"Apa itu mahabbah?"
Ketika mendapat pertanyaan itu Khalisa tidak bisa mendapat jawabannya hanya dengan berpikir satu atau dua hari, meski telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memahami apa itu mahabbah ia tak akan bisa betul-betul mengerti.
Namun ada satu orang yang membuat Khalisa merasa jika dekat dengannya maka ia juga dekat dengan sang pencipta—dekat pula pada arti dari mahabbah.
Suatu hari di pertengahan bulan suci ramadhan, ia mengungkapkan perasaannya berharap mereka memiliki rasa yang sama dan mau menjalani ibadah paling lama yakni pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
"Tujuan anda hampir sampai."
Jason menurunkan laju mobil mendengar voice command memberitahu bahwa tujuan mereka hampir sampai yaitu tempat kos Azfan. Dengan teknologi saat ini hanya ada kemungkinan kecil untuk orang-orang nyasar, fitur GPS pada mobil sudah akurat jika dibandingkan dengan 10 tahun silam. Namun Jason heran mengapa Rindang dan Khalisa masih mengajak Azfan yang katanya berasal dari desa Giriloyo sebagai penunjuk arah mereka. Sebagai pacar Rindang, Jason merasa tersaingi jika ada cowok lain di dalam mobil ini. Meski ini bukan mobil milik Jason tapi tetap saja ia harus waspada terhadap Azfan.
"Itu dia." Khalisa menunjuk Azfan yang berdiri di depan sebuah rumah, rupanya Azfan telah menunggu kedatangan mereka. Khalisa menurunkan kaca mobil ketika mobil berhenti tepat di depan Azfan, ia melambaikan tangan menyapa cowok tersebut.
"Nunggu lama, Fan?" Rindang langsung mengajukan pertanyaan saat Azfan memasuki mobil dan duduk di samping Jason.
"Enggak kok, selamat pagi Rindang, Khalisa dan Jason." Azfan menyapa Khalisa, Rindang dan Jason dengan kaku karena tidak terbiasa mengucapkannya, ia biasa mengucap salam untuk menyapa orang-orang di sekitarnya. Untung saja Azfan tidak lupa pada nama pacar Rindang sehingga ia bisa sedikit percaya diri.
"Pagi." Balas Rindang.
"Pagi juga Azfan." Balas Khalisa sedangkan Jason hanya melirik ke arah Azfan sebentar tanpa membalasnya, ia justru sok sibuk melihat ke kaca spion sebelum kembali melajukan mobil.
"Sorry ya agak telat, Khalisa nih lama." Rindang menyikut lengan Khalisa.
"Udah lah nggak usah dibahas." Khalisa memukul lengan Rindang pelan karena ia tak ingin membahas pasal mereka telat dari waktu yang telah dijanjikan semalam.
"Jadi Khalisa tadi bikin sarapan dulu buat kita makanya telat."
Khalisa mendelik, masih saja dibahas.
"Aku baru sebentar berdiri di depan lalu kalian datang." Tukas Azfan berharap perdebatan antara dua sahabat itu segera usai, lagi pula ia tidak enak karena sudah menumpang mobil Rindang.
Rindang mencibir melirik jahil pada Khalisa.
"Oh iya Azfan, kalau kamu lupa ini pacar aku Jason." Rindang menyentuh belakang kursi kemudi.
Azfan mengangguk melihat pada Jason dengan canggung. Azfan menerka sepertinya Jason juga keturunan Tionghoa seperti Rindang dan Khalisa. Warna rambut Jason mirip dengan rambut Rindang atau mereka memang sengaja mengecatnya dengan warna yang sama.
Jason tersenyum karena akhirnya Rindang mengakui status mereka di depan Azfan. Tadinya ia merasa terancam karena ada cowok lain di mobil itu.
"Azfan udah sarapan belum?" Khalisa merogoh tas makanan di sampingnya, ia telah membuat roti lapis dengan isi sayur, daging dan telur yang mengenyangkan. "Ini ambil." Tanpa menunggu jawaban Azfan, Khalisa menyodorkan kotak makanan ke depan.
Azfan sedikit memutar badannya spontan menerima kotak tersebut. Azfan melihat tasbih digital milik Khalisa bertemu dengan tasbih miliknya yang terbuat dari kayu gaharu.
"Yang rotinya agak coklat itu punyaku ya." Seru Rindang memberitahu Azfan bahwa sandwich dari roti gandum itu miliknya karena ia tidak bisa makan roti tawar biasa.
"Terimakasih." Azfan kembali menyodorkan kotak makan tersebut pada Khalisa setelah ia mengambil satu roti lapis.
"Sama-sama." Khalisa ikut memakan roti lapis buatannya, ia juga menambahkan tomat segar agar tidak mudah bosan saat memakannya. "Gimana rasanya, cocok nggak sama selera kamu?"
"Aku bukan pemilih makanan tapi ini memang enak." Ucap Azfan jujur, ia hampir tidak pernah makan roti lapis seperti itu. Azfan lebih suka mengkonsumsi makanan tradisional seperti gudeg, tengkleng, petis runting dan semacamnya.
"Syukurlah kalau kamu suka." Khalisa menunduk tersenyum karena Azfan menyukai roti lapis buatannya. "Minumnya ada di bawah."
Azfan melirik paper bag di dekat kakinya, tampak dua botol air mineral menyembul dari dalam paper bag tersebut. Khalisa sangat baik karena telah menyiapkan semuanya termasuk makanan dan minuman padahal perjalanan mereka hanya sebentar.
"Makasih Khalisa." Azfan telah menghabiskan satu roti lapis dan meneguk air mineral, ia tidak menyangka bahwa lidahnya cocok makan roti maksudnya ia lahir dan besar dengan makanan tradisional tapi ternyata roti lapis buatan Khalisa sangat enak.
Rindang menyiapkan meja khusus di dalam mobil untuk meletakkan laptop yang akan ia gunakan untuk ibadah rutin hari Minggu.
"Sorry Azfan, kamu bisa gantiin Jason nggak, aku sama Jason mau ibadah dulu."
"Boleh." Azfan mengangguk.
Jason meminggirkan mobilnya. Azfan menggantikan posisi Jason sedangkan Khalisa pindah ke kursi yang Azfan duduki barusan.
"Bismillah." Bisik Azfan sebelum menginjak gas, mobil bergerak perlahan bergabung dengan kendaraan lain.
Khalisa melirik tasbih yang masih membelit di sela jari tangan Azfan. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke depan, melihat jalanan yang cukup padat karena ini adalah akhir pekan dimana orang-orang berbondong-bondong mengunjungi tempat wisata.
Rindang dan Jason mulai menyanyikan lagu Bawaku Lebih Dalam sebagai pembuka ibadah mereka pagi itu.
Mobil Rindang mulai memasuki jalan yang tidak terlalu lebar hanya cukup untuk satu mobil. Kedatangan mereka disambut oleh pemandangan sawah yang padinya masih hijau memanjakan mata. Di beberapa lahan juga terdapat tanaman sawi, tomat, mentimun dan kacang panjang.
Khalisa menurunkan kaca jendela mobil untuk menghirup udara pedesaan yang segar, sungguh kualitas udara seperti ini tak akan ia dapatkan di kampus atau apartemen nya.
"Rumah Nenek ku juga ngelewatin persawahan kayak gini." Ucap Khalisa pada Azfan.
"Kamu suka?" Tanya Azfan tanpa melihat Khalisa karena fokus menyetir.
"Suka banget, aku biasa nyamperin orang-orang yang lagi motong padi, suasana kayak gitu bikin kangen sih." Khalisa menjulurkan tangannya keluar merasakan angin yang bertiup menggoyangkan daun padi. "Panjang umur ini orangnya telfon." Khalisa melihat ponsel nya yang bergetar di pangkuannya, tertulis nama Nenek pada layar tipis tersebut.
"Assalamualaikum Nek, Khalisa lagi mau ke rumah temen di Bantul, Khalisa baru aja ngomongin Nenek barusan, Kakek mana, ih Kakek nggak kangen sama Khalisa masa nggak mau ngomong, Azmal sama Zunai kesana? aku jadi kangen kan pengen pulang." Khalisa tertawa mengobrol santai dengan nenek nya yang merupakan ibu Ica.
Azfan ikut tersenyum mendengarkan obrolan Khalisa, ia bisa merasakan kehangatan keluarga Khalisa.
Khalisa baru saja meletakkan ponsel setelah bicara dengan nenek nya. Namun ponsel itu kembali bergetar, Khalisa sudah bisa menebak pasti Renata yang meneleponnya tiga kali sehari seperti minum obat.
"Halo Ama." Khalisa mengarahkan ponsel ke depan wajahnya menjawab panggilan video dari Renata tidak lupa menyematkan Airpod ke telinga agar tidak mengganggu Rindang dan Jason yang sedang mendengarkan kotbah.
"Ya ampun cucu Ama cantik sekali pakai jilbab putih."
"Tapi Ama, orang-orang bilang kalau pakai jilbab putih mukanya kelihatan kusam."
"Tapi wajah Khalisa kelihatan cerah pakai warna apapun termasuk putih, eh itu Rindang lagi ada kebaktian ya?" Renata samar-samar mendengar suara kotbah.
"Iya sama Jason juga."
"Kamu jadi pergi ke Giriloyo sama Rindang?"
"Iya, ini sama temen Khalisa yang namanya Azfan yang Khalisa ceritain waktu itu." Khalisa mengarahkan ponsel pada Azfan.
Azfan terkejut tidak mengira jika Khalisa telah menceritakan tentang dirinya kepada keluarganya padahal ia bukan siapa-siapa. Khalisa sungguh menghargai orang-orang di sekitarnya.
Azfan hanya menganggukkan kepala menyapa Renata, ia tak tahu harus mengucapkan kalimat apa. Andai Azfan memiliki sifat seperti Khalisa pasti ia tak akan bingung mencari kalimat sapaan atau obrolan saat berhadapan dengan orang lain.
"Ganteng sekali Mas Azfan ya." Renata tertawa di ujung kalimatnya membuat Khalisa ikut tertawa. Khalisa malu karena Renata sangat jujur saat memuji orang lain bahkan mereka belum pernah bertemu secara langsung. Untung saja Khalisa menggunakan Airpod sehingga Azfan tidak mendengar apa yang Renata katakan. "Ya udah, Ama ada kebaktian juga ini sebentar lagi jam sepuluh."
"Eh Ama xie xie ni ham choy nya enak banget, semalem Khalisa masak pakai ayam."
"Kalau habis bilang aja nanti Ama kirimin lagi."
"Siap bos!" Khalisa membuat posisi hormat merapatkan jari-jari pada pelipisnya. Sesaat kemudian sambungan terputus.
Banyak pertanyaan di benak Azfan tentang Khalisa dan keluarganya setelah mendengar semua ucapan Khalisa dengan nenek dan ama nya. Namun Azfan tidak mungkin menanyakannya pada Khalisa, ia harus punya keberanian sebesar gunung Merapi untuk mengajukan pertanyaan pribadi semacam itu.
"Adik-adik pada mau kemana nih?" Khalisa menyapa anak-anak seusia Azmal berlarian di pinggir jalan.
"Mereka anak-anak pondok pesantren disini, biasanya mereka boleh keluar pondok sebentar saat hari Minggu." Jelas Azfan.
"Eh kayaknya mereka mau pergi ke penjual cilok itu ya." Khalisa menunjuk gerobak di depan sebuah rumah, ia bisa membaca tulisan cilok pada gerobak tersebut. "Wah cilok emang makanan semua kalangan ya, selalu rame dimana-mana."
"Khalisa mau?"
"Boleh mampir sebentar nggak?" Khalisa ragu-ragu.
"Boleh." Azfan menghentikan mobil di depan rumah tersebut, ia turun disusul Khalisa yang juga bersemangat ingin segera makan olahan tepung tapioka tersebut.
"Kalian mau beli cilok ya?" Tanya Khalisa pada anak-anak yang mengerubungi gerobak cilok tersebut.
"Iya Mbak." Jawab mereka.
"Mbak duluan aja nggak apa-apa." Tukas salah satu dari mereka.
Khalisa tersenyum, mereka baik sekali mengizinkannya mendapat giliran lebih dulu padahal ia datang belakangan.
"Beneran nih?"
"Iya." Seru mereka lagi.
"Ya udah karena kalian udah baik, Mbak traktir semuanya deh." Khalisa membuat anak-anak itu berseru gembira karena mendapatkan cilok gratis sehingga mereka bisa menyimpan uangnya untuk jajan Minggu depan. Tidak lupa mereka mengucapkan terimakasih pada Khalisa.
"Bu, saya campur aja semua, anak-anak juga disamain." Kata Khalisa pada ibu penjual cilok. "Azfan mau nggak?" Khalisa melihat Azfan.
"Nggak usah Khalisa." Azfan menggeleng.
"Makasih ya Mbak." Penjual tersebut menyodorkan seplastik penuh cilok dan tahu yang sudah dibumbui dengan saus kacang, kecap dan sambal.
"Segini cukup nggak Bu?" Khalisa memberikan dua lembar seratus ribuan.
"Ini masih ada kembalian Mbak."
"Nggak apa-apa ambil aja, ayo Fan." Khalisa segera membalikkan badan sebelum penjual menolaknya.
Penjual itu tertegun untuk beberapa saat, ia mengucapkan Alhamdulillah dalam hati berkali-kali karena Allah datangkan orang baik di pagi yang cerah ini.
"Monggo Bu Zizah." Pamit Azfan.
"Eh Azfan, kamu pulang bawa mobil?" Penjual bernama Zizah yang mengenal Azfan itu bertanya penasaran. Ia melihat mobil mewah berwarna merah mengkilap terkena sinar matahari yang mulai meninggi.
"Yo bukan lah Bu, punya temen saya." Azfan menggeleng, untuk membeli sepeda motor saja ia harus menabung bertahun-tahun apalagi untuk mobil mewah seperti itu. "Yo wis Bu, saya permisi dulu."
"Iyo-iyo, kesuwun seng akeh ngomongo koncomu."
"Iya Bu." Azfan kembali ke mobil menyusul Khalisa. "Ibu penjualnya bilang makasih banyak."
Khalisa mengangguk, ia sempat melambaikan tangan pada anak-anak sebelum mobil bergerak meninggalkan halaman rumah penjual cilok.
Sebentar lagi mereka akan sampai di rumah Azfan yang merupakan kampung pengrajin batik yang terkenal tak hanya di Yogyakarta melainkan hampir di seluruh Indonesia.
Xie-xie ni\= Terimakasih
Hamchoy\= Sayur asin (sawi yang difermentasi)
Monggo\= Mari
makasih jg udah kasih kita bacaan yg positif bgt.. aku tunggu karyamu yg lain kak.. sukses terus kaka sayang...😘😘
q bakal kangen ma mereka pasti..😥