Slowburn—Romansa Komedi
Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.
Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.
Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.
Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.
Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.
Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
...Dokumen Nikah Atau Pelet?...
Asap tungku kayu dapur Naira mengepul pelan. Gadis itu tengah duduk di depannya sambil beberapa kali meniup dan mengipas pelan bara kayu yang menyala. Di atas tungku, terdapat sebuah panci berisi kuah kuning aromatik.
Paduan antara kunir, kapulaga, jinten, dan kembang lawang, serta wangi daun jeruk, salam, dan sereh, samar-samar tercium memenuhi rongga dada. Setelah kuah agak mendidih, Naira memasukkan potongan gajih dan tetelan daging sapi yang telah direbusnya ke dalam kuah kaldu soto dari tulang sumsum yang dibelinya di pasar tadi pagi.
"Enak banget baunya," ujar ibunya melangkah masuk ke dalam dapur, membawa sebuah kantong kresek besar yang diletakkan begitu saja ke atas meja makan.
"Iya, Bu. Kangen bikin soto, nanti dikasih sambal bawang sama jeruk nipis. Segar kayaknya."
Ibunya menengok ke arah panci yang mengepulkan uap panas, lalu menghela napas tipis. "Sayang, Arka enggak di sini."
Naira tersentak kecil, lalu tersenyum kecut sesaat. Namun, matanya tetap menatap hangat pada kuah soto yang bergolak. "Nanti juga Mas Arka bakal makan masakanku, Bu."
Ibu Naira memilih duduk di dipan—tepat di belakang Naira yang tengah duduk di atas kursi kayu pendek. "Oh, ya, Nai. Mas Arka semalam telepon."
Naira langsung menoleh cepat. "Jam berapa, Bu?"
"Tengah malam. Pas Ibu angkat, dia langsung manggil nama kamu..." Ibunya terkekeh pelan, mengingat kejadian semalam. "Tapi begitu Ibu yang jawab, suaranya langsung berubah sopan kaku kayak kanebo kering."
"Ibu ini," gerutu Naira dengan pipi yang mendadak merona.
"Kemarin dia juga sempat bahas soal pilihan kalian buat hubungan jarak jauh dulu setelah menikah."
Naira menghentikan gerakan kipasnya. Ia memutar tubuh menghadap ke belakang, membuat alisnya bertaut rapat menatap sang ibu. "Ibu rasa itu ide yang enggak baik," lanjut ibunya pelan.
"Kenapa, Bu? Kami bisa urus surat pindah mengajar Naira pelan-pelan setelah sah."
Ibunya berdecak pelan, menatap anak gadisnya dengan pandangan penuh harap. "Ibu pengennya kamu cepat kasih Ibu gendong cucu."
Naira membeku sesaat, pikirannya belum sejauh itu sampai memiliki anak. "Ibu ini, nikah aja belum."
"Bagaimana kalau kamu keluar saja, setelah itu daftar ke sekolah swasta."
Naira menatap lama ibunya, "Bukan solusi baik, Bu."
"Tapi Nai, pria habis nikah itu energinya beda."
Naira menaikkan kedua alisnya. "Beda gimana?"
"Ya, pokoknya beda!" ucap ibunya sewot.
Setelah mengucapkan kalimat menggantung itu, sang ibu buru-buru bangkit dan melangkah keluar dengan tergesa dari dapur lebih dulu, menyisakan hawa canggung yang mendadak tertinggal di udara.
Naira masih bengong beberapa saat di atas kursi kayu pendeknya. Kerutan di dahinya belum hilang, otaknya masih berputar keras mencerna kata 'energi beda' yang dimaksud ibunya tadi. Karena tidak menemukan jawaban, gadis itu akhirnya memilih menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran aneh-aneh. Ia bangkit, mulai menyiapkan beberapa siung bawang putih, cabai rawit merah, dan sedikit garam di atas cobek batu untuk membuat sambal bawang.
Tangan Naira bergerak mengulek perlahan, menghancurkan cabai-cabai itu hingga aromanya yang menyengat naik ke udara. Lalu memindahkannya ke wadah mangkuk kaca kecil dan kemudian menuang sedikit kuah kaldu soto di atasnya.
Setelah semuanya siap, ia menuangkan kuah soto kuning aromatiknya ke dalam mangkuk yang telah berisi kecambah dan nasi hangat. Tidak lupa Naira menambahkan sesendok sambal bawang serta perasan jeruk nipis yang baru saja dipotongnya, lalu duduk sarapan sendiri di meja makan dapur.
Suasana mendadak hening. Sambil menyuap nasi hangat yang diguyur kuah kaldu sumsum yang gurih itu, isi kepalanya otomatis memutar ulang perkataan ibunya secara perlahan.
Pria kalau habis menikah itu energinya beda...
Naira mengunyah pelan. Detik berikutnya, suapannya mendadak terhenti di udara. Sepotong memori yang sempat terkubur di kepalanya tiba-tiba melompat keluar. Ia teringat obrolan iseng di ruang guru beberapa minggu lalu. Saat itu, salah satu teman mengajar sesama guru—yang baru menikah—pernah berbisik sambil tertawa cekikikan di dekat meja absen: "Nai, pengantin baru itu harus lengket. Jangan mau LDR dulu, energinya lagi menggebu-gebu. Kalau jauh-jauh, kasihan suamimu nanti tersiksa lahir batin."
Uhuk!
Naira tersedak kuah sotonya sendiri. Wajahnya seketika memerah padam bukan hanya karena efek sengatan sambal bawang yang baru saja ditelannya, melainkan karena rasa dasar yang mendadak menghantam otaknya dengan telak.
Gadis itu buru-buru meraih segelas air putih dan meneguknya tandas. Ia menutup wajahnya yang terasa panas membara dengan kedua telapak tangan.
"Ibu ih... maksudnya itu toh?!" gumam Naira pelan pada ruangan yang kosong, merutuki kepolosannya sendiri yang baru bisa mencerna kode urusan dewasa setelah selesai mengulek sambal.
...----------------...
Dua hari kemudian, di batalyon tempat Arka bekerja tampak masih sibuk. Beberapa perwira tampak hilir mudik untuk merapikan, membersihkan, dan mempersiapkan semua keperluan sidak Wasrik.
Arka baru saja melangkah ke lorong staf. Ia membawa satu kotak berstempel resi merah dari kantor pos, nama yang tertera di sana adalah Seno Wiguna, S.H.—ayahnya sendiri.
Ia memasuki ruang Wadanki, tempat Kapten Yudha masih berkutat dengan lembar-lembar dokumen yang akan diaudit.
"Lapor, Kapten. Berkas dokumen persiapan nikah telah siap," ucapnya dengan nada tegas.
"Wah, sudah datang, ya. Coba kita buka dan periksa," ucap Kapten Yudha, mendekat ke arah kardus cokelat itu.
Arka segera membuka laci meja kerjanya. Mengeluarkan cutter biru, lalu membuka pelan lakban yang menyegelnya.
Beberapa dokumen dari pihaknya dan Naira telah siap. Mereka memeriksa satu per satu lembar dokumen hingga mata Arka menangkap satu amplop kecil dengan coretan pulpen berbentuk hati kecil di pojoknya.
Ia mengambilnya, lalu membuka penutupnya perlahan.
Ada satu lembar foto Naira dengan senyum kaku yang terlalu lebar. Matanya terbuka lebar, khas orang yang tegang saat dipotret. Arka hampir meledakkan tawa melihat senyum aneh nan menggemaskan dari calon istrinya itu.
"Ka?"
Panggilan dari Kapten Yudha membuatnya sedikit tersentak. Pria itu buru-buru menengok ke arah atasannya yang ternyata telah berdiri di sebelahnya.
"Ini sebenarnya dokumen nikah kalian atau pelet yang dikirim calon istrimu?" tanya Kapten Yudha sambil ikut melirik foto Naira.
Arka langsung menegakkan tubuhnya kembali, menyembunyikan foto Naira dalam genggaman tangannya yang besar. "Siap, Kapten. Ini lembar dokumen pernikahan kami."
Kapten Yudha menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sekarang aku tahu kenapa kamu sangat menyukai gadis itu."
Arka mengernyit samar, bingung dengan arah pembicaraan atasannya.
"Dia kebalikan dari kamu," ucap Kapten Yudha sarkas, merujuk pada wajah Arka yang selalu sedingin es dan kaku, sangat kontras dengan wajah lucu Naira di foto itu.
...----------------...
Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️
Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.