kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibawah janji gelap
Bab 7 - Di bawah janji gelap
Simbah hanya mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu.
"Hanya itu? Bagiku, perkara membawa seseorang kembali adalah hal mudah. Namun, nak... segala sesuatu ada harganya. Ada syarat-syarat yang harus kau penuhi tanpa bantahan sedikit pun."
Tampa berpikir panjang, lagi Indra menyanggupi persyaratannya. tanpa bertanya dulu sebab akibatnya.
"Aku siap, Mbah. Apa pun itu," sahut Indra dengan mata yang berkilat penuh semangat. "Bahkan, aku sudah menyiapkan semua bahan ritualnya Mbah.
Tanpa membuang waktu, Indra membuka tas ranselnya dan mengeluarkan isinya satu per satu. Di atas meja kayu yang kusam itu, kini terpampang jelas: foto sang wanita, celana dalam milik target, serta berbagai sesajian lengkap — kembang tujuh rupa, beberapa batang dupa, telur ayam kampung, dan aneka buah-buahan. Semua terbungkus rapi dengan kain putih.
Simbah menyunggingkan senyum tipis, melihat betapa bulatnya niat pemuda di depannya ini.
"Bagus. Niatmu sudah benar-benar bulat," ucap Simbah dengan suara berat dan dalam. "Dengan semua ini terhampar di sini, berarti engkau sudah menyatakan setuju, dan mengikat diri pada segala persyaratan dariku."
"Iya, Mbah. Tekadku sudah bulat," jawab Indra tegas, tanpa setitik pun keraguan di matanya.
"Bagus, itu jawaban jujur yang ingin kudengar," sahut Simbah dengan senyum kepuasan yang samar. Ia meraih sebuah mangkuk kuningan kusam di sebelah kirinya.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang, teteskan darahmu ke dalam wadah ini. Anggaplah ini sebagai penyempurna sekaligus segel atas niatmu," ucap Simbah seraya menyodorkan mangkuk tersebut bersama sebilah pisau kecil yang berkilat tajam.
Nyali Indra mendadak menciut. Kilatan logam di tangan Simbah seolah menyadarkannya dari kegilaan yang baru saja ia sepakati. Ia terpaku, menatap ujung pisau itu dengan napas yang mulai memburu.
"Tapi, Mbah... kenapa harus pakai darah?" tanya Indra, suaranya kini sedikit gemetar. "Kalau syaratnya serumit ini, lebih baik aku mundur saja, Mbah."
Simbah yang semula tampak ramah tiba-tiba menegang. Matanya yang keruh mendadak berkilat tajam, menatap lurus ke relung sukma Indra.
"Maaf, Nak. Semua yang sudah terucap tidak bisa ditarik kembali," jawab Simbah dengan nada bicara yang meninggi, memberikan tekanan di setiap katanya. "Kau harus tetap memenuhi syarat ini. Kalau tidak, jangan harap kau bisa keluar dari sini dalam keadaan utuh!"
Indra terpaku, menyadari dirinya terjebak dalam perjanjian gelap yang tak bisa dibatalkan.
"Pilihannya cuma dua, Nak," bisik Simbah dingin sembari menyodorkan pisau. "Selesaikan ritual ini, atau biarkan 'mereka' yang menagih nyawamu sebagai gantinya."
Simbah menyipitkan mata, membaca keraguan di wajah Indra lalu perlahan nada suaranya berubah membujuk. "Ingat, kau datang ke sini karena rasa sakit yang ditanamkan wanita itu. Ini kesempatan terbaikmu untuk membalas dendam. Apa kau mau pulang sebagai pecundang lagi?"
Kalimat itu menghujam jantung Indra. Bayangan wajah wanita yang mengkhianatinya seketika melintas, membakar kembali rasa sakit hati yang hampir padam oleh ketakutan. Perlahan, jemari Indra yang semula gemetar kini menggenggam erat gagang pisau itu. Matanya yang tadi berkaca-kaca kini berubah menjadi gelap dan dingin.
"Benar, Mbah. Dia harus merasakan yang lebih sakit dari ini," desis Indra penuh kebencian.
Tanpa ragu lagi, ia menyayat telapak tangannya. Darah segar menetes deras, mengisi mangkuk kuningan itu hingga aroma amis yang pekat memenuhi ruangan.
Simbah menyeringai puas, memperlihatkan deretan giginya yang kuning. "Bagus. Dendam adalah bahan bakar terbaik untuk ritual ini. Sekarang, tidak ada lagi jalan kembali. Mari kita mulai bagian yang sesungguhnya." " ucap Simbah dengan nada yang dalam dan mengancam.
Ia kemudian meraih mangkuk kuningan berisi darah Indra. Dari balik jubahnya yang kumal, Simbah menuangkan cairan pekat misterius—entah itu darah hewan atau air keramat—lalu mulai merapalkan jampi-jampi. Suaranya terdengar seperti dengungan lebah, asing dan menyakitkan di telinga Indra, seolah ribuan bisikan gaib sedang berebut masuk ke kepalanya.
"Sekarang, minum ini. Cairan ini yang akan menjadi jembatan bagi niatmu, Nak," perintah Simbah sembari menyodorkan mangkuk itu. "Setelah habis, bawa foto dan celana dalam ini. Taruhlah di bawah pohon beringin besar di samping rumah ini sebagai persembahan terakhir."
Indra sempat ragu, rasa jijik seketika menjalar saat menatap cairan di depannya. Namun, bayangan rasa sakit itu kembali muncul, memicu kobaran dendam yang membakar habis sisa logikanya. Tanpa kata, ia meneguk cairan itu hingga tandas.
"Baik, Mbah," sahut Indra datar, meski jemarinya tak mampu menyembunyikan getaran hebat.
Sementara itu, di bale-bale rumah yang reyot, Agus berkali-kali menyulut rokoknya yang tak kunjung habis. Tangannya gemetar hebat setiap kali ia mencoba membuang abu rokok. Hawa dingin yang tidak wajar mulai merayap keluar dari celah pintu, membuat Agus merasa seolah ada ribuan mata yang sedang mengintipnya dari balik kegelapan hutan di sekitar rumah Simbah.
Tiba-tiba, dari kegelapan di samping rumah Simbah yang tadinya sepi, muncullah sesosok wanita. Kegelapan seolah terbelah saat ia melangkah maju. Wanita itu mengenakan kebaya berwarna merah menyala, tampak begitu kontras dengan malam yang kelam. Senyumnya tipis, datar, namun matanya terasa begitu dingin menatap ke arah Agus. Di tangannya, ia membawa nampan kayu yang berisikan secangkir air teh yang masih mengepulkan uap, bersebelahan dengan beberapa potong singkong rebus yang tampaknya baru saja matang.
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
mampir y ke novelku 😁