Dimasa ini dimana tekhnologi sudah berada dipuncaknya, kini bermain game bukan hanya untuk bersenang-senang.
Game Freedom telah menjadi kehidupan kedua bagi semua orang,
.
Adi mencoba peruntungannya didalam game, didalam permainan dia bertemu banyak orang baru, melakukan berbagai petualangan seru, dan menghasilkan banyak uang.
.
Jadilah saksi petualangan Adi di dalam game, dan melihat bagaimana permainan bisa menjadi sesuatu yang penting bagi semua orang.
.
.
.
NB : Update ga tentu, yang pasti tiap hari diusahakan update minimal 1 chapter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azis Yogatama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07. Monster Pertama
“Sebenarnya kami adalah anggota guild Warok, ada lebih dari 1.000 anggota yang sudah memasuki game ini, hanya saja pengaturan sialan dari sistem membuat kami berpisah.”
“Sungguh tidak beruntungnya dirimu, sebenarnya aku juga login bersama temanku, namun aku juga tidak tahu dimana dia berada.
Lalu bagaimana denganmu Coby? Apa kamu juga anggota dari guild?”
“Yea, kau juga bisa bilang seperti itu, tapi maaf aku tidak diijinkan membicarakan lebih jauh tentang guildku.”
“Hei Adi, apa kau ingin bergabung dengan guild?
Jika kau ingin bergabunglah dengan Warok, jangan kawatir dengan persyaratan guild. Kakakmu ini akan mengurus segalanya jika kau ingin bergabung.”
“Ah, aku belum berpikir sampai sejauh itu, saat ini aku hanya login melalui kartu trial yang diberikan universitas. Akhir-akhir ini kuliah menjadi sedikit lebih sibuk, aku takut bila terus menerus bermain akan mempengaruhi kegiatan perkuliahanku.”
Adi, Hiro, dan Coby mengobrol ringan sembari berlari menjaga karavan.
Meskipun karavan relatif besar tetapi karavan membawa barang bawaan yang sangat banyak, sehingga hanya ada 4 tempat duduk saja yang tersedia.
Satu milik kusir, satu lagi ada disamping kusir, dan dua yang lain ada dibelakang karavan, sekaligus menjaga bagian belakang karavan.
Sisa team yang tidak memiliki tempat duduk akan berlari disamping karavan, mereka sepakat akan bergantian untuk berlari dan duduk di karavan ketika stamina mereka berkurang.
Setelah lima jam perjalanan, team belum melihat satupun monster yang dapat menghambat perjalanan, dan pemilik karavan terus menerus mengabaikan monster yang tidak mampu mengejar karavan. Bagi Adi dan Kiki yang bukan anggota guild, hal ini sangatlah menyenangkan.
Namun bagi Hiro, Coby dan teman-temannya, hal ini sangat mengganggu.
Bagi para anggota perserikatan / guild, mereka dituntut untuk selalu menjadi yang terdepan dalam hal apapun didalam permainan, baik itu level, peralatan, ataupun atribut.
Mereka menuntut hal itu dikarenakan anggota perserikatan membutuhkan banyak sumber daya untuk para anggotanya.
Jika mereka tertinggal, maka sumber daya peta akan dikuras oleh perserikatan lain yang mampu memasukinya terlebih dahulu. Bila hal itu dibiarkan berlanjut, maka perkembangan guild mereka akan terhambat.
Yang akhirnya guild mereka akan keluar dari kompetisi bahkan sebelum mereka memulai untuk bertarung.
“Kakek itu benar-benar hebat, sudah lima jam kita berjalan namun dia mampu mencari jalan yang memiliki sedikit monster. Bila begini terus level kita akan tertinggal.”
Hiro bergumam sambil melirik sinis orang tua yang bertindak sebagai kusir karavan.
Namun apa daya, dia sudah terlanjur berjanji kepada Kiki untuk menyelesaikan misi, dan teamnya sudah menempuh jarak yang lumayan untuk perjalanan, akan disayangkan bila harus menyerah sekarang.
Setelah beberapa saat tiba-tiba karavan berhenti.
“Kalian semua beristirahatlah, pulihkan semua staminamu.
Kita akan bertarung dengan beberapa monster sebentar lagi.”
Pemberitahuan tiba-tiba oleh pemilik karavan membuat tim gelisah, mereka semua bergegas mengeluarkan roti kering bekal dari sistem dan segera memakannya. Berharap agar stamina mereka cepat pulih.
“Hei kak Hiro, menurutmu monster apa yang akan kita lawan?”
Rio yang tidak mampu menahan kegelisahannya bertanya kepada Hiro.
“Entah, namun melihat banyak monster level 2 yang telah kita lewati dengan mudah, pasti monster disana lebih kuat dari monster-monster sebelumnya.”
Mendengar narasi Hiro membuat seluruh anggota team bergidik.
Bagaimanapun mereka masih belum mengenal tentang game Freedom, Level mereka masih 0, Atribut dasar mereka juga belum berubah, sedangkan peralatan mereka semua hanyalah sampah. Jika mereka dipaksa untuk melawan monster level 3 tanpa pelatihan sebelumnya, hanya ada satu masa depan bagi mereka.
Kematian.
Karena keheningan menerpa anggota team, Adi mulai berbicara menenangkan mereka.
“Sudahlah, kita lakukan saja apa yang bisa kita lakukan. Jangan lupa pesanku sebelumnya, kakek itu bukanlah orang sembarangan. Kemungkinan besar dia akan membantu kita melawan monster, tapi kita tidak tahu sejauh mana dia akan membantu. Maka dari itu bertarunglah dengan sebaik mungkin, hanya itu yang bisa kita lalukan.”
Narasi Adi membuat semua orang lebih bersemangat, harapan mulai muncul di benak mereka. Karena mereka sudah berjanji dan sudah berlari sejauh ini, maka sangat disayangkan bila harus menyerah tanpa mencoba pertarungan.
“Baiklah, semua orang dengarkan apa yang akan aku katakan.
Hiro, kau dan partymu memiliki tubuh yang besar, walaupun atribut kita sama, namun kekuatan fisik kita berbeda, aku sudah memperhatikan kalian selama lima jam ini.
Karena itu, aku ingin kalian bertiga mengurus garis depan, apakah kalian keberatan?”
Sebagai pemimpin team, Coby mencoba mengatur strategi pertarungan sebelum pertarungan dimulai.
Meskipun senjata mereka semua sama, hanya sebuah pisau. Tetapi Coby mencoba untuk memaksimalkan kekuatan team agar pertarungan berjalan dengan lancar.
“Mengurus garis depan ya? Baiklah kami tidak keberatan.”
Hiro mengangguk menyetujui permintaan Coby, karena tubuhnya yang besar, dia juga cukup percaya diri untuk menahan musuh daripada pemain lain didalam team.
“Lalu kami berlima akan mendukungmu untuk menahan garis depan dan menghasilkan DPS (Damage Per Second) sebanyak mungkin.”
“Kemudian Adi dan Kiki, kalian akan menjadi team DPS, lupakan untuk membantu pertahanan dan fokuskan diri kalian untuk mengeluarkan damage sebanyak mungkin.”
Setelah team setuju dengan startegi Coby tiba-tiba suara nyaring terdengar di belakang mereka.
“Sepertinya kalian sudah memikirkan beberapa strategi?
Kalau begitu mari kita mulai.”
Albert mengambil sebuah kerikil di tanah dan melemparnya jauh kedepan, meskipun team bingung dengan apa yang dilakukan kakek tua itu, namun detik berikutnya membuat semua anggota team mengutuk pemilik karavan yang tidak tahu diri itu.
“RAAAWWRRR”
“Sebaiknya kalian bersiap, tanpa membunuh beruang itu kita tidak bisa melewati tempat ini.”
Dengan raungan keras seekor beruang coklat keluar dari balik pohon.
———
[Gizzy Bear] (Elite)
Lv 3
Hp 5.000 / 5.000
———
“Sial, itu monster elit! Bukankah monster elit jarang ditemukan?”
“Sial lihat Hpnya, dia mempunyai 5.000 Hp, bukankah monster elit mampu memulihkan 1% Hpnya dalam waktu 5 detik?”
Seluruh anggota team mengutuk Albert karena memancing seekor monster Elit diawal permainan.
Dia sama sekali tidak memberikan waktu pemanasan untuk team, dan langsung memberikan hidangan utama bagi team.
Kiki dan Adi hanya bisa tersenyum sinis mendengar umpatan para anggota partynya, melihat beruang setinggi 3 meter didepannya membuat tangan mereka berdua bergetar.
“Untung saja ada dua team veteran disini, entah apa yang terjadi jika aku memilih pemain acak untuk menemaniku menjalankan misi.”
Meski merasa di tipu oleh Albert, namun Kiki masih merasa bersyukur karena berhasil membawa party Coby dan Hiro kedalam misinya.
“Baik Hiro, bisakah kau menahannya?”
“Sial ini sangat mengerikan, namun aku akan mencobanya.
Rio Rony, persiapkan dirimu, jika aku tidak mampu menahannya segera bantu aku.”
“Baiklah kakak serahkan pada kami.”
Meskipun dalam keadaan tertekan, namun Party milik Hiro merasa tertantang ketika melihat beruang besar yang mengaum didepannya.
“Baiklah aku akan mulai, kalian semua persiapkan dirimu”
“Aaaaaarrrghhh, jangan sombong kau beruang jelek !.”
Dengan teriakan menggema, Hiro berlari dengan tangan kosong menerkam [Gizzy Bear].