Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 Penculikan sang pewaris (EPILOGI)
Hujan masih turun sejak dini hari.
Langit kelabu menggantung di atas Kota Jakarta, menciptakan suasana yang tidak nyaman sejak pagi.
Arkan berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil menatap halaman mansion yang basah oleh air hujan.
Entah mengapa, sejak panggilan misterius itu, perasaannya tidak pernah tenang.
Ada sesuatu yang salah.
Sesuatu yang belum bisa ia lihat.
Tok... tok...
Pintu ruangan diketuk.
Rio masuk sambil membawa sebuah tablet.
"Aku menemukan sesuatu."
Arkan langsung menoleh.
"Apa?"
Rio meletakkan tablet di atas meja.
"Aku berhasil melacak sebagian jaringan Wings of Hades."
Arkan melihat layar itu.
Terdapat puluhan foto, dokumen, serta nama-nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.
"Ini organisasi internasional."
Rio mengangguk.
"Mereka beroperasi di banyak negara."
"Tujuan mereka?"
Rio menarik napas panjang.
"Uang. Kekuasaan. Dan balas dendam."
Arkan mengepalkan tangannya.
"Balas dendam kepada siapa?"
Rio menatapnya serius.
"Keluarga Narendra."
Di waktu yang sama.
Kiara sedang berada di pusat kesehatan khusus ibu hamil untuk pemeriksaan rutin.
Awalnya Arkan ingin ikut.
Namun rapat penting dengan investor luar negeri membuatnya terpaksa menunda.
Tentu saja ia tidak membiarkan Kiara pergi sendiri.
Empat pengawal ikut mengawal.
Dua mobil pengamanan juga disiagakan.
Menurut Arkan, itu sudah lebih dari cukup.
Sayangnya...
Musuh mereka jauh lebih pintar.
Setelah pemeriksaan selesai, Kiara keluar dari gedung sambil membawa hasil USG terbaru.
Ia tersenyum sendiri melihat gambar kecil di tangannya.
Delapan minggu lalu, hidup kecil itu bahkan belum diketahui keberadaannya.
Kini ia menjadi pusat kebahagiaan seluruh keluarga.
"Bu Kiara."
Salah satu pengawal mendekat.
"Mobil sudah siap."
Kiara mengangguk.
Namun saat ia hendak masuk ke mobil...
Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras.
DUARRR!
Semua orang terkejut.
Sebuah mobil di seberang jalan meledak hebat.
Api langsung membumbung tinggi.
"PERLINDUNGAN!"
Para pengawal segera bergerak.
Orang-orang berlarian panik.
Jalanan berubah kacau dalam hitungan detik.
Di tengah kekacauan itu...
Seseorang yang mengenakan seragam petugas medis menghampiri Kiara.
"Bu, cepat ikut saya! Ada ancaman bom kedua!"
Tanpa sempat berpikir panjang, Kiara mengikuti pria itu.
Mereka masuk ke ambulans yang terparkir tidak jauh dari sana.
Pintu langsung ditutup.
Dan saat itulah...
Kiara menyadari sesuatu.
Tidak ada pasien.
Tidak ada peralatan medis.
Hanya tiga pria bertopeng yang duduk di dalam.
Jantungnya langsung berdegup keras.
"Kalian siapa?!"
Pria berseragam medis itu tersenyum dingin.
"Maaf, Nyonya Narendra."
Kiara berusaha membuka pintu.
Namun salah satu pria langsung menyuntikkan cairan ke lehernya.
"Tidak!"
Pandangan Kiara mulai kabur.
Suara ambulans menjauh perlahan.
Hal terakhir yang ia dengar adalah kalimat yang membuat darahnya membeku.
"Target berhasil diamankan."
Lalu semuanya gelap.
Dua puluh menit kemudian.
Arkan menerima telepon dari salah satu pengawalnya.
Wajahnya langsung pucat.
"Apa?!"
Rio yang berada di dekatnya langsung berdiri.
"Ada apa?"
Arkan menurunkan ponsel perlahan.
Tangannya gemetar.
"Kiara..."
Rio merasakan firasat buruk.
"Kenapa dengan Kiara?"
Suara Arkan terdengar nyaris tidak keluar.
"Dia diculik."
BRAKK!
Gelas di meja langsung pecah saat Arkan menghantamkannya dengan tinju.
Seluruh ruangan mendadak sunyi.
Mata Arkan memerah.
Untuk pertama kalinya sejak runtuhnya Black Lotus...
Amarah yang selama ini terkubur kembali muncul.
Bahkan lebih mengerikan dari sebelumnya.
Rio segera mengambil jaketnya.
"Kita akan menemukannya."
Arkan menggeleng pelan.
Tatapannya kosong.
Namun justru itulah yang membuat Rio merinding.
Karena saat Arkan benar-benar marah...
Ia menjadi jauh lebih berbahaya.
Ponsel Arkan tiba-tiba berbunyi.
Nomor tidak dikenal.
Arkan langsung mengangkatnya.
Di layar muncul sebuah video.
Napasnya berhenti.
Kiara terlihat duduk terikat di kursi.
Masih tidak sadarkan diri.
Air mata langsung mengalir dari sudut mata Arkan.
Namun ia berusaha tetap tenang.
Kemudian seseorang muncul dari balik kamera.
Pria bertopeng hitam.
"Selamat sore, Tuan Narendra."
Arkan menggertakkan giginya.
"Jika kau menyentuh istriku—"
Pria itu tertawa.
"Aku belum selesai."
Ia meletakkan tangannya di perut Kiara.
Mata Arkan langsung membelalak.
"JANGAN SENTUH DIA!"
Pria itu tersenyum.
"Tenang."
Lalu ia mendekat ke kamera.
"Kami tidak menginginkan istrimu."
"Kalau begitu lepaskan dia!"
"Kami menginginkan sesuatu yang jauh lebih berharga."
Arkan terdiam.
Pria bertopeng itu berbisik pelan.
"Kami menginginkan anakmu."
Darah Arkan seakan berhenti mengalir.
Dan sebelum sambungan terputus...
Pria itu mengucapkan satu kalimat terakhir.
"Jika ingin melihat mereka hidup..."
"Datanglah sendiri."
Layar mati.
Ruangan langsung hening.
Rio menatap Arkan.
"Ini jebakan."
"Aku tahu."
"Kau tidak bisa pergi sendirian."
Arkan perlahan berdiri.
Wajahnya dingin.
Sangat dingin.
Namun di balik tatapan itu tersimpan kemarahan yang mengerikan.
Ia mengambil pistol yang sudah lama tidak pernah digunakan.
Lalu memasukkan magasin ke dalamnya.
Klik.
"Aku tidak peduli apakah ini jebakan."
Rio menghela napas.
"Arkan..."
Pria itu menatap foto USG yang masih berada di meja kerjanya.
Foto calon anaknya.
Keluarganya.
Alasan hidupnya.
"Aku pernah kehilangan banyak hal."
Suara Arkan terdengar rendah.
"Tapi kali ini..."
Ia menggenggam pistol itu erat.
"...aku tidak akan kehilangan mereka."
Di tempat yang tidak diketahui...
Kiara perlahan membuka matanya.
Kepalanya terasa berat.
Pandangannya masih kabur.
Namun saat melihat ruangan tempat ia berada...
Jantungnya langsung berdegup kencang.
Karena di dinding ruangan itu terdapat sebuah simbol besar berwarna merah.
Simbol yang bahkan lebih tua daripada Black Lotus.
Seekor burung phoenix dengan mata hitam pekat.
Dan di bawah simbol itu tertulis:
WINGS OF HADES
Kiara langsung menyadari satu hal.
Ini bukan sekadar penculikan.
Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.