Siapkan tissue karena cerita mengandung bawang.
Apa jadinya jika sebuah pernikahan tanpa cinta harus terjadi atas unsur perjodohan?
Kiandra Anastasia seorang gadis yatim piatu berusia 17 tahun yang hidup bersama dua pembantu setianya yang menganggapnya seperti anak sendiri semenjak kepergian kedua orang tuanya untuk selama-lamanya karena sebuah kecelakaan, ternyata sejak kecil sudah dijodohkan oleh Almarhum kedua orangtuanya itu dengan seorang CEO perusahaan besar yang merupakan putra dari sahabat Almarhum Papanya, Aldo Wiryawan Prayoga nama sang CEO yang terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tempramen.
Bagaimana kehidupan pernikahan antara Kiandra bersama Aldo? Akankah ada benih-benih cinta diantara mereka nantinya? Yuk ikutin cerita ini dari awal sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Di sebuah ruang IGD, seorang gadis berusia 17 tahun mengenakan kebaya putih yang tak lagi terlihat putih seutuhnya karena banyak noda darah menempel pada kebaya putih itu lengkap dengan riasan wajahnya, terbaring tak sadarkan diri.
Seorang dokter dan perawat terus menusuk jarum ke dalam tubuh gadis itu, setelah memeriksa detak jantungnya yang masih berdetak namun sudah melemah. Seorang suster berlarian membawa cairan infus dan langsung memasangkan cairan infus itu pada tubuh gadis itu.
"Apa sudah di cek golongan darahnya Sus?" Tanya seorang Dokter muda berjenis kelamin laki-laki yang terlihat tenang dalam menangani kondisi pasiennya.
"Sudah Dok," jawab Suster dengan cepat.
"Kita butuh banyak kantong darah Sus, jika hasilnya sudah keluar segara kabari Bank Darah dan keluarganya!" Perintah sang Dokter yang menangani gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Kia.
Sementara di luar ruang IGD, Wirya dilanda kecemasan mengenai kondisi Kia. Begitu juga dengan Tami. Ia terus menangis dan menyesali keinginannya, ia sangat ingin mempercepat menikahkan Putranya dengan Putri sahabatnya itu. Jika tahu akan seperti ini jadinya, mungkin dia tak akan memaksakan kehendaknya hari ini.
Pak Ujang dan Bi Ratmi datang menyusul ke rumah sakit, setelah mengetahui rumah sakit mana yang di tuju sahabat mendiang majikannya itu.
Mereka berdua berjalan begitu cepat, menyusuri lorong-lorong rumah sakit, pikiran yang kalut, rasa sedih dan khawatir menyelimuti hati mereka. Anak majikannya yang sudah mereka anggap seperti anak mereka sendiri mengalami kondisi seperti ini, karena keegoisan seseorang yang mengatas namakan amanah mendiang majikannya.
Sesampainya di hadapan sahabat majikannya, Bi Ratmi langsung saja menanyakan kondisi Kia sembari menangis dan menggoyangkan tubuh Tami yang tak bisa menjawab apa-apa, karena belum mendapatkan kabar apapun dari Dokter.
Sedang Pak Ujang langsung saja menghampiri Tuan Wirya. Ia menatap tajam wajah sahabat baik Tuan Andra, majikannya itu.
"Bukankah sudah saya katakan Tuan, ide ini adalah ide yang sangat buruk untuk Kia. Dia belum siap Tuan, usia Kia masih terlalu muda untuk menikah, apalagi baru saja ia merasa kehilangan. Makam kedua orang tuanya pun masih basah, Tuan. Tolong biarkan dia menikmati masa mudanya. Beri dia kesempatan menikmati masa mudanya. Anda jangan khawatir kami pasti akan menjaganya dengan baik, kami juga akan membantu Anda menikahkan Kia dengan putra Anda sesuai dengan rencana Anda dan Tuan Andra," ucap Pak Ujang panjang lebar, dengan raut wajah yang begitu serius.
"Maafkan Kami Ujang, karena memaksakan kehendak kami, Kia menjadi seperti ini." Sahut Tuan Wirya dengan suara lemah dan rasa penyesalannya.
"Saya mohon demi kebaikan Kia, Anda dan keluarga Anda untuk tidak muncul sementara waktu dihadapan Kia, Tuan. Saya sangat mengkhawatirkan kondisi anak itu masih trauma dengan semua ini terlebih dengan Anda sekeluarga." Pinta Pak Ujang yang kemudian meninggalkan Tuan Wirya begitu saja. Ia sama sekali tidak menunggu bagaimana respon Wiryawan yang mendengar permintaannya.
Pak Ujang masuk ke ruang IGD dan menghampiri sebuah meja bundar, tempat dimana berkumpulnya Dokter dan Suster di sana. Ia langsung saja menanyakan kondisi Kia dengan para Medis disana.
Tepat saat kedatangan Pak Ujang, seorang suster sedang mencari salah satu anggota keluarga Kia, untuk menyampaikan kondisi Kia yang membutuhkan banyak donor darah, karena pendarahan hebat di pergelangan tangannya yang ia alami itu.
"Saya anggota keluarganya Suster." Pak Ujang langsung menyodorkan dirinya dan berjalan menghampiri sang Suster.
"Bagaimana dengan kondisi Kia Suster?" Tanyanya yang begitu mengkhawatirkan Kia.
"Maaf Bapak siapanya pasien?" Tanya Suster pada Pak Ujang.
"Saya orang tua angkatnya Suster, kedua orangtuanya sudah meninggal dan saya menjadi walinya saat ini." Jawab Pak Ujang dengan cepat dan pasti, membuat sang Suster percaya dan menceritakan kondisi Kia.
"Pasien dalam kondisi kritis, kami butuh beberapa kantung darah untuk melakukan transfusi darah untuk menyelamatkan nyawa pasien. Kami sedang mencoba menghubungi Bank darah menanyakan ketersediaan darah dengan golongan darah pasien, tapi untuk berjaga-jaga tolong Bapak ikut serta membantu kami, untuk menyiapkan pendonor darah untuk pasien." Terang Suster yang berdiri di hadapan Pak Ujang.
"Baik Suster, saya akan siapkan sesegera mungkin. Jika boleh tahu apa golongan darah Kia Suster?" Balas Pak Ujang yang menanyakan golongan darah Kia pada Suster perawat dihadapannya.
"Golongan darah pasien A dengan rhesus positif," jawab Suster itu cepat.
"Baik Suster, saya pamit undur diri untuk mencari pendonor." balas
"Baik Pak silahkan, tolong segera ya Pak!" seru sang suster pada Pak Ujang.
"Baik Suster." balas Pak Ujang lagi.
Pak Ujang keluar dari ruang IGD, ia mengambil ponselnya, ia terlihat menghubungi teman-temannya, ia menanyakan kesediaan mereka untuk membantunya melakukan donor darah untuk Kia.
Beruntungnya Kia memiliki Pak Ujang, karena hampir semua teman-teman Pak Ujang yang ia hubungi semuanya bersedia mendonorkan darahnya untuk Kia.
Tuan Wirya yang melihat Ujang sibuk berbicara dengan seseorang melalui ponselnya di depan pintu IGD, segera berjalan menghampiri Ujang.
"Ujang, ada apa? Kenapa kamu begitu sibuk dengan ponselmu? Kamu menghubungi siapa Ujang? Bagaimana kondisi calon menantu ku di dalam Ujang?" Tuan Wirya memberondong Pak Ujang dengan pertanyaannya.
"Non Kia kritis, dia membutuhkan banyak kantong darah untuk melakukan transfusi darah. Saat ini hanya itu cara menyelamatkan nyawanya. Saya sedang mencari pendonor darah untuk Non Kia, Tuan." Jawab Pak Ujang yang membuat Tuan Wirya mengusap kepalanya dengan kasar.
"Apa golongan darah Kia, Ujang? Seharusnya kamu memberi tahukan pada kami, agar kami ikut membantu mu," Tanya Tuan Wirya yang ikut kalut dan menyesali sikap Ujang.
"Golongan darah Non Kia A, dengan rhesus positif." Jawab Pak Ujang dengan suaranya yang datar dan tatapannya yang sedingin es menatap Tuan Wirya.
Ia segera menghubungi seseorang dengan ponselnya, setelah mendengar jawaban Pak Ujang. Tak sampai sepuluh menit seseorang dengan pakaian serba merah, dengan sebuah tas kotak berisi darah, sesuai dengan golongan darah Kia datang sambil berlari kecil menghampiri Tuan Wirya.
"Tuan Wirya ini darah yang Anda butuhkan," Ucap seorang Lelaki yang menggunakan baju serba merah yang bernama Adi, ya nama pria yang mengenakan pakaian serba mererah itu bernama Adi, sesuai dengan nama tag yang menempel pada baju serba merahnya itu.
"Berikan saja pada suster perawat di dalam, katakan ini darah untuk pasien bernama Kia." Sahut Wirya yang enggan masuk ke dalam karena rasa traumanya pada ruang IGD.
"Darah sebanyak ini untuk satu orang, Tuan?" Tanya Adi yang terkejut. Karena Tuan Wiryawan meminta di bawakan 15 kantong darah sekaligus.
Tuan Wiryawan meminta darah sesuai dengan golongan darah Kia pada relasi bisnisnya, yang memiliki sebuah rumah sakit besar di kota ini.
"Ya berikan saja. Memang kenapa? Apa ada masalah?" Jawab Tuan Wirya dengan pertanyaannya yang menyulutkan emosinya yang tidak stabil saat ini. Nada suaranya cukup tinggi hingga membuat nyali Adi menciut.
"Ti-tidak Tuan," jawab Adi yang mendengar
Adi pun masuk ke ruang IGD dengan membawa tas besarnya dengan banyaknya ia bawa kantung darah persediaan di rumah sakitnya untuk Kia.
Setelah Adi memberikan darah pada para medis yang berjaga di meja bundar di tengah ruang IGD. Tak lama dari itu, Kia langsung di pindahkan ke ruang rawat presiden suite di rumah sakit ini. Ruang rawat yang di pilih Tuan Wiryawan adalah ruang termewah di rumah Sakit ini dengan segala fasilitas yang canggih melebihi ruang ICU.
Selang infus dan selang transfusi darah sudah menempel sempurna pada pembuluh darah gadis muda yang malang itu. Ia masih belum sadarkan diri, karena kondisinya masih terlalu lemah dengan HB yang begitu rendah.
Di ruang rawat Kia, kembali Pak Ujang mengingatkan Tuan Wiryawan dan anggota keluarganya untuk tidak muncul dihadapan Kia untuk sementara waktu. Biarkan Kia sehat kembali, jiwa dan raganya, barulah mereka datang kembali untuk menjenguk ataupun membicarakan perjodohan ini kedepannya.
Mereka pun dengan berat hati menerima saran dari Pak Ujang, itu semua demi kesehatan dan kebaikan Kia. Tami berjalan menghampiri Kia yang masih terpejam, ia menangis merutuki dirinya sendiri menatap wajah pucat putri sahabat suaminya itu. Ia menciumi wajah Kia berkali-kali sebelum pergi meninggalkan Kia.
"Maafin Tante Kia, cepat sembuh ya sayang," ucap Tami yang terus saja meneteskan air matanya.
"Ujang, kabari saya jika kamu butuh apa-apa! Saya titip calon menantu saya pada kalian berdua. Semua perawatan rumah sakit ini sudah jadi tanggung jawab saya, kalian tidak perlu mengkhawatirkannya lagi soal biaya dalan lain-lain, kalian hanya perlu berada di samping Kia, menemaninya, tolong jamgan biarkan dia seorang diri ya, Ujang," ucap Tuan Wiryawan pada Pak Ujang yang hanya merespon dengan manggut-manggut saja.