NovelToon NovelToon
Nadia Anak Yang Diabaikan

Nadia Anak Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 kehobohan

Bab 12 kehobohan

Keempat orang itu mengambil kertas dan mulai mengerjakannya dengan saksama.

Kening mereka berkerut. Mereka sudah mencoba berkali-kali dengan berbagai pendekatan, tetapi tak menemukan hasil yang tepat.

Lima menit berlalu.

“beri kami perpanjangan waktu. Ini soalnya sulit, harus dikerjakan dengan teliti,” Ibu Ratna menyeka keringat di dahinya.

“iya. Prof Hengki kalau ngasih soal enggak kira-kira, susah amat sih,” ujar Luki menimpali. Dia baru menyelesaikan setengah soal.

“iya, ini susah sekali,” Dika juga masih menatap lembar soal itu.

“hmmmm... susah ya,” Diki berkata penuh ejekan. “kemampuan enggak seberapa, mau menghakimi orang. Apa kalian enggak malu?”

“Pak Diki, apa maksud kamu?” Ibu Ratna melotot pada Diki.

Dia adalah guru matematika di sekolah unggulan. Tentu saja ucapan Diki tadi menghantam harga dirinya.

Tanpa banyak bicara, Diki menampilkan sebuah video di layar.

Di sana terlihat Nadia sedang mengerjakan soal yang sama. Tampak Prof Hengki dan Siska, asisten profesor itu, sedang memegang ponsel. Sesekali kamera diarahkan pada Nadia. Kemudian kertas jawabannya di-zoom, memperlihatkan bagaimana Nadia menyelesaikan soal-soal tersebut.

Ruangan itu mendadak sunyi.

Tak ada yang berbicara.

Mereka hanya memperhatikan layar dengan wajah yang semakin serius.

“dia menyelesaikan dalam waktu kurang dari lima menit. Anak berbakat seperti dia, jika kita acuhkan, kemungkinan besar akan diambil negara lain. Negara kita tidak kekurangan anak jenius, tapi kadang-kadang sistem kita yang membunuh mereka. Dan di masa depan, kita hanya bisa melongo melihat hasil karya mereka memajukan negara lain,” ujar Diki menghantam pemikiran orang-orang yang ada di depannya.

“biarkan anak ini jadi peserta,” ujar Ibu Ratna, berubah sikap.

“saya juga setuju dia ikut,” Dika menimpali.

“saya mendukung,” Reno yang sedari tadi diam akhirnya ikut berkomentar.

“tapi bagaimana dengan pendapat netizen? Kita akan dihujat habis-habisan,” Luki kini menjadi orang asing di ruangan itu.

Semua menatapnya seperti menatap alien.

“kenapa kalian menatapku?” ucap Luki.

“kamu menerima uang berapa, Luki?” ujar Ibu Ratna.

“enggak, aku enggak menerima uang apa pun,” Luki buru-buru menjawab panik. “aku hanya tak ingin kita dihujat netizen.”

“emang kami peduli gitu?” ucap Ratna mencibir. “masa depan negara kita tidak ditentukan oleh opini netizen.”

Luki hanya bisa mengembuskan napas berat.

Dia bingung harus berkata apa pada orang-orang yang sebelumnya begitu mudah dipengaruhi, tetapi kini justru berbalik arah.

“ya sudah, aku juga setuju,” jawab Luki.

“terus apa sikap kita? Apa kita perlu mengumumkan hal ini?” tanya Ibu Ratna. Tatapannya tertuju pada Diki.

“sebagai orang cerdas tentu saja kita harus diam. Lagian kita bekerja bukan untuk netizen. Kita fokus saja agar acara ini berlangsung dengan baik,” putus Diki.

..

Di rumah Rangga Wijaya, mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.

“biar tahu rasa itu si Nadia. Emang enak dihujat netizen plus enam dua,” Rani berkata sambil tersenyum puas. Jarinya terus menggulir layar ponsel, membaca komentar demi komentar yang menyerang Nadia.

“iya. Teman-temanku mengusulkan agar Nadia dikeluarkan dari keluarga,” Rini menimpali. Sudut bibirnya terangkat, seolah sedang membicarakan kabar yang menyenangkan.

Yulia yang sejak tadi duduk tenang menundukkan kepalanya. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan sebelum akhirnya dia ikut bicara.

“mah, ka, apa kita enggak keterlaluan sama Ka Nadia? Aku takut dia tertekan dengan isu seperti ini.”

Rani langsung menoleh. Tatapannya melunak. Hatinya kembali dipenuhi kebanggaan melihat betapa baik dan lembut anak kesayangannya itu.

“kamu memang anak baik, sayang. Dia tidak pantas dikasihani. Biarkan saja dia, biar tahu ini hukuman dari netizen. Dibilang suruh mengundurkan diri malah keras kepala.”

Di sudut ruangan, Rangga hanya duduk diam dengan koran terbuka di tangannya. Namun sejak tadi matanya nyaris tak bergerak membaca satu baris pun. Koran itu lebih mirip tameng untuk menghindari percakapan yang membuat kepalanya pening.

“kenapa kamu diam saja, Mas?” tanya Rani sambil memutar tubuh menghadap suaminya.

Rangga menurunkan koran perlahan. Wajahnya tampak lelah.

“terus aku harus apa? Kalian ini aneh sekali. Aku ngomong kalian ngambek, aku diam kalian juga ngambek. Kalian ini maunya apa sih?”

Dia melempar koran ke meja lalu menyandarkan tubuh ke sofa.

“harusnya kamu dukung dong tindakan kami ini.”

Rangga mengembuskan napas panjang. Kepalanya menengadah sebentar ke langit-langit sebelum kembali menatap istrinya.

“kalian ini sebenarnya sadar enggak, kalau Nadia jelek di mata netizen, apa keluarga kita enggak kena dampaknya? Lagian selama ini Nadia juga enggak berbuat apa-apa sama kita.”

“apanya yang enggak berbuat apa-apa?”

Rini langsung menyahut. Tubuhnya yang semula santai kini menegang. Dia duduk lebih tegak dengan wajah kesal.

“kamu tinggal muncul ke publik dan mengatakan tindakan Nadia itu di luar tanggung jawab kita. Kalau perlu kamu umumkan kalau Nadia sudah bukan bagian dari keluarga kita.”

“tanpa diumumkan pun kita memang tidak pernah mengakuinya, bukan? Terus kalau diumumkan emang apa untungnya buat kita? Dia itu masih remaja. Kalau kita mutus hubungan kekeluargaan dengan Nadia, tanggapan netizen pasti menyalahkan kita karena enggak mendidik anak dengan baik. Kita itu akan selalu salah di depan netizen. Dan sebaiknya kita jangan terlalu repot menjatuhkan Nadia. Bukannya lebih baik mempersiapkan Yulia dengan baik?”

Rani mendecih keras. Kesabarannya mulai habis.

“kamu memang tidak bisa diandalkan,” ucap Rani kesal. “setidaknya kalau kamu mengumumkan Nadia bukan bagian dari keluarga, Nadia akan tertekan dan dia tidak akan konsentrasi mempersiapkan olimpiade.”

Mata Rangga memejam sesaat. Rahangnya mengeras.

“sudahlah, aku lelah. Kebencian kalian pada Nadia membuat kalian hilang akal.”

Dia bangkit dari sofa. Tidak ada kemarahan dalam suaranya, justru terdengar lelah dan pasrah.

Tanpa menunggu jawaban, Rangga melangkah menuju kamarnya.

Suasana ruang keluarga mendadak hening beberapa detik setelah dia pergi.

“nah itulah bapak kamu, Rini,” gerutu Rani sambil menyilangkan tangan di dada. “selalu saja menyebalkan.”

“sudahlah, yang penting kita sudah membuat Nadia stres.”

Yulia mengangkat wajahnya dan menatap kedua wanita di depannya.

Di luar, matanya terlihat menyimpan kekhawatiran. Bahkan bibirnya sedikit mengerucut seolah ikut prihatin pada keadaan Nadia.

Namun jauh di dalam hatinya, dia hampir tak bisa menahan kegembiraan.

Sudut bibirnya nyaris terangkat sebelum buru-buru dia tahan.

Membayangkan Nadia tertekan.

Membayangkan Nadia kehilangan fokus.

Dan yang paling membuatnya bahagia, membayangkan Nadia gagal di olimpiade nanti.

,,,

Sementara itu, Nadia sedang berkumpul dengan teman-temannya. Mereka duduk melingkar di sebuah gudang tua yang dijadikan markas.

Berbeda dengan hebohnya dunia luar, di tempat itu suasananya justru santai.

Tak ada raut cemas. Tak ada tanda-tanda Nadia merasa tertekan oleh pemberitaan yang terus memojokkan dirinya.

Aroma jagung bakar memenuhi ruangan. Api kecil di tengah lingkaran menyala stabil. Asap pembakaran bercampur dengan asap rokok yang sesekali mengepul ke udara sebelum menghilang di antara celah-celah atap gudang yang sudah tua.

“nad kapan nih kita bergerak? Nama lu udah jelek banget,” ucap Leo sambil menatap layar ponselnya.

Alisnya berkerut melihat komentar-komentar yang terus bermunculan.

“iya nih, Nad. Nih ya, mulut gue udah gatel banget pengen ngomel-ngomel,” kata Lusi.

Sejak tadi jemarinya sibuk mengetuk-ngetuk layar ponsel. Berkali-kali dia membuka kolom komentar, lalu menutupnya lagi. Rasanya tangannya sudah gatal ingin membalas semua komentar miring yang ditujukan pada Nadia.

Sementara itu, Nadia masih terlihat santai. Dia membolak-balik jagung bakar di atas bara api, seolah tidak ada masalah apa pun.

“nad ko lo diem aja sih?” ucap Diko.

Nadia mengangkat jagung yang sudah matang lalu meletakkannya di samping. Setelah itu dia menepuk kedua tangannya pelan dan menatap satu per satu wajah teman-temannya.

“aku sebenarnya enggak peduli dengan semua hujatan mereka, tapi aku sedang butuh uang. Kita juga perlu cari markas baru kita,” ucap Nadia.

Dia berhenti sejenak.

Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk seringai tipis yang membuat teman-temannya langsung saling pandang.

Biasanya kalau Nadia sudah tersenyum seperti itu, artinya ada sesuatu yang sedang dia rencanakan.

“gue enggak ngerti, Nad. Apa sih maksud lu?” Leo bertanya antusias.

Tubuhnya langsung condong ke depan. Rasa penasaran jelas terlihat di wajahnya.

“kita harus memanfaatkan orang-orang yang membenci gue. Kebencian mereka harus menjadi uang buat kita,” ucap Nadia tenang.

1
Suanti
semoga aja nadia dan aldo selamat ada yg tolong biar bisa kembali kermh buat balas dendam 🤭
Anonim
Bales nadia jangan kalah,lawan si rina n the genk tuh
Anonim
Hati hati nadia,jaga nadia thor
Anonim
Kurang ajar si rangga ni bukan nya kasih tahu yg sebenar nya ke nadia,ayo nadia balas mereka semua suatu saat💪
adelina rossa
jelas nih nadia anaknya rangga sama selingkuhanya ...
Anonim
Ayo semangat nadia,semoga aldo bantuin nadia bisa ikut olimpiade y thor😍
Anonim
Si rini goblok ,bukan nya kasian sama nadia ade nya malah ngatain bikin malu,buat nadia cepet keluar dari rumah itu thor buat nadia bersinar 😍
siswati etty
semangat terus Nadia .....keren
libas saja mereka si pecundang
Anonim
Gila,,nadia keren aku suka aku suka😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!