Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Niat buruk Felicia?
Adira rupanya tertidur sebelum sempat merapikan pakaiannya setelah menyusui. Bagian atas pakaiannya masih terbuka sehingga tubuhnya belum tertutup dengan sempurna.
Deg!
Areksa langsung memalingkan wajah. Wajahnya seketika memanas karena tidak sengaja melihat sesuatu yang seharusnya menjadi privasi Adira.
“Ya Allah...”
Ia segera mengambil selimut yang berada di sisi ranjang, lalu menutup tubuh Adira dengan hati-hati agar wanita itu tetap tertutup tanpa membangunkannya.
Setelah memastikan Adira dan Aretha aman, Areksa mundur beberapa langkah. Ia mengusap wajahnya sendiri.
Kenapa aku masuk tanpa memastikan dia sudah bangun?
Areksa kemudian keluar dari kamar dan menutup pintu perlahan.
Di luar kamar, ia mengembuskan napas panjang.
“Gawat...”
Ia kembali duduk di sofa, masih merasa canggung mengingat apa yang baru saja dilihatnya. Namun yang paling membuatnya lega adalah satu hal. Aretha akhirnya tidur nyenyak.
***
Adira terbangun ketika mendengar suara tangisan Aretha dari sampingnya.
“Ngeee...”
Adira segera membuka mata dan menoleh. “Ututuu, Cantik... mau apa?”
Ia mengangkat tubuh mungil Aretha dan memeriksa popoknya.
“Oh...” Adira tersenyum kecil. “Popoknya penuh, ya?”
Ia kemudian menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan. “Baiklah, kita ganti dulu, ya?”
Dengan cekatan, Adira mengganti popok Aretha. Setelah selesai membersihkannya, ia mengenakan popok yang baru dan merapikan pakaian bayi tersebut.
Sementara itu, Areksa yang berada di sofa ruang tengah mendengar tangisan putrinya. Ia segera bangkit dan berjalan menuju kamar.
“Adira?”
“Iya, Tuan?”
“Apa saya boleh masuk?”
“Masuk saja, Tuan.”
Areksa membuka pintu.
Begitu masuk, ia melihat Adira sedang menyelesaikan urusannya dengan Aretha.
“Dia pup lagi?”
“Enggak, Tuan. Popoknya tadi sudah penuh. Mungkin dia merasa nggak nyaman, jadi saya ganti.”
“Oh.” Areksa mengangguk. “Sekarang sudah selesai?”
“Sudah.”
Adira mengangkat Aretha sedikit dan tersenyum. “Nah, anak cantik sudah selesai.”
Aretha menggeliat kecil sambil menggerakkan kedua tangannya.
Adira terkekeh. “Wah, sepertinya kamu ingin bermain ya?”
Areksa ikut tersenyum melihat putrinya. “Biar saya saja yang menggendong Aretha.”
Adira langsung menyerahkan bayi itu kepada Areksa. “Ah, iya, Tuan.”
Areksa menggendong Aretha dengan hati-hati. Ia kemudian menatap Adira dengan ekspresi sedikit bingung.
“Memangnya bayi selalu seperti ini?”
“Seperti apa, Tuan?”
“Menangis hampir setiap malam.”
Adira tersenyum. “Bayi memang sering terbangun di malam hari, Tuan. Bisa karena lapar, popoknya penuh, kembung, atau sekadar ingin digendong.”
Areksa menatap putrinya. “Berarti saya harus belajar membedakan tangisannya?”
“Iya.” Adira mengangguk.
“Nanti lama-lama Tuan akan terbiasa.”
Areksa menghela napas kecil. “Semoga.”
Ia menatap Aretha yang kini mulai tenang di dalam pelukannya. “Kalau begini terus, kayaknya saya benar-benar harus belajar jadi ayah.”
Adira tersenyum melihatnya. “Tuan sudah menjadi ayah sejak Aretha lahir.”
Areksa terdiam. Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa hangat.
Ia menunduk dan mencium lembut kening putrinya.
“Iya...” Suaranya lirih. “Papa akan belajar menjadi ayah yang baik buat kamu.”
***
Pagi harinya, suasana rumah megah keluarga Dirgantara sudah ramai.
Beberapa orang berkumpul di ruang keluarga, bergantian mengajak Aretha berbicara.
Bayi mungil itu diletakkan di atas kasur bayi portabel yang bisa dipindahkan ke mana saja.
Soraya dan Bayu duduk di dekatnya, sesekali menyentuh tangan kecil Aretha sambil mengajaknya berbicara, meskipun mereka tau bayi seusia itu belum mampu melihat dengan jelas.
“Coba lihat, Sayang... Ini Oma.”
Soraya tersenyum lebar. “Kamu mirip banget sama Papa kamu, lho.”
Ia menoleh kepada Bayu. “Ini mirip Reksa banget deh, Mas.”
“Iya, betul,” sahut Bayu. “Dari matanya saja sudah kelihatan.”
Aretha hanya menggerakkan tangan kecilnya dan menatap samar ke arah suara.
Soraya kemudian menoleh kepada Adira yang sedang duduk tidak jauh dari mereka.
“Oh iya, Adira.”
“Iya, Nyonya?”
“Benarkah Aretha tidak mau minum lewat dot?”
Adira mengangguk. “Seperti yang dikatakan Tuan Areksa, Nyonya. Kalau diberikan melalui dot, dia sering menolak.”
Soraya menghela napas kecil. “Wah, kalau begitu agak merepotkan ya.”
Ia melirik Aretha. “Kalau tengah malam dia bangun dan tidak mau minum dari dot, bagaimana?”
Adira tersenyum. “Tidak apa-apa, Nyonya. Kalau begitu Tuan Areksa bisa membawa Non Aretha ke kamar saya.”
Soraya langsung menggeleng. “Tapi itu akan mengganggu tidurmu.”
Adira tersenyum lembut. “Tidak apa-apa, Nyonya. Itu memang sudah menjadi tugas saya.”
Soraya menatap Adira beberapa saat, lalu tersenyum. “Kamu baik sekali, Nak.”
Adira hanya mengangguk kecil. “Saya hanya ingin Aretha nyaman.”
Areksa yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka ikut memperhatikan.
Entah mengapa, mendengar Adira mengatakan hal itu membuatnya kembali teringat pada pesan terakhir Aruna.
Selain kamu dan keluarga kamu, aku cuma percaya Adira yang bisa merawat anak kita.
Kini Areksa mulai mengerti mengapa Aruna begitu percaya kepada wanita itu.
***
“Selamat pagi, Om, Tante.”
Felicia datang cukup pagi ketika keluarga Dirgantara sedang berkumpul di ruang keluarga sambil bermain bersama Aretha.
“Eh, Felicia,” sapa Soraya.
“Aretha mana, Tante?”
“Tuh, di ruang tengah. Lagi digendong papanya.”
Felicia langsung melongok ke arah ruang tengah.
Benar saja, Areksa sedang menggendong Aretha. Tatapannya begitu fokus pada putrinya sampai nyaris tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya.
“Aku mau lihat keponakanku ya, Tante.”
“Iya, nak. Silakan.”
Felicia berjalan menghampiri Areksa. Ia memang sudah cukup sering datang ke rumah itu dan dekat dengan Soraya karena mereka sudah sering bertemu.
“Hai, Kak.”
“Hm.” Areksa hanya bergumam singkat tanpa menoleh.
Perhatiannya masih tertuju pada Aretha yang berada dalam pelukannya.
Sebenarnya, sejak dulu Areksa tidak pernah terlalu nyaman dengan keberadaan Felicia. Adik tiri mendiang istrinya itu terlalu sering datang ke rumahnya, meskipun selama ini ia tidak pernah mempermasalahkannya secara langsung.
“Apa Aretha sudah mandi, Kak?”
“Sudah.”
Felicia tersenyum. “Boleh aku gendong?”
“Nanti saja.”
Areksa akhirnya menoleh sebentar. “Saya baru saja menggendongnya. Dari tadi dia juga menyusu.”
“Oh, begitu.”
Felicia kemudian melihat sekeliling. “Babysitter Aretha ke mana, Kak?”
“Istirahat.”
Felicia mengerutkan kening. “Kok istirahat? Bukannya dia harus menjaga dan mengurus Aretha?”
Mendengar itu, Areksa langsung menatap Felicia. “Aretha juga putri saya, Fel.”
Nada suaranya terdengar tegas. “Harusnya saya yang lebih banyak menghabiskan waktu dengannya.”
Felicia terdiam.
“Lagipula, Adira sudah mengurus Aretha semalaman. Dia juga butuh istirahat.”
Areksa menatap putrinya yang mulai menguap kecil. “Dia bukan cuma menjaga Aretha, tapi juga memberikan ASI untuknya. Jadi wajar kalau dia butuh waktu untuk tidur.”
Felicia tersenyum tipis. “Iya, Kak. Aku cuma khawatir Aretha kurang terurus.”
“Aretha baik-baik saja.” Jawaban Areksa singkat.
“Dan selama saya ada di sini, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya.”
Beberapa saat kemudian, Areksa akhirnya menyerahkan Aretha kepada Felicia.
“Hai, Cantik. Ini Tante Feli. Ih, kamu cantik banget sih.”
Felicia tersenyum lebar sambil menggendong bayi itu.
Namun baru beberapa detik berada dalam pelukannya, wajah Aretha langsung berubah.
“Ngeee...” Tangisan Aretha terdengar nyaring.
“Loh, kok nangis, Sayang?”
Felicia mencoba menggoyangkan tubuh Aretha perlahan. “Jangan nangis, ya. Ututuut...”
Namun tangisan itu tidak juga berhenti.
Felicia mulai kehilangan kesabaran. "Dasar bayi menyebalkan."
Ia tetap memasang wajah seolah sedang berusaha menenangkan Aretha, meskipun dalam hati sudah kesal.
Aretha justru menangis semakin keras.
“Sini.” Areksa langsung mengambil kembali putrinya.
“Dia nggak mau sama kamu.”
Felicia menyerahkan Aretha dengan wajah yang sedikit masam.
Areksa menggendong putrinya sambil menepuk-nepuk punggungnya. Namun Aretha masih terus menangis.
Mendengar suara tangisan itu, Soraya segera mendekat. “Mungkin dia haus.”
“Iya, mungkin, Ma.”
Areksa menatap putrinya. “Biar aku kasih ke Adira.”
Ia kemudian membawa Aretha menuju kamar tamu.
Baru saja Areksa hendak mengetuk pintu, pintu tersebut sudah terbuka.
Adira keluar dengan pakaian kerja yang diberikan Areksa untuknya, berupa seragam babysitter berwarna biru.
“Aretha menangis, ya, Tuan?”
Adira langsung memperhatikan bayi dalam gendongan Areksa.
“Iya. Sepertinya dia ingin menyusu.”
“Biar saya gendong.” Adira mengulurkan kedua tangannya.
“Ah, iya.” Areksa menyerahkan Aretha kepadanya.
Begitu berada dalam pelukan Adira, tangisan Aretha perlahan mulai mereda.
Adira tersenyum. “Saya masuk dulu, ya, Tuan. Non Aretha sepertinya ingin menyusu.”
“Iya.”
Adira kembali masuk ke kamar.
Sementara Areksa masih berdiri di depan pintu selama beberapa detik. Pikirannya tanpa sengaja kembali pada kejadian dini hari tadi.
Ia teringat saat membuka pintu kamar dan melihat Adira tertidur setelah menyusui Aretha.
Areksa segera menggelengkan kepala. Sudahlah.
Ia tidak ingin memikirkan kejadian itu lagi.
Apalagi sekarang yang terpenting adalah memastikan Aretha mendapatkan apa yang dibutuhkannya.
Areksa kemudian kembali menuju ruang keluarga.
***
Beberapa saat kemudian, Adira keluar dari kamar sambil menggendong Aretha.
Areksa yang sedang duduk di ruang keluarga langsung menoleh. “Dia tidur?”
“Sepertinya sebentar lagi,” jawab Adira lembut. “Non Aretha sudah mulai mengantuk.”
Adira mengusap perlahan punggung bayi itu.
Tidak lama kemudian, mata Aretha benar-benar terpejam.
Bayi mungil itu tertidur pulas dalam gendongan Adira.
Areksa memperhatikan putrinya dengan senyum tipis. “Tidurnya nyenyak sekali.”
“Iya. Mungkin tadi memang sangat mengantuk karna sudah lama ia bermain tadi."
Adira tersenyum kecil.
Tanpa mereka sadari, Felicia memperhatikan pemandangan itu dari sisi ruangan. Tangannya perlahan mengepal.
Entah mengapa, pemandangan di hadapannya membuat dadanya terasa panas.
Areksa berdiri tidak jauh dari Adira. Adira menggendong Aretha dengan begitu lembut. Sementara Aretha terlihat begitu nyaman berada di antara mereka.
Dari kejauhan, ketiganya tampak seperti sebuah keluarga kecil.
Felicia menggigit bagian dalam bibirnya. Kenapa mereka terlihat seperti keluarga?
Tatapannya berubah semakin tajam. Ini tidak bisa dibiarkan.
Ia tidak datang ke rumah ini hanya untuk melihat orang lain mengambil tempat yang selama ini ia inginkan.
Terlebih lagi, ia tidak suka melihat Areksa mulai memberikan perhatian kepada Adira.
Felicia menarik napas dalam-dalam, lalu kembali memasang senyum seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun dalam hatinya, sebuah rencana mulai terbentuk.
🤣🤣🤣
🥰🥰🥰🥰🥰🥰