Dira, Luna dan Nisa adalah tiga gadis yang bersahabat, mereka berteman sejak SMA.
Dira adalah seorang gadis yang bar-bar sering berantem dengan teman kampusnya. Tetapi dia gadis yang cukup mandiri walaupun terbilang dari keluarga yang berada.
Luna sejak kecil adalah anak yang paling memprihatinkan, dia tinggal bersama ibunya di rumah yang sangat sederhana, bahkan untuk mencukupi kebutuhannya ibunya harus berjualan makanan. Luna gadis yang pintar bisa masuk kampus terbaik di kota itu dengan bantuan beasiswa.
Nisa adalah gadis yang ceroboh, tukang makan, kalau bicara asal benar.
Buat Nisa yang penting ada makanan semua beres.
Arkan dan Elang siapa ya mereka????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Arkan yang masih penasaran dengan Dira, dia bertanya kepada Elang.
"El, tadi malam kakak bertemu Dira saat makan dengan Sisil," kata Arkan sambil mengaduk-aduk makanannya.
"Kakak makan di cafe tempat Dira kerja?" tanya Elang hampir saja dia tersedak makanan.
"Bisa di bilang begitu! kenapa Dira masih kerja El, padahal orang tuanya juga berada?" tanya Arkan penasaran dengan jawaban Elang.
"Kakak bisa tanya sendiri sama Dira!" ketus Elang.
Arkan terdiam mendengar jawaban adiknya, lalu meninggalkan Elang yang masih melahap sarapan paginya.
Elang sendiri juga heran dengan kakaknya, kenapa tiba-tiba bertanya soal Dira, biasanya kakaknya itu orang yang tidak peduli dengan yang orang lain lakukan.
####
"Dira, bisa bantu mamah tidak, nak?" tanya mamah Meri yang sedang membuat kue.
"Bantu apa mah?" jawab Dira yang sedang menikmati segelas susu.
"Antar kui ini ke tempat tante Sinta!" ucap mamah Meri sambil membungkus kue.
"Ke rumah Elang mah?" tanya Dira kaget.
"Iya dong sayang, masa ke rumah siapa!" ucap mamah Meri memberikan kue itu pada Dira.
"Ya udah biar Dira yang antar!" kata Dira sambil melangkahkan kakinya menuju rumah Elang.
Di saat Dira sampai di rumah Elang, dia langsung mengetuk pintu, Arkan hendak membuka pintu tetapi ponselnya berbunyi dan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, dia menyuruh Elang.
"Dira! tumben kesini?" tanya Elang langsung menutup pintu rumah.
"Tante Sinta ada El?" tanya Dira heran dengan sikap Elang yang tidak menyuruhnya masuk rumah.
"Bundaku baru saja belanja, tadi malam baru pulang dari kota B," jelas Elang sedikit gugup.
"Nitip kue ya Elang, buat tante Sinta!" ucap Dira sambil memberikan kue itu pada Elang.
"El.... Elang!" panggil Arkan dari dalam rumah.
"Itu ada yang manggil, siapa El?" tanya Dira.
"Kakak ku Dira," jawab Elang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yang dulu katanya di luar negeri itu! sudah pulang ya?" tanya Dira lagi, karena penasaran dengan kakak Elang.
"Iya! kamu masih ingat aja," ucap Elang gugup takut ketauan.
"Aku pulang dulu ya El!" pamit Dira lalu berjalan menuju rumahnya.
"Hati-hati ya! nanti aku ke rumah kamu kalau bunda sudah pulang!" kata Elang sambil tersenyum.
Elang masuk ke dalam rumahnya dan mencari Arkan, dia mau tanya kenapa memanggilnya waktu ada Dira.
"Kakak! kenapa manggil tadi, ada Dira!" ucapnya kepada sang kakak yang sedang duduk di meja kerja.
"Apa, Dira kesini? kenapa tidak di suruh masuk?" tanya Arkan yang begitu antusias mendengar nama Dira.
"Biar kakak ketauan, kalau kakak Elang! kenapa juga harus sembunyi gitu kak?" tanya Elang dengan kesal.
"El selama ini siapa yang sembunyi, kamu aja yang ngakuin kakak di depan teman kamu!" kata Arkan, benar juga kata Arkan selama ini Elang memang tidak pernah cerita ke siapapun soal kakaknya, karena dulu kakaknya tidak di rumah.
"Belum ada kesempatan kak!" sahut Elang sambil berlalu dari ruang kerja kakaknya.
Hari ini Arkan tidak datang ke kampus karena ada keperluan di kantor, jadi dia lebih awal berangkat ke kantor.
"Elang, kakak mu sudah berangkat ya?" tanya bunda Sinta.
"Tadi bilangnya gitu sih bun! tidak tau juga kalau ke tempat calon menantu bunda," kata Elang asal bicara.
"Hah... ! sejak kapan El bunda punya calon mantu? kenapa kakak kamu tidak pernah cerita!" bunda Sinta kaget mendengar ucapan putra bungsunya.
"Biasa aja kali bun! entar juga di kenalin!" Elang membuat bundanya semakin penasaran.
"Padahal bunda mau kenalin sama Dira tetangga kita El!" kata bunda Sinta membuat Elang melotot ke arah bundanya.
"Tidak boleh bun! Dira sudah punya kekasih!" ucap Elang kesal dengan bundanya.
"Ya, tidak masalah! kalau mereka mau El! janur kuning juga belum melengkung!" jelas bundanya membuat Elang semakin resah.
"Bunda tadi Dira ke sini bawa kue!" kata Elang mengalihkan pembicaraan.
"Mana El? kok bunda belum lihat?" tanya bunda Sinta sambil membuka tutup makanan yang ada di meja makan.
"El taruh di kulkas bun!" ucap Elang, lalu mengambil kue tadi dan di berikan pada bundanya.
Elang dan bunda Sinta mencicipi kue buatan mamah Meri, yang ternyata rasanya sangat enak membuat El ketagihan dan ingin bundanya membuatkan.
####
Di kantor Arkan merasa terganggu dengan kedatangan Sisil, membuat dia tidak nyaman untuk berkerja. Sudah hampir 70% saham itu kembali, saat di pegang oleh Ayah Sisil perusahaan itu hampir bangkrut.
Arkan menyuruh Sisil untuk pulang, karena dia tidak suka di ganggu.
"Kak, aku calon tunangan kakak!" bentak Sisil pada Arkan.
"Kita batalkan saja perjanjian kita!" ucap Arkan karena kesal.
"Tidak semudah itu kak! perusahaan ini tidak akan menjadi milik kakak!" ucap Sisil dengan kesal.
"Kenapa tidak? Ayah kamu sudah mengembalikan, Sil!" jelas Arkan.
"Itu karena kakak mau bertunangan dengan Sisil, coba kalau tidak, kakak tidak akan bisa ambil!" ucap Sisil sambil membanting pintu ruangan Arkan.
Setelah Sisil pergi Arkan menemui Ayah Sisil untuk membicarakan masalah ini, Ayah Sisil juga sudah mengakui kesalahannya dan mengembalikan perusahaan milik keluarga Arkan dengan baik-baik.
Masalah pertunangan juga sudah di serahkan kepada Arkan mau di lanjutkan atau di batalkan. Menurut Ayah Sisil kalau terus memaksa Arkan akan berakibat buruk nantinya. Dia ingin yang terbaik buat putrinya, itu harapan orang tua Sisil.
Arkan segera pulang ke rumah dan memberi tahu hal ini pada keluarganya.
Bundanya kaget karena tiba-tiba Arkan akan bertunangan.
"Bunda salah paham! pertunangan ini bisa di batalkan, bunda!" jelas Arkan sambil menenangkan bundanya.
"Arkan, kenapa kamu mengambil keputusan sendiri! bunda tidak suka!" ucap bundanya sedikit kecewa dengan Arkan.
"Bunda, Elang pamit ke rumah Dira dulu ya!" pamit Elang pada bundanya, dia sudah janji pada Dira mau ke rumah Dira.
"Salam ya El, buat Dira dan tante Meri! bunda belum bisa kerumahnya!" kata bunda Sinta.
"Siap bunda!" kata Elang, lalu keluar rumah dan pergi ke rumah Dira.
Arkan heran dengan sikap adik nya karena mendiamkan dirinya, biasanya juga berpamitan dengan dia. Setelah Elang pergi, Arkan dan bundanya melanjutkan pembicaraan mereka.
"Ar, sekarang bunda tanya! apa kamu sudah yakin dan serius dengan perempuan itu?" tanya bunda Sinta.
"Tidak bunda, Arkan hanya ingin mencari tau dan mengambil perusahaan milik keluarga kita!" jelas Arkan semakin membuat bundanya kecewa.
"Sama saja kamu mempermainkan gadis itu!" bunda tidak suka cara kamu!" kata bunda Sinta.
Bunda Sinta mengajak Arkan untuk menemui Sisil saat ini, dan membicarakan soal pembatalan pertunangan mereka.
"Bagaimana dengan Sisil, apa mau menerima keputusan ini?" 🤔🤔🤔
baik benar jadi teman❣️❣️❣️❣️
masih z suka menyalahkan orang lain 🙄🙄🙄🙄