Mencintai jodoh sepupu sendiri?
Salahkah itu?
Berawal dari sebuah pertemuan yang tak di sengaja. Senja, gadis 22 tahun yang baru pulang dari luar negeri itu bertemu dengan sosok pria bernama Bumi yang menurutnya sangat dingin dan menyebalkan.
Semakin Senja tidak ingin melihat wajahnya, justru makin sering Senja bertemu dengannya.
Dari setiap pertemuan itulah muncul rasa yang tak biasa di hati keduanya.
Tapi sayangnya, ternyata Bumi adalah calon suami dari sepupu Senja, Nesya. Mereka terlibat perjodohan atas permintaan almarhum ibunda Bumi pada sahabatnya yang merupakan ibu dari Nesya.
Sanggupkah Bumi dan Nesya mempertahankan perjodohan itu?
Bagaimana nasib Senja yang sudah terlanjur jatuh cinta pada Bumi? Mampukah ia mempertahankan hatinya untuk Bumi?
Baca terus kisah mereka, ya.
ig : @tulisan.jiwaku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hary As Syifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Balas Dendam Riko
“Riko?”
Senja terkejut saat melihat sosok Riko turun dari mobilnya, lalu bersandar di pintu mobil. Dia bisa menebak kalau Riko pasti ingin balas dendam atas kejadian di restoran kemarin.
Senja melihat dua pria berbadan besar yang tadi menaiki sepeda motor sudah berada di dekat mobilnya. Kedua pria itu berada di sisi kiri dan kanan mobil Senja. Saat mereka melihat ke arah Riko, lelaki itu tampak menganggukkan kepala seolah memberi kode untuk melakukan sesuatu.
Dan benar saja, salah satu dari pria itu mengetuk kaca pintu mobil Senja dengan sangat keras.
“Keluar! Keluar dari dalam mobil atau aku pecahkan kaca ini!” teriak pria tersebut.
Senja bergidik ketakutan dalam mobil. Dia bingung harus berbuat apa. Mau menelepon pun baterai handphone-nya habis. Dilihatnya ke sekeliling, tidak ada satupun kendaraan yang lewat disana. Dia benar-benar sendiri saat itu.
“Woi! Cepat keluar! Kau mau aku pecahkan kaca mobilmu?!” sentak pria tadi sambil menggedor kaca itu dengan lebih keras.
Senja semakin ketakutan. Kemudian ia teringat ada parfum di dalam tasnya. Dia akan mencoba menggunakan itu sebagai senjata dengan menyemprotkan ke mata pria itu.
Semoga ini berhasil. Setidaknya coba dulu. Masa iya aku tidak ada perlawanan sama sekali. Tidak mungkin aku pasrah begitu saja. Aku harus mencoba ini.
Senja dengan cepat mengambil parfum dari dalam tasnya dan menggenggam benda itu erat-erat.
Tek!
Senja membuka kunci pintu mobilnya. Tangannya meraih pintu mobil dan membukanya dengan perlahan. Senja pun keluar dari mobilnya. Sementara pria tadi dengan cepat menutup kembali pintu mobil Senja.
“Gadis pintar! Ayo ikut denganku!”
Belum sempat pria itu meraih tangan Senja, wanita itu lebih dulu menyemprotkan parfum yang ada di tangannya ke mata pria itu tanpa henti.
“Aaakkkkhhhh mataku... apa yang kau lakukan?”
Bugh!
Tak cukup menyemprotnya, Senja juga menendang aset berharga pria itu sampai ia meringis kesakitan sambil memegangi asetnya.
Melihat pria itu lengah, Senja tak mau buang kesempatan, ia segera berlari sekuat tenaga menjauh dari mereka.
“Wooooiiii, jangan lariiiii!” teriak pria satunya lagi.
“Apa yang kau lihat? Cepat kejar dia, bodoh!” titah Riko.
“Baik, bos.”
Pria itu pun bergegas mengejar Senja. Senja lari secepat yang ia mampu tanpa melihat ke belakang. Makin cepat langkah kakinya, makin cepat pula jantungnya berdetak. Apalagi saat mendengar suara pria yang mengejarnya sudah semakin dekat.
“Woooiiiiiii berhentiiiiii....!” teriak pria yang mengejarnya.
Sial*an! Dia makin dekat. Aku harus cepat lari. Kenapa sepi sekali disini? Semoga saja ada yang lewat dan menolongku.
Senja terus berlari dengan nafas yang terengah-engah. Tiba-tiba dari arah berlawanan ia melihat ada sebuah cahaya. Sepertinya itu cahaya dari lampu mobil. Bukannya menghindar Senja malah berlari menghampiri mobil itu.
Ciiitttttttttt.
Mobil berdecit saat pengemudinya menginjak rem secara mendadak. Untung saja pengemudi menginjak rem pada saat yang tepat, sehingga wanita yang berada di depan mobil itu tidak tertabrak.
“Apa kau menabraknya?” tanya seseorang dari kursi penumpang.
“Sepertinya tidak, Tuan. Saya akan memeriksanya,” jawab si pengemudi.
Senja sempat menutup wajahnya dengan kedua tangan saat mobil itu hampir menabraknya. Perlahan ia mengintip dari sela-sela jarinya, rupanya ia selamat. Ia segera berlari ke samping mobil itu dan membuka pintu mobil tempat kursi penumpang lalu masuk begitu saja.
“Tuan, tolong aku! Ada yang mengejarku. Tolong selamatkan aku!”
Senja masuk ke mobil lalu duduk di bawah, bukan di kursi mobil. Ia sambil merunduk takut penjahat tadi melihatnya. Saking paniknya ia tidak sadar sedang memegang kaki pria yang duduk di kursi mobil itu.
“Hei, apa yang anda lakukan disana? Menjauh dari Tuan Muda,” kata si pengemudi mobil yang ternyata adalah Jefri.
Senja merasa mengenal suara itu. Karena dalam mobil gelap, ia tak dapat melihat langsung wajah Jefri dan pria yang ia pegang kakinya.
“Kenapa suaramu tidak asing di telingaku?” tanya Senja.
Lalu Jefri menghidupkan lampu dalam mobil. Barulah Senja dan Jefri dapat saling melihat dengan jelas wajah mereka. Senja terkejut hingga ternganga melihat Jefri ada di kursi pengemudi.
Kalau dia yang membawa mobil, berarti pria di kursi penumpang ini....
Mata Senja beralih menatap pria yang sedang ia pegang kakinya.
Deg. Jantungnya langsung berdetak kencang saat mendongak ke atas menatap Bumi yang juga balas menatapnya.
“Kau?” Senja tak menyangka ia akan bertemu lagi dengan pria yang selalu mengganggu pikirannya itu.
“Bisakah kau keluar dari mobilku sekarang?” Pertanyaan yang lebih mengarah ke sindiran dilayangkan Bumi pada Senja dengan ketus.
Senja menggeleng cepat dan mengeratkan pegangannya sehingga Bumi merasa tidak nyaman.
“Jangan usir aku, aku dikejar penjahat. Kau masih ingat Riko, pria yang di restoran waktu itu? Dia mencegatku bahkan dia membawa anak buahnya. Dia mau menangkapku. Please, tolong aku sekali lagi!” ucap Senja dengan memelas.
Bumi tampak diam saja mendengar perkataan Senja.
“Aku mohon kali ini saja, tolong bawa aku pergi dari sini. Aku putri keluarga Wijaya. Aku akan meminta papaku memberi imbalan yang besar padamu kalau kau mau menolongku,” tambah Senja.
Nona, apa yang anda bicarakan? Bahkan keluarga Tuan Dirgantara lebih kaya dari anda, Nona. Batin Jefri.
Tiba-tiba satu penjahat tadi sudah mendekat ke mobil Bumi dan mengetuk pintunya dengan keras. Pria itu berteriak minta agar Senja segera keluar dari mobil itu.
Senja makin menunduk dan tidak melepaskan tangannya dari Bumi. Bumi dapat merasakan ketakutan yang dirasakan Senja.
“Bagaimana, Tuan?” tanya Jefri.
“Kau urus mereka.”
“Baik, Tuan.”
Jefri pun segera keluar dari mobil menghadapi pria itu. Melihat ada lagi yang datang, Bumi berniat ingin keluar dan membantu Jefri.
Bumi menepis tangan Senja yang memegang kakinya, tapi siapa sangka Senja malah dengan cepat memegang tangan Bumi lalu menatapnya. Bumi melihat ada kecemasan di mata wanita itu. Senja menggelengkan kepalanya seolah meminta Bumi untuk tidak turun dari mobil.
“Jefri tidak akan sanggup menghadapi mereka bertiga. Aku harus membantunya,” kata Bumi dengan suara beratnya.
Senja menoleh keluar, ternyata benar, Riko dan anak buahnya yang tadi ditendangnya sudah ikut berkelahi dengan Jefri. Lalu Senja kembali menatap Bumi.
“Dengar. Diamlah disini dan jangan mencoba keluar apapun yang terjadi. Kalau kau lihat situasi semakin buruk, bawa mobil ini pergi dan cari pertolongan terdekat,” titah Bumi.
“Tapi....”
“Kau percaya padaku?” tanya Bumi.
Senja hanya mengangguk dengan berat hati. Perlahan Bumi menarik tangannya dari Senja. Dia pun keluar dari mobil dan menghampiri Riko dan anak buahnya.
Senja hanya bisa menyaksikan perkelahian dari dalam mobil dengan hati yang cemas. Entah kenapa ia khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada Bumi.
Ada apa dengan hatiku? Kenapa aku begitu mengkhawatirkannya?
saat Bebek panggang madu terhidang di hadapanku tp tak bisa kumakan krn perut terlanjur kenyang..
maka cepatlah bangun Senjanya Bumi.. krn Bumi mu begitu bersedi sama seperti yg ku rasakan saat merelakan Bebek panggang madu utk mereka.. 😭