NovelToon NovelToon
Di Bawah Lampu Operasi

Di Bawah Lampu Operasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Starry Light

Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.

Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.

Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.

Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Scrub

Catatan Savira:

~Jam 07:45 WIB ruang HCU Medika Care Hospital.

Kasus: Tn. Sugandi, 62 tahun POD 1 Post-CABG. Post-extubusi 14 jam.

Kesalahan: Fokus pada data angka dan lupa auskultasi paru sebelum lapor.

Koreksi: Auskultasi paru adalah pemeriksaan wajib post-extubusi, terlepas dari hasil ABG dan saturasi. Atelektasis dan efusi pleura bisa terjadi tanpa perubahan saturasi awal.

Tindakan: Foto Thoraks, naikkan O2 naik 2-3 LPM , fisioterapi dada tiap 2 jam.

Yang diingat: Data tidak bisa menggantikan tangan. Stetoskop tidak pernah bohong.

Besok, stetoskop dulu. Baru buka mulut.~

Savira menutup logbook setelah menulis dengan berat hati. Gadis itu menghela napas dalam-dalam, bersiap menghadapi morning report yang tidak bisa ia hindari.

....

Jam 08:00. Ruang diskusi penuh, sunyi, kecuali desis AC central yang terlalu dingin. Savira berdiri didepan layar. Telapak tangannya menempel di sisi meja marmer. Dingin.

Laser pointer di sakunya tidak ia sentuh. Dia hapal. Di baris belakang, dokter Devan duduk diam. Tidak membuka laptop, tidak mencatat, hanya duduk diam menatap sang residen yang ada di depannya.

Savira mulai presentasinya:

"Tuan Sudarto, 62 tahun. POD 2 post-CABG. Intubasi mode ACV, tidal volume 8 ml /kg, PEEP 5. Jam 06:30 PaO2/FiO2 turun jadi 180. Foto thoraks menunjukan infiltrat bilateral baru."

Dia ganti slide. Grafik ventilator.

"Diagnosis saya: ventilator-induced lung injury, tipe barotrauma dan volutrauma. Faktor risiko: tidal volume tinggi, PEEP rendah, dan pasien dengan paru yang belum stabil post-bypass."

Dokter Anton mengangguk. "Intervensi?"

Savira tidak melihat catatan.

"Turunkan tidal volume ke 6 ml/kg. Naikkan PEEP pelan-pelan sampai 8, sambil monitor compliance. Cek plateau pressure. Target di bawah 30 cmH2O. Kalau gagal, pertimbangkan mode APRV."

Ruangan hening tiga detik. Sebelum akhirnya dokter Devan membuka suara dari belakang.

"Kenapa tidak langsung APRV dari awal?" pandangannya lurus ke Savira yang ada di depan.

Savira membalas tatapannya, kedua mata itu saling mengunci untuk satu detik. Seolah mereka hanya berdua dalam ruangan, Savira memutus tatapan itu saat mendengar tutup botol air mineral yang di buka koas jatuh ke lantai.

Savira berdehem kecil sebelum menjawab. "Karena guideline ARDSnet 2000 masih jadi standar. APRV punya risiko hemodinamik drop pada pasien Post-CABG dengan inotrop. Saya pilih stabilkan dulu. Baru eskalasi."

Dokter Devan terdiam, tapi tidak lama ia bertanya lagi.

"Kalau plateau pressure kamu 32, apa kamu tetap naikkan PEEP?"

"Tidak. Saya turunkan tidal volume dulu. Lung-protective strategy itu buka soal angka. Itu soal kombinasi. Saya tidak mau paru selamat tapi jantung kolaps." jawabnya yakin.

Dokter Anton tersenyum tipis. "Bagus. Kamu memikirkan jantungnya juga." Savira menundukkan kepalanya, menganggap kalimat itu sebagai pujian.

Dokter Devan berdiri. "Presentasi selesai. Tapi Savira, besok kamu yang jaga ventilator tuan Sudarto dari jam 08:00 sampai 14:00. Tanpa fellow. Kalau PaO2/FiO2 turun di bawah 150, kamu yang telepon saya." pesan dokter Devan.

Savira mengangguk. "Siap, Dokter."

Dokter Devan kembali menatapnya sesaat sebelum keluar, dia mengangguk samar. Bahkan Savira tidak melihat anggukan itu.

*****

Jam 08:50. Savira masuk ruangan scrub dengan stelan OK lengkap dengan penutup kepala dan masker bedah yang menutupi separuh wajah, menyisakan mata jernihnya yang langsung melihat sosok dokter Devan berdiri di depan wastafel otomatis.

Dia tidak menoleh mendengar suara pintu terbuka. Dia tetap fokus menyikat ujung jarinya dengan gerakan teliti dan mekanis.

Savira berjalan mendekat, mengambil posisi di wastafel sebelahnya.

Diam. Hening. Hanya ada suara kucuran air dan gesekan kulit yang mereka lakukan. Savira melirik dokter Devan yang ada di sebelahnya, tapi pria itu seolah membangun dinding tak kasat mata setinggi langit. Wajahnya yang tertutup masker, hanya menyisakan sorot mata yang tajam menatap lurus ke arah aliran air yang mengalir tenang.

Savira menyikat tangan sampai ke siku, dengan sabun chlorhexidine yang berbusa kuning pucat. Bau antiseptiknya menusuk, menjadi satu dengan dinginnya air wastafel OK.

Mereka benar-benar diam, seperti tidak saling mengenal, suara gemericik air begitu mendominasi di ruangan yang steril itu. Tak lama, dokter Devan mematikan kran air dengan sikunya. Ia mengangkat tangannya yang sudah bersih dengan posisi standar agar tetap steril.

Dokter Devan menoleh ke Savira. "Jaga fokus dan tetap tenang." ucapnya mengingatkan Savira dengan suara datar.

Savira menghentikan gerakan tangannya dan melihat ke kaca yang ada di depannya. Kali ini, ia tidak berani membalas tatapan mata dokter Devan karena posisi mereka sangat berdekatan. Suara rendah dokter Devan menggema dan terasa mengintimidasi.

Savira meneguk ludahnya, mengangguk pelan. Dokter Devan meninggalkannya sebelum ia menjawab dengan benar. Mendorong pintu kamar operasi dengan punggungnya, sementara Savira masih terpaku di tempatnya.

Bahu Savira sedikit turun setelah pintu tertutup. Ia kembali mencuci tangan dengan jantung berdegup kencang. Dokter Devan hanya mengingatkan nya untuk tenang dan fokus, karena ini operasi pertama dengan kasus redo valve.

"Dia benar." bisik Savira tidak menyangkal. Setelah dua menit, dia mematikan kran dengan siku. Tangannya diangkat tinggi, sejajar dada sesuai SOP. Sejenak menatap pantulan wajahnya dalam cermin, mengumpulkan sisa kekuatan untuk beberapa jam berdiri di ruangan yang sama dengan sang Dewa Maut.

Setelah cukup yakin, Savira menarik napas pendek, mendorong pintu OK dengan punggungnya. Di dalam, lampu operasi sudah menyala terang, bau betadine dan mesin anestesi menusuk hidungnya. Juga sedikit aroma sandalwood dokter Devan yang masih bisa ia rasakan.

Di balik tirai pembatas, Savira langsung ke pojok kepala pasien. Di depannya barisan monitor menyala semua. Grafik EKG naik turun stabil. Angka SpO2 99%. Tekanan darah 118/75. Nafas dari ventilator shhhh....shhhh... teratur tiap lima detik.

Jari Savira langsung memutar knop flowmeter oksigen. Memastikan suara hiss nya halus. Tangan kirinya memegang balon reservior, merasakan compliance paru pak Wahyu. Masih lentur. Bagus.

Di depannya. Di balik kain steril biru. Dokter Devan sudah bersiap melakukan skin incision pak Wahyu. Punggungnya tegap. Tidak ada suara selain bib monitor dan suara gunting bedah.

"Mulai." kata dokter Devan tanpa menoleh.

"Oksigenasi cukup, Dok. Hemodinamik stabil. Siap." jawab Savira datar. Professional. Tapi jempolnya nekan syringe propofol lebih kencang dari yang dia sadari.

Redo velve. Risiko gagal jantung, aritmia, pendarahan masif. Kalau tekana darah pak Wahyu drop 10 mmHg aja, dia harus balikin dalam tiga detik.

Bau betadine nyangkut di udara. Dokter Devan menatap lurus meja operasi. Di bawahnya dada pak Wahyu sudah berwarna coklat betadine, di tutup kain steril biru. Menyisakan garis tengah dada yang terbuka.

"Pisau no.10," katanya pelan ke perawat instrumen.

Bilah dingin menyentuh kulit. Dengan satu tarikan panjang, lurus, dari pangkal leher sampai ujung tulang dada. Tangan dokter Devan bekerja cepat, presisi, tanpa ragu. Darah langsung menyembur sedikit, langsung disedot asisten. Itu hanya kulit. Yang berat masih di bawah.

"Elektro," perintah dokter Devan, lagi. Asisten 1 memberikan alat bakar. 'Tiiit' pelan. Bau daging kebar tipis. Lapisan lemak dan otot dipisah satu-satu. Mata dokter Devan tidak berkedip. Dingin, tapi tenang. Savira sesekali mencuri pandang dari balik tirai pembatas.

"Saw," katanya datar.

Perawat nyodorin sternal saw. Bunyinya 'ngiiing' mengisi ruangan 2 detik. Getarannya sampai ke lantai. Ada bunyi 'krek' kecil, kering. Tulang dada pak Wahyu terbuka. Retractor dipasang, diputar pelan. 'Kriit'. Rongga dada kebuka seperti pintu lemari tua. Jantung pak Wahyu terlihat, merah gelap, masih berdetak. Uap tipis naik dari lukanya.

Savira di pojok kepala pasien tidak melihat. AC 18°C membuat ujung jarinya dingin. Tapi dia mendengar semuanya. Matanya tidak lepas dari monitor, dan sesekali melirik profil wajah dokter Devan dari samping.

*

*

*

*

*

To be continued

1
Oktafiani Azzahra
alur nya bagus banget
Aryati Ningsih
lanjut Thor ..semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!