Sebuah kisah yang menceritakan perjalanan seorang anak yang harus menghadapi kepahitan dalam hidup, berjuang dan di asingkan oleh keluarga kandungnya demi menyelamatkan dan mempertahankan identitas dirinya.
Dia adalah Griffin, seorang anak yang harus merasakan sakitnya hidup dalam pembullyan orang-orang sekitar, serta perjuangan yang mengharuskanya hidup di tengah kondisi yang sangat menyedihkan.
Dia hanya tinggal bersama dengan kakeknya, Jesper. Bahkan, dia tidak di perbolehkan untuk mengetahui wajah orang tua kandungnya.
"Kakek, mengapa aku tidak boleh mengenal orang tua ku ?" tanyanya setiap kali merasa sesak ketika melihat teman-temannya berjalan dengan orang tua mereka.
"Suatu saat nanti kamu akan mengetahuinya Griffin, berjuanglah," balas Jesper dengan tersenyum lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrieta rendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Albert & Briell
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Sesampainya dia di Markas, dengan berlari sangat cepat Albert memasuki ruangan istrinya.
Dan hatinya benar-benar hancur ketika melihat sosok yang sudahh di tutupi oleh kain putih.
“Enggak,,ini gak mungkin,, ini gakkkk mungggkkkinnnnnnnnnnn,” teriaknya histeris lalu melangkah membuka kain itu.
Dan begitu jelas matanya menatap ke arah wajah wanita yang sangat dia cintai sudah pergi meninggalkanya untuk selama-lamanya.
“Briell sayangg, heyy bangun yuukk, anak kita sudah sembuh sayang,,ayo bangunn kamu harus bangunn untuk mendukung putra kita Gabrieelllaaaaa, hisskkk,, Briell bangun,” tangisnya benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
“Aaarrrrgggghhh praaaangggg bruuugggghhh,” Albert menggila dengan menghancurkan seluruh barang yang ada.
“Bagaimana ini bisa terjadi ? Baru beberapa jam yang lalu aku pergi meninggalkanya, dan tadi dia baik-baik saja kan, bahkan dia sudah melewati masa kritisnya, lalu ini apa,, ini apa brengseeekkkk aaahhhhhhhh.” Teriaknya lagi, bahkan dia sama sekali tidak perduli dengan luka yang begitu sakit dia rasakan.
Baginya jantung dan hatinya jauh lebih sakit melihat istri yang begitu dia cintai, kini telah pergi meninggalkan dirinya.
“Briell sayang, kamu dulu pernah berjanji jika kita akan berjuang bersama-sama, dan hidup dalam satu hembusan nafas begitu juga mati dalam ikatan cinta, lalu mengapa kamu pergi sendiri tanpa membawaku? Aku gak sanggup menahan semua ini demi Tuhan aku gak sanggup Briell, aku lemah aku gak mampu berdiri tanpa ada yang menopang ku.” Lirihnya menatap wajah Briell yang terlihat sudah tenang.
Sebuah kisah cinta yang berawal dari sebuah kesalahan fatal di malam itu, membuat mereka saling membenci dan menyakiti satu sama lain.
Membuat kehidupan rumah tangga yang mereka jalani benar-benar hancur bagaikan nereka, di mana di dalamnya hanyalah ada sebuah pertengkaraan dan penghianaan yang di lontarkan dari keduanya.
Aksi saling sindir selalu mereka lakukan, sampai bahaya orang ketiga mereka lewati dengan kejujuran dari keduanya masing-masing.
Hingga Tuhan munumbuhkan sebuah perasaan cinta di hati salah satu dari mereka, agar ke duanya tau bagaimana cara cinta memperjuangkan dengan hati yang tulus.
Walau di yakini itu sangat mustahil, namun mereka berhasil menyatukan cinta mereka.
Kebahagiaan yang tidak berhenti sampai di situ saja, karna lagi-lagi Tuhan mengirimkan berkat kepada mereka dengan hadirnya janin yang menjadi penyatu cinta mereka.
Cinta yang dulunya goyah tanpa keyakinan, namun sekarang berhasil berdiri tegak tanpa bisa di robohkan oleh apa pun.
Ini selalu mereka tekanan kepada kehidupan yang sekarang sedang di jalani.
Bahwa Takdir jodoh Tuhan tidak akan pernah salah dalam menempatkanya kembali kepada pemilknya.
Bagaikan kapal yang sedang berlayar di tengah laut lepas, mencari sumber mata angin yang bingung hendak membawanya kemana.
Namun tetap saja, sejauh apa pun dia berlayar pasti di dalam ujungnya dia akan kembali ke dermaga untuk bersandar.
Begitu juga dengan Albert dan Briell. Tidak perduli seburuk apa mereka di masa lalu dan berpindah-pindah hati dalam mencari cinta sejati.
Hingga akhirnya Tuhan mempertemukan mereka sebagai pasangan abadi yang tidak akan terpisahkan oleh apa pun itu.
Albert diam duduk termenung mengingat seluruh perkataan indah yang keluar dari mulut istrinya dulu. "Karna aku percaya, ketulusan hati yang kamu miliki saat ini akan merubah segalanya seiring berjalannya waktu nanti. Aku dan kamu adalah satu, aku akan berusaha melindungimu, membuktikan kepadamu jika aku layak bersamamu, apa pun permasalahanya, seberat apa pun itu, tolong jangan pernah tinggalkan aku,aku akan terus bersamamu, menemanimu, dan berusaha mencintamu. Aku mau kita bersama untuk melewati segalanya, kamu bahagia, aku bahagia, kamu sedih, aku sedih, kamu fight, aku fight, kamu mati, aku juga mati." Kalimat Briell yang terus menerus terngiang di kepalanya.
Albert benar-benar tidak sanggup mengingkari janjinya itu. “Kamu mati aku juga mati,” tangisnya kembali pecah mengingat janji yang terucap dulu.
Ini adalah pilihan sulit untuk Albert, “Griffin, hiduplah dengan damai son, maaf Papah mengambil jalan seperti ini, sungguh Papah tidak sanggup memikul semuanya, Papah mencintamu dan Mamah, tapi Papah sudah berjanji lebih dulu jika akan hidup dan mati bersama-sama. Papah yakin setelah ini kamu akan hidup dengan bahagia sayang, maafin Papah karna belum bisa menjadi Ayah yang baik untuk kamu sayang.” Lirihnya menangis di pelukan istrinya.
Dia juga mengingat jika beberapa jam yang lalu, dia masih di beri kesempatan untuk memeluk dan meyapa putranya di saat Griffin baru terbangun dari obat biusnya.
Bagaimana putranya mersepon dan berbicara denganya, bagaiaman dia menyentuh lembut kulit tubuh itu, betapa hangatnya dekapan kasih sayang yang di berikan kepada Putranya Griffin untuk yang pertama dan terakhir kali.
Dia memeluk tubuh kaku Briell dengan Robert, Tabib dan Gina yang sudah terlihat menangis melihat itu.
Luka yang di terus menguarkan darah itu kini semakin mencengram dadanya.
Albert merasakan sesak yang berlebih, karna dirinya yang merasa tertekan dan terus menerus bergerak dan membuat luka itu kembali terbuka dan semakin membuatnya lemah.
“Maafkan Papah Griffin,terus melangkahlah Nak, yakinlah jika suatu saat nanti kamu akan bahagia, jadilah anak yang berbakti dan tegaslah pada keputusanmu, doa Papah dan Mamah akan selalu menyertaimu. Raini Griffin Erol. Papah mencintaimu Nak, Papah mencintamu.”
Dan tak lama kemudian, Mario dan Eden datang untuk melihat jasad Briell.
Buuuuggghhhh, Mario kali ini benar-benar tak mampu menopang kakinya.
Hilang sudah harapan untuk melihat putrinya sembuh dan kembali ke pelukanya.
“Ba,,bagaimana bisa ini terjadi? Bukankah tadi kalian bilang dia sudah melewati masa kritisnya? Lalu ini apa?” bentaknya pada Robert dan tabib itu.
“Maaf Tuan, ketika Anda dan Tuan Albert pergi tadi, Nona Briell menunjukkan reaksi yang tak terduga, dan tiba-tiba saja dia menjadi drop dan kami sudah berusaha untuk mengembalikan detakan jantungnya, namun tidak ada balasan maupun respon dari Nona, hingga kami benar-benar menyerah dan meyatakan jika Nona Briell sudah tidak bisa di selamatkan lagi.” Jawab Tabib tadi dengan suara yang bergertar menahan rasa sakit.
Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa Briell, dan ini sangat penting baginya. Briell mengingatkanya pada sosok putrinya yang juga pergi tanpa bisa di selamatkan.
“Saya mohon ampun Tuan, tapi saya menyerah, saya bukan Tuhan yang mampu menyelamatkan nyawa putri saya dan juga putri Anda, maafkan saya Tuan.” Tangis Tabib itu yang mengingat kejadian di saat dirinya menjadi Mario saat ini.
Sakit kehilangan sosok putri yang paling di cintai itu memanglah sangat sakit. Dan siapapun tidak akan pernah bisa mengikhlaskanya.
Dan itulah yang membuat tabib itu sampai mengembara jauh ke Brazil agar bisa melupakan kenangan pahit itu.
Sedangkan Eden kini melangkah mendekat ke arah Albert yang sedang memeluk tubuh Briell tanpa pergerakan.
Terlihat darah yang mengalir membasahi tubuh keduanya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*