Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jealousy Mode On
Hari itu menjadi hari terakhir bagi Jingga dan Arin di kota tersebut. Besok pagi mereka dijadwalkan kembali pulang, meninggalkan segala kesibukan survei dan rapat panjang. Sebelum benar-benar mengakhiri perjalanan kerja kali ini, tim memutuskan untuk mengadakan makan malam bersama sebagai bentuk perayaan kecil atas dimulainya pembangunan proyek.
Suasana hangat terasa di restoran, penuh tawa dan candaan dari semua anggota tim. Arin dan Jingga ikut larut dalam keceriaan itu, meskipun lelah mereka terbayar dengan momen kebersamaan.
Di sisi lain, Levin sudah benar-benar tidak bisa lagi menahan rindu yang menghimpit dada. Sudah berhari-hari ia mencoba menahan diri dengan hanya video call atau chat, namun tetap saja hatinya merasa kosong. Sore itu ia membuat keputusan mendadak: menyusul Jingga langsung ke kota tersebut dan menjemputnya sendiri.
“Roy, siapkan koper. Kita berangkat sore ini,” ucap Levin sambil menutup laptopnya dengan tegas.
Roy yang selalu mendampinginya hanya bisa menghela napas kecil, tapi segera menurut. Ia sudah hafal betul—jika menyangkut soal Jingga, tuannya bisa menjadi sosok keras kepala yang tak terbantahkan.
Perjalanan itu terasa penuh ketegangan sekaligus antusiasme. Levin tak berhenti membayangkan wajah Jingga yang akan terkejut saat melihatnya tiba-tiba muncul di depan mata.
“Aku akan kasih dia kejutan… biar dia tahu betapa aku nggak bisa jauh darinya terlalu lama,” gumam Levin sambil menatap keluar jendela pesawat.
Roy hanya melirik tuannya sekilas. Dalam hatinya, ia berharap semua berjalan lancar… dan semoga kejutan Levin kali ini tidak menimbulkan drama baru.
----
Setelah makan malam bersama tim berakhir, suasana masih terasa hangat. Semua orang mulai berpisah, kembali ke hotel masing-masing.
Tiba-tiba Dave menghampiri Jingga dan Arin yang baru saja keluar dari restoran.
“Eh Ji, Rin… bagaimana kalau kita ngopi dulu sebelum kalian pulang? Anggap aja pertemuan reuni kecil kita. Aku yang traktir deh,” ujarnya sambil tersenyum.
Arin langsung melirik Jingga dengan ekspresi ragu. “Gimana Ji? Masih kuat nggak? Besok kan kita harus siap-siap pagi juga.”
Jingga tersenyum tipis. “Hm… boleh juga sih. Lumayan, ngobrol-ngobrol sebentar lagi sebelum balik.”
Dave terlihat lega mendengar jawaban itu.
“Sip, kebetulan ada kopi enak nggak jauh dari sini.”
Mereka pun langsung menuju kafe .
___
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya Levin dan Roy tiba kota B. Mobil jemputan sudah terparkir di bandara. Malam itu jalanan sudah mulai lengang, lampu kota berkelip-kelip menemani perjalanan mereka.
Levin tampak gelisah, tangannya mengetuk-ngetuk lutut tanpa sadar.
“Roy, coba kamu chat Arin . Mereka sedang di mana sekarang,” ucapnya tegas namun suaranya terdengar menahan resah.
“Iya, Tuan.” Roy langsung mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat pada Arin dengan nada basa-basi agar tidak menimbulkan curiga.
> “Rin, masih di luar atau sudah di hotel? Jangan lupa istirahat, besok kan pulang.”
Tak lama, notifikasi balasan masuk. Arin menjawab santai, tanpa curiga sedikit pun.
> “Masih di luar, Roy. Lagi di "kaffe NGOPI" dekat alun-alun kota. Kamu sendiri gimana? Jangan begadang ya.”
Roy membaca pesan itu, menoleh sekilas ke arah Levin yang langsung memberi isyarat dengan matanya.
“Dapat alamatnya, Tuan.”
“Bagus.” Levin mengangguk dengan senyum tipis penuh arti.
“Sekarang antar aku ke sana. Aku mau kasih kejutan buat Jingga.”
Roy menghela napas pelan. Semoga tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
---
Di sela obrolan hangat itu, tiba-tiba ponsel Arin berdering. Ibunya menelpon.
“Eh, sebentar ya… aku keluar dulu,” ucap Arin sambil berdiri meninggalkan meja, tak ingin mengganggu obrolan.
Arin melangkah ke lorong depan kafe, menjawab panggilan ibunya dengan senyum kecil. Namun senyum itu langsung lenyap saat matanya menangkap dua sosok yang sangat ia kenal berjalan ke arahnya.
“Tu… Tuan Levin? Roy?” Arin refleks mengucek matanya, memastikan ia tidak berhalusinasi.
“Ini beneran kalian? Sedang apa di sini?”
tanyanya terbata, wajahnya campur aduk antara kaget dan panik.
Levin sama sekali tak menggubris pertanyaan itu. Tatapannya tajam, penuh kegelisahan.
“Jingga di mana?” suaranya datar namun menekan.
“A..a.. ada di dalam…” jawab Arin gelagapan.
“Bersama siapa dia?” Levin makin menajamkan tatapannya.
Arin menelan ludah, ragu menjawab. “Hm… m.. sama Da—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimat, Levin sudah melangkah cepat, mendorong pintu menuju ruang VIP tempat Jingga berada.
“Si**al! Kenapa pria itu selalu bersama Jingga…” geramnya dalam hati, emosinya sudah tak terkendali.
BRAK!
Pintu ruangan terbuka keras, membuat semua orang di dalam menoleh kaget.
“Levin???” Jingga hampir meloncat dari duduknya, matanya melebar tak percaya.
Levin berdiri di ambang pintu, suaranya bergetar antara marah dan bingung.
“Kamu… kamu lagi ngapain di sini?”
Namun langkahnya mendadak terhenti. Pemandangan di hadapannya jauh berbeda dari apa yang ia bayangkan.
Jingga memang duduk bersama Dave, tapi mereka tidak berdua. Ada seorang wanita yang tersenyum ramah, dan seorang bocah kecil yang asyik menggambar di buku mewarnai.
Sejak awal, sebenarnya Dave punya maksud lain saat mengajak Jingga dan Arin itu bukan sekadar ngobrol nostalgia, melainkan ia ingin memperkenalkan dua sahabat lamanya dengan keluarga kecilnya.
Levin terdiam. Darahnya yang sempat mendidih mendadak terasa beku. Kata-kata tercekat di tenggorokannya.
Di belakangnya, Roy hanya menggelengkan kepala, seperti sudah bisa menebak ujung cerita ini.
Arin yang baru menyusul, menepuk jidat sambil menghela napas panjang.
Jingga berdiri, sedikit kebingungan tapi mencoba menengahi.
“Levin… ini Dave, temen SMA aku sama Arin. Dan ini istrinya. Sama anaknya.”
Dave menatap Levin penuh rasa hormat.
“Jadi… kamu Levin itu? Aku sering dengar tentangmu, ternyata benar. Bahkan… aku baru sadar, wanita yang kamu posting itu… Jingga?”
Levin hanya berdiri kaku. Semua amarahnya berubah jadi rasa malu, bercampur canggung.
Roy menghela napas sekali lagi, berbisik kecil,
“Tuan ....kali ini anda sudah keterlaluan…”gumam Roy dengan lelah menghadapi tuannya itu .
Suasana yang sempat kaku setelah kedatangan Levin akhirnya mulai mencair. Dave dengan tenang memperkenalkan istrinya kepada Levin, dan sedikit demi sedikit ketegangan pun mereda. Jingga mencoba menutupinya dengan senyum, meski hatinya masih campur aduk melihat sikap Levin yang tiba-tiba.
Roy dan Arin hanya saling pandang, menghela napas lega ketika obrolan kembali normal. Mereka bertiga — Jingga, Arin, dan Levin — pun ikut larut dalam pembicaraan ringan bersama Dave dan keluarganya.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Malam makin larut, dan Dave akhirnya menutup pembicaraan dengan senyum hangat.
“Wah, senang sekali bisa ketemu kalian lagi.
Terima kasih sudah mau meluangkan waktu. Lain kali kalau ada kesempatan, kita kumpul bareng lagi ya.”
“Iya, tentu. Salam buat keluarga, Dave,” balas Jingga ramah..
Arin ikut menambahkan, “Anakmu lucu banget, semoga sehat-sehat selalu.”
Dave mengangguk penuh syukur. “Terima kasih. Hati-hati di jalan ya semuanya.”
Mereka pun berdiri, saling bersalaman, lalu berpamitan meninggalkan café malam itu. Di luar, udara dingin menusuk, namun entah kenapa hati masing-masing terasa lebih hangat.
Setelah Dave, istrinya, dan anak mereka pamit meninggalkan café, suasana mendadak berubah. Jingga segera memalingkan wajahnya ke arah Levin, matanya menatap tajam penuh tanda tanya.
“Levin, kenapa kamu tiba-tiba ada di sini? Terus… kenapa pas tadi masuk terlihat sangat marah?” suara Jingga terdengar serius, jelas ingin menginterogasi.
Levin terdiam sebentar, tangannya bahkan sempat menggaruk tengkuknya sendiri karena gugup. “Hmm… hmm… itu… surprise, aku ingin bikin kejutan buat kamu, sayang.” Ucapannya terdengar dibuat-buat, seolah ingin menutupi rasa malu yang menyesakkan dada.
Arin dan Roy, yang sejak tadi menyaksikan adegan itu, langsung berdehem pelan. Mereka berusaha keras menahan ekspresi, seakan-akan tidak mendengar atau melihat apapun.
“Hm? Sebenarnya ada apa ini?” Jingga mengalihkan pandangannya pada tiga orang di hadapannya, merasa ada sesuatu yang ditutup-tutupi.
Arin menunduk cepat-cepat, menutupi wajahnya dengan tangan. Sejak tadi ia sudah berusaha menahan tawa, tapi ekspresinya hampir meledak melihat Levin yang biasanya dingin dan tegas, kini justru kelihatan gelagapan di depan Jingga.
Suasana café terasa canggung. Jingga masih menatap Levin tajam, sementara Arin menggigit bibirnya menahan tawa, dan Roy sibuk memainkan gelasnya, pura-pura tak peduli.
“Levin, aku tanya baik-baik ya. Kamu Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?” nada suara Jingga makin serius, membuat Levin semakin salah tingkah.
“H-hah? Nggak ada apa-apa kok sayang… aku cuma… ya, rindu aja sama kamu, makanya nyusul ke sini,” jawab Levin dengan senyum kaku.
Arin spontan tersedak minumannya, buru-buru menutup mulut dengan tangan.
“Uhuk… uhuk… aduh maaf, kebanyakan es,”
kilahnya, padahal jelas-jelas menahan tawa. Roy hanya bisa menggeleng pelan, tapi dari sorot matanya juga terlihat ia hampir ikut ngakak.
Jingga mengangkat alisnya. “Rindu? Hmm… terus kenapa tadi matamu seperti keluat api pas lihat aku sama Dave?”
Levin langsung membeku. Tatapannya melirik ke Arin, lalu ke Roy, seakan minta bala bantuan. Tapi keduanya justru berpaling pura-pura sibuk.
Akhirnya, setelah beberapa detik keheningan, Levin menghela napas panjang.
“Oke… aku ngaku. Dua hari ini aku… overthinking. Aku lihat kamu sering bareng Dave, terus… aku kebawa cemburu.”
Jingga terdiam, menunggu kelanjutannya.
Levin menunduk, suaranya lirih tapi jelas.
“Aku tahu itu nggak masuk akal, tapi tiap kali dengar nama Dave, pikiranku ke mana-mana. Aku cemburu sampai hilang akal. Bahkan… aku sempat nyuruh Roy sama Arin ngawasin kamu.”
Arin langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, akhirnya tawa kecil lolos juga.
“Astaga, Tuan Levin… gila sih ini. Saya sampai susah payah pura-pura normal di depan Jingga!”
Roy menambahkan dengan nada pasrah,
“Dan saya harus jadi kaki tangan cemburuannya setiap hari. Sungguh menyiksa, tapi ya… apa boleh buat.”
Jingga menghela napas panjang, antara kesal, geli, dan terharu. “Levin… Levin… kamu ini ya, bener-bener bikin aku campur aduk.”
Levin buru-buru meraih tangan Jingga, menatap penuh penyesalan.
“Aku janji bakal belajar buat percaya. Tapi satu hal yang pasti… aku terlalu sayang sama kamu, sampai kadang nggak bisa berpikir jernih.”
Arin langsung berdehem keras-keras, “Duh… duh… romantis banget. Tapi jujur, seru sih lihat Tuan Levin panik begini.”
Roy hanya menepuk jidatnya, tapi bibirnya terangkat menahan senyum.
Setelah Levin mengaku dengan wajah penuh rasa bersalah, suasana sempat hening beberapa detik. Jingga hanya menghela napas panjang sambil melipat tangan di dada, tatapannya masih menusuk.
Arin, yang dari tadi menutup mulut menahan tawa, akhirnya sudah tidak kuat lagi.
“HAHAHAHA! Astagaaa, Tuan Levin!” Arin terbahak keras sampai-sampai menarik perhatian beberapa pengunjung café.
“Maaf banget, aku udah nggak tahan dari tadi lihat ekspresi Anda… muka seriusnya kayak mau perang, tapi ternyata isinya cuma cemburu sama Dave!”
Roy yang biasanya tenang ikut tersenyum, lalu tawa kecilnya pecah juga.
“Hahaha… iya, maaf Tuan. Tapi jujur, ini momen langka. Saya baru pertama kali lihat Anda panik kayak orang kehilangan arah. Dan wibawa anda hilang sejenak tuan.”
Levin langsung menunduk, wajahnya memerah, tangannya otomatis mengusap tengkuk. “Astaga… kalian kompak banget ya ngetawain aku.”
Arin masih sambil ketawa sampai keluar air mata, menambahkan,
“Kalau boleh jujur, saya sampe hampir sakit perut nahan tawa waktu tadi Tuan berlari dengan penuh emosi, dan berubah ekspresi ketika melihat Dave ternyata bersama istrinya . Mampus banget ekspresinya.”
Roy hanya menepuk jidat sambil terkekeh,
Levin memelas, menatap Jingga yang kini mulai tersenyum geli melihat tingkahnya.
“Sayang… kamu lihat sendiri kan, mereka nggak ada yang di pihakku.…” ucapnya dengan suara hampir manja.
Jingga menahan tawa, tapi akhirnya tidak bisa lagi. Tawanya ikut pecah, membuat suasana yang tadinya tegang berubah jadi hangat penuh gelak tawa.
“Hahaha… Levin… Levin… kamu ini bener-bener. Dari tadi aku tahan biar nggak ketawa, tapi ekspresi kamu emang priceless!”
Levin akhirnya hanya bisa memendam rasa malu sekaligus lega karena akhirnya mereka semua tertawa bersama. Ia lalu bergumam lirih,
“Yaudah tertawa lah sepuasnya. Yang penting kamu tahu satu hal, Ji… aku cuma terlalu sayang sama kamu.”
Jingga tersenyum lembut, menatapnya dengan tatapan penuh arti.
“Iya, aku tahu. Tapi mulai sekarang… belajar percaya sama aku, ya? Biar nggak bikin heboh lagi.”
Arin dan Roy kembali saling pandang, lalu ketawa kecil serempak, seakan sepakat: drama Tuan Levin ini bakal jadi bahan bercandaan mereka seumur hidup.
Malam itu, mereka akhirnya keluar dari café setelah suasana mencair. Udara kota B terasa hangat, namun suasana di antara mereka terasa lebih hangat lagi karena masih terbawa tawa tadi.
Arin berjalan di depan bersama Roy, sementara Jingga dan Levin sedikit di belakang. Tapi tetap saja, godaan dari Arin tak berhenti.
“Ji, Vin… hahaha, sumpah ya, aku nggak akan pernah lupa ekspresi Tuan Levin tadi pas dobrak pintu. Itu kayak adegan film action yang gagal total.” Arin menepuk pundaknya sendiri sambil ngakak.
Roy, yang biasanya kalem, kali ini ikut mengangguk. “Betul. Saya sampai kasihan sama pintu tadi, Rin. Dibuka pakai tenaga penuh, tapi ternyata salah sasaran. Hahaha.”
Levin memutar bola matanya sambil mendengus. “Kalian ini keterlaluan banget. Aku kan serius tadi…”
Arin langsung menimpali cepat, “Nah itu dia masalahnya, Tuan! Muka seriusnya kayak James Bond, tapi isi kepalanya cuma: ‘Jangan deket-deket istriku, Dave!’”
Roy menahan senyum tapi gagal juga, tawanya pecah. “Hahaha… aduh, ampun Tuan. Saya nggak tahan.”
Jingga di samping Levin menutup mulutnya, tapi tawanya tetap bocor. “Hahaha… maaf, Vin. Tapi jujur, kamu lucu banget tadi.”
Levin langsung menatapnya dengan wajah memelas, hampir seperti anak kecil yang ngambek. “Sayang, kamu juga ikut-ikutan? Aku kan cuma khawatir…”
Jingga meraih tangannya dan menggenggam erat. “Aku tahu kok… makanya aku bilang, mulai sekarang coba percaya sama aku. Jangan bikin drama yang bikin kamu malu sendiri di depan orang banyak lagi, ya.”
Tawa pun kembali pecah di sepanjang jalan menuju hotel. Levin hanya bisa geleng-geleng kepala, tapi di dalam hatinya ia merasa lebih ringan. Karena di balik semua olok-olok itu, ada rasa hangat: mereka semua peduli, dan yang terpenting, Jingga tetap di sisinya.