gadis yatim piatu yang harus berjuang hidup sendiri tanpa memiliki sanak saudara. ia melanjutkan kuliahnya dari bea siswa dan bekerja di sebuah tempat karaoke keluarga milik sahabnya.
namun semuanya berubah saat seorang pria yang mabuk memperkosanya. sehingga ia hamil.
bagaimana kelanjutan kisahnya.
nafisa. gadis cantik berusia 20 tahun. seorang mahasiswi di fakultas ekonomi. yg bekerja sebagai waiter di salah satu tempat karoke.
aldiansah Pratama
seorang mahasiswi dan pengusaha. berusia 21 tahun.
Julian Saputra.
pria mapan berusia 28 tahun.
seorang pengusaha muda yg sukses.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilik Bunda Abib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 8
Nasi mereka sudah habis. Nafisa memegang perutnya.
“Kenapa?” Tanya Aldi
“Aku kekenyangan Al.” ucapnya yang sudah terasa begitu sangat penuh terisi.
Aldi senyum melihat ke arah Nafisa. “Gimana gak kenyang. Makanya banyak gitu. Padahal kurus.” ucapnya yang memandang gadis tersebut.
“Al, kamu ngomongin aku ya?”ucap Nafisa Sambil melebarkan matanya.
“Gah ah. He.....he.....” ucapnya.
“Kamu tadi bilang apa Al?”
“Aku bilang, kamu cantik.”
“Jangan bohong kamu Al.”
Aldi hanya tertawa. “Udah yuk kampus.”
Nafisa memajukan bibir tipis dan mungil tersebut.
***
“Sa, aku gak bisa ngantar kamu ke karoke. Aku udah di tunggu papi untuk rapat direksi di kantor.”
“Ia gak apa Al. Aku naik busway aj.” Jawab Nafisa.
“Beneran gak apa Sa?”
“Iya gak apa.”
Aldi menuju mobilnya yang terparkir di parkiran kampus. Nafisa langsung ke halte.
Nafisa duduk di bangku tunggu. Tampak bus tersebut semakin mendekat. Nafisa langsung berdiri dari duduknya. Saat bus berhenti dengan sangat cepat ia menaiki kakinya ke dalam bus tersebut. Kondisi bus yang penuh membuat Nafisa berdiri sambil memegang besi di atas kepalanya. Berdiri di atas bus bukanlah hal yang sulit bagi Nafisa. Hampir setiap hari ia berdiri jika kondisi bus penuh. Sekitar 15 menit Nafisa sampai di tempat kerjanya. Nafisa turun dari bus. Melangkahkan kaki menuju ke dalam gedung tersebut.
Saat di parkiran, seseorang memanggil namanya. Suara seseorang laki-laki yang terdengar begitu berat dan serak-serak basah. Nafisa memutar kepalanya ke belakang untuk melihat siapa yang memangilnya. Keringat bercucuran di kening serta tubuhnya. Badannya terasa begitu gemetaran. Matanya panas dan memerah.
Pria tersebut mendekati Nafisa. Saat ini jaraknya semakin dekat. Pria tersebut menarik tangan Nafisa dengan sangat keras, dan menyeret tubuh kurus dan mungil gadis tersebut. Nafisa mencoba untuk melepaskan tangan pria tersebut namun cengkraman tangan yang begitu kuat tidak bisa dilepas oleh Nafisa. Terasa pergelangan tangan Nafisa sangat sakit hingga ketulang.
“Lepaskan saya. Saya mohon.” Pinta Nafisa.
“Diam, ikut dengan ku. Aku ingin berbicara sama kamu. Kalau kamu masih bersuara, aku pastikan kau akan kehilangan lidah mu. Aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku.” Bentak lelaki tersebut.
Kata-kata pria tersebut begitu mengerikan. Membuat bulu kuduk Nafisa berdiri. Bibirnya pucat pasi. Dengan kasar, Julian mendorong tubuh mungil Nafisa ke dalam mobilnya. Nafisa hanya diam, suara isak tangis lolos dari celah bibir mungil tersebut. Julian memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah hotel.
“Keluar.” Julian, berbicara dengan sangat keras, seakan suara pria tersebut bisa memecahkan genderang telinga Nafisa. Nafisa diam sambil memegang pinggir tempat duduk dengan tangan yang gemetar.
“Kau tidak dengan aku memerintahkan agar kau turun.”
Nafisa menggeleng kan kepalanya. Dengan sangat kasar, Julian menarik tangan Nafisa sehingga gadis tersebut keluar dari mobil. Julian mencengkeram tangan Nafisa dengan sangat kuat. Ia membawanya masuk ke dalam loby hotel. Langkahnya terhenti saat ia sampai di depan sebuah lif. Lif tersebut, khusus untuk direktur hotel atau penghuni kamar presiden suite.
Nafisa sudah tidak merasakan sakit lagi di pergelangan tangannya. Jari-jarinya serasa sudah mati rasa dan kebas. Begitu lif berhenti di lantai 30 Julian menyeret Nafisa.
Julian membuka pintu kamar tersebut dengan sim card . Setelah pintu terbuka, Julian menghempaskan tubuh Nafisa dengan sangat kuat. Membuat Nafisa terhempas ke lantai. Tatapan mata Julian terlihat menyeramkan.
“Aku sudah tau kau siapa,” tatapan mata Julian tampak menghina dan jijik. Saat melihat Nafisa. “Kau gadis miskin, yatim piatu yang bermimpi menjadi orang kaya dengan cara menjebak pria-pria kaya seperti aku. Tapi sayang, kau salah mangsa. Karena aku bukan orang bodoh seperti yang kau pikirkan.” Kata Julian dengan emosi.
Dengan bibir bergetar, Nafisa mencoba untuk mengeluarkan kalimat demi kalimat dari bibir nya. “Saya tidak serendah itu tuan. Anda yang sudah memperkosa saya.”
“Apa kau tidak berkaca? Kau lihat bentu kmu. Kau lihat tubuh mu, dan wajah mu. Kau bukanlah tipe ku. Kalau bukan karena kau menjebak ku. Aku tidak akan mungkin memperkosa mu.” Bantah Julilan
Nafisa menangis dengan tangan menutup mulutnya.
***
jangan lupa like komen dan votenya ya reader
terimakasih atas dukungan nya.