar tetap berada di dalam bathtub yang diisi air dingin dari shower diatasnya.
"Dinginkan tubuhmu disini, kamu pikir aku mau membantumu menghilangkan efek obat itu. Kau terlalu meninggikan dirimu, Nona!"
Ravendra sengaja menekan kata Nona sebagai ejekannya. Ia bukannya tidak tahu jika saat ini wanita yang ada di depannya dalam pengaruh obat. Karena trik ini sering digunakan perusahaan manapun untuk mendapatkan proyek yang kini sedang mereka buat. Sudah sering ia mendapatkan wanita untuk dijadikan alat tercepat mendapat proyek kerjasama. Tak terkecuali juga Bening.
"Siapa yang sudah menjebakmu naik keatas ranjangku?"
Sudah hampir 3jam Bening berendam dalam air dingin hingga bibirnya terlihat membiru, tubuhnya sudah menggigil kedinginan. Kini kesadarannya sudah kembali. Dengan berbalut selimut ia menghangatkan tubuhnya yang polos karena gaunnya sudah tidak bisa di pake lagi.
"Tu,,Tuan!" Ucapnya dengan bibir juga tubuh yang bergetar. Ravendra hanya meliriknya sekilas.
"Kamu diam saja disitu!" Titahnya.
"Tokk,,tokk,,,tokk,,," terdengar ketukan pintu dari luar.
Ravendra pun melangkah kearah pintu dan membukanya, nampak asistennya sedang membawa paper bag ditangannya langsung menyerahkan pada Ravendra.
" Pesanan Tuan Muda." Ucapnya sambil mengangguk hormat.
"Kamu pulanglah, besok jemput aku pagi pagi!" Ravendra meraih paper bag tersebut, lalu menutup pintunya.
"Tuan Muda, maafkan saya,," cegah asisten sebelum pintu itu tertutup rapat.
"Tuan Muda kecil sudah menyelesaikan hukumannya, ia menagih janji Tuan Muda untuk melepaskan peliharaannya."
Kening Ravendra berkerut," Besok pagi baru keluarkan binatang itu!"
"Ada lagi Tuan Muda." Asistennya nampak ragu,keringat dingin mulai membasahi keningnya. Ia sadar jika ucapannya nanti akan membuat mode atasannya tidak baik.
"Apa lagi?" Jawab Ravendra dingin.
"It,, itu Tuan Besar ingin anda pulang malam ini." Tuturnya dengan gugup.
Ia sungguh serba salah, disatu pihak ada Tuan Mudanya di pihak lain ada Tuan Besar yang juga tidak kalah mengerikan dari putranya itu bila mereka sedang marah. Sedangkan semua orang tahu jika ayah juga anak itu tidak pernah akur. Seperti musuh bebuyutan.
"Bilang aku terlalu banyak minum malam ini, besok baru bisa pulang."
Nafas asisten itu nampak lega, ia bersyukur Tuan Mudanya mau membantunya saat ini, mencarikan alasan yang tepat untuk di berikan pada Tuan Besar.
"Baik Tuan Muda, saya permisi dulu." Setelah mengangguk hormat.
Asisten yang telah bekerja pada Ravendra sejak ia mulai terjun ke dunia bisnis, ia sangat setia meski ayahnya juga menekan asistennya untuk memata matai apa pun langkahnya.
Terkadang ia tidak bisa menahan emosinya karena ulah ayahnya.
Ruang kamar itu kembali hening setelah Ravendra menutup pintunya kembali. Ia pun melangkah ke kamar di mana Bening kini sedang menggigil kedinginan.
"Oh Tuhan,,, tolong hamba, kasihani hamba, selamatkan hamba dari orang orang yang dzalim." Doanya dalam hati.
Terdengar pintu yang dibuka dari luar. Ia pun semakin mengeratkan selimutnya. Ia takut jika Ravendra akan membalasnya. Samar samar masih teringat di memori otaknya saat ia dalam pengaruh obat, ia sempat mencium bibir Ravendra. Ia pun bergidik jijik mengingatnya.
"Ihh,,," decihnya sambil menggosok gosok bibirnya.
"Amit amit,,, kenapa aku bisa seagresif tadi, memalukan." Rasanya ingin sekali ia bisa menghilang seperti Kian Santang agar tidak bertemu lagi dengan pria itu. Sungguh ia merasa malu seakan tak punya harga diri lagi.
Semakin dibenamkan wajahnya di bantal yang ada di pangkuannya.
"Kau kenapa j*l*ng kecil?" Ravendra seakan mengolok olok Bening.
Melihat Bening yang tidak bereaksi tetap membenamkan wajahnya, membuat senyum tipis di bibir pria itu. Andai ada orang yang melihatnya pasti sebuah anugerah karena bisa melihat senyuman yang begitu mempesona dari seorang Ravendra yang terkenal dingin, arogan juga kejam.
"Pakai ini!" Melempar paper bag itu keatas kasur yang jatuh tepat di depan Bening. Sontak membuatnya mengangkat wajahnya melihat benda yang jatuh menimpa kedua kakinya.
"Ini,," Bening seakan ragu mengambil paper bag tersebut.
"Pakai! Atau kau lebih suka tidak memakai pakaian karena ingin menggodaku, hmm?"
Ejek Ravendra sambil membungkukkan tubuhnya kearah Bening hingga wajah mereka begitu dekat.
Bening gelagapan memundurkan tubuhnya lalu menyambar paper bag itu setelah menggeser duduknya dan bangkit dari tempat tidur. Dengan wajah memerah ia berlari ke kamar mandi dengan selimut menutupi tubuhnya.
"Braakk!" Pintu ditutup dengan kasar oleh Bening.
"Oh Tuhan! Kenapa aku begitu sial malam ini, apa salahku hingga dalam semalam di permalukan berulang ulang." Rutuknya ingin menangisi kesialannya malam ini.
"Kenapa aku bisa seperti orang yang hilang kendali tadi, tubuhku juga aneh rasanya, apa ada orang yang ingin mencelakaiku. Terus kenapa aku bisa ada di kamar pria brengsek ini. Aaarrghh,,, kepalaku pusing!"
Sementara Bening merutuki nasibnya malam ini di dalam kamar mandi. Ravendra justru menelpon seseorang.
"Kalian bereskan semua!"
"Baik Tuan Muda." Balas seseorang di seberang sana.
Ravendra pun meletakkan ponselnya di nakas dekat tempat tidur. Ia pun duduk bersandar di sofa yang ada di dalam kamar itu.
"Kenapa wanita itu lama sekali?" gerutunya tak sabar.
Ia pun melangkah ke arah kamar mandi.
"Kamu bisa cepat tidak, apa perlu aku yang menggantikan bajumu, aku tunggu selama 5 menit, jika dalam 5 menit kamu belum keluar, aku yang masuk!"
Bening yang sengaja mengulur waktu agar tidak bertemu dengan pria itu semakin cemas. " Apa yang harus aku lakukan, apa sebaiknya aku langsung keluar dari kamar ini tanpa pamit padanya. Tapi bagaimana aku bisa tidak tahu terimakasih setelah ia menolongku? Tapi ciuman itu? Oh Tuhan,,, aku ingin menghilang saja saat ini."
Itulah yang dilakukan Bening selama di kamar mandi dengan berjalan mondar mandir memikirkan cara agar ia sebisa mungkin menghindari Ravendra. Hingga suara Ravendra terdengar, membuatnya mau tidak mau bergegas memakai bajunya.
Kini mereka duduk di sofa ruang tamu kamar tersebut. Bening meremas kedua jarinya saat ia menatap berkas yang ada di depannya. Perjanjian kontrak yang dibilang cukup merugikannya.
"Bagaimana? Apa kau setuju dengan perjanjian ini?
Bening nampak ragu," apa bisa saya mengganti poin ke 3?"
Ravendra pun mengangkat alisnya sebelah, menatap penuh tanya kearah Bening," kenapa? Apa kamu sudah punya suami?"
"Bukseorangan Tuan! Tapi saya memiliki ibu juga anak yang harus saya jaga, jadi tidak bisa tinggal dengan anda." Jawabnya lirih dengan nada yang penuh kekhawatiran.
"Baiklah, aku beri ijin kau pulang 2hari selama seminggu, gimana?"
"Baiklah, saya pikir percuma juga menolak, toh nantinya juga akan tetap di paksa," jawabnya dengan cemberut.
"Hmm,," Ravendra mengangkat sudut bibirnya, tipis, hingga Bening tak bisa melihatnya, senyuman penuh kemenangan itu hadir.
"Bagus kalau kamu mengerti!"
bersambung🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
hati hati dengan Pak Hendra Bening dia sungguh licik
semangat bening 💪💪
tp km masih punya satu anak laki2 lagi
apa pria kaya itu gk tahu ya klo Bening puya anak kembar 🤔