Terhalang oleh sebuah masa lalu orang tuanya, Devan dan Alisa tidak bisa bersatu. Hubungan yang terjalin selama lima tahun harus kandas saat Sang Ayah menjodohkannya dengan Raisya, putri pertama Randu.
Tinggal satu rumah dengan Raisya adalah hal yang sangat mustahil bagi Devan, tapi ia tetap bertahan demi memenuhi permintaan bundanya. Meskipun Raisya adalah istrinya, faktanya Devan tak pernah menyentuhnya sedikit pun, bahkan mereka pisah kamar. hingga berputarnya mentari menyadarkan Devan jika kehadiran Raisya bagaikan Pelangi Senja.
Mampukah Devan menyembuhkan luka yang pernah ia torehkan untuk Raisya?
Ataukah Raisya memilih pergi, membiarkan Devan dan Alisa bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penuh kepalsuan
Hari ini tepat tiga hari setelah pernikahan Devan dan Raisya. Seperti yang diucapkan ayah Mahesa, akan ada acara kecil untuk menyambut kehadiran menantu pertama di keluarganya.
Raisya datang bersama Devan. Keduanya saling menautkan tangannya, mengulas senyum di depan keluarga mereka. Semua penuh dengan kepalsuan, ikatan itu dibumbui dengan akting yang mumpuni untuk mengalihkan perhatian semua orang.
Aku sudah berdosa.
Hati Raisya terus menjerit saat Ayah Mahesa memeluknya, mendekapnya dengan penuh kasih sayang, bukan sebagai Raisya kecil namun sebagai putri menantunya.
"Bagaimana selama tiga hari ini, apa Devan menjengkelkan?"
Ayah Mahesa menggandeng Raisya menuju ruang keluarga. Diikuti Devan dan bunda serta kedua mertuanya dari belakang.
Raisya menoleh, dadanya semakin terasa sesak, bibir dan hatinya bertolak belakang hingga ingin pergi dari tempat itu untuk menghindar.
"Alhamdulillah…" Diiringi dengan senyuman manis.
Dengan jawaban itu Raisya merasa tidak berbohong. Entah memuji Allah dengan keadaan yang mana, ia hanya bisa bersyukur saja. Sudah beberapa kali ia mendengar Devan berbicara dan tertawa dengan Alisa lewat telepon, dan sepertinya Devan tak ada beban apapun sudah membuatnya terluka.
"Kenapa kalian nggak mau bulan madu?" ucap Bunda Sabrina yang duduk di samping Raisya.
"Rumah kita sudah seperti hotel, buat apa bulan madu. Bukankah yang diperlukan pengantin baru hanya kamar. Bukan begitu, Sya?"
Seperti yang mereka rencanakan, Raisya hanya akan menjawab dengan anggukan dan iya dengan apa yang diucapkan Devan.
"Iya Bunda, lagi pula seminggu lagi aku juga sudah mulai kerja, jadi untuk beberapa hari ini aku mau istirahat dulu."
"Sambil ngadon cucu buat kita," timpal ayah Mahesa.
Semua hanya bergelak tawa kecuali Devan dan Raisya.
Ayah dan Bunda saling pandang, begitu juga dengan Ayah Randu dan mama, mereka ikut bahagia mendengar ucapan Devan yang menurutnya sangat wajar untuk pasangan baru.
"Kalau begitu besok kalian lanjutkan berdua di rumah, tapi untuk malam ini harus menginap di sini."
Devan menelan ludahnya dengan susah payah, selama di rumah ia belum pernah sekamar dengan Raisya, namun malam ini terpaksa ia harus menuruti permintaan bundanya.
Melihat ketegangan Devan. Mama Aya menangkap sebuah firasat yang buruk. Wajah yang dari tadi penuh dengan senyuman itu tiba-tiba saja buram.
Nggak, mereka pasti bisa saling mencintai, mungkin ini hanya perasaanku saja.
Mama Aya menampik dan berharap apa yang dipikirkan itu salah.
Suasana rumah tengah semakin riuh, mereka saling bisik, dan ada beberapa pasang mata yang tertuju pada Devan yang sedang menyuapi Raisya.
"Wah, ternyata kakak romantis juga ya."
Syakila yang sedang duduk di samping Raisya merasa iri melihat pengantin baru itu.
"Andaikan kamu tau, La. Nggak mungkin kamu iri dengan posisiku saat ini."
Raisya tersenyum, tangannya meraih sendok yang ada di depan Syakila lalu menyuapinya, seperti yang dilakukan Devan padanya.
"Sekarang memang belum suami kamu yang melakukannya. Tapi aku akan terus berdoa, semoga kamu mendapatkan laki-laki yang sangat mencintai kamu."
Karena sebagai seorang istri yang tidak dicintai suami itu sangat sakit, lanjut Raisya dalam hati.
Devan menunduk, ucapan Raisya seakan adalah sindiran baginya, yang dengan terang-terangan tidak mencintainya.
"Kakak nggak papa, kan?" tanya Syakila setelah menerima suapan itu.
"Menurut kamu?"
Tak ada jawaban dari Syakila.
"Ayo kak, suapin aku lagi?" Raisya menarik tangan Devan yang sempat berhenti. Meskipun hatinya terasa tersayat, setidaknya masih ada senyum yang bisa diukir untuk mengelabui keluarganya.
Dengan penuh sandiwara, akhirnya makan malam itu berjalan dengan lancar, Ayah Randu dan Mama Aya serta adik-adik langsung pulang. Si kembar sudah ke kamar duluan, mereka tak sanggup melihat kemesraan Devan dan Raisya yang selalu dipamerkan di depan nya. Sedangkan Asyifa sudah berada di ruang belajar. Syakila yang baru saja keluar dari kamarnya menghampiri Raisya yang masih berada di ruang tengah bersama Devan dan juga kedua orang tuanya.
"Kak Raisya, ini untuk kakak. Aku mau kita sering pakai baju yang kembar."
Raisya menerima baju gamis dari adik iparnya, meskipun ia jarang memakai baju berwarna hitam, setidaknya menghargai pemberian Syakila.
Bunda dan ayah tersenyum melihat keduanya.
"Baiklah, terima kasih Adikku." Raisya mencubit pipi Syakila yang menggemaskan lalu memeluknya. Keduanya memang paling akrab dibandingkan dengan saudara lainnya.
"Ya sudah, sekarang kalian tidur," titah bunda Sabrina.
Devan beranjak lebih dulu disusul Raisya yang mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di kamar, Devan mengunci pintu kamarnya, setelah itu mengambil selimut yang ada di lemari dan membawanya ke sofa.
"Kamu tidur di ranjang saja, biar aku yang di sofa." Tak Ada protes, Raisya meletakkan baju pemberian Syakila dan pergi ke kamar mandi.
Sedangkan Devan duduk di sofa seraya memainkan ponselnya.
Tak ada hari yang tak indah jika tidak bicara dengan Alisa. Begitulah menurut Devan, ia menghubungi Alisa yang jauh di sana.
Suara serak disertai dengan menguap menyapa Devan.
"Kamu tidur, ya?" tanya Devan.
"Iya, nggak ada pekerjaan, jadi aku tidur. Di rumah juga sepi, semenjak kamu pulang, aku merasa di dunia ini nggak ada penghuni lagi," ucap Alisa dengan nada jengkel.
Devan terkekeh, suara manja itu semakin membuatnya rindu berat dan cepat-cepat ingin kesana.
"Kak," Tiba-tiba suara Raisya menggema dari kamar mandi.
Alisa membuka matanya dengan lebar, jantungnya terasa berdenyut tak karuan mendengar suara yang sangat asing di telinganya itu memanggil Devan dengan sebutan romantis.
"Itu suara siapa, Van?" tanya Alisa antusias.
"Emm…" Devan mikir sejenak, "Syakila, ya, itu suara Syakila, ya sudah kalau begitu besok kita lanjut lagi," ucap Devan gugup. Setelah mematikan panggilannya Devan menghampiri pintu kamar mandi.
"Ada apa, Sya?"
Raisya membuka pintunya sedikit dan menyembulkan kepala nya.
"Kakak mau nggak nolongin aku?"
"Apa?" tanya Devan yang fokus dengan wajah Raisya yang dipenuhi dengan buliran air.
"Aku nggak bawa baju tidur, kakak bisa kan pinjamin punya Syakila?"
"Baiklah, kamu tunggu sebentar!"
Devan keluar dari kamarnya menuju ke kamar Syakila.
Raisya menyandarkan punggungnya. Meskipun tahu kelakuan suaminya, ia hanya bisa sabar dan berdoa, suatu saat akan ada keajaiban untuknya.
"La…" seru Devan sembari mengetuk pintu.
"Ada apa sih, gangguin saja," gerutu Syakila yang sudah membuka hijabnya.
"Raisya nggak bawa baju ganti, tolong pinjemin punya kamu."
"Kak, kalian kan suami istri, kak Raisya nggak pakai baju juga nggak papa, kan. Biar lebih hot," sahut Daffa yang baru saja keluar dari kamarnya.
Devan tak menjawab, hanya menggerakkan jari telunjuknya di dahinya.
Setelah menerima setelan piyama panjang dari Syakila, Devan mendekati adiknya. "Kamu dan kembaranmu saja yang telanjang, biar jus minum jus," celetuknya, meninggalkan Daffa yang cekikikan.
Setelah memakai piyama milik Syakila, Raisya keluar dari kamar mandi, kali ini ia berdecak dan menepuk jidatnya.
"Kak…." Raisya memanggil Devan yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Apa lagi, kamu tidur saja di ranjang, biar aku yang di sofa."
"Aku juga lupa membawa mukena."
Terpaksa Devan harus keluar dari kamar lagi untuk memenuhi permintaan Raisya.
Selang beberapa menit, Devan kembali membawa sesuatu yang diminta Raisya.
"Setelah ini jangan minta tolong lagi ya, aku ngantuk."
Raisya hanya mengangguk pelan, ia merasa bersalah sudah sangat merepotkan suaminya.
TAMAT