Intan, memiliki sifat pemalu, inscure, dan selalu menghindar dari keramaian. Penampilannya selalu menggunakan kacamata, rambut yang selalu diikat satu, membuat penampilannya terkesan culun. Intan dinikahkan oleh Mama dan Papanya dengan laki-laki narsis, hanya dikarenakan hutang keluarganya. Namun siapa sangka, ternyata hutang adalah sebuah kebohongan agar Intan mau menikah.
Begitu pula dengan sebaliknya, Rifal, pria narsis yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi karena ketampanannya yang membuat kaum hawa ingin menjadi istrinya.
Akankah pernikahan Intan dan Rifal menjadi sebuah keluarga yang harmonis? Setelah semuanya terbongkar, akankah Intan dan Rifal memilih untuk berpisah?
Update tidak menentu, tapi saya akan usahakan untuk update setiap hari😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maililiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekan Bisnisnya Adalah Mantannya
"Ma," rengek Intan. Nie hanya bisa menghela napasnya, sikap Ferdian yang posesif ke Intan membuatnya pusing.
"Ikuti saja apa mau papamu." Nie mengelus rambut Intan yang masih memeluknya. Intan berdiri dan kembali ke kamarnya.
Gadis itu tidak pernah berfikir akan menikah secepat ini, calon mertuanya saja sudah mengunjungi rumahnya. Jika Intan menolak, dapat dipastikan Ferdian akan kecewa dan kambuh penyakitnya. Meskipun sampai sekarang Intan tidak tahu penyakit yang diderita papanya.
Intan merasa bosan di dalam kamarnya, ia keluar mambantu mamanya masak. Dilihatnya wanita paruh baya itu sedang memotong sayuran, Intan duduk di kursi dekat dengan dapur. Begitu fokusnya mata Mamanya hingga tidak melihat anaknya yang sudah duduk di depannya.
"Astaga, Intan. Bikin kaget mama aja," ucap Nie sambil mengelus dadanya. Sementara Intan hanya tersenyum manis.
"Mama mau masak apa?" tanya Intan. "Aku bantu yah," lanjutnya lagi dengan menawarkan bantuan.
"Boleh, nih kamu potong bawangnya." Nie memberikan bawang merah dan putih serta beberapa cabai. "Jangan nangis," lanjutnya lagi. Karena Nie tahu, setiap Intan disuruh memotong bawang merah, pasti akan berakhir nangis lebay.
"Mama," rengek Intan yang kesal dengan ucapan Mamanya. Nie tertawa melihat anaknya dengan wajah kesel.
Menu makan siang kali ini adalah rendang sapi pedas. Makanan kesukaan Intan adalah gado-gado. Bagi Intan, tiada hari tanpa gado-gado. Jika hari ini tidak memakan gado-gado, maka besok wajib memakan makanan kesukaannya. Rumah yang bernuansa adat Jawa itu, hanya berpenghuni tiga orang. Asisten rumah tangga diberikan cuti oleh tuan rumah, agar sandiwara mereka berjalan lancar.
Setelah setengah jam, akhirnya masakan mereka siap disantap. Nie memanggil suaminya untuk makan bersama. Intan menunggu orang tuanya sambil memainkan tangannya dengan mengetuk-ngetuk meja. Setelah itu, mereka makan siang dengan keheningan. Biasanya Intan selalu membuka suara agar ruang makan tidak terlalu hening, tapi niatnya ia urungkan karena merasa bete dengan Papanya.
***
Perusahaan Syahputra
Rifal yang mendapatkan telepon dari ayahnya untuk bertamu ke rumah seseorang yang akan memperkenalkannya pada seorang gadis, ia menolak mentah-mentah. Karena Rifal akan menghadiri rapat penting bersama rekan bisnisnya yang dari luar negeri itu. Setelah rapat selesai, Rifal kembali menelepon ayahnya bermaksud menjemput mereka. Tapi sayang, mereka sudah pulang karena ayahnya juga akan menghadiri rapat penting juga.
"Anda mau kemana, Pak?" tanya Bagas yang sudah membuka pintu ruangannya.
"Pulang, makan siang," jawab Rifal dengan singkat.
"Tapi, Pak. Kita ada janji makan siang bersama rekan bisnis kita dari luar kota." Bagas mengingatkan kembali jadwal yang sudah disusun oleh asistennya.
Rifal pun kembali mengingat, "Jam berapa?" tanyanya kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Jam setengah satu, Pak," jawab Bagas. Kemudian Rifal melihat jam yang ada di dinding. Waktu menunjukan pukul 12:15.
"Masih ada lima belas menit lagi, ayo kita berangkat!" titah Rifal. Pria itu meninggalkan ruangannya diikuti oleh tangan kanannya, Bagas.
Selama dalam perjalanan menuju restoran Europa, Rifal disibukkan dengan laptop yang selalu ia bawa. Kemana pun itu, Rifal selalu membawa laptopnya. Terkecuali jika acara keluarga. Jari-jarinya begitu lihai menari di atas keyboard lapotop, sambil sesekali pandangannya tertuju pada jalanan dan berkas yang ada di sampingnya.
Sepuluh menit perjalanan dari kantor menuju restoran Europa itu. Tanpa menunggu waktu lama, Rifal dan Bagas langsung masuk ke dalam restoran yang bernuansa modern, makanan ala-ala Eropa tentunya. Sebelum patner bisnisnya datang, Rifal memesan tiga minuman dengan rasa yang berbeda.
"Selamat siang," sapa seorang wanita cantik yang sudah berdiri di depan mereka. Bagas dan Rifal menatap ke arah sumber suara. Alangkat terkejutnya mata mereka melihat wanita yang tak asing, begitu juga dengan wanita yang masih mematung di hadapan kedua laki-laki yang ada di depannya.
Rifal mencoba menetralkan suasana. Ia berdehem lalu mempersilahkan wanita itu duduk. Minuman yang mereka pesan pun sudah ada di meja. Bagas tak mau mengganggu bosnya yang sedang makan siang bersama rekan bisnisnya.
"Apa kabar, Fal?" tanya Dina.
Ya, wanita itu adalah Dinara Mahendra. Wanita blasteran antara Belanda-Amerika, sekaligus mantan Rifal. Enam bulan yang lalu, mereka merencanakan pernikahan. Saat undangan dan gaun pernikahan sudah jadi, Dina memutuskan kembali ke Amerika tanpa sepengetahuan Rifal dan membatalkan pernikahannya lewat telepon secara sepihak.
"Baik," jawab Rifal singkat dan padat.
Kini mereka memakan makanan yang sudah dipesan, setelah itu membicarakan seputar pekerjaan. Mereka bagaikan orang yang tak pernah saling mengenal, larena itu salah satu permintaan Dina.
Flashback enam bulan yang lalu.
Segala persiapan pernikahan Rifal dengan Dina sudah siap matang-matang, baik gedung, undangan, souvenir, baju pengantin, dan banyak lagi. Namun Dina menghilang tiga hari sebelum pernikahan mereka berlangsung. Alanglah terkejut bukan main dengan kabar yang diterima oleh Rifal. Bahwa Dina kembali ke Amerika demi pekerjaannya yang sebagai seorang fotograver.
Kecewa? Sedih? Itulah yang dirasakan Rifal saat ini.
Meskipun ini bukan yang pertama kalinya ia ditinggal oleh calon istrinya, tapi rasa sedihnya selalu datang. Semunggu Rifal menghabiskan waktunya dengan meminum-minuman keras. Mendengar berita tersebut, Nahla dan Rubin memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Menasehati putra semata wayangnya dengan dorongan positif agar anaknya kembali bersemangat
Kenapa wanita yang akan ia nikahi selalu menghilang? Setelah semua persiapan pernikahannya sudah matang. Hingga Rifal memutuskan untuk tidak mencari calon istri lagi sampai ia benar-benar siap. Tibalah masa-masa dimana adalah saat yang tepat untuk Rifal menikah.
Flashback off.
Rifal membereskan semua peralatannya dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Saat kakinya baru saja satu langkah hendak meninggalkan restoran itu, Dina menahan tangan Rifal. Wanita itu kini berdiri di depan Rifal.
"Ada apa?" tanya Rifal dengan nada juteknya.
"Apa kau tidak merindukanku?" Dina bertanya dengan percaya dirinya yang begitu tinggi, memeluk tubuh Rifal begitu kencang.
"Lepaskan aku! Aku tidak pernah merindukan wanita yang pernah menghilang saat semua persiapa pernikahan sudah matang," ketus Rifal. Dan benar saja, perkataan Rifal membuat Dina sadar bahwa ialah yang bersalah.
"Maafkan aku, Fal. Aku tidak bermaksud. Tapi waktu itu ...." Kalimatnya langsung dipotong oleh Rifal sebelum Dina benar-benar menyelesaikan ucapannya.
"Berhenti mencari alasan, Na. Aku tahu, kamu lebih menprioritaskan pekerjaanmu dari pada pernikahan kita. Dan satu lagi, bukankah kamu pernah bilang bahwa jika kita bertemu, anggaplah tidak pernah kenal satu sama lain." Rifal menekan kalimat yang pernah Dina ucapkan.
Sial, Rifal masih saja mengingat semua yang aku katakan dulu sebelum kabur dari pernikahan enam bulan yang lalu, batin Dina.
Bersambung ....
merasa paling laki aja klo bgn..😅😅😅
red velvet bukan red valvet
berjibaku bukan bercibaku.
semngat trus nulis ny ya thor