Sekuel Terpaksa Menikah.
Yang langsung mau baca season dua juga boleh, ada di sini semua ya gaes.
Chelsi Amira Putri berusaha menghindari perjodohan yang dibuat oleh ayahnya. Namun, dia malah terjebak dalam kesalahannya sendiri. Dia menjadikan Alaska Lencana kambing hitam untuk menolongnya agar terhindar dari perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dek La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Gandeng?
Setelah selesai membersihkan badan, Laska beranjak turun untuk memasak makanan untuk makan malam. Sepanjang tangga yang ia lalui, tak melihat keberadaan Amira sama sekali. Hanya ada Alfa yang tengah sibuk dengan ponsel di genggamannya.
“Alfa, kamu lihat Amira?” tanya Laska seraya berdiri di depan Alfa. Pria itu hanya menatap malas, lalu menjawab, “Gadis bawel itu? Aku tidak tahu. Mungkin saja dia pergi dari rumah ini.”
Mendengar jawaban Alfa, hati Laska tak tenang. Bagaimanapun mereka adalah suami istri, memiliki ikatan batin yang sakral.
Niat ingin memasak menghilang begitu saja, dengan pakaian santai kaos oblong dan celana pendek, Laska keluar rumah untuk mencari Amira. Ia berhenti sejenak di halaman rumah, melirik ke arah kolam ikan namun tak ada, ke arah kursi taman juga tidak ada. Hatinya gelisah, Amira adalah tanggung jawabnya, kalau sampai gadis itu hilang. Maka dia yang akan bahaya.
“Ke mana kamu Amira?” monolog Laska kembali melanjutkan langkah kakinya. Dia memilih berjalan kaki agar leluasa mencari Amira di setiap sudut jalan kompleks.
Hampir setengah jam Laska berkeliling, tetapi batang hidung Amira pun tak terlihat. Dia jadi kepikiran, apa gadis itu berada di rumah temannya?
Dengan perasaan yang sudah berkecamuk, Laska kembali pulang untuk mengambil mobil.
“Lo, mau ke mana? Mencari gadis bawel itu?” Alfa sudah berdiri di ambang pintu, dengan tatapan meremehkan.
“Diam jika tidak tahu apa-apa,” sentak Laska, tanpa peduli dia masuk ke dalam garasi untuk mengeluarkan mobil.
“Ah, baiklah. Gue ikut, sepertinya gue tahu di mana gadis kecil kesayangan Lo itu,” ucap Alfa. Ia langsung masuk di kursi samping kemudi setelah Laska menghentikan mobilnya.
Terpaksa Laska mau Alfa ikut, agar lebih cepat menemukan Amira. Lagian, mereka sepertinya sudah lama mengenal, jadi tak ada salahnya.
Sepanjang jalan hanya ada keheningan, keduanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Hingga suasana di dalam mobil sangat dingin, ditambah lagi dengan sikap mereka yang kayak freezer. Padahal hari masih sore.
“Kompleks Cahaya.” Alfa menunjuk kompleks depan yang akan mereka lalu, Laska segera memutar kemudi untuk masuk ke jalan aspal kecil itu.
Barisan rumah mini malis mereka lalui, Alfa tak henti-hentinya tersenyum bahkan sampai membuat Laska heran.
“Sebenarnya ini arah ke tempat tujuan Amira berada, atau ke rumah pacarmu?” Laska menuding Alfa hingga membuat pria itu menggeram kesal. Mereka memang tak pernah akrab sedari kecil, itulah yang membuat Kia pusing.
“Uda diam aja. Rumah depan, berhenti di pinggir jalan aja,”
“Uda tahu,” jawab Laska cepat seraya menepikan mobilnya di depan rumah mini malis yang terlihat begitu asri dengan pepohonan serba hijau.
Ketika Alfa dan Laska keluar, pintu rumah tampak terbuka. Perasaan waswas yang sempat menggumpal di dada kini hilang meninggalkan kelegaan ketika Laska menemukan sepasang sepatu milik Amira. Tanpa menunggu lama, dia segera mengucap salam agar diperbolehkan masuk oleh sang pemilik rumah.
“Wa’alaikumussalam,” jawab serempak dari dalam. Salah satu gadis yang tengah duduk dengan memegang kemoceng ditangannya tercengang. Dia tak habis pikir, Laska akan mencarinya sampai di sini.
“Pulang,” titah Laska ketika tatapan keduanya bertemu. Sedangkan Alfa, pria itu hanya berdiri di ambang pintu, tetapi tatapannya tak lepas dari wajah polos tanpa make up milik Cinta.
“Enggak mau! Om aja sana yang pulang!” tolak Amira sambil bersedekap dada. Dia melempar kemoceng tadi ke arah Bara—abang Cinta. Untung pria itu sigap dan langsung menangkapnya.
“Amira sekali lagi saya bilang, pulang,” kata Laska lagi dengan penuh penekanan, hingga membuat kakak beradik itu hanya bisa melongo tak percaya.
“Apaan sih Om. Kok maksa.”
“Amira—“
“Hey Bro, kalau Amira gak mau jangan dipaksa dong!” teriak seseorang yang sedang duduk di samping Cinta menarik perhatian Laska.
“Saya berhak atas dia, tolong jangan ikut campur. Amira ayo pulang, atau kamu akan benar-benar tidak bisa kembali lagi,” ancam Laska, ia berbalik dan berjalan meninggalkan rumah Cinta.
Amira masih biasa saja, bahkan gadis itu malah duduk sambil menghembuskan napas dengan kasar. Matanya tak lepas dari ambang pintu, yang sudah tak menampilkan wajah Laska dan Alfa.
“Amira, sebaiknya kamu pulang. Bukan aku mengusir, tetapi benar kata Om Laska. Dia berhak mengatur kamu,” saran Cinta, Amira tampak berpikir. Lalu tanpa menjawab dia mengambil tas selempang di meja dan segera berlari keluar rumah.
Alfa dan Laska sudah hampir sempurna masuk ke dalam mobil. Dengan gegas Amira mengencangkan larinya dan langsung menarik lengan Laska.
“Om! Amira ikut pulang!” ucap Amira sambil memeluk lengan Laska yang tak terbalut kain.
“Hemm.”
Ketiganya telah masuk. Amira memilih duduk di kursi penumpang. Berulang kali gadis itu menatap wajah Laska yang tampak lebih dingin dari tadi, ditambah lagi dengan wajah Alfa yang bermimik sama. Dia heran, tak capekkah, dua pria itu terus memasang wajah seperti itu?
“Om, Amira lapar,” adu Amira sambil menatap wajah Laska dari kaca dengan tatapan sayu.
“Terus? Suruh siapa kayak bocah, kabur-kaburan!” Walaupun terlihat dingin, Alfa tetap cerewet kalau sedang membahas Amira. Entah mengapa dia tak begitu menyukai Amira, mungkin karena gadis itu terlalu bawel dan bar-bar.
“Lo itu ikut campur terus! Diam ngapa! Gue lagi ngomong sama Om Laska, bukan Lo pria kaku!”
“Laska juga kaku!”
“Lo sopan dong, memangnya tua siapa antara Lo dan Om Laska?” Amira bertanya sembari menaikkan alisnya, menantang.
“Bodo!” jawab Alfa dengan malas. Setelahnya dia kembali fokus pada ponsel.
Laska memilih diam, lebih baik dia fokus menyetir dari pada harus pusing mendengar perdebatan dua manusia yang tak berbeda jauh umurnya. Tubuhnya menegang tak kala Amira menyentuh lengannya dengan erat.
“Om, Amira lapar,” adu Amira untuk kedua kalinya. Laska menatap sekilas, lalu mengangguk bahwa dia paham.
“Kita cari makan,” kata Laska tanpa memandang Amira lagi yang masih memegang erat lengannya.
Restoran siap saji yang Laska tuju, pria itu segera memarkirkan mobilnya di halaman restoran. Setelah itu menyuruh agar Alfa dan Amira lekas keluar.
“Om tunggu!” teriak Amira sambil berlari mengejar Laska yang sudah hampir sampai di depan pintu masuk. Alfa yang melihat itu hanya menggerutu kesal.
Dasar Amira cerewet dan Laska kaku!
Laska berbalik menatap Amira dengan tatapan bingung.
“Apa?”
“Gandeng.”
Tak salah dengarkah Laska? Yang benar saja, Amira meminta digandeng padahal baru saja terjadi perselisihan antara mereka. Tetapi Laska tetap menurut, dari pada harus berdebat kembali. Dia menautkan jemari mereka dan menuntun Amira untuk masuk ke dalam.
Jantung berdebar tak beraturan, rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik hati Laska hingga membuat pria itu tersenyum tak kala menatap genggaman tangan mereka. Amira terlihat santai, padahal dia tengah menahan malu saat para pengunjung lainnya tengah menatap intens ke arah mereka.
“Dasar bucin!” cibir Alfa mendahului Laska dan Amira.
Bersambung
Cie cie mas Laska gugup😂😂
Yuk like nya. Komen plus vote. Kalau ada bunga atau kopi bisa kasih ke mas Laska, biar tambah semangat.
Kamu masih muda,Kamu juga cantik,kamu juga gak benaran hamil kan,terus kenapa harus ngemis2 cinta sama orang..
awas Lo bucin sama om om 😃