Temmy Lynn, seorang dokter cantik super jenius tapi sangat plenger, ceplas ceplos dan omongannya kadang sepedas seblak level 100. dia bisa menyembuhkan segala macam penyakit tanpa terkecuali. Dia hanya peduli dengan uang, baginya itu sangat realistis.
Kailendra Adyaksa, tuan muda dingin yang mengalami kelumpuhan setelah kecelakaan mobil yang dialaminya dua tahun yang lalu. Dia menolak semua pengobatan dan orang-orang yang mencoba mendekat termasuk orang tuanya. Apa yang terjadi jika kedua manusia beda karakter ini bertemu? Yuk kepoin keseruan mereka di sini guys..!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaeyunie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di pintu gerbang kediaman Kailendra. Satpam langsung bergegas membuka gerbang. Tampak seorang wanita tua dengan gayanya yang glamor dan cenderung norak turun dari mobil, diikuti pria dewasa berumur hampir 40an. Mereka adalah nyonya besar Rahayu Adiyaksa dan putra ke 2 yaitu Sandy Adiyaksa. Bagi Kai, mereka adalah orang terdekat dan bisa dipercaya. Pagi itu kebetulan Kai sudah menyelesaikan semua proses terapinya.
"Oma, Om Sandy, tumben kalian datang sekarang?" Tanya Kai yang terheran melihat kedatangan mereka.
"Oma kemaren baru dari tabib yang terkenal di kota B, banyak orang yang sudah sembuh berkat beliau. Ini Oma bawakan obat herbal dari sana, harus kamu minum sekarang ya" ucap Rahayu dengan lembut. Lynn memperhatikan mereka dari luar rumah.
"Cih manusia munafik. Aura gelapnya sangat pekat, fix mereka biang kerok ini semua" Lynn masuk ke dalam, ia tidak ingin kecolongan mengenai Kailendra, bagaimanapun pria itu adalah tanggung jawabnya.
"Selamat pagi, nyonya Rahayu" sapanya. Rahayu tersentak melihat Lynn. Gadis dengan aura yang kuat dan mengancam. Terbukti batu merah pada cincin merah yang ia pakai bereaksi dan membuatnya kesulitan bernafas.
"Anda tidak apa-apa nyonya?"
"Ti..tidak apa-apa, siapa kau? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rahayu.
"Saya dokter tuan muda Kai, nama saya Temmy Lynn"
"Siapa yang mengirimmu? Berani sekali melalukannya tanpa seizinku" tanya Rahayu murka.
"Ayah tuan muda Kai yang mempekerjakan saya, nyonya" jawab Lynn tenang.
"Besok tidak perlu datang lagi ke sini, aku akan memberikanmu kompensasi yang besar" Rahayu khawatir semua rencana yang ia susun akan berantakan dengan keberadaan Lynn.
"Maaf nyonya tapi saya sudah menandatangani kontrak dengan ayah tuan muda Kai"
"Berapa mereka membayarmu, aku akan membayar double"
"Wah ternyata keluarga anda cukup dermawan juga ya, waktu pertama kali saya datang ke sini tuan muda juga menawari saya hal yang sama" ujar Lynn melirik ke arah Kai.
"Sebutkan berapa dia membayarmu?" perintah Rahayu. Sedangkan Sandy, dari tadi dia hanya diam dan memperhatikan Lynn, karena baru kali ini dia melihat perempuan secantik Lynn .
"5 milyar selama 3 bulan dan kalau saya berhasil menyembuh tuan Kai sebelum 3 bulan, bonus saya 2 milyar menanti" Rahayu sontak terkejut mendengar penuturan Lynn.
"Nyonya tentu ingin cucu anda sembuh kan? Percayakan saja kepada saya, biarkan saya lakukan apa yang harus saya lakukan dalam 3 bulan ini, kalau saya gagal saya akan pergi dengan sukarela, kalian tidak harus membayar apapun"
Rahayu menahan amarahnya, ia tidak ingin penyamarannya sebagai ibu peri terbongkar di hadapan Kai. Rahayu beranjak ke dapur, ia segera membuatkan 'obat' untuk Kai. sekitar 10 menit ia kembali membawa semangkok ramuan untuk Kai.
"Ayo Kai, diminum, obat ini bagus buat kamu" ujarnya sambil menyerahkan mangkok keramik itu kepada Kai. Sejujurnya setiap meminum obat dari neneknya Kai bukannya merasa lebih baik tapi ia merasakan tubuhnya bertambah kaku dan sudah digerakkan. Kai sedikit bimbang apalagi tiba-tiba teringat perkataan Lynn untuk jangan percaya siapapun dan itu sedikit mengusiknya.
Mau tidak mau Kai menerima mangkok itu. Lynn masih memperhatikan dengan seksama, begitu mangkok itu hampir menyentuh bibir Kai, Lynn melemparkan sesuatu yang sangat kecil tepat ke arah mangkok tersebut dengan sangat cepat sehingga tak seorang pun menyadarinya.
Prang...
Mangkok keramik itu pecah dan semuanya isinya tumpah ke pangkuan Kai, untungnya tidak panas.
"Ya ampun kok bisa pecah sih, Kai?" Rahayu meninggikan suaranya kepada Kai.
"Aku tidak tahu, Oma sendiri lihat aku mau meminumnya, mungkin memang mangkoknya yang sudah retak" jawab Kai. Sejujurnya ia sangat senang ramuan itu tumpah. Lynn tersenyum kecil melihat kekesalan Rahayu.
"Sial, susah payah aku menemui dukun sialan itu, malah pecah" rutuk Rahayu tanpa sadar. Kai mengerenyitkan dahinya.
"Dukun apa Oma?" Rahayu gelagapan.
"Dukun apa? Oma tidak mengerti kamu ngomong apa" kilah Rahayu.
"Barusan Oma bilang susah payah menemui dukun sialan itu"
"Kamu salah dengar, maksud Oma susah payah menemui tabib sakti itu, eh malah tumpah". Kai hanya mengangguk pelan.
Lynn menyadari Sandy tidak ada di sana. Pria itu pasti sedang melakukan ritual itu lagi. Benar saja Lynn menemukan Sandy sedang bersiap memotong ayam cemani dan terlihat wadah untuk menampung darahnya.
"Sedang apa tuan?" tanya Lynn. Sandy terlonjak kaget mendengar suara Lynn.
"Aku akan menyembelih ayam ini untuk dibuat sup. Bagus untuk kesehatan Kai" ujarnya.
"Lalu wadah itu?" Lynn menunjuk cawan yang tergeletak di bawah.
"Oh ini untuk menampung darahnya agar tidak bau amis dan bisa langsung dibuang ke sungai dibelakang.
"Luar biasa, logika macam apa itu? Disangka gue bego kali ya percaya gitu aja, dasar setan" maki Lynn dalam hati.
"Oh baiklah, silahkan anda lanjutkan RITUAL anda, awas jangan sampai ada yang salah langkah, saya permisi dulu" Lynn tersenyum tipis sebelum beranjak dari sana, dia sengaja menekan kata ritual untuk memancing Sandy. Karena Sandy gampang khawatir dan overthinking. Dan benar saja pria itu terpancing.
"Tunggu, apa maksud nona?"
"Ah tidak ada, maksud saya hati-hati jangan sampai salah memotong bagian tubuhnya siapa tahu ayam itu berontak ketika akan disembelih" ujar Lynn lagi.
'Lu fikir cuma lu doang yang bisa ngasih alasan goblok buang darah ayam biar gak amis, gue juga bisa bikin alasan yang lebih goblok lagi' rutuk Lynn dalam hati.
Sandy segera melanjutkan ritualnya. Dari kejauhan Rendra dan Alan memperhatikannya tak lupa mendokumentasikan semua yang Sandy lakukan termasuk saat mereka memotong ayam itu sampai kepalanya putus. Setelah itu mereka langsung membersihkannya dan memotongnya sebelum menyerahkan semuanya kepada Bi Wati untuk dimasak. Entah apa yang dilakukan Sandy, tapi dia tampak mengucapkan sesuatu ke dalam ayam itu dan menyiramnya dengan air yang ia keluarkan dari wadah kecil di saku bajunya. Entah air apakah itu yang pasti bukan untuk niat baik.
Setelah menyelesaikan ritualnya, ia langsung menuju dapur dan menyerahkan ayam itu kepada Bi Wati untuk dimasak. Begitu Sandy dan pengawalnya lengah, Rendra menyelinap dan menukar daging ayam tersebut dengan daging yang aman. Selama dua hari ini, Lynn, Alan, Rendra dan Bi Wati sudah menyusun rencana. Setelah penemuan benda asing di halaman belakang Lynn yakin si pemilik benda tersebut akan datang dan menurut cerita Bi Wati dan Rendra yang sering mengunjungi Kai adalah mereka berdua dengan berbagai tindakan aneh. Sejak itu Lynn menyiapkan semua rencananya dibantu oleh mereka bertiga. Awalnya mereka tidak percaya tapi ketika Lynn menjelaskan semuanya baru lah mereka menyadarinya.
Untung saja teman Rendra menjual ayam Cemani jadi mereka tidak kesulitan mendapatkannya. Bi Wati memasaknya Seperti biasa dan Rahayu juga pasti memastikan Kai memakannya baru setelah itu dia akan pergi.
"Ayo Kai, dimakan dulu sop nya, ayam ini bagus untuk kesehatanmu" ujar Rahayu. Kai tampak ragu, entah kenapa ia spontan melihat ke arah Lynn, gadis itu mengangguk. Kai pun memakannya, entah kenapa rasanya beda, ia lahap sekali. Melihat Kai sudah memakan ayam yang ia bawa, Rahayu dan Sandy akhirnya pulang.
"Ah.. akhirnya lega juga, bibi sempet takut ketahuan non" ujar Bi Wati.
"Sama saya juga bi takut ketahuan pas videoin mereka" tambah Alan. Lynn tertawa kecil.
"Maksud kalian apa? Video?" Kai tampak kebingungan.
"Mana Rendra?" tanya Lynn.
"Bentar saya telfon dulu" Alan mengambil gawainya dan langsung menghubungi Rendra, tepat saat nada sambung ke 2 pria itu mengangkatnya.
"Assalamualaikum mas Alan, ada apa?"
"Ren, ke sini sebentar, bawa hasil video kita tadi"
"Tapi mas, kami kan tidak boleh mendekat ke rumah utama" ujar Rendra. Alan pun menoleh ke arah Kai, pria itu pun mengambil handphone Alan.
"Turuti apa kata Alan, kalau ada perlu kalian boleh ke sini langsung" ujarnya.
"Baik tuan saya segera ke sana"
Tak berselang lama Rendra pun datang. Setelah berkumpul baru lah Lynn menceritakan semuanya. Mulai dari penemuan boneka dan kecurigaannya sampai dia merencanakan semuanya.
"Maaf kalau membuatmu kecewa tapi mangkok ramuan itu bukan pecah sendiri tapi aku yang memecahkannya, itu racun untuk tubuhmu, aku sudah memeriksa sisa cairan yang masih ada" Kai shock mendengarnya..Tidak mungkin orang yang sangat dia percaya melakukan hal itu.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Kai lebih penasaran. Lynn menjentikkan sesuatu dari jarinya, gelas yang berada disebrang meja pun hancur berkeping2.
"Kurang lebih seperti itu" jawaban Lynn. Mereka semua tercengang tak terkecuali Kai.
"Emang gila beneran nie cewek" kata Kai dalam hati.
"Tunjukan video tadi Ren" Rendra pun segera membuka folder video dan memutarnya. Lagi lagi Kai dibuat tak percaya dengan apa yang ia lihat. Hatinya sakit ternyata orang yang ia percaya bisa melakukan hal Setega itu. Hatinya sakit dikhianati orang yang sangat ia percaya.
"Sudah lah jangan terlalu difikirkan, orang seperti mereka tidak pantas untuk dibikin galau" ujar Lynn enteng.
"Siapa lagi yang bisa aku percaya, heh" Kai tersenyum miris
"Untuk saat ini cukup kami saja. Alan pppp nyawa padamu, Kau sangat berjasa bagi Rendra karena dia bisa punya penghasilan besar, Bi Wati sudah menyayangimu dari kau kecil, sedangkan aku, kau adalah sumber uangku jadi tak akan mungkin aku membiarkanmu celaka" Ucap Lynn blak blakan. Kai hanya terdiam. Lynn sendiri bukan tipe orang yang bisa menghibur seseorang.