Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Mereka baru turun saat waktunya makan malam, Hanna bertanya karena tidak melihat Arum disana, biasanya wanita itu sudah akan sibuk menyiapkan makanan
"Mbok, dimana Arum?" Tanya Hanna pada seorang asisten rumah tangga
"Mbak Arum belum keluar kamar, ibu butuh sesuatu?" Wanita paruh baya itu menata makanan diatas meja
"Arum kenapa yaa? Apa dia sakit?" Hanna terlihat sedikit khawatir "Aku mau liat Arum sebentar yaa mas"
Hanna hendak bangkit namun suara Rizal menghentikannya "Sudahlah sayang! Biarkan Arum istirahat, mungkin dia lagi gak mau diganggu"
Hanna mengiyakan, wanita cantik itu kembali duduk dikursinya lalu dua anak laki-laki dirumah itu ikut bergabung
"Ibu dimana Tante?" Tanya Hafiz saat tidak melihat sang ibu disana
"Ibunya Hafiz sedang sakit, jadi Hafiz tidak boleh gangguin ibu yaa!" Bocah laki-laki itu mengangguk, mereka lalu melaksanakan makan malam lalu kembali kekamar
Hanna dan Rizal masih menikmati waktu berdua diruang tengah sembari menonton televisi. Hanna bersandar pada dada bidang suaminya itu sementara Rizal mengusap kepala dan tangan sebelahnya mengusap perut buncit istrinya
"Gimana mas, sudah ada kabar tentang keberadaan suami Arum?" Tanya Hanna
"Mas sedang berusaha, sepertinya laki-laki itu sudah pindah lagi" Jelas Rizal, ia sepertinya tidak ingin jika Arum meninggalkan rumahnya
"Suaminya Laras mau bantu, biar cepet ketemu"
Rizal tampak diam, jika pihak kepolisian membantu, jelas akan cepat ditemukan dan Arum akan segera meninggalkan rumah
"Mas"
"Iya sayang?"
"Gimana menurut kamu?" Hanna bertanya karena suaminya diam saja
"Itu bagus, kalau suaminya Laras yang polisi itu membantu pasti lebih cepat ketangkep kan"
Hanna mengangguk, ia hanya terlalu berpikir buruk tentang suaminya. Jika memang ada hubungan antara Rizal dan Arum dibelakangnya, pasti Rizal akan menolak dan tidak langsung setuju
"Ayo kita kekamar! Mas ngantuk!" Hanna bangun dengan dibantu oleh suaminya
Saat sang istri telah terlelap, Rizal diam-diam keluar dari kamar dan menuju dapur
Jam seperti ini memang Arum kerap keluar kamar karena lapar. Rizal tersenyum saat melihat seorang wanita yang berdiri membelakanginya
Arum tersentak saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang, terlebih ia merasa geli saat pria itu mulai mengecup lehernya
"Mas, ini geli!" Arum hendak melepaskan diri, namun Rizal mengeratkan pelukannya
"Aku sepertinya kecanduan sama kamu!" Rizal terus pada kegiatannya membuat wanita itu menggeliat
"Aku laper mas, aku belum makan dari siang tadi"
Rizal akhirnya melepaskan wanitanya, ia membalik tubuh menggoda itu "Maafin aku yaa! Kamu kelaparan gini juga gara-gara aku"
"Kamu sih, udah dua kali tapi gak ada puas-puas nya" Arum mencibikkan bibirnya dan itu terlihat menggemaskan
Tak tahan, Rizal kembali melumat bibir ranum yang begitu menggoda itu dengan tangan yang sudah menjelajah
Prang
Kedua insan yang tengah dipenuhi nafsu itu seketika terkejut dan segera memisahkan diri. Mereka terbelalak saat melihat seorang wanita paruh baya yang berdiri membeku
"Mbok" Seru Rizal dengan wajah yang berubah pias "Ini.."
"Bapak mengkhianati ibu?" Asisten rumah tangga itu tampak bergetar
"Dengar mbok!" Rizal maju namun wanita paruh baya itu mundur
"Saya akan mengatakan semuanya pada ibu, wanita sebaik Bu Hanna tidak pantas bersama bapak" Wanita yang telah lama bekerja dirumah ini memang begitu menghormati Hanna yang selalu menganggapnya sebagai keluarga
"Jangan mengancam saya! Mbok mau kehilangan pekerjaan?" Rizal memberi ancaman
"Saya tidak takut!"
Pria itu malah menunjukkan senyum menyeringai "Apa mbok tega melihat keluarga mbok yang dikampung itu terluka?"
Wanita paruh baya itu membulatkan matanya "Saya bisa membuat anak mbok yang istimewa itu lenyap dari bumi"
Warsih mengatupkan kedua tangannya didepan dada, memohon pada sang majikan agar tidak menyentuh anaknya
"Tolong jangan lakukan itu pak! Saya mohon!"
"Kalau begitu tetap diam! Anggap mbok tidak pernah melihat ini!" Wanita paruh baya itu mengangguk dengan air mata yang sudah menetes
"Ba-baik pak"
"Bagus!" Rizal kembali mendekat kearah Arum yang terlihat pucat "Ayo sayang!"
Keduanya berlalu, meninggalkan Warsih yang masih menangis. Ia kasihan pada Hanna yang sudah sangat baik padanya
Tapi keselamatan buah hatinya yang menderita down sindrom yang berada dikampung halaman dalam bahaya jika ia buka mulut
"Maafin mbok, Bu Hanna" Ucapnya lirih sementara pasangan haram' itu telah masuk kekamar tamu
Rizal kembali ke kamarnya setelah menuntaskan sesuatu dalam dirinya. Ia kembali kekamar pada pukul empat pagi dan mendapati sang istri yang masih terlelap
Rizal lebih dulu membersihkan tubuhnya. Tidak mungkin ia berbaring bersama Hanna dengan aroma percampuran seperti ini
Setelah membersihkan diri, Rizal menyibak selimut lalu berbaring disisi istrinya dan memeluknya dari belakang sambil mengusap perutnya yang buncit
Jika selesai melakukan semua ini, selalu terbesit rasa bersalah dalam diri Rizal karena telah mengkhianati istrinya
Hanya saja ia tidak bisa mengendalikan dirinya saat melihat Arum. Setelah bersama Hanna, Rizal memang tidak pernah bermain wanita
Ia begitu mencintai wanita yang telah menjadi istrinya ini. Keduanya menjalin hubungan saat masih sama-sama menempuh pendidikan di universitas lalu memutuskan untuk menikah dan sebentar lagi akan dikaruniai anak kedua
Entah kenapa ada hal berbeda pada diri Arum yang membuatnya mengambil keputusan seperti ini
"Maafkan aku Hanna" Rizal mengeratkan pelukannya lalu menyusul sang istri dalam tidurnya
Ia begitu lelah, bagaimana tidak lelah. Mereka melakukannya hingga menjelang pagi seperti ini
Sementara itu dikamarnya Arum telah terlelap dengan tubuh yang masih polos. Ia hanya berbalut selimut tebal setelah pergulatan panas yang mereka lakukan
Pagi harinya Hanna sedikit kesulitan membangunkan suaminya, tidak biasanya Rizal susah bangun seperti ini. Mungkin karena suaminya sedang tidak enak badan
"Mas!" Pria tampan itu menggeliat, Rizal malah memeluk tubuh istrinya itu sambil mengendusi lehernya
"Arum" Hanna menarik diri, hal itu membuat Rizal terbangun dengan karena terkejut "Ada apa? Apa mas menyakiti kamu?"
"Tadi mas panggil nama Arum?" Rizal berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya
"Kamu salah dengar, aku bilangnya harum. Aku suka aroma tubuh kamu pagi ini" Rizal menarik lagi tubuh istrinya lalu memeluknya
Hanna diam saja, ia masih berpikir apa memang dirinya salah dengar. Tapi mungkin saja, mungkin memang suaminya menyebut kata harum dan bukannya Arum
"Ayo mas! Kamu memangnya gak kerja?"
Dengan berat hati Rizal melepas pelukannya. Dirinya memang harus bekerja hari ini
"Mas mandi dulu!"
"Ya udah aku siapin sarapan yaa" Hanna keluar kamar setelah suaminya masuk kedalam kamar mandi
Disana sudah ada Arum yang ikut menyiapkan sarapan bersama Warsih. Wanita paruh baya itu menatap sang majikan dengan wajah sendu
"Mbak Hanna butuh sesuatu?" Tanya Arum ramah
"Boleh minta tolong buatin jus apel gak Rum"
"Tentu mbak"
Arum menyiapkan jus untuk Hanna dan teh untuk Rizal, pandangan Hanna tertuju pada wajah Arum yang terlihat pucat
semoga byk yg baca