Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Tugas Baru di Rumah Baru
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, mengalir mengikuti ritme baru yang terasa canggung namun perlahan mulai terbiasa. Sebelum masa perkuliahan dimulai, Mita memilih untuk mengisi hari-harinya dengan mengurus rumah. Sementara itu, Sam tetap disibukkan dengan rutinitasnya yang padat, berangkat pagi-pagi sekali menuju kantor Kusuma Group untuk menunaikan tugasnya sebagai calon CEO.
Pagi itu, suasana meja makan terasa lebih hangat dari biasanya. Sam sedang menyantap sarapan yang disiapkan Mita saat ia mendongak dan menatap gadis di depannya dengan dahi sedikit berkerut.
"Mita, kamu yakin tidak mau ada pembantu di sini?" tanya Sam memastikan. "Rumah ini memang tidak sebesar rumah Ayah, tapi tetap saja melelahkan kalau harus diurus sendiri."
Mita yang sedang menuangkan air ke gelas Sam tersenyum manis, lalu menggeleng pelan. "Enggak, Mas, enggak apa-apa. Untuk masalah pekerjaan ringan seperti membersihkan rumah dan memasak, aku masih bisa melakukannya sendiri. Hitung-hitung sekalian belajar mandiri sebelum sibuk kuliah nanti."
Sam menghentikan kunyahannya sejenak, menatap Mita dengan pandangan takjub yang tak bisa disembunyikan. "Oh, ya sudah. Tapi nanti kalau kamu mulai merasa berat dan butuh bantuan, bilang ya. Aku siap carikan pembantu berapa pun yang kamu mau. Sepuluh pembantu pun boleh aku bawa ke sini."
Mita spontan tertawa kecil mendengar nada berkelakar dari kakak angkatnya itu. "Aduh, Mas, enggak apa-apa, enggak usah berlebihan begitu. Satu saja belum tentu butuh, apalagi sepuluh," jawabnya meyakinkan, membuat suasana pagi itu terasa lebih cair.
Namun, senyum di wajah Sam perlahan memudar, berganti dengan raut wajah yang lebih serius. Ia meletakkan sendoknya, menautkan kedua tangan di atas meja sambil menatap Mita dengan ragu-ragu.
"Sebetulnya... ada sesuatu yang ingin aku katakan, Mit," ujar Sam, menjeda kalimatnya sejenak. "Nanti, Vanya akan aku bawa ke sini."
Mita tidak terkejut, ia tetap mendengarkan dengan tenang.
"Dia ingin mendengar klarifikasi langsung dari kamu," lanjut Sam dengan nada agak tidak enak hati. "Vanya ingin mengetahui hubungan kita yang sebenarnya seperti apa. Dia... dia ingin kamu menceritakan kebenarannya secara langsung agar dia bisa tenang. Jadi, bagaimana menurutmu?"
Mita mengangguk paham tanpa ragu sedikit pun. Senyum tulus kembali terbit di wajahnya, berusaha mengikis kecemasan yang terpancar dari mata Sam.
"Iya, Mas, tidak apa-apa. Nanti biar aku jelaskan semuanya secara jujur kalau Mbak Vanya sudah datang ke sini," jawab Mita berbesar hati. "Aku akan mempersiapkan semuanya sebaik mungkin untuk menyambut kedatangannya nanti, dan meyakinkan dia kalau pernikahan kita ini hanya sebatas status di atas kertas."
Sam menghela napas panjang, seolah sebuah batu besar baru saja diangkat dari dadanya. "Terima kasih banyak, Mita. Aku benar-benar berutang banyak hal padamu."
"Sama-sama, Mas Sam. Mas bersiap-siaplah, nanti terlambat ke kantor," ujar Mita lembut sambil merapikan piring kosong.
Setelah Sam berpamitan dan deru mobilnya perlahan menjauh dari halaman, Mita tertegun memandangi meja makan yang kini sepi. Di balik senyum tulus yang ia perlihatkan untuk menenangkan Sam, ada sedikit debaran tak menentu di dalam dadanya. Mita tahu, pertemuan dengan Vanya nanti tidak akan sesederhana kedatangan tamu biasa. Ini adalah langkah awal dari sandiwara besar yang harus ia perankan dengan rapi.
"Semoga saja rintangan untuk percintaan kalian cepat selesai."(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)