Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: MIMPI YANG KEMBALI MEMANGGIL
Aroma masakan buatan Sari masih terasa memenuhi ruangan kecil di belakang ruko percetakan. Malam itu, tawa mereka terdengar lebih sering daripada biasanya. Setelah badai persoalan di kantor berhasil dilewati, wajah Sari kembali memancarkan keceriaan yang sempat hilang beberapa hari terakhir.
Rangga membantu membereskan piring-piring bekas makan ke wastafel.
"Sudah, biar aku saja yang cuci," ucapnya sambil mengambil spons.
Sari buru-buru menggeleng.
"Jangan. Masak aku yang bikin, kamu juga yang nyuci."
"Memangnya kenapa?"
"Nanti aku merasa enggak berguna."
Rangga tertawa pelan.
"Kalau begitu kita bagi tugas."
Sari mengangkat sebelah alisnya.
"Bagaimana?"
"Kamu cuci, aku bilas."
Sari terkekeh kecil.
"Baru kali ini ada pembagian kerja seperti itu."
"Namanya juga kerja sama."
Mereka pun berdiri berdampingan di depan wastafel sempit. Sesekali tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat memindahkan piring. Hal-hal sederhana seperti itu justru menghadirkan kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Di luar, hujan rintik-rintik kembali turun membasahi taman kecil di depan ruko. Mawar-mawar yang beberapa hari lalu mereka rawat tampak bergoyang pelan diterpa angin malam.
Hari-hari berikutnya berjalan tenang.
Ritme kehidupan kembali menemukan keseimbangannya.
Pagi hingga sore, Rangga sibuk melayani pelanggan yang datang silih berganti. Usaha percetakannya semakin dikenal dari mulut ke mulut. Bahkan beberapa perusahaan kecil mulai rutin mempercayakan kebutuhan cetak mereka kepada ruko milik Rangga.
Sementara itu, Sari juga mulai kembali menikmati pekerjaannya setelah persoalan di kantor mereda. Sesekali ia mengirim pesan singkat saat jam istirahat.
"Sudah makan?"
"Jangan lupa istirahat."
"Hari ini ramai pelanggan?"
Pesan-pesan sederhana itu selalu mampu membuat sudut bibir Rangga terangkat.
Ia mulai terbiasa menjalani hari dengan kehadiran seseorang yang diam-diam selalu memperhatikannya.
Namun, jauh di lubuk hatinya, kegelisahan itu belum benar-benar hilang.
Setiap kali suasana menjadi terlalu tenang, bayangan percakapannya dengan Ayah Sari kembali muncul.
"Wanita butuh kepastian."
Kalimat itu seperti gema yang tidak pernah benar-benar menghilang.
Rangga sering kali memandang taman kecil di depan rukonya saat sore menjelang. Mawar-mawar itu kini tumbuh semakin subur.
"Apa aku benar-benar mampu merawat bunga ini sampai akhir?" gumamnya pelan.
Pertanyaan itu tidak pernah berhasil ia jawab.
Suatu siang, ketika matahari sedang terik-teriknya, ruko percetakan dipenuhi pelanggan.
Printer bekerja tanpa henti.
Mesin laminasi mengeluarkan bunyi mendesis.
Telepon kantor beberapa kali berdering.
Rangga bahkan belum sempat menghabiskan segelas kopinya yang mulai dingin.
Saat sedang menyelesaikan desain sebuah brosur, ponsel pribadinya bergetar.
Nomor yang muncul tidak dikenalnya.
Rangga sempat ragu.
Biasanya nomor tak dikenal hanya menawarkan pinjaman online atau promosi kartu kredit.
Namun entah mengapa, kali ini ia memilih mengangkatnya.
"Selamat siang. Dengan Mas Rangga?"
"Iya, saya sendiri."
Suara di seberang terdengar tenang dan profesional.
"Perkenalkan, saya Dimas, dari PT Aruna Karya Nusantara."
Rangga mengernyit.
Nama perusahaan itu terdengar asing.
"Kami memperoleh rekomendasi usaha percetakan Anda dari salah satu rekan bisnis kami di Jakarta."
Rangga mulai menghentikan pekerjaannya.
"Begini, Mas Rangga. Kami sedang mempersiapkan proyek pembangunan kawasan terpadu di luar Pulau Jawa. Kami membutuhkan mitra yang mampu menangani seluruh kebutuhan publikasi dan material cetak proyek kami."
Jantung Rangga berdetak sedikit lebih cepat.
Tangannya tanpa sadar menggenggam ponsel lebih erat.
"Apakah Mas Rangga bersedia jika kami mengundang Anda untuk berdiskusi?"
Rangga terdiam beberapa detik.
Matanya perlahan menyapu seluruh isi rukonya.
Mesin-mesin yang dulu ia beli dengan susah payah.
Meja kasir.
Rak hasil cetakan.
Taman kecil di depan ruko...
Semua itu adalah hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun.
Namun...
Undangan yang baru saja datang melalui sambungan telepon itu terasa seperti sebuah pintu yang perlahan mulai terbuka.
Pintu menuju mimpi yang selama ini hanya berani ia bayangkan.
"Baik," jawab Rangga akhirnya.
"Saya bersedia."
Di seberang telepon terdengar nada lega.
"Kalau begitu, kami akan mengirimkan proposal awal melalui surel sore ini. Setelah Mas Rangga mempelajarinya, kita bisa menjadwalkan pertemuan."
"Baik. Saya tunggu."
Panggilan itu berakhir.
Rangga masih berdiri mematung.
Beberapa detik berlalu tanpa satu pun suara keluar dari bibirnya.
Ia menatap layar ponselnya yang kini kembali gelap.
Di balik wajahnya yang tetap tenang, sesuatu yang telah lama tertidur perlahan mulai terbangun kembali.
Mimpi.
Ambisi.
Dan panggilan untuk melangkah lebih jauh dari tempat yang selama ini menjadi rumahnya.
Sore itu, matahari mulai condong ke barat ketika sebuah notifikasi surat elektronik muncul di layar komputer Rangga.
Subjek: Proposal Kerja Sama – PT Aruna Karya Nusantara.
Jari Rangga berhenti di atas tetikus. Ia menarik napas pelan sebelum mengklik pesan tersebut.
Beberapa berkas digital langsung terbuka. Logo perusahaan terpampang rapi di halaman pertama, disusul uraian proyek yang membuat mata Rangga semakin serius membacanya.
Pembangunan kawasan terpadu.
Perumahan.
Pusat perdagangan.
Perkantoran.
Seluruh kebutuhan media promosi, papan informasi, spanduk proyek, hingga materi publikasi akan ditangani oleh satu mitra percetakan.
Di bagian paling akhir proposal, tercantum nilai kerja sama yang membuat Rangga terdiam cukup lama.
Nominal itu jauh melampaui omzet terbesar yang pernah diterimanya selama membuka usaha.
"Ya Allah..."
Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya.
Bukan karena tamak.
Melainkan karena ia tahu, kesempatan seperti ini mungkin hanya datang sekali dalam hidup.
Menjelang magrib, Sari datang seperti biasanya.
Ia membawa dua gelas es teh dan sekotak gorengan yang baru dibelinya di depan gang.
"Wah... hari ini sepi?"
Rangga yang masih menatap layar komputer menggeleng pelan.
"Bukan sepi."
"Lalu?"
"Ada sesuatu."
Nada suara Rangga membuat Sari ikut menjadi penasaran.
Ia meletakkan plastik gorengan di atas meja, lalu mendekat ke sisi Rangga.
"Apa?"
Tanpa banyak bicara, Rangga memutar layar monitor ke arah Sari.
Perempuan itu mulai membaca halaman demi halaman proposal tersebut.
Semakin lama, matanya semakin membesar.
"Mas..."
"Hm?"
"Ini... besar sekali."
"Iya."
"Kalau jadi..."
Rangga mengangguk perlahan.
"Percetakanku bisa naik kelas."
Sari kembali membaca beberapa bagian yang menjelaskan lokasi proyek.
Senyumnya perlahan memudar.
"Di luar Jawa..."
Rangga tidak menjawab.
Ruangan kecil itu tiba-tiba dipenuhi keheningan.
Suara kendaraan yang melintas di depan ruko terdengar samar, seolah berasal dari tempat yang sangat jauh.
Sari memejamkan mata sesaat.
"Kalau proyek ini berjalan..."
Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Rangga memahami maksud yang belum sempat diucapkan.
Proyek sebesar itu tidak mungkin diselesaikan hanya dari Jakarta.
Akan ada perjalanan panjang.
Ada waktu yang harus dikorbankan.
Bahkan mungkin... kepindahan sementara.
"Senang?"
Pertanyaan Sari akhirnya memecah keheningan.
Rangga tersenyum tipis.
"Kalau dibilang tidak, aku bohong."
"Ini memang impianmu, ya?"
"Iya."
Jawaban itu keluar tanpa ragu.
Sari mengangguk pelan.
Ia berusaha ikut tersenyum, meski ada sesuatu yang terasa mengganjal di dalam dadanya.
"Aku ikut bahagia."
Namun, senyum itu tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan kegelisahan yang mulai tumbuh.
Rangga menyadarinya.
Ia menutup laptop perlahan.
"Sar..."
"Hm?"
"Aku belum mengambil keputusan."
Sari menatapnya.
"Aku masih harus bertemu mereka. Masih banyak yang harus dipertimbangkan."
"Termasuk aku?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja.
Begitu selesai diucapkan, Sari sendiri tampak terkejut.
Ia buru-buru menggeleng.
"Maaf... aku enggak bermaksud menekanmu."
Rangga menghela napas pelan.
"Bukan begitu."
"Lalu?"
Rangga menatap taman kecil di depan ruko melalui pintu kaca.
Mawar-mawar itu bergoyang pelan diterpa angin sore.
"Kadang..."
Ia berhenti sejenak.
"...hidup membuat kita harus memilih dua hal yang sama-sama kita sayangi."
Sari mengikuti arah pandangnya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, ia melihat keraguan yang begitu jelas di mata Rangga.
Keraguan yang selama ini selalu berhasil disembunyikan di balik senyum tenangnya.
Sore berubah menjadi malam.
Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.
Setelah membantu membereskan meja kasir, Sari berpamitan pulang.
Di depan motor, ia mengenakan helm sambil menatap Rangga.
"Mas..."
"Iya?"
"Apa pun keputusanmu nanti..."
Ia tersenyum hangat.
"...jangan pernah menyesalinya."
Kalimat itu sederhana.
Namun, justru kalimat itulah yang terus terngiang di kepala Rangga bahkan setelah motor yang ditumpangi Sari menghilang di ujung jalan.
Ia berdiri sendirian di depan rukonya.
Tangannya masih menggenggam proposal kerja sama yang telah dicetak beberapa menit sebelumnya.
Di hadapannya, taman kecil itu tetap terlihat indah.
Bunga-bunga mawar masih mekar seperti biasa.
Tetapi entah mengapa...
Malam itu, Rangga merasa langit di atas kepalanya kembali memanggil.
Malam semakin larut.
Suara kendaraan di jalan raya mulai berkurang, berganti dengan desir angin yang sesekali menggoyangkan dedaunan di taman kecil depan ruko.
Lampu-lampu toko di sepanjang jalan satu per satu dipadamkan. Hanya ruko percetakan milik Rangga yang masih memancarkan cahaya dari lantai dua.
Di atas meja kerjanya tergeletak proposal kerja sama yang sejak tadi belum juga berpindah tempat.
Rangga membaca halaman demi halaman untuk kedua kalinya.
Semakin ia mempelajarinya, semakin jelas bahwa perusahaan itu bukan sekadar menawarkan proyek biasa.
Mereka menawarkan kesempatan.
Kesempatan untuk membawa usahanya melangkah jauh lebih besar.
Kesempatan yang dulu hanya berani ia impikan ketika masih menjadi pemuda desa yang datang ke Jakarta dengan tas lusuh dan keberanian seadanya.
Rangga menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Pandangannya kosong menembus jendela.
Di luar sana, langit Jakarta malam itu tidak banyak memperlihatkan bintang. Cahaya kota terlalu terang untuk membiarkan langit menunjukkan keindahannya.
Namun entah mengapa...
Di dalam benaknya, ia justru kembali melihat langit Desa Samudra.
Langit yang dulu selalu dipenuhi bintang.
Langit yang menjadi saksi ketika seorang anak desa berjanji kepada dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti ia akan mengubah nasib.
"Jangan takut bermimpi besar..." Nasihat ayahnya kembali terngiang di benaknya.
"Bermimpi itu gratis. Yang mahal adalah keberanian untuk mengejarnya."
Rangga memejamkan mata.
Sudah bertahun-tahun kalimat itu menjadi bahan bakar dalam setiap langkahnya.
Saat merantau.
Saat tidur di kontrakan sempit.
Saat usahanya hampir bangkrut.
Saat pelanggan pertama datang.
Sampai akhirnya berdiri di titik ini.
Namun kini...
Untuk pertama kalinya, mimpi besar itu justru terasa seperti pisau bermata dua.
Ponselnya kembali bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Sari.
"Sudah istirahat belum? Jangan begadang terus ya. Besok pasti tetap sibuk. Semangat."
Rangga membaca pesan itu sambil tersenyum kecil.
Ia membalas singkat.
"Belum. Masih baca proposal. Makasih sudah selalu mengingatkan."
Tidak sampai satu menit, balasan kembali masuk.
"Apa pun keputusanmu nanti, aku percaya kamu pasti memilih yang terbaik."
Rangga menatap layar ponselnya cukup lama.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi justru membuat dadanya terasa semakin sesak.
Sari tidak bertanya apakah ia akan pergi.
Tidak meminta janji.
Tidak memaksanya memilih.
Perempuan itu justru memberikan kebebasan.
Dan kebebasan itulah yang membuat keputusan ini terasa jauh lebih berat.
Menjelang tengah malam, Rangga turun ke lantai bawah.
Ia membuka pintu ruko perlahan, lalu melangkah menuju taman kecil yang selama beberapa bulan terakhir selalu ia rawat bersama Sari.
Mawar-mawar merah tampak bermekaran di bawah cahaya lampu jalan.
Rangga berjongkok.
Tangannya menyentuh perlahan salah satu kelopak bunga yang masih basah oleh embun malam.
"Bunga..."
gumamnya lirih.
"Kalau aku pergi mengejar langit..."
Ia terdiam sejenak.
"...siapa yang akan merawatmu?"
Angin malam kembali berembus pelan.
Kelopak mawar bergoyang lembut, seolah menjawab pertanyaan yang bahkan tidak mampu dijawab oleh pemiliknya sendiri.
Rangga lalu mendongak.
Matanya menatap langit yang tertutup samar oleh cahaya kota.
Rasi Bintang Arkais memang tidak terlihat.
Namun, entah mengapa...
Ia dapat merasakan panggilannya semakin jelas.
Panggilan yang selama ini hanya berbisik...
Kini mulai memanggil namanya dengan lantang.
Keesokan paginya, sebelum ruko dibuka, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan halaman.
Seorang pria berjas turun sambil membawa map kulit berwarna cokelat.
Ia menatap papan nama percetakan, kemudian melangkah masuk.
"Selamat pagi."
Rangga yang sedang menyapu lantai segera menghampiri.
"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu tersenyum ramah, lalu mengulurkan tangan.
"Perkenalkan. Saya Dimas Prasetyo."
Rangga membalas jabat tangan itu.
"Saya datang mewakili PT Aruna Karya Nusantara."
Jantung Rangga kembali berdetak lebih cepat.
Dimas membuka map yang dibawanya.
"Hari ini saya ingin mendengar keputusan awal Anda."
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Rangga menarik napas panjang.
Pandangannya sekilas beralih ke taman kecil di depan ruko.
Lalu...
Ke arah jalan yang biasa dilalui Sari setiap sore sepulang kerja.
Di hadapannya, masa depan sedang berdiri menunggu jawaban.
Untuk pertama kalinya, Rangga tidak lagi hanya membayangkan persimpangan hidupnya.Kini, persimpangan itu benar-benar berdiri tepat di depan mata.