Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.
Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.
Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DARAH DI ATAS LAMPION MUSIM GUGUR
Malam perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur akhirnya tiba. Seluruh penjuru ibu kota Kekaisaran Han menjelma menjadi lautan cahaya. Ribuan lampion kertas beraneka warna diterbangkan ke langit malam yang cerah, bersaing dengan pendaran rembulan yang bulat sempurna. Di sepanjang jalan utama menuju kompleks istana, wewangian kue bulan dan arak manis menguar ke udara, diiringi suara riuh rendah tabuhan gendang dan tawa sukacita para penduduk.
Namun, di jalan pintas yang sunyi di balik hutan bambu dekat gerbang barat istana, atmosfernya berbanding terbalik. Tempat itu gelap dan sunyi, hanya diterangi oleh pantulan samar cahaya lampion dari kejauhan.
Kereta kuda mewah milik Gu Rulan bergerak perlahan melewati jalur sepi tersebut. Di dalam kereta, Rulan duduk dengan tenang sembari mengasah ujung belati peraknya menggunakan batu giok kecil. Gerakannya konstan dan berirama, seolah tidak terpengaruh oleh guncangan kereta. Di hadapannya, Xiaoyu sedang memeriksa kesiapan busur panah kecil yang tersembunyi di balik pergelangan tangannya.
"Nona, burung merpati pembawa pesan dari Kediaman Bayangan mengonfirmasi bahwa Faksi Belati Beracun sudah mengambil posisi di sekitar hutan bambu ini," bisik Xiaoyu dengan nada waspada namun tanpa rasa takut sedikit pun.
"Putri Ketiga benar-benar tidak sabar. Dia memilih mengeksekusi Anda tepat di malam perayaan, saat penjagaan gerbang istana sedang lengang karena fokus pada area perjamuan utama."
Rulan menyarungkan belatinya dengan bunyi klik yang halus. "Shen Meili adalah wanita yang digerakkan oleh amarah, bukan logika. Semakin cepat dia bergerak, semakin cepat pula dia menggali kuburannya sendiri. Apakah Li Feng sudah berada di posisinya?"
"Sesuai dengan informasi palsu yang kita bocorkan kepadanya mengenai jadwal kedatangan kafilah tambahan kita, Jenderal Li saat ini sedang berpatroli tidak jauh dari ujung jalan bambu ini. Dia pasti akan mendengar keributan di sini," jawab Xiaoyu sambil tersenyum penuh arti.
"Bagus," Rulan memperbaiki posisi jepitan rambut gioknya. "Mari kita beri Putri Ketiga pertunjukan yang tidak akan pernah dia lupakan."
Syuuutt!
Tepat setelah kalimat Rulan berakhir, sebuah anak panah berujung hitam pekat melesat memotong kegelapan malam, menancap tepat di leher salah satu kuda penarik kereta. Kuda itu meringking kesakitan sebelum akhirnya tumbang, membuat jalannya kereta terhenti secara mendadak dengan sentakan keras.
"Ada musuh! Lindungi Nona!" teriak Mo Reng, yang malam ini menyamar sebagai kepala pengawal kereta.
Dari balik keremangan pohon-pohon bambu, belasan sosok berpakaian hitam dengan topeng kain berlompatan turun seperti sepasang kelelawar malam. Mereka memegang belati pendek yang berkilau oleh cairan racun hijau senjata khas dari Faksi Belati Beracun. Tanpa membuang waktu, mereka langsung merangsek maju menyerang para pengawal kereta.
Tring! Cring!
Bunyi dentingan besi yang saling beradu seketika memecah kesunyian hutan bambu. Para pengawal bayangan yang dibawa Rulan bukanlah pengawal biasa; mereka adalah pendekar terlatih dari perbatasan barat. Namun, demi memuluskan rencana, Mo Reng dan pasukannya sengaja berpura-pura terdesak, membiarkan beberapa pembunuh bayaran berhasil menembus pertahanan dan mendekati pintu kereta kuda.
"Gu Rulan! Malam ini adalah malam kematianmu!" seru pemimpin pembunuh seraya menebas pintu kereta hingga hancur berkeping-keping.
Pria bermata kejam itu melompat masuk ke dalam kereta dengan belati yang siap menghujam dada Rulan. Namun, apa yang ia temukan di dalam kereta bukanlah seorang putri bangsawan yang menjerit ketakutan, melainkan sepasang mata jernih yang menatapnya dengan ketenangan yang mengerikan.
Wuuush!
Sebelum belati sang pembunuh sempat mendekat, Rulan menggerakkan tubuhnya dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi seorang wanita biasa. Ia menggunakan teknik Langkah Bayangan Tanpa Jejak untuk bergeser ke samping, menghindari tusukan dengan selisih satu inci. Di saat yang sama, jemarinya yang lentik melesat maju, mengayunkan belati peraknya dengan presisi tingkat tinggi.
Sret!
Ujung belati Rulan menyayat urat nadi di pergelangan tangan sang pembunuh, membuat senjatanya terlepas dan jatuh ke lantai kereta. Sebelum pria itu sempat berteriak, Rulan memutar tubuhnya dan menendang dada pria itu dengan kekuatan internal yang padat, membuatnya terlempar keluar dari kereta dan menghantam tanah dengan keras.
Rulan melompat keluar dari kereta, mendarat dengan anggun di atas permukaan tanah yang dipenuhi guguran daun bambu. Jubah hijau mudanya berkibar, mengontraskan penampilannya yang bak dewi dengan situasi berdarah di sekelilingnya.
"Selesaikan ini dengan cepat," perintah Rulan dingin kepada Xiaoyu.
Pada saat itulah, suara gemuruh langkah kaki kuda yang masif terdengar dari ujung jalan bambu. Li Feng, yang memimpin sepasukan kavaleri patroli istana, datang dengan kecepatan penuh setelah mendengar suara dentingan senjata.
"Siapa yang berani membuat kekacauan di wilayah ibu kota?!" teriak Li Feng dengan pedang yang sudah terhunus di tangannya.
Melihat kedatangan pasukan kavaleri resmi kekaisaran, para pembunuh dari Faksi Belati Beracun seketika panik. Mereka menyadari bahwa misi mereka telah gagal dan situasi telah berbalik.
"Mundur! Mundur!" seru salah satu dari mereka.
Namun, pengawal bayangan Rulan tidak lagi menahan kekuatan mereka. Dengan beberapa gerakan cepat, Mo Reng berhasil melumpuhkan tiga pembunuh hidup-hidup, mematahkan tulang sendi mereka agar tidak bisa menelan racun bunuh diri yang tersembunyi di balik gigi mereka. Sisa pembunuh lainnya tewas bersimbah darah di bawah tikaman pedang pasukan Li Feng yang langsung mengepung tempat tersebut.
Li Feng melompat turun dari kudanya, wajahnya dipenuhi rasa cemas yang mendalam saat ia berlari mendekati Rulan. "Rulan! Apakah Anda terluka? Maafkan aku karena terlambat datang!"
Rulan segera mengubah auranya dalam sekejap mata. Raut wajahnya yang semula dingin dan mematikan kini mendadak memucat, tubuhnya gemetar sedikit, dan matanya berkaca-kaca menatap Li Feng topeng teratai putih yang rapuh kembali ia kenakan dengan sempurna.
"Jenderal Li..." suara Rulan bergetar, seolah-olah ia baru saja lolos dari cengkeraman dewa kematian. "Jika Anda tidak datang... saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya dan pelayan saya. Mengapa ada orang yang begitu kejam ingin mengambil nyawa saya?"
Melihat keterpurukan wanita cantik di hadapannya, naluri protektif dan keserakahan Li Feng bergejolak hebat. Ia melangkah maju, hampir saja memeluk pundak Rulan sebelum akhirnya menahan diri demi sopan santun.
"Jangan takut, Rulan. Aku berada di sini. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu lagi. Aku akan menyeret siapa pun dalang di balik serangan keji ini ke hadapan hukum!"
Li Feng membalikkan badannya dengan gusar, menatap Mo Reng yang sedang menahan salah satu pemimpin pembunuh yang masih hidup. Pria itu mencengkeram kerah baju sang pembunuh, menempelkan ujung pedangnya yang berdarah ke leher pria itu.
"Katakan! Siapa yang menyewamu untuk menyerang Nona Gu Rulan?! Jika kau bicara jujur, aku mungkin akan mengampuni nyawa keluargamu!" ancam Li Feng dengan suara menggelegar.
Pembunuh yang sudah patah tulang dan ketakutan itu melirik ke arah Rulan sesaat, lalu buru-buru menundukkan kepalanya ke arah Li Feng. "Jenderal... tolong ampuni saya! Kami... kami hanya menerima perintah dan bayaran emas dari kediaman Putri Ketiga, Shen Meili! Beliau yang menyuruh kami melenyapkan Gu Rulan sebelum festival berakhir!"
Deg!
Kata-kata pembunuh itu seperti petir di siang bolong bagi Li Feng. Langkah kakinya mundur setapak, wajahnya berubah kaku. Ia tahu Shen Meili adalah wanita yang cemburuan dan kejam, namun ia tidak menyangka wanita itu akan sebodoh ini dengan mengirim pembunuh bayaran untuk menyerang tamu kehormatan faksi netral tepat di malam festival penting. Tindakan ini bukan hanya mencoreng nama baik kekaisaran, tetapi juga mengancam aliansi bisnis pasokan kuda perang barat yang baru saja ingin ia bangun dengan Gu Rulan.
"Shen... Meili..." desis Li Feng, jemarinya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih dan mengeluarkan suara berderit. Kemarahan yang amat sangat membakar dadanya. Di mata Li Feng, tindakan Meili telah menjadi batu penghalang terbesar bagi ambisinya untuk menguasai kekuatan militer tertinggi di kekaisaran.
Di balik punggung Li Feng, Rulan yang sedang berpura-pura menyeka air matanya dengan saputangan sutra, perlahan-lahan mengangkat wajahnya. Sebuah senyuman dingin yang sarat akan kepuasan terukir di bibirnya yang kemerahan, sementara matanya yang berkilat kejam menatap tajam ke arah kompleks istana yang megah.
Keretakan pertama antara Li Feng dan Shen Meili kini telah berubah menjadi jurang pemisah yang tidak akan pernah bisa disatukan kembali.