NovelToon NovelToon
DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Siska bbt644

Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: DEN DIMAS PRATAMA

Tangan Tuan Arga masih genggam tanganku erat pas kami keluar dari dapur. Hangat, tapi aku malah merinding. Bukan karena takut sama dia, tapi karena kata-katanya tadi: "Nyawa lo dalam bahaya. Anak buahnya Dimas bisa dateng kapan aja."

Den Dimas. Adik kandung Tuan Arga. Pembunuh Alina dan calon anaknya. Sekarang ngincer aku juga karena aku udah tau rahasianya. Gila. Aku cuma anak kos yang utangnya 500 juta, kok tiba-tiba masuk ke perang mafia keluarga konglomerat.

"Om," bisikku pas kami naik tangga ke lantai 2. "Den Dimas... dia di mana sekarang? Kok bisa nyuruh Mbok Inah?"

Tuan Arga nggak jawab. Matanya fokus ke depan, waspada, kayak tentara. Dia narik aku masuk ke kamarnya—bukan kamar tamu yang biasa aku tempatin—terus ngunci pintu pake 3 gembok. KLEK. KLEK.

"Lo tidur sini mulai malam ini," katanya dingin sambil ngambil pistol dari laci nakas. PISTOL BENERAN, MA. Item, gede, berat. Aku langsung lemes. "Kamar lo nggak aman. Dimas tau denahnya. Kamar gue lapis baja."

Lapis baja? Pantesan pintunya berat banget. Ini rumah apa bunker?

Tuan Arga ngecek peluru, terus naro pistolnya di bawah bantal. "Dimas di Singapura. Kabur 5 tahun lalu setelah Alina mati. Tapi anak buahnya banyak di Jakarta. Dia yang bikin perusahaan gue hampir bangkrut tahun lalu. Dia yang sebar gosip gue bunuh istri sendiri."

Jadi selama ini Tuan Arga bukan diem karena benci aku. Dia diem karena perang dingin sama adiknya sendiri. Dia nikahin aku buat mancing Dimas pulang ke Indonesia.

"Tidur," perintah Tuan Arga sambil nunjuk kasur king size-nya. "Gue jagain. Jangan takut."

Aku nurut. Badan rasanya remuk. Tapi gimana mau tidur kalo di bawah bantal ada pistol dan di luar kamar mungkin ada pembunuh? Aku merem tapi telinga tetap waspada.

Jam 4 pagi, HP Tuan Arga bunyi. Nada deringnya lagu klasik, nggak ada nama kontak, cuma "Nomor Pribadi". Tuan Arga langsung bangun, angkat.

"..." Dia diem dengerin, rahangnya mengeras. "Lo udah balik ke Jakarta, Dim?" suaranya rendah, ngebunuh. "Nyali lo gede juga nginjek tanah Indonesia lagi setelah lo bunuh istri gue."

Jantungku berhenti. Itu Den Dimas? Dia telepon?

"Ngapain lo telepon gue? Kangen?" Tuan Arga senyum miring, tapi matanya nggak senyum. "Oh... lo mau Siska ya? Boneka baru gue?"

Aku langsung duduk. Keringet dingin lagi. Dimas ngomongin aku?

"Syarat?" Tuan Arga ketawa, ketawanya serem. "Lo mau gue serahin Siska ke lo, terus lo janji nggak ganggu perusahaan gue lagi? Gitu?"

Gila. Dia mau barter aku sama perusahaan? Aku mau protes tapi Tuan Arga ngangkat satu jari ke bibirnya. Suruh diem.

"Deal," kata Tuan Arga tiba-tiba. "Jam 10 malem besok. Gudang lama di Pelabuhan Sunda Kelapa. Gue bawa Siska. Lo dateng sendiri. No anak buah. Kalo lo bawa orang, gue tembak lo di tempat."

TUT. Telepon dimatiin.

Aku langsung panik. "Om! Om beneran mau serahin aku ke Dimas?! Om janji lindungin aku tadi!"

Tuan Arga taruh HP-nya, terus natap aku. "Lo pikir gue se-be*go itu, Siska?" bisiknya. "Gue mau pancing dia keluar dari sarangnya. Gudang itu tempat gue. Anak buah gue udah standby di sana dari sebulan lalu. Besok... kita abisin Dimas."

Jadi itu jebakan. Tuan Arga mau bunuh adiknya sendiri. Darah dibalas darah.

"Terus aku ngapain, Om? Aku jadi umpan lagi?" suaraku bergetar.

Tuan Arga deketin aku. Untuk pertama kalinya, dia duduk di pinggir kasur, deket banget sampe aku bisa cium wangi parfum sama wangi darahnya—karena dia luka? "Lo nggak usah ngapa-ngapain. Lo cuma diem di belakang gue. Kalo gue bilang lari, lo lari. Kalo gue bilang tiarap, lo tiarap. Paham?"

Aku angguk. Takut banget tapi nggak ada pilihan lain. Kabur? Ke mana? Dimas udah tau mukaku, udah tau aku di rumah ini.

"Om," bisikku lagi. "Kalo... kalo Om mati gimana? Aku gimana?"

Tuan Arga diem lama. Tangannya yang kapalan tiba-tiba ngusap rambutku kasar. Kayak nggak biasa megang orang dengan lembut. "Gue nggak bakal mati sebelum Dimas mati duluan," katanya. "Gue janji. Gue udah kehilangan Alina sama anak gue. Gue nggak akan kehilangan lo juga."

DEG. Jantungku kayak ditabok. Itu... itu pertama kalinya dia ngomong butuh aku. Bukan sebagai boneka, bukan sebagai umpan. Tapi sebagai... manusia yang mau dia lindungin.

Besoknya seharian Tuan Arga nggak ke kantor. Dia ngajarin aku pake pistol. "Ini pengamannya. Ini pelatuknya. Kalo ada yang nyerang lo pas gue nggak ada, lo tembak. Jangan ragu. Ragu \= mati." Tangannya nuntun tanganku megang pistol. Berat banget. Dingin.

Sore, dia nyuruh aku pake rompi anti peluru di balik kaos. "Ketat, tapi lo harus pake. Dimas nggak main-main. Dia udah bunuh 3 orang suruhan gue tahun lalu."

Jam 9 malem, kami berangkat. Naik mobil Mercy anti peluru. Di depan ada 2 mobil pengawal, di belakang ada 3. Kayak iring-iringan presiden.

Gudang di Pelabuhan Sunda Kelapa gelap, bau amis laut, banyak tikus. Tuan Arga gandeng tanganku, pistol udah di tangan kanannya. "Inget aturan mainnya. Diem di belakang gue."

Di tengah gudang, di bawah lampu gantung yang kuning, berdiri seorang cowok. Umur 30-an, ganteng, mirip Tuan Arga tapi versi lebih muda, lebih berantakan. Rambut gondrong, brewok tipis, senyumnya miring. Itu Den Dimas Pratama.

Di belakangnya ada 10 orang bawa golok sama pistol. Melanggar janji "dateng sendiri".

"Bang Arga," kata Dimas, suaranya enteng kayak ngajak ngopi. "Akhirnya kita ketemu lagi. Bawa oleh-oleh boneka baru nih? Cakep juga. Lebih cakep dari Alina malah. Pantes lo sayang."

Tuan Arga nggak jawab. Dia angkat pistol, dor! Dor! Dor! Langsung tembak 3 anak buah Dimas yang paling depan. Cepet banget, nggak pake kedip.

Perang dimulai.

Aku tiarap di balik peti kayu, jantung mau copot. Tembakan di mana-mana. Teriakan. Darah. Ini bukan sinetron. Ini nyata.

Di tengah tembak-tembakan, Dimas ketawa ngakak. "Lo masih gitu-gitu aja, Bang! Gampang kepancing! Gue tau lo nggak bakal serahin Siska! Makanya gue bawa pasukan!"

Dia ngeluarin pistol, ngarahin... ke aku.

"NOOO!" Tuan Arga lari ke arahku, badan dia nutupin badanku.

DOR!

Peluru nembus bahu Tuan Arga. Darah muncrat ke mukaku. Anget. Kental.

"OM!" Aku jerit, nangkep badan Tuan Arga yang jatuh ke pelukanku.

Matanya masih buka, napasnya berat. "Lari... Siska... lari..." bisiknya, darah keluar dari mulutnya.

Tapi aku nggak mau lari. Di tanganku ada pistol yang dia kasih tadi. Pengamannya udah aku buka dari tadi.

Aku angkat pistol, tangan gemeteran, ngarahin ke Dimas yang masih senyum puas.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku narik pelatuk.

DOR!

1
Erniati Filiang
apaan sih ceritanya kok lama banget
Siska bbt644: Aduh Kak Erniati maaf banget bikin nunggu lama 😭🙏
Maya janji gak ngaret lagi. Bab 4 udah maya tulis,
malam ini jam 8 Maya up langsung.
Rahasia Kamar 301 dibongkar semua di bab 4 Kak.
Jangan kabur ya Kak, makasih udah setia baca ❤️
total 1 replies
Bundanya Rayfin
harusnya jgn terlalu lancang siska
Siska bbt644: Iya Bun 😭Maya emang keceplosan karena panik.
Doain ya Bun biar Maya gak lancang lagi di bab depan.
Makasih udah sayang sama Maya ❤️ Sehat2 Bunda & Rayfin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!