Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Gemerlap taburan bintang menghampar di langit lepas. cahaya bulan jua begitu menyinari setiap kegelapan di bumi yang terasa sesak akan keserakahan.
Di temani semilir angin yang nampak mendesah merdu ketika sampai pada telinga, Mengantarkan frekuensi suara dengan tempo lambat dan irama yang mengalun merdu, membuat siapapun terpesona di malam ini.
Jelita tengah terduduk di balkon sebuah apartemen mewah milik Chandra. Disebelahnya, Chandra juga menikmati pesona keindahan alam tanpa batas.
"Maukah berteman denganku, Lita?" tanya Chandra secara tiba-tiba yang membuat Jelita mengerutkan keningnya.
"Bukankah kita sudah berteman sejak awal kita bertemu? Jika tidak, bagaimana mungkin aku akan tiba di sini?", Jawab Jelita skeptis.
Sejujurnya, Bukan pernyataan inilah yang Jelita inginkan. Jelita bukan hanya ingin menjadi sekedar teman, melainkan lebih.
Jelita merasa dirinya bodoh. Bukankah ini suatu kemustahilan? Jelita terlalu tinggi dalam berangan-angan, bukan tidak mungkin ia akan jatuh terpuruk saat hal itu hanya sebatas angan tanpa nyata.
Jelita tau pada akhirnya ia pasti akan kecewa jika Chandra tak mengharapkannya. Tapi mengapa? Mengapa Jelita tetap mematri hatinya pada Chandra yang belum tentu merasakan hal yang sama?
Kemana selama ini kepandaian seorang Jelita yang di agung-agungkan? Kemana selama Jelita yang selalu mengedepankan logika? Nyatanya ia tak lebih dari sekedar wanita yang mau-mau saja terjebak dalam dimensi cinta tanpa kepastian.
"Jelita....? Kenapa melamun? Mari masuk", Ajak Chandra lembut.
"Aku masih ingin disini, Chandra. Masuk lah dulu".
"Aku tidak mau kau sakit sepulang dari sini. Ayo". Chandra merangkul Jelita,memberikan kehangatan dan membawanya ke dalam apartemen.
Hati Jelita ber degub kencang. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Darahnya berdesir cepat. Tubuhnya menegang hanya karna sebuah sentuhan dari Chandra.
Sesaat mereka berhenti di dalam kamar yang menghubungkan langsung dengan balkon. Pintu pun tertutup saat Chandra hanya mendorongnya dengan kaki kiri.
Pandangan mata Chandra terpaku pada bibir ranum nan mungil milik Jelita. Entah mengapa Jelita dan Chandra sama-sama tak mampu menguasai diri.
Jelita yang memejamkan mata karna sentuhan dari Chandra, membuat Chandra merasakan tubuhnya meremang dan terasa panas dingin. Naluri kelelakiannya muncul begitu saja. Ia ingin sekali menikmati rasa manis dari bibir itu.
Bolehkah Chandra egois kali ini?
Sejenak, Chandra lupa akan tujuannya mendapatkan Jelita.
Malam itu, malam yang penuh dengan keindahan alam itu, menjadi saksi nyata atas penyatuan insan yang dimabuk asmara.
Sentuhan demi sentuhan mereka ciptakan dalam dimensi cinta yang mampu menggetarkan jiwa, Mengalahkan logika dan menentang aqidah. Tidak ada penolakan yang tercipta untuk perlindungan diri. Yang ada hanyalah saling candu akan sentuhan masing-masing.
Mereka melakukan penyatuan dengan sangat bergairah, seolah mereka adalah pemilik sang semesta. Menciptakan dimensi dalam satu kata sakral, yakni CINTA.
*****
Jelita...
Tengah duduk termangu di sebuah cafe yang tak jauh dari kampusnya saat ini. Sudah satu bulan berlalu setelah malam laknat yang ia lalui bersama Chandra.
Hubungan Jelita dan Chandra kian membaik seiring berjalannya waktu. Chandra sendiri tidak tau apa yang tengah terjadi pada dirinya. Yang Jelas, Ia merasa nyaman berada dekat dengan Jelita meski ia berusaha menepis perasaan nyaman itu.
Sosok pria tampan yang selalu menemani Jelita dikala Jelita butuhkan, kini datang dari arah pintu masuk dengan menampilkan senyum hangatnya, senyum hangat yang hanya untuk Jelita seorang.
"Mas Radhi", Jelita melambaikan tangannya ke arah tadi, Radhi pun membalas dan segera menghampiri Jelita. Perasaan bahagia membuncah dari hati Radhi. Wanita yang ia cintai, terlihat lebih berseri-seri.
Mereka terlibat perbincangan hangat tentang kampus, tak lupa Jelita juga tengah meminta pendapat Radhi untuk mengusir Sukma dan Dewi.
Pandangan mata Jelita terpaku pada sepasang kekasih yang baru tiba dan memasuki pintu masuk. Jelita menegang. tidak tau apa yang harus ia lakukan. Kaca-kaca sewarna berlian terlihat makin siap untuk di jatuhkan.
deg......
Dewi.... tengah bergelayut manja pada tangan kekar Chandra, pria yang amat sangat di cintai Jelita.
Jantung Jelita seketika terhenti. Tubuh hanya menegang, seperti tersentuh benda beraliran listrik yang bertegangan tinggi.
Jelita patah hati, dirinya menangis tanpa ia sadari. Radhi yang tak jauh darinya mengikuti arah pandangan Jelita. Menyaksikan reaksi Jelita terhadap pasangan yang baru saja tiba itu, membuat hati terkemas sakit, namun tak mampu berkata-kata.
Radhi.... berpikir, mungkin kah Jelita Jatuh cinta pada sosok pria yang datang bersama Dewi? Siapakah gerangan pria itu? Mungkinkah dia kekasih Jelita, sang pujaan hati?
Dengan segenap keberanian, Radhi meraih tangan Jelita dan berusaha meremasnya perlahan, bertujuan untuk mengalirkan kekuatan dan ketenangan. Radhi hanya takut, nanti..... Jelita akan marah meledak-ledak saat itu juga karna tak jua mampu mengendalikan emosinya.
"Non Lita...", Jelita tersentak dan menarik tangannya spontan. Ia tersadar dari lamunannya. Kemudian menatap kembali pada pria yang tengah duduk dan bercanda ria dengan adik tiri yang enggan Lita akui.
"Dia kekasihku, mas Radhi. Apakah seorang jalang menurunkan sifat iblisnya pada anak-anak mereka?". Ungkap Lita tanpa mengalihkan tatapannya.
"Itu cukup sebagai bukti bahwa kekasih anda tidak cukup setia untuk hidup dengan anda. Jadi, masihkah anda peduli dan berniat untuk tetap bersama? Ingat nona, nyonya besar memaksakan hidup bersama dengan pria yang beliau cinta, tanpa peduli bahwa pria itu yang tak mencintai nyonya besar. Akhirnya? Menjadi akhir yang tragis bukan? Bukankah banyak korban karna hubungan terlarang tuan besar dan nyonya Sukma?".
"Tapi? Tapi bagaimana dengan malam-malam panjang yang kami lalui bersama setiap akhir pekan?", tanya Jelita lagi dengan menunduk tanpa menatap Radhi yang sudah terkejut tanpa jeda.
Radhi lemas, Kejujuran dan fakta yang ia terima saat ini membuatnya di Landa patah hati tanpa ampun. Mengapa? Mengapa Dunia begitu kejam memperlakukan Radhi? Radhi sekuat tenaga menahankan emosinya.
"Jadi? Sudah sejauh itu, nona? Perlukah saya bertindak saat ini untuk nona?".
"Tidak, Biarkan. Aku tak mau mengotori tanganku dan mengotori kesucian tangan mas Radhi hanya demi lelaki b**ingan seperti Chandra. Aku akan membuat Chandra meninggalkan Dewi untukku. Biar saja aku mengikuti permainan halusnya".
Wajah Jelita terlihat tegas, meski matanya sama sekali tak dapat berbohong tentang luka yang dideritanya, dan Kecewa yang di milikinya.
'Nikmatilah, adik tiri sialan. Sebelum aku membuat wajah cantikmu itu menjadi busuk. Jika tidak juga membuat Chandra kembali padaku, akan ku pastikan kau dan ibumu yang busuk itu terjerembab dalam neraka terdalam'
Batin Lita.
"Nona, Katakan padaku jika nona butuh bantuan. Nyonya besar telah menitipkan anda padaku. Jadi kewajiban ku adalah melindungi anda".
"Terima kasih mas Radhi", Ungkap Jelita dengan mengusap air matanya. Senyum manis itu jelas sudah tercetak kembali di wajah ayu sang putri, seorang putri yang sudah membuat hati Radhi terpenjara dalam sebuah cinta dan sayangnya, tidak terbalaskan.
Radhi patah hati.
Sekuat apapun Radhi berusaha menenangkan hati Jelita lewat sikap hangat yang ia tawarkan, Tetap saja ia tak mampu merobohkan dinding pertahanan Jelita.
Andai kau mengungkapkannya, Radhi.
'Andai aku mampu menyembuhkan luka mu itu, oh sang putri......
Mungkinkah kau akan mau menerimaku?
Pria miskin dengan sejuta luka.
Kehidupan banyak menempaku hingga aku tiba di titik ini....
Jangan buat dirimu menangis...
Hanya itu yang ku harapkan.
Setiap tangismu adalah luka untukku...
Hatiku ini lebih dari sekedar tersayat saat kau merasakan luka,
Batinku ini lebih dari sekedar menjerit saat kau melabuhkan hatimu pada pria b**ingan seperti dia,
Jiwa ini lebih dari sekedar tercabik saat kau mengungkap rasamu padanya.
Jika aku mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya, mungkinkah kau akan menerimaku?
Jujur saja, hatiku saat ini lebih dari terluka dan terdapat memar di mana-mana.
Aku mencintaimu sang putri.....
Datanglah padaku, aku akan menerimamu apa adanya dirimu.....
Mari kita habiskan hidup bersama dengan kesederhanaan namun penuh cinta di dalamnya'
Batin Radhi berteriak.
🍁🌺🍁