Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Bukan Milikmu
Laksamana Muda Harris akhirnya bergerak. Dengan langkah perlahan yang terkesan santai, perwira tinggi itu mengayunkan kakinya membelah kerumunan tamu VIP.
Di sampingnya, beberapa perwira senior pengikut faksi Harris mengekor, membentuk barisan intimidasi politik yang cukup kentara di tengah aula.
Chester merasakan perubahan ritme di sekitarnya. Tanpa mengikis postur tegapnya, ia menggeser posisi tubuhnya setengah inci ke depan—sebuah gerakan refleks prajurit untuk menjadikan dadanya sebagai perisai utama Ayyana.
"Kapten Sinclair," sapa Harris begitu jarak mereka tersisa dua meter. Suaranya bergema ramah di permukaan, namun dingin dan penuh racun di dasarnya. Gelas kristal di tangannya bergoyang pelan. "Dan Nyonya Ayyana Sinclair. Sungguh pemandangan yang langka melihat kalian berdua hadir seanggun ini di acara Markas Besar."
Tatapan Harris bergulir, secara disengaja menyapu gaun sutra navy blue Ayyana—menatap garis leher dan lekuk tulang selangkanya yang terbuka dengan kerutan sinis yang sangat tipis.
"Penampilan yang teramat memikat untuk seorang wanita yang baru saja melewati drama administratif pangkalan," lanjut Harris, kini matanya menatap lurus ke arah Chester. "Saya harap 'keharmonisan' di atas karpet merah ini bukan sekadar panggung sandiwara untuk menutupi berkas yang sedang saya tinjau, Kapten."
Suasana di sekitar pilar utama seketika menegang. Flyn dan Rowan di belakang Chester langsung merapatkan posisi, sementara Zack diam-diam menekan tombol perekam pada perangkat taktis di pergelangan tangannya.
Namun, sebelum Chester sempat mengeluarkan nada bicaranya yang kaku, Ayyana lebih dulu melangkah setengah tapak maju—tanpa melepaskan lingkar jemarinya dari lengan berotot Chester.
Ayyana menengadah, menatap Harris dengan binar mata tenang yang penuh dominasi bangsawan. Senyum di bibirnya mengembang begitu indah, elegan, namun beracun.
"Laksamana Harris," bisik Ayyana halus, suaranya terdengar begitu jernih hingga mengejutkan beberapa istri perwira di dekat mereka. "Jika keberadaan saya di samping suami saya dianggap sandiwara... maka saya penasaran, standar pernikahan seperti apa yang sedang Anda gunakan di Markas Besar ini?"
Harris sedikit menyipitkan mata, terkejut oleh keberanian Ayyana yang sama sekali tidak gentar.
"Pernikahan kami disahkan oleh dokumen negara, disumpahkan di hadapan Tuhan, dan dijaga oleh seorang perwira yang mempertaruhkan nyawanya untuk pangkalan ini setiap hari," tegas Ayyana pelan, jemarinya mengusap lembut lengan PDU Chester seraya menatap Harris tanpa berkedip. "Jika Anda masih sibuk mencari celah di balik kebahagiaan kami, saya khawatir itu bukan lagi tugas inspeksi etika, Laksamana... melainkan bentuk obsesi pribadi."
Ekspresi Harris seketika berubah kaku. Beberapa perwira senior di belakangnya menahan napas, terpaku oleh serangan balik bernuansa tinggi dari Nyonya Sinclair yang secara tidak langsung menampar martabat sang Laksamana di depan publik.
Chester menunduk sedikit, menatap samping wajah Ayyana dengan binar mata yang bergetar tipis. Rasa bangga, terpesona, dan dominasi posesif yang meluap-luap membakar dadanya seketika.
Kapten Sinclair lalu menegakkan kepalanya kembali, menatap Harris dengan kehangatan mata yang membeku total.
"Istri saya sudah menyampaikan poinnya dengan sangat jelas, Laksamana," potong Chester dingin, suaranya berat dan berwibawa. "Permisi. Kami harus menyapa tamu komando lainnya."
Tanpa menunggu balasan dari Harris yang masih membatu dengan wajah menegang keras, Chester memutarkan badannya, membimbing Ayyana melangkah pergi membelah aula—meninggalkan Laksamana Muda itu terpojok dalam kekalahannya sendiri.
Jenderal Jacob berdiri tegap di sudut VIP. Pria paruh baya ber bintang empat di pundak PDU-nya itu memancar aura otoritas yang tak tergoyahkan.
Begitu menyadari kehadiran putra bungsu dan menantunya, perbincangan para perwira senior di sekitarnya mendadak reda. Jenderal Jacob memutar tubuhnya perlahan. Pandangan matanya yang tajam sekeras batu menyapu gaun sutra navy blue Ayyana—menatap kerah berpotongan rendah yang mengekspos garis leher mulus serta lekuk tulang selangkanya yang indah, lalu tertuju pada jalinan erat jemari Ayyana di lengan PDU kaku milik Chester.
Kilas balik berputar cepat di benak Jenderal Jacob.
Bayangan hari kelam di Florida mendadak membayang: ruang VIP yang memanas, pecahan bentakan amarah Dex Sanders saat Haikal melarikan diri, hingga keputusan dinginnya memaksa Chester memakai jas dan melangkah ke altar demi menyelamatkan nama besar dua keluarga. Hari di mana ia memerintahkan Chester memungut kekacauan sang kakak sebagai sebuah perintah komando.
Kini, pria yang dulu berdiri di atas pasir putih Florida dengan raut dingin tanpa emosi di samping pengantin yang meneteskan air mata hancur... berdiri di sini sebagai benteng baja yang utuh.
Chester menghentikan langkah tepat dua tapak di hadapan ayahnya, lalu memberi hormat militer yang amat kaku dan presisi. "Jenderal."
Jenderal Jacob menurunkan tangannya secara formal, lalu menatap Ayyana lurus-lurus. Binar matanya yang biasa keras kini menyirat kedalaman yang amat langka.
"Nyonya Sinclair," suara bass Jenderal Jacob mengudara, berat dan berwibawa. "Tampaknya kamu dan Chester berhasil mengunci perhatian seluruh aula malam ini."
Ayyana menundukkan kepalanya sedikit dengan keanggunan sempurna. Saat mendongak kembali, tidak ada lagi jejak wanita yang terpaksa melangkah ragu dengan jemari gemetar di bawah cengkeraman Dex Sanders seperti hari itu. Binar mata cokelatnya berdiri sejajar, penuh dominasi.
"Suatu kehormatan bisa menyapa Anda malam ini, Jenderal," balas Ayyana halus, suaranya tenang dan memikat. "Kami hadir untuk memastikan bahwa integritas dan nama keluarga Sinclair tetap berdiri tegak di pangkalan ini, tanpa ada yang berani mempertanyakan keabsahannya."
Sudut bibir Jenderal Jacob terangkat sangat tipis—sebuah gestur pengakuan mutlak atas keberanian menantunya yang baru saja meruntuhkan gertakan Harris secara terbuka.
Jenderal Jacob lalu mengalihkan pandangannya pada Chester.
Rahang putra bungsunya itu menegang keras, bahu bidang berbalut PDU miliknya membusung penuh proteksi melindungi Ayyana, dan binar matanya memancarkan naluri kepemilikan kaku yang amat pekat.
Tidak ada lagi raut ketidaksukaan atau beban masa lalu karena merasa 'memungut' kesalahan Haikal. Di hadapannya kini, Chester berdiri bukan lagi sebagai pengganti sementara yang terpaksa mengucapkan janji di hadapan pendeta, melainkan sebagai seorang suami yang siap mempertaruhkan seluruh karier dan nyawanya demi melindungi Ayyana.
"Pilihan gaun yang teramat berani untuk standar perwira, Kapten," ujar Jenderal Jacob rendah, nada bicaranya menyimpan kebanggaan terselubung seorang ayah dan pimpinan komando. "Tapi kamu tampak lebih dari siap untuk menjaga apa yang bukan milikmu."
Chester membeku seketika.
Kata-kata terakhir sang Jenderal—apa yang bukan milikmu—menghantam tepat di ulu hati Chester, memicu dentumaN dingin yang menyebar cepat ke seluruh aliran darahnya.
Suara berisik alunan musik klasik di aula megah Markas Besar mendadak lenyap dari pendengaran sang Kapten. Kalimat tajam ayahnya seolah membawa gema masa lalu di Florida kembali berputar tanpa ampun di kepala: bayangan Ayyana dengan gaun pengantin berderai air mata, dan fakta bahwa wanita di sisinya ini semula ditakdirkan untuk Haikal.
Jenderal Jacob masih menatapnya dengan raut sekeras karang—sebuah pengingat tak kasat mata bahwa di mata sang ayah, Chester sampai kapan pun hanyalah pengganti darurat yang menjalankan tugas penyelamatan reputasi keluarga.
Rahang Chester mengeras hingga otot-otot di sepanjang lehernya menegang kuat. Kepalan tangannya yang terbungkus sarung tangan PDU gemetar tipis, menahan badai frustrasi dan naluri kepemilikan yang bergejolak hebat di dadanya.
Namun, sebelum rasa rendah diri dan bayang-bayang Haikal sempat melumpuhkan Chester, jemari lentik Ayyana yang melingkar di lengan PDU sang Kapten bergerak merapat.
Ayyana menyentuh lengan Chester lebih erat, menyalurkan kehangatan yang tegas sekaligus menolak membiarkan suaminya tenggelam dalam intimidasi sang Jenderal.
Ayyana menengadah, menatap Jenderal Jacob lurus-lurus tanpa berkedip. Senyum anggun masih terpatri di bibirnya, namun binar matanya memancarkan ketajaman yang begitu mematikan.
"Anda keliru, Jenderal," bisik Ayyana halus, suaranya sangat tenang namun bergetar penuh penekanan di antara mereka bertiga. "Pria yang berdiri di samping saya malam ini, yang mengikat janji di hadapan Tuhan dan hukum, adalah Chester Sinclair."
Ayyana mengalihkan pandangannya pada Chester, menatap manik mata gelap suaminya yang masih terguncang, lalu kembali menatap pimpinan tertinggi markas itu.
"Tidak ada yang 'bukan milik' di antara kami," lanjut Ayyana mantap, memotong habis bayang-bayang masa lalu Florida yang baru saja dilemparkan mertuanya. "Setiap hal yang Chester lindungi malam ini... adalah sepenuhnya hak dan kepemilikannya yang sah."
Jenderal Jacob membisu. Garis keras di wajahnya tak bergeming, namun binar matanya menyipit tipis—menangkap dominasi dan perlawanan mutlak dari menantunya yang tidak lagi bisa didekte oleh siapa pun.
Chester menarik napas panjang, membiarkan kehangatan ucapan Ayyana membakar habis sisa-sisa rasa rendah dirinya.
Sang Kapten menegakkan bahunya, membusungkan dada, lalu menatap sang ayah dengan pandangan mata yang sepenuhnya terkunci dan tak tersentuh.
"Ayyana adalah istri saya, Jenderal," ujar Chester, suara basnya keluar begitu rendah, berat, dan dipenuhi otoritas mutlak seorang suami. "Dan saya tidak akan membiarkan siapa pun—di dalam atau di luar pangkalan ini—mempertanyakan posisi itu lagi."
Musik klasik berganti ritme menjadi alunan valsa yang lambat dan hangat.
Chester, dengan gestur kaku namun amat protektif, membimbing Ayyana melangkah menuju tengah lantai dansa, menjauh dari lingkaran intimidasi Jenderal Jacob.
Satu tangan kekar Chester yang terbungkus sarung tangan PDU melingkar kokoh di pinggang Ayyana, memangkas jarak di antara mereka hingga tak ada celah tersisa. Tangan sebelahnya menggenggam jemari Ayyana dengan erat, mengunci fokus seluruh pasangan VIP yang ada di sekeliling mereka.
Saat tubuh mereka bergerak mengikuti irama lagu, Chester menundukkan kepalanya. Napas hangat sang Kapten menerpa sisi wajah dan leher Ayyana.
"Terima kasih..." bisik Chester amat pelan di dekat telinga Ayyana, suara basnya yang dalam bergetar tipis oleh emosi pekat yang selama ini berusaha ia sembunyikan di balik topeng disiplin militernya.
Ayyana mendongak tipis, menangkap binar mata cokelat gelap Chester yang kini tidak lagi memancarkan bayang-bayang masa lalu, melainkan dominasi mutlak seorang pria yang sudah sepenuhnya menerima takdirnya.
"Tapi setelah ini, cukup," lanjut Chester berbisik, jemarinya di pinggang Ayyana makin mengencang posesif, seolah menegaskan garis batas kekuasaannya sebagai seorang suami. "Biarkan saya yang menjawab, Ayyana."
Ayyana menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan pesona dan kemenangan manis.
Tanpa memedulikan tatapan puluhan pasang mata pejabat tinggi militer di sekeliling mereka, ia berjinjit sedikit lalu mengecup bibir Chester secara tiba-tiba—sebuah tindakan berani yang begitu manis sekaligus memabukkan.
Kapten Sinclair mendadak membeku di tempat.
Seluruh refleks militer dan kalkulasi taktis di kepalanya runtuh seketika. Ritme langkah kakinya terhenti secara kacau sampai-sampai sepatu pantofel formalnya tak sengaja menginjak ujung sepatu heels Ayyana.
"Aduh, Kapten..." ringis Ayyana pelan dengan bisikan tertahan, namun matanya berbinar jenaka menatap wajah kaku Chester yang kini memerah kencang hingga ke ujung telinganya.
Chester cepat-cepat menarik kakinya kembali dengan rahang mengetat keras, berusaha setengah mati menguasai dirinya di tengah lantai dansa. Binar matanya yang biasa dingin kini memancarkan kepanikan kaku yang amat langka.
"Maaf," gumam Chester rendah dan amat canggung, mengeratkan cengkeramannya di pinggang Ayyana agar wanita itu tak kehilangan keseimbangan, seraya melirik sekitar untuk memastikan tidak ada jenderal senior yang menyadari insiden 'kegagalan taktis' di atas lantai dansa tersebut.