NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:991
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

Bab 35: Bayangan Sang Pencipta, Penjelajahan Konsepsi Sihir, dan Bisikan Kebijaksanaan dari Takdir yang Terkelupas

​Satu bulan masa penundaan pertandingan final Koloseum Aethelgard diisi oleh tempaan latihan yang teramat sangat keras, sunyi, dan penuh dengan cucuran keringat. Di pelataran luas Istana Gunung Seribu Kabut yang dilapisi oleh salju kristal es purba, gema dentangan pedang dan letupan energi sihir tak pernah berhenti bersahut-sahutan dari terbitnya fajar hingga rembulan naik ke puncak langit.

​William berdiri tegak di tengah medan latihan, memegang pedang Pandora’s Eclipse yang memancarkan aura ungu-perak keemasan. Di depannya, sejauh sepuluh langkah, Nona Kitsune berdiri dengan sangat anggun. Ketujuh ekor perak Kitsune mengembang riak di udara, memancarkan aura Ranah Mythic Tingkat ke-13 yang begitu masif dan memikat secara bersamaan.

​"Ingat, William..." ujar Kitsune dengan suara merdu yang dipenuhi nada mengajar yang tegas. "Seorang Archmage tidak bertarung hanya dengan refleks fisik. Mereka memanipulasi kerapatan ruang dan memprediksi aliran mana di sekitar musuh. Jangan pernah bertarung menggunakan mata telanjangmu!"

​"Datanglah, Kitsune!" seru William dengan semangat membara yang menyala-nyala di sepasang mata kelabunya. BISA bertarung dan berduel langsung dengan sosok eksistensi tingkat Mythic adalah kesempatan teramat langka yang hanya bisa diimpikan oleh jutaan penyihir di seluruh benua!

​SWOOSH!

​William mengaktifkan Wujud Iblis Parsial—dua tanduk hitam kecil tumbuh di dahinya, dan empat sayap iblis mengepak cepat mendorong tubuhnya melesat bagaikan kilat melengkung! Dalam sekejap mata, William telah berada di samping Kitsune, mengayunkan tebasan melingkar yang mengincar bahu Kitsune!

​Namun, gerakan cepat William seolah berjalan dalam gerak lambat bagi sang Dewi Rubah. Tanpa menggeser telapak kakinya sedikit pun dari atas salju, Kitsune hanya memiringkan kepala dan mengibaskan salah satu ujung ekor peraknya dengan gerakan yang teramat sangat halus.

​BANG—!

​Kibasan ekor perak itu menghantam dada William dengan telak, melemparkan tubuh tegap pria itu melintasi udara hingga membentur dinding es pelataran dengan amat keras!

​BOOM!

​"William!" jerit Kitsune seketika, raut wajah mengajarnya yang tegas berubah drastis menjadi kepanikan dan kekhawatiran yang luar biasa! Kitsune berlari-lari kecil ke arah runtuhan batu es, matanya berkaca-kaca. "Maafkan aku! Aku tidak sengaja menggunakan terlalu banyak energi perak! Apakah kau terluka parah?!"

​Namun, dari balik debu es yang membumbung, William bangkit berdiri. Ia mengusap bercak darah tipis di sudut bibirnya, menyunggingkan senyuman tegar yang begitu tampan, lalu merapikan posisi pedangnya.

​"Aku baik-baik saja, Kitsune..." kekeh William dengan napas terengah-engah namun matanya bersinar penuh gairah bertarung. "Luka kecil seperti ini tidak ada artinya. Mari kita lanjutkan!"

​Kitsune mendesah gemas, menggelengkan kepalanya seraya tersenyum pasrah melihat watak keras kepala suaminya. "Kau benar-benar tidak pernah kapik, William..."

​Duel demi duel berlanjut selama berhari-hari. William dicambuk oleh kenyataan pahit bahwa meskipun ia telah mengeluarkan seluruh kombinasi energi Demon Heart, Darah Rubah, dan teknik pedang terbaiknya... kenyataannya William tidak pernah bisa menyentuh sehelai rambut pun dari kepala Kitsune! Perbedaan tingkat kekuatan murni di antara mereka bagaikan jurang takdir yang tak bertepi.

​Seusai sesi latihan sore yang menguras seluruh pasokan mana William, mereka bertiga duduk di gazebo kayu Istana. Hephaestus yang memegang cawan anggurnya menatap William yang sedang mengompres bahunya dengan es murni.

​"Latihan fisik dan sihirmu mengalami kemajuan yang fantastis, William," puji Hephaestus seraya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan jemari raksasanya. "Tapi, kau harus memahami sifat asli dari lawanmu di babak final nanti—Valerius sang Pemotong Langit."

​William menoleh, mendengarkan dengan penuh perhatian. "Apa yang membuat Valerius begitu berbahaya dibanding Vorgath, Hephaestus?"

​"Karena Valerius adalah putra kandung dari Dewa Perang Panteon Utara," jawab Hephaestus dengan raut wajah yang berubah menjadi sangat serius. "Dia mewarisi bakat purba terlarang dari darah ayahnya, yaitu Hukum Adaptasi Absolut (Absolute Adaptation Law)."

​Kitsune mengangguk membenarkan. "Hukum Adaptasi adalah kekuatan yang teramat sangat curang. Jika kau memukulkan tebasan elemen api padanya, fisiknya akan secara otomatis membentuk kekebalan elemen api dalam hitungan detik. Jika kau menggunakan tebasan pedang cepat, refleks bertarungnya akan beradaptasi untuk membaca pola pedangmu hingga ia bisa menangkap bilah pedangmu hanya dengan dua jari."

​Hephaestus menunjuk William dengan tegas. "Kunci untuk mengalahkan Valerius adalah: Jangan pernah membiarkannya beradaptasi! Kau harus mengalahkannya dalam satu serangan kejutan yang begitu masif dan tak terduga sebelum struktur jiwanya sempat membaca jenis energimu!"

​Kata-kata dari Hephaestus dan Kitsune membekas sangat dalam di dalam benak William.

​Malam harinya, kamar utama Istana Gunung Seribu Kabut kembali diselimuti oleh kehangatan dan keheningan yang syahdu. Usai melewati gelombang gairah penyatuan jiwa yang intensif dan melelahkan, Kitsune telah tertidur lelap di atas kasur kapuk yang empuk. Sang Dewi Rubah tertidur tanpa sehelai kain pun yang menutupi tubuh mulusnya, hanya diselimuti oleh kain wol tebal hingga sebatas dada. Wajah cantiknya memancarkan kedamaian yang sempurna, dan ketujuh ekor peraknya melingkupi tubuh William dengan lembut.

​Namun, William masih terjaga.

​Ia berbaring terlentang di samping Kitsune, menatap langit-langit kamar yang temaram. Otaknya berputar liar tanpa henti.

​'Bagaimana caranya seorang High Mage sepertiku bisa menghancurkan seorang Archmage Tingkat Puncak yang memiliki Hukum Adaptasi dalam satu serangan kejutan...?' batin William frustrasi. Perbedaan ranah kekuatan ini terasa bagaikan gunung raksasa yang menindih dadanya.

​Setelah berjam-jam tenggelam dalam pusaran pemikiran yang rumit, rasa lelah fisik akhirnya memaksa kelopak mata William terpejam. William menarik selimut, merengkuh pinggang hangat Kitsune, dan tenggelam ke dalam tidur yang lelap.

​Mata William terbuka kembali... namun ia tidak lagi berada di kamar tidurnya yang hangat.

​William mendapati dirinya berdiri di tengah ruang hampa tak bertepi yang melayang di atas pilar-pilar galaksi dan ribuan rasi bintang yang menari perlahan. Di hadapannya, duduk di atas singgasana batu kuno yang diukir oleh rune-rune purba, berdiri sesosok pria tua berjanggut perak panjang.

​Pria itu mengenakan jubah kelabu keemasan yang memancarkan pendar kebijaksanaan, pengetahuan tak terbatas, dan aura sihir terlarang yang begitu agung hingga sanggup meremukkan jiwa mortal! Dan hal yang paling menjadi ciri khas utama dari eksistensi agung di hadapannya ini adalah penutup mata kulit berwarna hitam yang menutupi mata kirinya!

​William seketika terbelalak! Kesadaran dan pengetahuan sejarah purbanya langsung menyambungkan identitas sosok raksasa ini!

​"Kau..." bisik William seraya menarik napas dalam-dalam. "...Dewa Odin! All-Father God dari Panteon Asgard!"

​William seketika memposisikan fisiknya dalam mode siaga penuh. Matanya memancarkan permusuhan yang teramat pekat, sebab ia tahu betul bahwa para dewa panteon adalah kelompok yang berburu dan membantai Ras Rubah Ekor Sembilan selama ribuan tahun!

​"Apa maksudmu masuk ke dalam alam bawah sadarku, Orang Tua?!" cerca William dingin dan penuh ketegangan. "Apakah kau datang untuk menagih nyawa Kitsune?!"

​Odin yang memegang tongkat gungnir-nya menatap William dengan mata kanannya yang memancarkan pendar emas kebijaksanaan abadi. Suara Odin bergema pelan namun menggetarkan pilar-pilar galaksi di sekitar mereka.

​"Tenangkan jiwamu, Anak Muda..." ujar Odin lembut dengan nada suara yang teramat sangat tenang. "Aku tidak datang untuk rubah ekor sembilan itu."

​William mendengus benci, tidak percaya sedikit pun. "Bohong! Kau pasti bohong, Orang Tua! Seluruh dewa Panteon adalah pembantai rakus yang menginginkan darah dan ekor Kitsune!"

​Odin menghela napas panjang, menggetarkan pilar-pilar rasi bintang di sekeliling mereka.

​"Dengarkan aku baik-baik, William Pendragon..." kata Odin dengan nada suara yang penuh akan kebenaran mutlak. "Saat tragedi pembantaian Ras Rubah Ekor Sembilan terjadi ribuan tahun lalu... sosok dewa yang memimpin dan memprakarsai pembantaian jahat itu adalah Zeus dari Panteon Olympus. Dan aku... aku sama sekali tidak pernah ikut terlibat dalam pembantaian keji tersebut."

​William tertegun, mendengarkan ucapan Odin.

​"Mengapa aku tidak ikut?" lanjut Odin seraya memandang ke kedalaman samudera bintang. "Kuasaku ditopang oleh Mata Pengetahuan dan Kebijaksanaan Absolut. Melalui penglihatan gaibku, aku tahu pasti... jika aku dan Panteon Asgard ikut campur dalam pembantaian ras suci tersebut, benang takdir akan terikat kencang dan aku akan menjadi salah satu dari sekian banyak dewa yang mempercepat kehancuran Multiverse ini! Oleh karena itu, aku membekukan seluruh dewa dan dewi Panteon Asgard, melarang keras satu pun dari mereka untuk menyentuh klan rubah."

​William terdiam sejenak, mengendurkan ketegangan fisiknya namun tetap menatap Odin dengan curiga. "Jika kau tidak mengincar Kitsune... lalu apa maksudmu mendatangi alam bawah sadarku, Odin?"

​Odin menatap William dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa takjub dan kedalaman takdir.

​"Aku datang... karena aku mendapatkan penglihatan takdir (Vision of Fate)... bahwa kau, William, adalah Orang yang Ditakdirkan (The Chosen Existence)."

​Mendengar frasa Orang yang Ditakdirkan untuk kesekian kalinya, rasa kesal seketika meledak di dada William!

​"Orang yang ditakdirkan apa?!" teriak William gusar. "Aku sudah muak mendengar frasa konyol itu! Dewi Rubah Purba pernah mengatakan hal yang sama padaku, tapi saat kutanya apa maksudnya, tidak ada satu pun dari kalian yang mau memberitahu maksud sebenarnya! Berhenti bercakap dengan nada teka-teki, Orang Tua!"

​Odin tersenyum tipis, tidak marah sedikit pun atas kelakuan kasar William. Odin melangkah turun dari singgasananya, mengikis jarak hingga berdiri tepat di depan William.

​"Dirimu yang sekarang... dengan kapasitas jiwa dan Ranah High Mage-mu yang sekarang... tidak akan pernah sanggup menahan beban dari melihat Takdir Murnimu sendiri, Nak..." bisik Odin pelan. "Jika kukatakan sekarang, jiwamu akan langsung hancur terpecah oleh paradoks pemikiran kosmik."

​"Lalu untuk apa kau datang padaku jika kau tidak mau memberitahuku?!" cerca William lagi.

​Odin meletakkan telapak tangannya yang hangat di atas bahu William.

​"Aku datang... karena di dalam suratan takdir baru yang kau ukir... aku telah ditakdirkan untuk menjadi Penasihat Agungmu (Your Cosmic Advisor), William."

​William terbelalak, menatap dewa tertinggi Panteon Asgard itu dengan raut wajah tak percaya. "Apa...? Seorang Dewa Agung... menjadi penasihat seorang manusia biasa sepertiku?!"

​"Aneh, bukan?" kekeh Odin pelan. "Seorang dewa yang dipuja oleh jutaan benua kini menundukkan kepalanya menjadi penasihat seorang manusia. Namun ketahuilah, Nak... ribuan alam semesta, dimensi, dan panteon dewa yang kau ketahui saat ini... hanyalah bagian yang teramat sangat kecil dari sesuatu yang jauh lebih raksasa, jauh lebih rumit, dan jauh lebih mengerikan di luar sana."

​Odin mengangkat tangannya, memancarkan gambaran hirarki kekuatan kosmik di udara hampa.

​"Kau mengenal Ranah Kekuatan Mortals, High Mage, Archmage, Mythic, hingga Ranah ke-18 yaitu Supreme Being yang diduduki oleh Kaisar Iblis Lucifer dan Pimpinan Dewa, bukan?" tanya Odin.

​William mengangguk.

​"Ketahuilah, William..." jelas Odin dengan pandangan mata yang teramat dalam, "Ranah Supreme Being (Ranah ke-18) bukanlah puncak akhir dari eksistensi alam semesta! Di atas Ranah Supreme Being, terdapat ranah-ranah terlarang yang melampaui konsep realitas dan waktu!"

​Odin menunjuk titik-titik pendar cahaya abadi di atas galaksi:

​Half Transcendental (Ranah ke-19): Eksistensi yang telah melepaskan wujud fisik dan jiwa mortal, menjadi satu dengan hukum dasar penciptaan realitas.

​Transcendental (Ranah ke-20): Eksistensi yang berada di luar hukum sebab-akibat (Causality Law), sanggup menciptakan atau menghancurkan ribuan Multiverse hanya dengan sebuah pemikiran.

​Supreme Transcendental (Ranah ke-21—Puncak Segala Eksistensi): Tingkatan absolut tak terhingga yang menjadi asal-usul dari seluruh dimensi, ruang, waktu, dan konsep kehidupan itu sendiri!

​William berdiri membeku, pikirannya berguncang hebat mendengar penjelasan hirarki kekuatan kosmik yang begitu raksasa dan rumit! Dunia yang selama ini ia pijak terasa bagaikan sebuah butiran debu kecil di tengah samudra tak bertepi!

​"Lalu... bagaimana cara kita menghadapi musuh-musuh dari ranah itu di masa depan?" tanya William parau.

​"Itulah tugas kita bersama, Nak," ujar Odin hangat.

​"Jika begitu... bagaimana caraku menghubungimu jika aku membutuhkan petunjuk atau nasihatmu di dunia nyata, Odin?" tanya William memastikan.

​Odin tersenyum menyunggingkan kebijaksanaan abadi. "Aku akan menyertai jiwamu melalui Telepati Jiwa Abadi (Eternal Telepathic Bond). Kau cukup memanggil namaku di dalam hatimu, dan suaraku akan bergema di dalam pikiranmu. Dan ingat... persekutuan ini adalah rahasia di antara kita berdua saja. Jangan pernah memberitahukannya pada siapa pun—bahkan pada Kitsune atau Hephaestus."

​"Aku mengerti," tegas William.

​"Sekarang... bangunlah, William Pendragon," bisik Odin seraya mendorong dada William dengan lembut. "Final Koloseum Aethelgard dan takdir mahakaryamu telah menantimu!"

​FLASH!

​"Ugh...!"

​William tersentak kaget, kelopak matanya terbuka lebar!

​Sinar keemasan matahari pagi yang hangat menerobos masuk melintasi jendela kamar utama Istana Gunung Seribu Kabut.

​William bernapas terengah-engah, peluh dingin membasahi dahinya. Ia dengan cepat menoleh ke samping kanan tempat tidurnya.

​Di sampingnya, Nona Kitsune masih tertidur lelap dengan teramat sangat damai. Tubuh moleknya yang tanpa sehelai kain tertutup rapi oleh selimut wol, dan ketujuh ekor peraknya masih memeluk pinggang William dengan penuh kehangatan protektif.

​William menarik napas panjang, mengusap wajah tampannya seraya tersenyum lega. Di dalam benaknya yang dalam, sebuah gema suara kebijaksanaan tua bergema pelan namun sangat jelas:

​(’Selamat pagi, William... Mari kita menaklukkan Valerius dan takdirmu hari ini.’)

​William menyunggingkan senyuman tipis yang dipenuhi keyakinan absolut. Dengan bimbingan rahasia dari Dewa Odin, kehangatan cinta Kitsune, serta penempaan dari Hephaestus, William kini siap melangkah menuju panggung puncak pertarungan final Koloseum Aethelgard!

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!