NovelToon NovelToon
The Author Of My Own Destiny

The Author Of My Own Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:318
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Pesta yang Dingin

Sisa-sisa bisikan para bangsawan masih berdengung di dinding aula perjamuan berlapis emas itu. Di sudut ruangan, Evelyn Roselia tampak ditarik mundur oleh beberapa pengiringnya, wajahnya yang biasanya seputih pualam kini sewarna abu tungku karena malu. Keberhasilan Aria membalikkan fitnah kristal pemurni palsu menjadi bumerang bagi Evelyn seharusnya menjadi kemenangan manis. Akan tetapi, di balik lipatan gaun sutranya yang mewah, jemari Aria bergetar halus.

Bukan karena sisa ketegangan konfrontasi tadi. Melainkan karena hawa dingin yang tiba-tiba merayap dari bawah lantai marmer istana.

Dada Aria terasa terhimpit. Ada aroma samar yang menusuk indra penciumannya—bau tanah basah yang membusuk, bercampur dengan anyir karat logam kuno. Itu adalah tanda yang terlalu familier baginya yang pernah menghadapi sihir di perbatasan utara. Sihir distorsi milik Kaisar Magnus sedang aktif di suatu tempat di dalam istana ini, merayap tenang seperti ular di balik kemegahan pesta.

“Aria.”

Sebuah suara berat dan familier memecah lamunannya. Aria menoleh cepat dan mendapati Pangeran Kael Ashford sudah berdiri di sisinya. Tubuh tegap sang Putra Mahkota seolah menjadi tameng instan dari tatapan-tatapan penuh selidik para bangsawan yang masih penasaran. Sepasang mata emas milik Kael berkilat cemas, meskipun wajahnya tetap sedingin es utara.

“Wajahmu kehilangan warna,” kata Kael pelan. Tangan pria itu bergerak, hampir menyentuh pundak Aria sebelum ia menariknya kembali demi menjaga kesopanan istana. “Apakah wanita ular itu sempat melukaimu sebelum kristalnya hancur?”

Aria menggeleng pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menyingkirkan kabut tipis yang mulai mengaburkan pandangannya. “Bukan Evelyn, Yang Mulia. Ada sesuatu yang jauh lebih buruk di sini. Apakah Anda tidak merasakannya?”

Kael terdiam sejenak. Matanya menyipit, menyapu sekeliling aula yang masih dipenuhi gelak tawa palsu para bangsawan dan denting gelas kristal. Perlahan, rahang Kael mengeras. Aria bisa melihat bagaimana buku-buku jari sang pangeran yang terbungkus sarung tangan kulit hitam mengencang di atas hulu pedang upacaranya.

“Sihir distorsi,” bisik Kael dengan suara yang nyaris tak terdengar. “Bagaimana mungkin... di dalam jantung istana ini?”

“Seseorang telah membukakan jalan untuknya,” sahut Aria lirih. “Kita harus mencari tahu di mana titik pusarannya sebelum sihir itu mencemari seluruh sistem pertahanan istana.”

Sebelum Kael sempat memberikan instruksi kepada para pengawalnya, seulas bayangan tinggi melangkah mendekat dari balik pilar marmer yang dihias sulur emas. Gerakannya begitu anggun, seolah-olah ia tidak memiliki bobot tubuh.

Duke Lucien Veritas berdiri di sana. Senyum tipis yang selalu tampak mengejek terukir di bibirnya yang pucat. Sepasang mata peraknya yang misterius menatap Aria dengan binar jenaka yang membuat Aria merasa telanjang, seolah seluruh rahasianya sebagai penulis takdir telah terbaca sepenuhnya.

“Sungguh malam yang penuh kejutan, bukan?” Lucien berbisik, menyela keheningan di antara Aria dan Kael. Ia mengangkat gelas anggurnya yang berwarna merah pekat ke arah Aria. “Putri Baron kita yang sederhana kembali menulis ulang babak yang seharusnya berakhir dengan air mata. Sungguh improvisasi yang luar biasa, Nona Evander.”

Aria menatap Lucien dengan pandangan waspada. “Saya hanya mengembalikan apa yang seharusnya berada di tempatnya, Duke.”

“Tentu saja,” jawab Lucien dengan nada santai yang terasa sangat mengganggu. “Tetapi ingatlah, ketika sebuah paragraf diubah, seluruh jalannya cerita akan menuntut penyesuaian. Dan terkadang, sang antagonis sejati tidak menyukai naskah yang berjalan di luar kendalinya.”

Kael melangkah maju, menempatkan dirinya di antara Aria dan Lucien. Aura naga yang pekat dan mengintimidasi mulai menguar dari tubuh sang Putra Mahkota, membuat beberapa bangsawan di dekat mereka menoleh dengan cemas sebelum kembali memalingkan wajah karena takut.

“Pergilah, Lucien,” desis Kael dengan nada mengancam. “Aku tidak punya waktu untuk teka-teki gilamu malam ini.”

Lucien hanya terkekeh pelan. Ia membungkuk hormat dengan kepatuhan yang terasa sangat dibuat-buat. “Tentu, Yang Mulia. Saya tidak akan mengganggu kencan rahasia Anda. Namun, jika saya menjadi Anda, saya akan memeriksa menara barat. Udara di sana... terasa sangat dingin akhir-akhir ini.”

Setelah memberikan petunjuk yang terlampau spesifik itu, Lucien berbalik dan melebur kembali ke dalam kerumunan bangsawan, meninggalkan keheningan yang semakin berat di antara Aria dan Kael.

“Menara barat,” gumam Aria. “Dia tahu sesuatu.”

“Lucien selalu tahu lebih banyak daripada yang ia perlihatkan,” kata Kael dingin. “Aku akan mengirim kesatria ke sana sekarang.”

“Jangan,” cegat Aria cepat, jemarinya secara refleks menyentuh lengan baju jubah Kael. “Jika kesatria bergerak dalam jumlah besar, pelaku akan menyadarinya dan melarikan diri atau memicu sihir itu lebih cepat. Biarkan saya pergi sendiri. Saya bisa menyelinap tanpa menarik perhatian.”

“Tidak. Terlalu berbahaya,” tolak Kael tegas. Matanya berkilat menentang ide tersebut. “Aku tidak akan membiarkanmu berjalan ke dalam perangkap sendirian.”

“Yang Mulia, Anda adalah pusat perhatian di pesta ini. Jika Anda menghilang bersamaan dengan saya, Evelyn dan faksi bangsawan murni akan langsung menggunakan kesempatan ini untuk menyebarkan rumor baru,” desak Aria. Pandangannya lurus, memancarkan keyakinan yang membuat Kael tertegun. “Percayalah pada saya. Saya memiliki pelindung yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun.”

Lumi, roh pena takdir yang bersembunyi di balik dimensi saku, memberikan denyut energi hangat di dada Aria sebagai bentuk persetujuan.

Kael menatap Aria, mencari celah keraguan di mata gadis itu, namun ia tidak menemukan apa pun selain keteguhan yang keras kepala. Pangeran itu menghela napas panjang, merutuki posisinya yang terikat oleh protokol istana.

“Sepuluh menit,” kata Kael dengan suara yang ditekan serendah mungkin. “Jika dalam sepuluh menit kau tidak kembali ke aula ini, aku akan membawa seluruh pasukan pengawal dan menghancurkan menara barat, tidak peduli apa pun konsekuensi politiknya.”

“Sepuluh menit sudah lebih dari cukup,” jawab Aria dengan senyum tipis.

Dengan gerakan yang sangat natural, Aria berbalik dan melangkah perlahan menuju pintu keluar samping aula, seolah-olah ia hanya ingin mencari udara segar di balkon. Begitu ia melewati batas penjagaan para pelayan, langkahnya berubah menjadi cepat dan tanpa suara.

Lorong menuju menara barat terasa sangat berbeda dari aula utama yang hangat dan bising. Di sini, kegelapan mulai merayap, hanya menyisakan cahaya bulan yang menembus jendela-jendela tinggi. Suhu udara menurun drastis di setiap langkah yang ia ambil.

“Lumi, keluar,” bisik Aria.

Sebuah pendaran cahaya keemasan yang sangat halus muncul di dekat bahu Aria, membentuk sosok peri kecil dengan sayap transparan yang bergetar cemas.

“Aria, energinya sangat kacau di depan!” cicit Lumi dengan suara berbisik. “Sihir distorsi ini... baunya seperti jiwa-jiwa yang dipaksa bangkit dari kematian. Ini necromancy tingkat tinggi!”

“Aktifkan Time Vision,” perintah Aria pelan.

Dalam sekejap, pandangan Aria berubah. Warna-warna dunia memudar menjadi abu-abu mati, menyisakan aliran energi sihir yang terlihat seperti asap tebal. Di sepanjang koridor menara barat, asap hitam pekat bercampur ungu tua tampak merayap di lantai marmer, mengalir menuju sebuah pintu kayu ek besar di ujung lorong.

Aria mempercepat langkahnya, berusaha mengabaikan rasa dingin yang mulai membekukan ujung-ujung jarinya. Ketika ia tiba di depan pintu tersebut, ia melihat segel sihir kekaisaran yang terpasang di sana telah retak, mengeluarkan cairan hitam yang berbau busuk.

Pintu itu tidak terkunci secara fisik, melainkan tertahan oleh energi kutukan yang sangat kuat.

Aku harus masuk tanpa memicu alarm, pikir Aria. Ia memanggil roh penanya dalam benak.

Pena takdir emas muncul di jemarinya yang gemetar. Dengan fokus penuh, Aria menggoreskan ujung pena ke udara, menuliskan sebaris kalimat manipulasi realitas pada lembar takdir tak kasatmata yang melayang di hadapannya.

‘Segel terkutuk pada pintu menara barat menetralisir kekuatannya sendiri, mengizinkan Aria Evander masuk tanpa memicu alarm atau suara sedikit pun.’

Cahaya keemasan merambat dari tulisan tersebut, menyelimuti cairan hitam di pintu kayu ek. Desisan pelan terdengar saat energi kutukan itu menguap, meninggalkan permukaan pintu yang bersih dan sunyi. Pintu itu pun berayun terbuka perlahan saat Aria mendorongnya.

Di dalam ruangan arsip yang luas dan berdebu itu, pemandangan mengerikan menyambutnya.

Seorang pelayan istana paruh baya berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh lingkaran sihir yang digambar dengan darah segar di atas lantai. Wajah pelayan itu telah kehilangan kemanusiaannya—kulitnya membiru pucat, dengan urat-urat hitam menonjol yang berdentat di bawah permukaan kulit lehernya. Matanya sepenuhnya berwarna ungu gelap tanpa pupil.

Di atas meja kayu di depannya, terdapat sebuah cawan perak kuno yang memancarkan kabut hitam pekat. Kabut itu membentuk pusaran kecil yang perlahan-lahan merobek ruang di udara, menciptakan celah dimensi yang menghubungkan tempat ini langsung dengan utara.

“Siapa... yang berani...” suara pelayan itu terdengar seperti pecahan kaca yang bergesekan, sangat tidak manusiawi. Ia menoleh lambat-lambat ke arah Aria, matanya berkilat penuh kebencian.

“Hentikan ini,” kata Aria dingin, tangannya bersiap di balik lipatan gaun, menggenggam belati perak yang telah ia mantrakan dengan sihir suci. “Magnus tidak akan bisa menjangkau istana ini lebih jauh lagi.”

“Kaisar... akan bangkit...” pelayan itu meraung, suara kasarnya mengguncang ruangan.

Seketika, kabut hitam dari cawan perak melesat ke arah Aria, membentuk tangan-tangan bayangan raksasa dengan kuku-kuku tajam yang siap mencabik tubuhnya. Hawa dingin yang mematikan mengiringi serangan tersebut, membuat napas Aria mengembun di udara.

Aria tahu ia tidak bisa menghindar secara fisik dalam ruangan yang sempit ini. Ia juga tidak bisa menggunakan sihir sucinya secara bebas karena ledakan energinya akan langsung memicu sistem pertahanan istana dan membongkar identitasnya.

Ia harus menulis ulang takdir serangan ini.

Dengan ketenangan seorang dokter yang sedang melakukan operasi kritis, Aria menggerakkan pena takdirnya kembali.

‘Tangan-tangan bayangan yang dikendalikan oleh sihir distorsi kehilangan wujud padatnya saat mendekati Aria, berubah menjadi kelopak bunga hitam tak berbahaya yang gugur ke lantai.’

Cahaya emas menyembur dari ujung pena Aria tepat saat tangan-tangan bayangan itu berada beberapa senti dari wajahnya. Dalam sekejap mata, serangan mematikan itu pecah menjadi ribuan kelopak bunga hitam yang layu dan jatuh tanpa suara ke atas karpet berdebu.

Pelayan yang terinfeksi itu membelalakkan matanya yang ungu, tidak percaya bahwa sihir hitamnya bisa dinetralkan dengan begitu mudah tanpa ada benturan energi yang berarti. Ia meraung marah, bersiap merapal mantra yang lebih besar, mengumpulkan seluruh sisa energi distorsi di dalam cawan perak untuk meledakkan ruangan tersebut.

“Lumi, kita harus menghancurkan cawan itu!” seru Aria.

“Tapi Aria, cawan itu dilindungi oleh pelindung jiwa! Jika kau menyerangnya secara langsung, jiwamu bisa ikut tersedot!” balas Lumi panik.

Sebelum Aria sempat menyusun rencana baru, pintu kayu ek di belakangnya hancur berkeping-keping dengan dentuman keras.

Sesosok pria dengan jubah hitam melesat masuk bagai kilat. Pedang perak di tangannya diselimuti oleh api emas yang membara—sihir naga murni. Dengan satu gerakan tebasan yang presisi dan luar biasa cepat, Kael Ashford memotong aliran energi yang menghubungkan pelayan itu dengan cawan perak.

“Kael!” Aria berseru kaget.

“Aku bilang sepuluh menit, Aria,” kata Kael tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada pelayan yang kini meraung kesakitan akibat terputusnya aliran mana secara paksa. “Dan aku tidak suka menunggu.”

Meskipun serangan pelayan itu berhasil dihentikan, Aria melihat dengan ngeri bahwa cawan perak di atas meja mulai retak akibat ketidakstabilan energi. Kabut hitam di dalamnya bergolak hebat, siap meledak dan menyebarkan racun distorsi ke seluruh menara dalam hitungan detik.

“Kael, menjauh dari meja itu!” teriak Aria, menyadari bahwa takdir kehancuran menara ini sedang berada di ambang kenyataan.

1
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir thir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!