Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat rumah bukan lagi penjara
Pagi pertama di rumah mertua adalah momok bagi Alika. Ia terbangun dengan sentakan jantung yang berpacu kencang saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.30. Di rumah Ayahnya, bangun kesiangan adalah tiket gratis untuk mendapatkan makian panjang tentang betapa tidak bergunanya dia dibandingkan Alya.
Dengan rambut yang masih sedikit berantakan dan wajah panik, Alika terburu-buru keluar kamar. Ia bahkan lupa merapikan piyamanya dengan benar. Di kepalanya sudah terngiang suara pedas Ibu mertuanya yang pasti akan membanding-bandingkannya dengan menantu idaman.
Namun, pemandangan di ruang makan justru menghentikan langkahnya.
Ibu Farhan, Ummi Salamah, sedang tenang menata piring berisi nasi goreng hangat. Tidak ada raut wajah marah, tidak ada jam dinding yang ditunjuk-tunjuk dengan emosi.
"Eh, Alika sudah bangun?" Ummi tersenyum tulus, seolah bangun jam setengah delapan adalah hal yang sangat wajar. "Sini, Nak. Duduk. Kamu pasti capek sekali ya kemarin, acaranya sampai malam begitu."
Alika mematung di ambang pintu. "Maaf, Ummi... Alika kesiangan. Harusnya Alika bantu masak di dapur tadi subuh."
Ummi tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat kontras dengan nada bicara Ibunya yang selalu tinggi. "Masak apa? Ummi cuma goreng nasi sebentar. Lagipula, ini hari pertama kamu di sini. Farhan tadi bilang jangan dibangunkan, katanya kamu butuh istirahat."
Farhan muncul dari arah belakang dengan kaos santai, tangannya membawa dua gelas teh hangat. Ia melirik Alika yang masih tampak linglung, lalu menaruh gelas itu di meja.
"Sudah saya bilang, Ummi tidak akan memarahimu hanya karena urusan jam bangun tidur," bisik Farhan saat Alika mendekat ke meja makan.
"Tapi di rumah..." Alika menggantung kalimatnya, tenggorokannya mendadak sesak.
"Di sini bukan rumah Ayahmu, Alika," potong Farhan lembut. "Di sini, kamu tidak perlu berkompetisi dengan siapa pun untuk dianggap ada."
Ummi Salamah menarik kursi untuk Alika. "Makan yang banyak, ya. Ummi sengaja tidak pakai cabai banyak karena kata Farhan kamu tidak terlalu suka pedas."
Alika duduk dengan perasaan campur aduk. Sepiring nasi goreng itu terasa lebih berat dari biasanya—bukan karena porsinya, tapi karena perhatian kecil yang ia dapatkan. Ia menatap Farhan yang mulai makan dengan tenang di sampingnya. Pria ini tidak hanya membawanya pergi jauh secara fisik, tapi juga sedang memindahkan Alika ke sebuah dunia di mana ia tidak lagi dianggap sebagai "barang rusak".
"Terima kasih, Ummi," bisik Alika lirih.
"Sama-sama, Sayang. Oh iya, nanti setelah makan, kalau kamu mau jalan-jalan lihat bengkel Farhan atau mau belanja baju baru yang lebih tertutup tapi tetap gaya anak muda, bilang saja ya. Ummi temani atau biar Farhan yang antar," tambah Ummi dengan nada santai.
Alika melirik pakaiannya sendiri. Ia mulai merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ia tidak perlu memberontak lagi jika dunia memperlakukannya selembut ini.
Penerimaan yang hangat dari keluarga Farhan perlahan mulai meruntuhkan tembok pertahanan yang dibangun Alika selama bertahun-tahun. Namun, kedamaian itu terusik saat sebuah panggilan telepon masuk ke ponselnya siang itu.
Suara dari Rumah yang Dingin
Layar ponsel Alika berkedip, menampilkan nama "Alya". Ia ragu sejenak sebelum mengangkatnya, melirik Farhan yang sedang sibuk memeriksa laporan bengkel di meja ruang tamu.
"Halo, Al?" suara Alya terdengar parau, seperti seseorang yang baru saja habis menangis tapi dipaksa untuk tenang.
"Al? Kamu kenapa?" Alika menjauh ke arah balkon, perasaannya mendadak tidak enak.
"Tidak apa-apa. Aku cuma... merindukanmu. Di sini rumah terasa sangat luas tanpa kamu, Alika. Tapi juga sangat sesak." Alya menghela napas panjang. "Ayah masih sering marah. Tadi pagi dia membanting piring hanya karena masakan Ibu kurang garam, lalu dia mulai membanding-bandingkan lagi... dia bilang seharusnya aku yang ada di rumah Farhan sekarang, bukan kamu."
Alika mengepalkan tinjunya. Rasa bersalah itu kembali menghantamnya seperti ombak. Di sini ia diperlakukan seperti ratu, sementara kembarannya yang "sempurna" justru menjadi sasaran pelampiasan amarah Ayah karena rencana perjodohan yang bergeser.
"Harusnya kamu yang di sini, Al. Aku merasa seperti pencuri," bisik Alika getir.
"Jangan bicara begitu," potong Alya cepat. "Farhan memilihmu karena dia melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Kamu tahu? Semalam Ibu masuk ke kamarku, dia menangis. Dia bilang dia rindu padamu, tapi dia takut pada Ayah untuk mengakuinya."
Alika terdiam. Matanya memanas. Di balik semua makian dan pengasingan itu, ternyata masih ada secercah kasih sayang yang terbelenggu oleh ego Ayahnya.
"Alika?" suara Farhan tiba-tiba terdengar dari belakang.
Alika tersentak dan segera mematikan sambungan telepon. Ia menghapus sudut matanya dengan kasar, namun Farhan sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Ada apa? Alya menelpon?" tanya Farhan dengan nada yang tidak menghakimi, namun penuh perhatian.
Alika mengangguk lemah. "Dia... dia tidak baik-baik saja di sana. Ayah masih menyalahkannya karena kamu memilihku. Aku merasa jahat, Farhan. Aku bahagia di sini, sementara dia menderita karena kesalahanku."
Farhan terdiam sejenak, lalu ia melangkah mendekat, berdiri di samping Alika menatap jalanan dari balkon.
"Alika, dengar saya. Kamu tidak mencuri apa pun. Takdir tidak pernah tertukar, ia hanya sering kali datang melalui jalan yang berliku," Farhan menoleh, menatap mata Alika dengan dalam. "Kalau kamu merasa bersalah, maka jadilah istri yang baik. Buktikan pada Ayahmu bahwa pilihannya untuk membuangmu itu salah, dan pilihan saya untuk menjagamu itu benar."
Alika menatap Farhan, mencari kepastian di mata suaminya. "Bagaimana caranya? Aku bahkan tidak tahu cara menjadi istri yang benar. Aku tidak tahu cara sholat yang khusyuk, aku tidak tahu cara berpakaian yang pantas..."
"Kita belajar bersama," Farhan mengulurkan tangannya, telapak tangannya terbuka lebar menanti Alika. "Malam ini, maukah kamu memulainya dengan belajar mengaji bersama saya? Hanya kita berdua. Tanpa paksaan, tanpa makian."
Alika menatap tangan itu lama sekali. Ingatannya kembali pada malam di trotoar saat ia merasa dunianya runtuh, dan tangan inilah yang menangkapnya. Perlahan, Alika meletakkan tangannya di atas telapak tangan Farhan.
"Aku mau," bisik Alika.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Alika tidak keluyuran. Ia duduk di atas sajadah di samping Farhan, mengenakan mukena putih bersih pemberian Ummi. Suara Farhan yang lembut saat membimbingnya mengeja huruf demi huruf terasa seperti embun yang mendinginkan hatinya yang selama ini gersang.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...