Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi setelah menikah, Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.
Apa yang membuat Edelia bertahan? Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepi yang Terlalu Sunyi
Paginya Lia terkejut menemukan dirinya terbangun di atas ranjang suite room kamar hotel. Otaknya dengan cepat memutar kembali ingatannya tentang apa yang terjadi malam sebelumnya. Lia mengerutkan kedua alisnya.
"Aku rasa aku tidur di sofa semalam?" gumam Lia, sambil mencoba mengingat kembali dengan benar.
Saat Lia sibuk mengingat-ingat, pintu kamar mandi dibuka. Aroma sabun bercampur shampoo menyeruak memenuhi kamar hotel seiring Ren keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Lia menoleh, menatap Ren yang juga menatapnya dingin.
Ren berjalan mendekat ke arah Lia. Lia memasang tubuhnya untuk waspada. Ren mengulurkan tangannya, menyentuh dahi Lia. Sensasi dingin bercampur aroma sandalwood yang menguar dari tangan Ren, membuat jantung Lia sedikit tersentak.
"Sepertinya demam Anda sudah turun," kata Ren sambil berjalan menjauh.
"Hah? Demam?" tanya Lia tak percaya. Ren duduk di ottoman (bench di kaki tempat tidur) sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Ternyata seorang wanita dewasa masih mengigau memanggil mamanya saat demam," kata Ren, membuat pipi Lia merah.
Jelas. Lia benar-benar demam semalam. Lia selalu memanggil-manggil mamanya jika demam. Bahkan Julio selalu menertawakan kebiasaan Lia yang sama sekali tidak dewasa.
"Maaf," ucap Lia lirih. Ren menolehkan kepalanya ke samping kanan.
"Anda pasti yang memindah saya dari sofa ke atas ranjang kan? Maaf sudah merepotkan," ucap Lia. Ren kembali sibuk mengeringkan rambut.
Semalam, Ren sempat ragu untuk menggendong Lia pindah ke ranjang. Dia mengingat syarat dari Lia yang melarang adanya kontak fisik. Kemudian, Ren pikir, itu adalah keadaan darurat sehingga dia akhirnya memindahkan Lia ke ranjang. Dia pikir Lia akan marah keesokan paginya.
"Bukankah hari ini saya harus memberi salam pada keluarga Damaris? Saya akan menyiapkan diri sece..."
"Tidak perlu. Saya sudah bilang pada Ayah bahwa Anda sedang sakit. Ayah menyuruh saya menjaga Anda. Perkenalan keluarga bisa kapan saja," kata Ren sambil berjalan menuju pintu kamar hotel membuat Lia mengerutkan alisnya.
Tak lama kemudian, Ren kembali muncul diikuti staff hotel yang membawakan sarapan mewah ke kamarnya. Setelah membuka tudung perak mengkilap dan menerima tips dari Ren, staff itu keluar kamar.
"Silakan. Saya tidak tahu menu apa yang Anda suka," kata Ren datar.
Lia beranjak dari ranjang dan menatap dengan takjub menu makanan yang ada di atas trolley kayu mahoni. Fresh orange juice, basket croissant and danish, eggs benedict dengan smoked salmon, fruit platter premium, cappucino, dan greek yogurt dengan granola terlihat begitu menggiurkan.
"Makanlah," kata Ren lalu berlalu ke ruang tamu.
"Tuan Muda nggak makan sekalian?" tanya Lia, menghentikan langkah Ren.
"Saya sedang tidak ingin makan," kata Ren dingin lalu meraih ponsel di meja ruang tamu dan duduk di sofa.
Lia menghela napasnya panjang sambil menatap dengan sedih ke arah menu sarapan yang disajikan untuk dua orang di atas trolley. Dia seharusnya tahu akan seperti apa kehidupannya setelah menikah. Meskipun dia sudah menyiapkan hatinya, dia tidak pernah menyangka rasanya akan jauh dari apa yang dia bayangkan.
Lia yang biasa memulai hari berdebat dengan Julio tentang hal-hal sepele —seperti sarapan dengan telur mata sapi atau scrambled egg, roti bakar dengan mentega atau tanpa mentega, hingga susu atau kopi— kini harus menghadapi pagi yang sunyi, bahkan terlalu sunyi bagi Lia.
Lia mencari ponselnya, memutuskan memutar lagu-lagu yang sering dia dengarkan —slow rock ballads tahun sembilan puluhan. Suara instrumen lembut terdengar setelah Lia menekan tombol play pada music player di ponselnya. Ren menoleh sesaat ke arah Lia yang mulai menyesap cappucinonya sebelum akhirnya kembali fokus pada ponselnya.
"I could stay awake just to hear you breathing / Watch you smile while you are sleeping / While you're far away and dreaming / I could spend my life in this sweet surrender..." suara vokal Steven Tyler yang khas mulai terdengar.
Ren kembali menoleh ke arah Lia. Lia terlihat bersenandung mengikuti lagu yang diputarnya sambil mengunyah croissant dan sesekali menyesap cappucino.
"Don't wanna close my eyes... I don't wanna to fall asleep... 'Cause I'd miss you baby... And I don't wanna miss a thing..." kini terdengar Lia menyanyikan bagian lirik sedikit lebih keras dari music player yang diputarnya, membuat Ren terpaku pada suara Lia yang ternyata merdu.
Menyadari dirinya sedang diperhatikan oleh Ren, Lia berhenti bernyanyi dan mematikan music playernya.
"Maaf kalau saya mengganggu ketenangan pagi Anda. Pagi saya biasanya berisik di rumah," kata Lia sambil mengambil danish dan memasukkannya ke mulut.
"Lanjutkan saja. Saya tidak akan mencampuri urusan Anda," kata Ren lalu kembali fokus pada ponselnya.
Lia menaikkan kedua alisnya. Sebuah ide muncul. Dia ingat memasukkan headset ke dalam kopernya saat berkemas kemarin. Lia segera mengambil headsetnya dan menyumpalkannya ke telinganya setelah menyambungkannya ke ponsel.
Lia kembali memainkan music playernya. Senyum terkembang di wajahnya. Kini dia dapat menikmati sarapannya tanpa mengganggu ketenangan ruang publik yang dingin itu.
Tak mendengar suara apapun selain denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring, Ren menoleh. Dia melihat Lia memakan sarapannya dalam diam dengan kepala yang sesekali manggut-manggut karena musik yang didengarnya via headset yang bertengger di telinganya.
Entah mengapa, Ren mengarahkan ponselnya ke arah Lia yang sedang khusyuk makan dan mengambil fotonya diam-diam. Ren melihat hasil jepretannya. Sebuah senyum tipis —sangat tipis— terkembang di wajah Ren.
Menyadari keanehan sikapnya, Ren segera menggeser layar ponselnya dan kembali mencari informasi tentang Arka lewat media sosial atau apapun yang dapat Ren jangkau. Hasilnya: nihil.
Sedari semalam Ren mencoba mencari tahu tentang Arka. Nomor ponselnya sudah tak lagi aktif dari setahun yang lalu. Semua akun media sosial Arka pun sudah lama tak aktif, bahkan beberapa memblokir akun media sosial milik Ren.
"Apa ada agenda tertentu hari ini?" tanya Lia tiba-tiba, mengagetkan Ren.
"Eh? Oh. Tidak. Anda istirahat saja. Saya rasa Anda terlalu lelah berdiri kemarin," kata Ren sambil sibuk dengan ponselnya. Lia menghela napas panjang.
"Baiklah. Kalau begitu saya akan pergi berenang. Anda ikut?" tanya Lia.
Ren menggelengkan kepalanya. Lia menaikkan kedua alisnya sambil sedikit mengerucutkan bibirnya, sedikit kecewa karena penolakan yang dia tahu akan datang.
"Pakai kolam VVIP yang ada di rooftop hotel. Disana tak akan banyak orang. Selain itu, disana juga tak akan ada media yang bebas melakukan paparazzi," kata Ren sambil menyerahkan sebuah kartu hitam dengan beberapa ornamen emas di atasnya.
"Pakai kartu itu. Petugas akan tahu," kata Ren.
Lia menerima kartu itu dan menatapnya lama. Selama ini dia tidak pernah berenang di kolam VVIP karena menurutnya tempat itu terlalu sepi. Tapi, sekarang, dia harus kesana dan sendirian. Kehidupannya benar-benar berubah hanya dalam waktu semalam.
'Kesepian ini... sampai kapan aku harus bertahan di dalamnya?'
***