NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Di tepi sungai itu, Evren berdiri dengan tangan berkacak pinggang menatap pemuda pirang itu. Sedangkan Xavier duduk di atas sebuah batu besar di samping Evren.

Pemuda itu duduk bersila di atas tanah dengan jarinya yang terus membuat gambar abstrak dengan sesekali melirik ke arah Evren dan Xavier.

“Siapa namamu?”

“...”

Sudah tiga kali Evren bertanya, namun tidak ada jawaban sama sekali. Bahkan suaranya saja tidak terdengar sedikitpun.

“darimana asalmu?”

“...”

Pertanyaannya kembali tidak dijawab, hanya desiran angin dan gemericik air yang menyahutinya.

Xavier dari atas batu terus melihat interaksi keduanya. Lalu ia berdiri dan melompat turun, berjalan ke arah ikan bakar yang belum tersentuh sama sekali. Mengambilnya lalu mendekati pemuda itu, berjongkok di hadapannya dan memberikan ikan bakar itu kepadanya. Dengan secepat kilat, ia langsung mengambil dan mulai melahapnya.

“berapa tahun kamu tidak makan?” tanya Xavier saat melihatnya yang begitu lahap.

Xavier berdiri dan mendekati Evren lalu berbisik, “mungkin dia bisu.”

Evren tidak menyahut ucapan Xavier. Ia hanya menghela nafas lalu kembali ke tempat ia membakar ikan tadi. Membereskan barang-barangnya kemudian memanggil Xavier untuk melanjutkan perjalanan.

“Xavier, sudah cukup istirahatnya, ayo.”

“AYO!” serunya lalu berlari kecil ke arah Evren.

Mereka berdua berjalan menjauh meninggalkan pemuda itu seorang diri.

Pemuda berambut pirang itu hanya menatapnya sambil menghabiskan ikan di tangannya. Setelah selesai, ia mengumpulkan bebatuan kecil dan menyusunnya. Terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang bermain batu dan tanah liat di tepi sungai. Setelah bebatuan itu tersusun membentuk sebuah lingkaran dan pola di dalamnya, pemuda itu berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.

Evren berjalan kaki menyusuri sungai dengan menuntun kudanya. Di sampingnya ada Xavier yang berjalan santai sambil bersiul. Lalu disampingnya lagi ada pemuda berjubah ungu dengan wajah yang hampir tertutup seluruhnya oleh tudung jubahnya. Sontak saja Evren langsung menghentikan langkahnya lalu menatap pemuda asing itu. Begitu juga dengan Xavier yang menatapnya keheranan.

“kenapa kamu mengikuti kami?” tanya Evren dengan penuh kebingungan.

Sedangkan yang ditanya hanya menatapnya sambil mengedipkan mata beberapa kali. Evren menepuk jidatnya lalu menatap Xavier yang terlihat tidak peduli dengan keberadaan pemuda itu. Ia menghela nafas lalu kembali melanjutkan perjalanannya. Tidak ada gunanya ribut dengan mereka berdua di tempat ini. Apalagi mereka sudah berhenti terlalu lama dan kelompok pembunuh di belakang mereka bisa sampai di tempat ini kapan saja.

Mereka sudah menyusuri sungai cukup jauh namun masih tidak menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk menyeberangi sungai. Evren berhenti lalu menatap air sungai yang cukup dalam dan deras. Ia harus menemukan cara agar bisa menyebrangi sungai ini.

DUAR!

Evren dan Xavier langsung menoleh ke arah suara ledakan yang tiba-tiba terdengar dari arah mereka beristirahat tadi. Burung-burung terlihat berterbangan menjauh dari sumber ledakan tersebut.

Evren menatap dengan penuh waspada lalu ia menatap dua pemuda di sampingnya. Jika prediksinya benar, mungkin saja itu kelompok pembunuh yang mengejarnya. Sekarang ada dua orang yang harus ia lindungi, dan itu cukup berat untuknya.

“Ayo!” Seru Evren memerintahkan keduanya untuk terus bergerak.

Namun pemuda pirang itu tidak bergerak dari tempatnya dan hanya diam menatap aliran sungai. Cahaya kuning berpendar sepersekian detik dari tubuhnya tanpa sempat disadari oleh Evren dan Xavier.

Evren menoleh ke belakang dan melihat pemuda itu yang hanya berdiri menatap sungai.

“kalau tidak mau mati di sini, ayo segera bergerak jangan diam saja!” serunya namun tidak juga digubris olehnya.

Tiba-tiba terdengar suara Xavier berteriak sambil menunjuk ke arah sungai.

“Lihat itu!”

Evren mengikuti arah yang ditunjuk oleh Xavier dan ia pun ikut terkejut. Matanya melotot hampir keluar dari tempatnya. Ia sesekali mengucek matanya tidak percaya dengan fenomena alam yang ia lihat saat ini.

Aliran air mulai melambat.

Seolah ada batu besar yang menutup aliran air sungai hingga sisi di bawahnya semakin surut.

“WAHHH!” Xavier tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.

“menyeberanglah!”

Xavier dan Evren menoleh secara bersamaan ke arah pemuda yang masih berada di posisi yang sama sejak tadi.

Suaranya sedikit berat namun terdengar halus di telinga, sangat cocok dengan wajah kecilnya yang tampan.

“KAMU TIDAK BISU?” Xavier berjalan mendekat sambil menunjuk ke arahnya.

Pemuda itu diam saja lalu menatap ke arah Evren yang juga sedang menatapnya. Hanya dari tatapan itu, Evren paham apa yang harus dilakukannya. Ia mengangguk samar lalu menuntun kudanya serta menarik kerah baju Xavier agar berjalan mengikutinya untuk menyeberangi sungai tersebut.

“EH EH EH, Jangan ditarik, aku bisa jalan sendiri!”

Evren melepas cengkeramannya dan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Begitu juga dengan Xavier yang mengikuti Evren namun sesekali ia melihat ke arah pemuda tadi. Di belakang mereka, pemuda itu masih berdiri tanpa bergerak.

Saat mereka berdua hampir sampai di seberang, kelompok pembunuh itu akhirnya terlihat. Evren menoleh ke belakang lalu menatap pemuda yang masih berdiri diam di tempat. Bahkan ia tetap tidak bergeming meskipun hujan panah ditembakkan ke arahnya. Namun anehnya, tidak ada satupun anak panah yang bisa mengenai tubuhnya.

Ia menoleh sekilas ke arah kelompok itu, kemudian mulai melangkah menyeberangi sungai. Dan setiap ia melangkah, seolah batu besar yang menghalangi aliran sungai juga ikut hilang satu persatu. Air kembali mengalir deras menutupi setiap jejak kaki pemuda itu. Hingga akhirnya ia sampai di seberang sungai bergabung kembali bersama dengan Evren dan Xavier. Sedangkan kelompok pembunuh itu hanya bisa menatapnya dengan penuh kebingungan.

“ternyata benar,” gumam Evren.

Xavier menoleh ke arah Evren saat mendengar ucapannya.

“apanya yang benar?” tanyanya dengan penuh rasa penasaran.

Evren mendekati pemuda itu lalu berdiri di hadapannya.

“kamu dari menara sihir?”

“...”

“aku kira kamu mencuri jubah milik orang lain, tapi ternyata itu asli milikmu.”

Pemuda itu menatap jubah yang masih melekat di tubuhnya lalu menatap Evren dengan wajah datar tanpa ekspresi. Kemudian ia berjongkok dan menyusun batu-batu kecil membentuk sebuah pola lingkaran sama seperti yang tadi ia buat di seberang sana.

“formasi sihir?” tanya Xavier saat ia melihatnya dari dekat.

Matanya berbinar saat lagi-lagi ia melihat sesuatu yang sebelumnya hanya bisa ia lihat di dalam buku. Setelah menyelesaikan formasi itu, pemuda itu berdiri lalu menatap Evren. Seolah-olah sedang mengatakan bahwa sekarang mereka sudah bisa pergi bersama, tentunya bertiga.

Evren menghela nafasnya lagi menghadapi pemuda itu lalu ia menuntun kudanya dan melanjutkan perjalanan. Setiap berapa ratus meter, pemuda itu pasti akan berhenti dan membuat berbagai formasi sihir. Dan dua pemuda lainnya pun ikut berhenti menunggu tanpa diminta.

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!