"PERJODOHAN" adalah kata yang tidak jamannya lagi tapi itulah yang karina alamai sekarang.
orang tua karin mendojodohkannya dengan duda anak satu, banyak hal yang terjadi dalam hidup karin setelah menerima perjodohan itu.
"alisya sayang Bunda".
kata yang selalu membuat karin merasa bahagia dan bertahan dengan pernikahan perjodohan itu.
masalah silih berganti dalam rumah tangganya, kesabaran, keikhlasan dan setiaan karin di uji.
seiring berjalannya waktu, karin bisa mencintai suami dan anaknya dengan tulus. kasih sayang yang karin berikan pada alisya melebihi dari apapun.
suatu ketika saat karin melahirkan anak, hal yang tidak terduga terjadi yaitu anaknya meninggal karena dalam keadaan prematur.
kehidupan karin seketika runtuh dan hatinya sakit melihat anaknya pergi untuk selamanya. separuh dari nyawa karin hilang begitu saja.
karin bisa bangkit dari kesedihannya karena dukungan suami, anak dan keluarganya. mereka semua yang membuat karin bisa lebih baik dan semangat lagi dalam menjalankan kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Memei Melita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
pagi hari yang begitu cerah, sinar matahari pagi menembus masuk ke dalam rumah melalui celah kaca.
tepat sebulan aku mejadi istri mas bram, masih banyak hal yang belum aku ketahui tentang pribadinya.
mungkin orang akan berpikir aku sedikit egois karena memaksakan mas bram untuk menganggapku sebagai seorang yang berarti baginya.
tapi sebenarnya aku hanya ingin lebih dekat lagi dengannya, lebih mengerti lagi bagaimana sifat mas bram, bukan sebagai istri tapi sebagai teman atau sahabat.
jika kami bisa menjadi teman, aku tidak masalah. mungkin dengan hubungan seperti itu aku dan mas bram bisa dekat satu sama lain dan tidak ada canggung di antara kami.
"pagi bi". ucap ku
"pagi non, mau sarapan?".
"tidak bi. o ya bi, sarapan buat mas bram dan alisya sudah di buat?". aku melihat sekeliling dapur.
"sudah non, sudah bibi siapkan semua di meja makan". jawab bi nina.
"makasih ya bi".
hari ini aku sedikit telat bangun pagi, hingga semuanya bibi nina yang menyiapkan sarapan paginya.
aku kembali ke lantai atas untuk membangunkan mas bram dan alisya.
"mas.. mas bram. ayo bangun... ". aku menggoyangkan tangannya.
karena tidak ada pergerakan dari mas bram, aku berinisiatif membuka gorden jendela. sinar matahari langsung menerpa wajah mas bram yang masih tertidur.
"hmmm..... ".mas bram merasa silau karena cahaya matahari pagi.
"ayo mas, bangun sarapan".
"iyaa... iya". jawab mas bram sambil menarik kembali selimutnya.
melihat mas bram yang tidak ingin di bangunkan oleh ku, aku lebih memilih untuk membangunkan alisya.
"anak bunda sudah bangun". aku melihat alisya sedang duduk di ranjangnya.
"ayo kita turun sarapan bareng".
alisya menganggukkan kepala dan berkata
"gendong bunda".
aku melihat alisya membentangkan kedua tangannya di hadapanku.
"baiklah sayang". perlahan aku menggendong alisya untuk pergi sarapan.
"alisya berat ya bunda". tanya alisya
"gak sayang, bunda cukup kuat untuk gendong alisya". jawab ku.
"bunda, hari ini kita jalan-jalan kan".
aku teringat bahwa aku pernah berjanji pada alisya akan pergi jalan-jalan saat weekend.
"ahh iya sayang, nanti kita pergi".
"papa ikut kan bunda". tanya alisya.
"nanti kita tanya sama papa ya sayang". aku memberikan roti panggang pada alisya.
"yee.... iyaa bunda". alisya melahap sarapannya.
"bunda, nanti kita pergi beli mainan baru ya". pinta alisya dengan semangat.
"iya sayang, kemana pun alisya mau pergi, bunda pasti setuju".
"hore.. I love you bunda". alisya mengecup pipiku.
seperti biasanya, selesai sarapan pagi, alisya bermain di taman belakang. dan aku membantu bibi nina bereskan dapur.
"non, biar bibi saja yang bereskan". ucap bibi nina.
"tidak apa-apa bi, biar aku pintar beres-beres rumah seperti bibi". jawab ku
"ihh non ada aja deh, pintar kok beres-beres loh non".bibi nina tertawa mendengar ucapanku yang konyol.
"sebagai ibu rumah tangga kan emang harus bisa segalanya bi".
"iyaa non benar. o iya non, non dapat undangan dari kelompok arisan almarhum non gracia".
"kelompok arisan? mas bram kok gak pernah cerita ya bi". aju sedikit heran dengan undangan itu.
"iya non, tuan tidak pernah tau kalau non gracia ikut arisan".
"kenapa begitu bi?".
"karena tuan tidak suka melihat non gracia bergaul dengan teman-temannya yang suka pamer kehidupan mewah non".
"ohh begitu ya bi. terus, kenapa aku mendapat undangannya bi? aku kan gak kenal mereka". tanya ku keheranan.
"itu karena mereka tau kalau non adalah istri tuan yang baru".
"ohh baiklah bi". aku membawa undangan itu ke kamar.
aku melihat mas bram masih tertidur pulas di ranjang, entah apa yang membuat mas bram tidak bangun-bangun. aku merasa penasaran, hingga aku mendekati mas bram pelan-pelan.
"mas... mas bram". aku mencoba memanggilnya.
perlahan aku mendengar suara rintihan dari balik selimut dan desahan nafas yang berat. aku membuka selimut dan mendapatkan mas bram menggigil kedinginan.
"ya ampun, panas banget tubuh mas bram". aku memeriksa tubuhnya.
dengan cepat aku mengambil tisu dan mengelap keringat yang bercucuran seluruh tubuh mas bram.
"kenapa diam aja sih mas kalau lagi sakit". aku sangat khawatir dengan keadaan mas bram.
aku mengambil air hangat dan mulai mengompres mas bram agar suhu panas nya turun.
sesekali mas bram mengigau memanggil nama garcia.
"gracia... gracia... ". ucap mas bram dalam igauannya.
"ini aku karin mas bukan gracia".
"gracia.. tunggu aku". lagi-lagi mas bram mengigau.
"iya mas". jawab aku sambil menggenggam tangan mas bram.
setelah ku berikan obat penurun panas, mas bram terlihat sedikit tenang dan tubuhnya sudah tidak demam lagi.
karena mas bram sakit, pada akhirnya aku membatalkan janjiku pada alisya. syukur alisya bisa mengerti aku dan dia tidak keberatan.
sepanjang hari aku menunggu mas bram di kamar tanpa aku sadari, aku tertidur di sebelah mas bram. saat aku tertidur, aku merasa ada yang mengelus kepala ku dan ternyata itu adalah mas bram.
"sudah bangun mas".
"iyaa". jawab mas bram sambil menganggukkan kepalanya.
"mau makan mas, dari pagi mas belom ada makan".
"tidak, nanti saja. kamu lelah karin?".
"lelah? gak mas. kenapa?".
"kamu tidurnya pulas sekali, sampai mulut kamu terbuka dan air liurnya keluar". ucap mas bram.
"ahh yang benar mas". aku langsung panik dan menyeka setiap sudut mulutku.
"hahaha tidak karin, aku hanya bercanda".
"ihh mas bram, apaan sih. buat panik aja". refleks aku memukul bahu mas bram.
"aduh.. aduh... ". mas bram memegang bahunya yang aku pukul.
"ma.. maaf mas, aku gak sengaja. mas sih lagi sakit jail banget".
"maaf karin". jawab mas bram dengan tersenyum lebar.
"ini pertama kalinya aku melihat mas bram tersenyum dengan lepas, senyuman mas bram sangat manis di tambah dengan lesung pipinya".
"kamu ganteng mas kalau senyum".
"ahh kamu bilang apa?".
"ohh gak mas, gak apa-apa".
"apaa sih ini mulut, main asal ngomong aja. kalau mas bram dengar tadi kan aku jadi malu".
tiba-tiba aku teringat alisya Yang belom makan siang.
"jam berapa ini mas?". seketika aku panik melihat jam.
"jam 4 sore. kenapa kamu panik?".
"aku lupa masakkan buat alisya makan mas". aku mengusap wajahku.
"tidak apa-apa, tadi aku sudah suruh bibi nina buatkan makan siang untuk alisya". tangan mas bram mengusap rambutku.
"ohh iyaa mas, syukurlah". ucapku perlahan sambil menatap mata mas bram.
"ehh mas sudah baikkan".
"sudah, dan terima kasih sudah merawatku". ucap mas bram.
"iya mas, lagian sudah kewajiban ku untuk merawat mas bram".
aku bangun dari ranjang namun dengan sigap mas bram menarik tanganku hingga aku jatuh ke pelukkannya.
"mas". ucapku.
mas bram mengecup keningku dan memelukku dengan erat.
"terima kasih". mas bram membisikkan di telingaku.
"iya mas, tapi ....".
"jangan bergerak, tetap seperti ini sebentar saja". mas bram semakin erat memelukku.
"iya mas, peluklah sepuasnya". aku membalas pelukkan mas bram.
setelah 5 menit mas bram memelukku,dia menatap mataku dengan tajam sembari tersenyum.
"ada apa dengan mas bram?".
"ayo,kita keluar jalan-jalan".
"tiba-tiba mas ? kenapa?". aku sedikit heran.
"semenjak kita menikah, kita belum pernah untuk jalan-jalan bareng kan".
"iyaa sih mas".
"ayo buruan beres-beres". ucap mas bram.
"baiklah,aku akan membereskan alisya dulu mas".
segera aku mencari alisya di taman belakang dan memberitahukan dia kabar gembira.
"alisya". teriakku panggil alisya.
"iyaa bunda". alisya sedang bermain dengan bibi nina.
aku menghampiri alisya
"sayang, ayo ganti baju. papa ngajak kita jalan-jalan".
seketika wajah alisya berubah bahagia mendengar bahwa akan pergi jalan-jalan.
"bener bunda. hore... hore... ". alisya melompat-lompat bahagia.
"bi, tolong bereskan alisya ya".
"baik non". jawab bibi nina.
setelah itu, aku kembali ke kamar untuk mengganti pakaian.
"entah kenapa aku yang sangat bersemangat saat mas bram ngajak jalan-jalan". senyumku.
di kamar aku melihat mas bram telah selesai mengganti pakaiannya, mas bram terlihat keren mengenakan kaos putih dan jeans hitam.
mataku terus menatap mas bram, aku berpikir betapa beruntungnya aku mendapatkan suami seperti mas bram.
"kamu gak ganti baju". mas bram membuyarkan lamunan ku.
"ohh iyaa mas ". cepat-cepat aku berjalan ke lemari untuk memilih baju.
tangan ku gemetar saat memilih baju mana yang akan ku kenakan. ini pertama kalinya aku ngedate bareng mas bram, bahkan aku tidak tau selera mas bram. seperti apa.
"aku pakai baju yang mana ya". gumam ku.
aku melihat tangan mas bram meraih salah satu baju kemeja berwarna cream pastel.
"yang ini aja". mas bram memberikan bajunya padaku.
"ahh iya mas". senyum ku.
segera aku mengganti bajuku dengan pilihan mas bram,aku memakai kemeja cream pastel aku padukan dengan jeans Blue dan Highils hitam.
"mungkin,seperti ini selera mas bram".
aku berputar-putar di depan kaca ruang ganti.
"kamu cantik karin". ucap mas bram yang melihatku.
seketika aku terkejut mendegar ucapan mas bram hingga membuatku hampir terjatuh.
"kamu baik-baik aja". mas bram menahan tubuhku.
"i..iya mas. terima kasih". cepat-cepat aku berdiri lagi.
"sudah siapkan,ayo kita berangkat sekarang".
aku dan mas bram keluar dari kamar dan berjalan menuju ke ruang tamu untuk menemui alisya yang sudah lama menunggu kami.
"sayang". panggilku saat melihat alisya tengah duduk menunggu.
"bunda, papa... lama banget". alisya menghampiri kami.
"maaf sayang, bunda udah buat alisya nunggu lama". aku memegang tangan alisya.
"ayo sayang kita pergi". mas bram juga menggandeng tangan alisya.
"papa, kita mau kemana?". tanya alisya.
"kita mau main ke mall terus makan malam bareng". jawab mas bram.
"hore... bunda jadikan belikan alisya boneka". alisya menagih janjiku.
"iyaa sayang, nanti bunda belikan boneka buat alisya".
"yee... yee... alisya punya boneka baru". alisya kegirangan.
sepanjang jalan mas bram banyak bicara dengan alisya, mereka berdua terlihat sangat happy saat bersama. hanya saja terkadang mas bram tidak ada waktu karena sibuk kerja.
sesampainya kami di mall, alisya terus menarikku agar cepat membelikannya boneka baru untuknya.
"ayoo bunda". alisya menarik tanganku.
"alisya, jangan di tarik-tarik tangan bunda". ucap mas bram.
"tidak apa-apa mas". jawabku.
mas bram tersenyum melihat tingkah alisya, dan itu yang kesekian kalinya mas bram tersenyum dalam satu hari.
"aku ke toilet sebentar ya".
"iya mas". jawab ku
saat alisya menarik tanganku, tanpa di sengaja kami menabrak seorang wanita yang sedang berdiri menelpon dan menumpahkan air kopi yang di pegagnya.
"aghh... ". teriak wanita itu.
seketika tanganku meraih alisya yang akan jatuh dan langsung memeluknya.
"kamu baik-baik aja sayang". alisya hanya menganggukkan kepalanya di pelukanku.
"kalau jalan itu pake mata, apa gak lihat ada orang di depan". wanita itu terlihat sangat marah.
"maaf mbak, maafkan anak saya. dia tidak sengaja". ucapku sambil membungkukkan badan.
"maaf.. maaf.. kamu sebagai ibunya kenapa tidak mengawasi anak kamu. apa gunanya kamu sebagai seorang ibu". wanita itu sedikit teriak.
mendengar teriakkan wanita itu, alisya tampak ketakutan, dia memelukku dengan erat.
"mbak, saya sudah minta maaf. mbak gak harus marah-marah seperti itu, mau gimanapun anak saya masih kecil. tolong mbak ngertiin". jawab ku yang mulai sedikit kesal.
wanita itu terlihat cantik dan seperti sosialita tapi sayang sikapnya tidak sesuai dengan wajahnya.
hatiku sedikit memanas mendengar makiannya terhadapku dan alisya tapi aku tidak bisa melawannya, aku tidak ingin alisya melihat adanya kekerasan.
orang-orang mulai melihat perselisihan kami dan mereka semua mulai mencibir satu sama lain.
"baiklah mbak, saya minta maaf sekali lagi dengan sangat tulus". ucapku.
"minta maaf kamu itu gak bisa mengganti tas ku yang sudah kena air kopi ini, kamu tau gak kalau tas ku ini limited". wanita itu semakin marah ketika tahu kalau tasnya kena tumpahan kopi.
"berapapun akan saya ganti mbak, tapi saya mohon jangan marah ataupun memaki di depan anak saya". aku berusaha menutupi telinga alisya.
bagaimana pun, usia alisya tidak pantas untuk mendengar kata-kata makian seperti itu, karena seusia alisya merupan usia yang ingatannya sangat tajam untuk mengingat sesuatu hal.
"gimana saya gak marah, kalau kalian berdua jalan gak pake otak gitu". wanita itu semakin ngegas bicaranya.
"siapa yang gak pake otak". sahut mas bram yang datang dari sisi toilet.
"mas bram". ucapku seketika terkejut.
"kamu gak apa-apa kan". mas bram menyentuh pundakku.
"gak apa-apa mas, kami baik-baik saja". jawabku.
wanita itu terlihat menatap mas bram tanpa henti, wajahnya seperti mengingat sesuatu.
"kamu...bukannya CEO dari perusahaan Furniture stores". ucap wanita itu.
"iyaa benar, anda siapa?". jawab mas bram.
"saya adalah salah satu klien anda yang akan bertemu besok". wajah wanita itu berubah menjadi ramah seketika melihat mas bram.
"ohh iya". mas bram hanya melirik dan mengabaikan tangan wanita itu untuk bersalaman.
"sepertinya, besok kita harus membatalkan pertemuannya dan saya pastikan tidak akan bekerja sama dengan anda". ucap mas bram.
"loh.. kenapa... kenapa anda membatalkan begitu saja, apa alasannya.... ". wanita itu terlihat panik mendengar ucapan mas bram.
"ayo, kita pergi". mas bram menggandeng tanganku dan alisya.
aku melihat wanita itu sangat marah, entah apa yang di pikirkan mas bram sampai mengambil keputusan seperti itu pada kliennya.
"mas, apa tidak masalah jika kamu membatalkan pertemuan besok?". aku khawatir akan mempengaruhi kerjaannya.
"lebih baik aku kehilangan 10 klien seperti dia, dari pada istri dan anakku di perlakukan seenaknya". jawab mas bram.
hatiku terenyuh mendengar ucapan mas bram, dia berani mengambil resiko bagi kerjaannya demi melindungi keluarganya.
lagi-lagi aku bersyukur, memiliki seseorang yang dapat melindungi ku.
.
balik mampir dukungan kk