Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. Permainan Kata Sang Ratu
Suasana di dalam restoran privat itu seketika mendingin. Pertanyaan retoris yang dilontarkan Victoria menggantung di udara, memutus alur tangisan Helena dalam sekejap. Seluruh pasang mata di meja makan kini tertuju pada benda hitam kecil di tangan Victoria, sebuah gawai pelacak frekuensi yang layarnya berkedip merentangkan ritme yang teratur.
Helena membeku selama beberapa detik. Tatapannya terkunci pada gawai tersebut, napasnya tertahan di tenggorokan. Namun, dengan cepat ia menguasai diri dan memasang wajah penuh keyakinan. Ia menatap Dominic dan Kakek Silas dengan mata berkaca-kaca, mencoba merebut kembali simpati yang mulai goyah dari seisi ruangan.
"Aku tidak berbohong, Dominic! Kakek Silas, aku berani bersumpah demi apa pun!" ucap Helena, suaranya bergetar sarat penegasan yang dramatis. "Ponsel itu memang sudah hilang! Sinyal itu pasti rekayasa digital Clarissa untuk menjatuhkanku!"
Mendengar sumpah serapah Helena yang menggebu-gebu, Victoria tidak melangkah lebih jauh untuk menyerang. Sebaliknya, ia justru menghentikan intimidasinya. Jiwa Ratu-nya tahu betul bahwa menyiksa musuh tidak selalu harus dengan pukulan telak yang merobohkan lawan seketika, melainkan dengan memainkan ketakutan serta menggoyahkan kewarasan mereka perlahan-lahan.
Secara tidak terduga, Victoria melepaskan tawa rendah yang sangat merdu—sebuah tawa santai yang mendadak mencairkan ketegangan dramatis di ruangan tersebut, mengubah atmosfer dari medan eksekusi menjadi panggung pertunjukan yang ironis.
"Aaah... ternyata aku salah, Helena," ucap Victoria ringan, santai seperti tanpa beban seolah tuduhan berat tadi hanyalah seloroh tanpa arti.
Ia mendesah pelan lalu mematikan gawai di tangannya, memasukkannya ke dalam tas kecilnya dengan gestur yang teramat anggun. Ia bersedekap, menatap Helena yang masih berlutut di lantai dengan sudut bibir terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan dominasi mutlak.
"Aku lupa kalau alat pelacak ini belum di-kalibrasi ulang sejak kemarin," lanjut Victoria dengan nada jenaka yang tenang.
"Sinyalnya mungkin cuma memantul dari pemancar di luar. Ponselmu kan memang hilang, bukan?"
Helena tersentak, matanya menyipit bingung. Reaksi Clarissa yang tiba-tiba melunak dan mengalah justru membuatnya makin waspada. Ketenangan dingin itu terasa jauh lebih mengancam ketimbang ledakan emosi.
"Apa... apa maksudmu, Clarissa?" desis Helena pelan.
"Tidak ada apa-apa," jawab Victoria santai. Ia melangkah mendekati Helena, mencondongkan tubuhnya sedikit dan berbisik dengan suara yang sangat pelan namun tajam, persis di dekat telinga wanita itu.
"Jangan terlalu takut, Helena..." bisik Victoria, matanya berkilat penuh kemenangan. "...ini baru permulaan. Aku hanya ingin melihat seberapa jauh kau bisa berakting di depan keluarga ini."
Wajah Helena seketika memucat mendengar bisikan itu. Permainan tarik ulur Clarissa jauh lebih menyiksa mentalnya daripada sebuah tuduhan langsung di depan publik. Rasa curiga dan ketakutan kini tertanam sempurna di dalam benaknya.
Victoria berdiri tegak kembali, memutar badannya dan berjalan anggun menuju kursi kosong di sebelah Dominic. Tanpa memedulikan tatapan heran dari para kerabat maupun Dominic yang masih mencerna sikapnya, Victoria menarik kursinya dengan tenang.
"Kakek Silas," panggil Victoria lembut namun berwibawa, menatap sang patriark yang duduk di ujung meja. "Makanan di meja sudah mulai dingin. Bukankah sebaiknya kita melanjutkan makan malam keluarga ini? Kasihan Helena, dia sudah lelah menangis."
Kakek Silas memandang Clarissa dengan tatapan dalam yang sulit diartikan, mengamati ketenangan luar biasa yang dimiliki cucu menantunya itu, lalu mengangguk perlahan. "Benar. Pelayan, rapikan tempat ini dan hidangkan hidangan utamanya."
Helena berdiri perlahan dengan wajah menahan malu dan amarah yang tertahan. Saat ia duduk di kursinya, matanya tak lepas menatap Victoria yang sedang mengusap jemarinya dengan serbet kain dengan sangat elegan.
Di bawah meja, Victoria menyeruput minumannya pelan. Ia tahu malam ini Helena selamat dari kebohongannya, tapi mental wanita itu sudah hancur perlahan oleh permainan psikologis yang baru saja dimulai.
sangat menarik sekali